in

Terdakwa Korupsi Akui Rusaknya Sistem Pengadaan Barang-Jasa di DJKA

Putu membenarkan adanya pengaturan pemenang lelang dalam proyek-proyek DJKA.

Kepala BTP Wilayah Jawa Bagian Tengah Putu Sumarjaya duduk di hadapan majelis hakim dalam sidang korupsi proyek DJKA. (baihaqi/jatengtoday.com)
Kepala BTP Wilayah Jawa Bagian Tengah Putu Sumarjaya duduk di hadapan majelis hakim dalam sidang korupsi proyek DJKA. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Terdakwa korupsi Putu Sumarjaya mengakui rusaknya sistem pengadaan barang dan jasa di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Putu yang merupakan Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Wilayah Jawa Bagian Tengah tersebut membenarkan adanya pengaturan pemenang lelang dalam proyek-proyek DJKA.

“Betul telah terjadi pengaturan pemenang lelang. Ini bagian dari rusaknya sistem yang terjadi dalam pelaksanaan barang dan jasa,” ujar Putu saat membacakan pembelaan di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (4/1/2024).

Sebagai “pendatang baru” di DJKA, Putu seharusnya mengubah sistem yang buruk tersebut. Namun, kepala balai yang menjabat sejak 2021 itu justru terjerumus di dalamnya.

“Saya malah terbawa arus menjadi salah satu pelaku (korupsi),” aku Putu di hadapan majelis hakim.

Putu bahkan secara aktif memberikan arahan kepada pejabat pembuat komitmen (PPK) agar mengondisikan pemenang lelang pada tiga proyek perkeretapian di Jawa Tengah.

Tiga proyek itu adalah pembangunan jalur ganda KA elevated antara Solo Balapan-Kadipiro KM 104+900–KM 106+900 (JGSS 4) dengan nilai proyek Rp182 miliar.

Kemudian, pembangunan jalur ganda KA antara Solo Balapan-Kadipiro-Kalioso KM 96+400–KM 104+900 (JGSS 6) dengan nilai Rp164 miliar. Serta, pembangunan Track Layout (TLO) Stasiun Tegal dengan nilai proyek Rp65 miliar.

Atas pengaturan lelang tersebut, Putu mengaku mendapatkan fee senilai Rp600 juta dan Rp15 juta yang digunakan untuk kegiatan operasional harian. “Saya akui menerima sejumlah uang itu perbuatan salah,” tuturnya. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar