in

Mempertanyakan Teori “Bis Helsinki” tentang Kreativitas

Bagaimana perjalanan dan rute bis mengajarkan kita tentang proses kreatif.

(Image: DALL-E)

Proses Kreatif itu Seperti Naik Bis

Kamu datang ke suatu terminal kota. Bus dengan trayek dalam-kota, rute yang berbeda. Kamu mau ke mana? PRPP-Kedungmundu, Johar-Mangkang, misalnya. Setiap trayek, punya rute masing-masing, dan jika kamu ikut, kamu melihat apa yang ia lewati. Ada kesamaan, ada perbedaan.

Sekali lagi, tergantung pilihan rute kamu.
Tidak semua tujuanmu, ada dalam 1 rute, jadi kadang perlu turun sini, sambung dengan transportasi lain, ke sana.

Kreativitas, terjadi seperti itu. Terminal mengajarkan cara kita mencapai tujuan. Begitu kamu berangkat, kamu menyadari, bukan sebagai orang-pertama yang ada di jalur (rute) yang ditetapkan. Apa yang kamu lihat, orang lain sudah melihatnya. Bisakah kamu turun? Tentu bisa.

Orang berangkat dari terminal sama, kemudian setelah melewati gerbang terminal, mereka berpisah. Perpisahan itulah yang membuat perbedaan.
Kamu memilih platform dan jalan kreatif, itulah yang membedakan kamu dari orang lain. Ketika semua orang memotret Kota Lama Semarang, misalnya, kamu punya perhatian lain, dengan melihat sekitar lokasi itu, yang keadaannya jauh berbeda: pinggiran, kumuh, dan penuh perdagangan.

Gagasan itulah yang mendasari teori “Bis Helsinki” yang terkenal itu.

Teori “Bis Helsinki” tentang Kreativitas

Teori ini dikembangkan ekonom Finlandia, Esa Saarinen, dan penulis dan ahli teori organisasi Risto Penttilä. Teori ini mengusulkan bahwa kreativitas dan inovasi dapat dipromosikan melalui “pemikiran lateral” dan pendekatan multidisiplin dalam memecahkan masalah. Teori ini mengambil nama dari “Bis Helsinki”, sebuah metafora yang digunakan untuk menggambarkan proses berpikir yang tidak konvensional dan kolaboratif.

Menurut teori ini, pemikiran kreatif mirip dengan perjalanan di dalam sebuah bis yang penuh dengan penumpang dari berbagai latar belakang dan keahlian. Perjalanan ini melibatkan berbagai perspektif dan cara berpikir yang berbeda, yang ketika dikombinasikan, dapat menghasilkan solusi inovatif dan kreatif. Dengan menggabungkan pemikiran dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang, individu dan organisasi dapat memecahkan masalah dengan cara yang lebih efektif dan inovatif.

Teori Bis Helsinki juga menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung kreativitas, termasuk budaya organisasi yang mendorong eksperimen, risiko, dan pembelajaran dari kegagalan. Ini mencerminkan pemahaman bahwa kreativitas bukan hanya hasil dari bakat individu, tetapi juga dari konteks dan lingkungan di mana individu tersebut beroperasi.

Secara keseluruhan, teori ini menawarkan pandangan holistik tentang kreativitas, menggabungkan aspek-aspek psikologis, sosial, dan organisasional dalam mempromosikan pemikiran inovatif.

Kekurangan Teori “Bis Helsinki”

Kreativitas dalam dunia kerja, sering terjadi dalam bentuk memperlakukan hal-hal lama dengan sudut pandang baru, alias tidak baru sepenuhnya. Kreativitas bertanya, “Bisa saya apakan?”. Kreativitas menantang bagaimana kita mengelola keragaman. Sekalipun keragaman pemikiran adalah aset, mengelolanya bisa menjadi kompleks. Konflik ideologis, komunikasi yang tidak efektif, atau ketidakcocokan dalam tujuan dapat menghambat proses kreatif daripada memperkaya kreativitas.

Teori “Bis Helsinki” terlalu tergantung pada budaya organisasi yang mendukung eksperimen dan risiko. Dalam lingkungan yang kaku atau sangat terstruktur, menerapkan prinsip-prinsip teori ini mungkin sulit. Terlalu memberi penekanan berlebihan terhadap pentingnya kolaborasi, membuat teori ini kesulitan jika diterapkan di dunia kerja dan akademis.

Pengukuran dan evaluasi, pada wilayah abstrak dan subjektif bernama “kreativitas” agar susah, apalagi mengingat teori ini tidak menyediakan menyediakan kriteria yang jelas untuk mengukur keberhasilan atau efektivitas pendekatannya.

Teori ini mungkin secara tidak langsung mengasumsikan bahwa semua individu memiliki akses yang sama terhadap sumber daya, kesempatan untuk berkolaborasi, dan lingkungan yang mendukung. Namun, ini tidak selalu kasus dalam praktiknya.

Seperti tampak pada analogi “rute bis” dengan “jalan menuju sukses”, terdapat masalah lain. Kreativitas sering tidak berupa rute. Kreativitas itu lompatan, yang kadang keluar dari rute atau jalur. Menggunakan rute atau jalur, lebih tepat untuk pendidikan formal yang memang mentarget pekerjaan tertentu, yang membutuhkan ijazah dan lamaran kerja. Tidak tepat untuk mendeskripsikan pekerjaan-pekerjaan kreatif baru, yang sebelumnya tidak ada, seperti pekerjaan ekonomi kreator.

Mempertanyakan Teori “Bis Helsinki”

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan teori “Bis Helsinki”.

Konsistensi Bukan Jalan Sukses

Apakah konsistensi membawa orang kepada kesuksesan?
Seorang mahasiswa yang lulus 144 SKS berarti menjalani 12.960 jam. Lebih dari 10.000 jam. Apakah ini jaminan menjadi ahli? Setahu saya, dan sangat sering saya menguji ini, jawabannya adalah “tidak”. Bahkan mereka yang lulus dengan IPK di atas 3,6 (dari skala 4). Mereka tidak terlalu ingat pada semua yang ia pelajari. Kuantitas jam yang lebih tinggi, terjadi pada orang yang bekerja (rata-rata) 8 jam sehari di depan komputer. Apakah menjamin mereka menjadi “expert” (ahli) di dunia komputer?
Tidak.

Kasus Olahraga Tidak Sehat

Saya kenal seorang master yoga dan atlet binaraga nasional. Saya mengajukan pertanyaan sama, “Mengapa orang yang sudah berolahraga, tubuh mereka masih belum bisa atletis?”. Jawaban para ahli di bidang pembentukan body, hampir sama.

Jika orang berolahraga, hanya untuk cardio (jantung) dan konsumsi makanan mereka tidak diatur, maka jangan harap tubuh bisa terbentuk seperti atlet. Jika mau melangsingkan badan, latih otot rangka. Mengapa? Kolesterol melekat di rangka (tulang), tidak terbakar tanpa melatih otot itu, sekalipun kita hanya makan sehari sekali dan rajin olahraga untuk cardio.

Melatih otot rangka dan membakar lemak, lebih efisien dilakukan dengan olah raga beban dan gerakan yang memang dirancang untuk memaksa otot bekerja secara optimal.

Singkat cerita, kemudian mereka menjelaskan tentang anatomi tubuh, otot rangka, bagaimana lemak bisa terbakar, serta detail untuk treatment membentuk tubuh atletis.

Mereka ini expert, bukan karena lamanya berolahraga. Mereka ahli karena mereka berolahraga dengan metode yang tepat.

Ide yang bagus, tidak “dikenal” dengan sekali pertemuan. Ide yang bagus, yang bisa menjadi pekerjaan, yang membuat seseorang menjadi ahli, karena ide itu dilewati berkali-kali.

Kamu naik bis, di jalur sama, sampai kamu bisa tahu sedang sampai mana, sekalipun tanpa membuka mata. Pada kasus master yoga dan atlit bina raga yang saya ceritakan, mereka selalu meningkatkan teknik mereka.

Ketepatan metode dan revisi adalah kuncinya.

Kebanyakan orang, sibuk menceritakan “saya pernah..”. Orang piknik, senang ketika pengalaman pertama mereka menyenangkan. Setidaknya, ia pernah ke sana. Di balik “sekali ke sana” itu, terjadilah bias dan asumsi.

Mereka mudah mengambil kesimpulan.

Mereka tidak berkawan dengan kebosanan. Sibuk pindah jalur. Merasa pernah kerja ini dan itu, lalu menceritakan, sebagai “seseorang yang pernah piknik”, kemudian tidak pernah kembali ke pekerjaan sama. Mereka tidak menginvestasikan waktu untuk mengerjakan kembali ide-ide lama mereka.
Cerita saya, bukan tentang “commuter”, bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Saya tidak punya rutinitas semacam itu. Cerita saya di atas, tentang bagaimana seseorang perlu berhadapan dengan kebosanan ketika sedang dalam proses kreatif. Dia perlu memilih satu rute, di mana ia dapat melihat hal-hal biasa, sebagai ide-ide lama yang mereka revisi untuk menemukan kejeniusan.

Ojek Online Kawan Saya

Seorang kawan saya, asli Semarang. Dia bekerja di jalur yang tepat: menjadi ojek online. Saya sempat panik ketika berurusan dengan rute dan waktu. Hanya ada waktu 30 menit, untuk makan di depan Masjid Agung Johar dan harus standby di Citarum untuk naik travel. Kawan saya ini, masih dalam perjalanan. Ketika saya mengkalkulasi jarak dan waktu, dengan Google Maps. “Tidak mungkin,” kata saya. Kami bisa sampai di Citarum, pada traffic Sabtu Malam yang penuh kemacetan, hanya dalam waktu 8 menit.

Bukan karena kecepatan. Sepenuhnya karena ia hafal rute, jauh lebih baik dibandingkan kalkulasi Google Maps.

Saya memakai contoh “Google Maps” karena di aplikasi ini, “rute” telah ditentukan. “Rute alternatif” juga ditentukan. Sama seperti teori “Bis Helsinki”. Apa yang dilakukan kawan saya adalah keluar dari rute yang disarankan Google Maps. Mengapa? Karena ia sudah berpengalaman mencari rute yang tidak ada di Google Maps.

Rahasianya, masih sama. Ia bisa mencari rute alternatif yang jauh lebih singkat, bahkan ketika jalan-jalan sedang tidak-macet. Ia sangat mengerti jalan-jalan di Semarang sampai gang-gang kecil.

Kreativitas, lebih tepat dalam hidup saya seperti kasus ojek online kawan saya itu. Pertanyaan saya bukan “Bis mana yang mau kamu naiki?” melainkan “Bisakah kamu menciptakan rute yang berbeda dari saran untuk kebanyakan orang?”. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.