in

Investasi Berharga di Balik Tradisi Tanya-Jawab Keluarga

Anak akan bermental tidak mudah menyerah hadapi masalah dan punya masa depan lebih cerah, kalau tradisi tanya-jawab ilmiah dibentuk sejak dari rumah.

ilustrasi vector perempuan meneropong
Mental ingin tahu, tidak puas dengan "jawaban ini", bisa mengantar seorang anak me jenjang pengetahuan dan karir yang lebih baik. Semua bermula dari keluarga. (Credit: George Peters)

Keluarga dari jalur ibu saya, dari kakeknya kakek saya, masih menjaga komunikasi dan pertemuan sampai sekarang.

Seperti biasa, kalau bertemu, saling menceritakan kabar. Umur kami beragam, latar belakang bermacam-macam, dan punya kebiasaan tanya-jawab. Kadang, dulu yang masih di gendongan, sekarang sudah besar, atau sudah punya cerita hidup yang seru.

Saya termasuk yang sering dapat pertanyaan dan harus bisa menjawab. Topik pertanyaan sangat beragam. Jangan pernah membayangkan 1 pertanyaan akan selesai setelah saya jawab. Seandainya 1 mobil ada 5 orang (tidak termasuk saya), itu artinya 5 orang ini mengajukan 1 pertanyaan dan disusul dengan pertanyaan berikutnya.

Yang paling tidak enak, mereka tidak merekam jawaban saya dan saya tidak boleh salah. Jadi, penjelasan saya harus ringkas, credible (terpercaya), ilmiah, dan dapat menjadi referensi mereka.

Ini bukan ujian. Ini tradisi keluarga.

Saya perlu ceritakan ini, karena saya percaya, keluarga dapat menjadi tempat belajar. Anak bertanya pertama kali kepada orang tua. Anak mempertanyakan secara skeptis (bersyarat, tidak bisa langsung menerima), biasanya di rumah. Sudah sangat wajar kalau insting “mengejar jawaban” ini perlu mendapatkan perhatian. Saya akan tunjukkan pola yang biasa terjadi, pada moment “tanya-jawab keluarga”, agar orang tua bisa lebih mengenal cara berpikir anak.

Mengapa Mereka Bertanya?

Kadang, saya merasakan pertanyaan mereka tidak sepenuhnya “bertanya”.

(1) Untuk membenarkan apa yang pernah ia katakan.

Contoh kasus, begini. Kakak saya tahu, kalau Indonesia secara ekonomi itu hebat. Dia ingin tanamkan nasionalisme kepada anaknya, agar bangga menjadi warga Indonesia, kemudian kakak saya bertanya ke saya, ketika ada anaknya, “Jika ekonomi Indonesia hebat, kenapa tidak banyak merk asal Indonesia yang mendunia?” atau “Apa hal positif yang bisa terjadi, ketika rupiah melemah di hadapan dollar Amerika?”.

Saya menamai ini “pertanyaan bunuh diri”, di mana penanya sudah tahu jawaban yang benar, sudah pernah mengatakan, namun ingin terjadi “echo”, agar orang di sekitarnya tersadar, bahwa mereka sudah tahu ini sebelumnya. Hebatnya, penanya bersikap rendah hati, agar yang dapat “credit” jawaban adalah “saya” sebagai penjawab.

Kalau saya bisa jawab dan jika motivasinya untuk membenarkan apa yang pernah ia jelaskan, kakak saya akan berkata, “Nah, seperti yang saya jelaskan tadi malam, kan?”.

Saya menjadi semacam alat untuk “replay” dengan tambahan data, untuk memvalidasi apa kata kakak saya. Tenang saja, ini hal yang biasa dalam keluarga kami.

(2) Untuk menyampaikan perspektif berbeda.

Kadang, sikap orang sama, namun sudut-pandang bisa berbeda. Misalnya, mereka berdebat tentang mana penulisan yang benar: “insya allah” atau “insha allah”? Sikap yang sama: mereka ingin mengucapkan kalimat yang baik, namun berbeda sudut pandang tentang cara menulis “insyå’a Allåh“.

Saya anggap, sikap mereka sama, yaitu sama-sama ingin memakai kata itu, dalam chat WhatsApp.

Dalam menghadapi hal ini, sampaikan “cerita” di balik perbedaan sudut-pandang tentang topik yang mereka perdepatkan. Saya jelaskan tentang “transliterasi”. Akhirnya, mereka punya pilihan, mau pakai “insya Allah” atau “insha Allah”.

Sebenarnya, keduanya salah kalau dari sudut pandang transliterasi. Saya maklum, karena mereka tidak bisa menuliskan extended character dengan Android atau iOS. Keyboard mereka tidak support untuk extended character.

Saya paparkan proses pembentukan (genealogy) dari 2 transliterasi yang beda gaya tersebut. Akhirnya, mereka tahu, sebaiknya pilih yang mana. Yang lebih penting lagi, tahu perspektif orang lain. Tidak perlu dipaksakan harus seragam.

Dalam menjelaskan bagaimana sesuatu bisa terbentuk menjadi sudut pandang berbeda, kita tidak boleh mengatakan yang paling benar. Saya hanya bercerita, pedoman transliterasi, kemudian semua pihak yang bertikai lega, ketika saya sarankan untuk saling memahami perbedaan masing-masing.

(3) Sumber data yang mereka pakai, bermasalah.

Alias jawaban yang pernah mereka terima, tidak memuaskan. Mereka butuh verifikasi dan validasi. Ini sering terjadi.

Biasanya saya perjelas, bahwa mereka salah sumber informasi. Terutama masalah sejarah. Tentang VOC, tentang perang kemerdekaan, tentang Kartini, tentang Majapahit dan kerajaan Demak, Walisongo, mereka ini sering dapat informasi dari sumber yang tidak jelas kebenaran sejarahnya.

Tugas saya memberikan sumber informasi baru yang lebih update dan metodologis.

Tidak jarang, jawaban yang saya pakai, bertentangan dengan pendapat umum. Pada saat seperti inilah saya bercerita, dari mana asalnya perbedaan seperti ini.

Ketika menjelaskan sumber yang bermasalah, berikan sumber alternatif. Tujuan dari tanya-jawab, salah satunya, agar orang bisa bertukar pikiran dan sama-sama menyingkap gambar yang lebih besar. “Kalau mau belajar tentang itu, kamu bisa baca ini, buka ini..”. Biarlah mereka menilai sendiri, sumber mana yang lebih baik.

(4) Mereka memang membutuhkan pengetahuan baru.

Bagian ini tidak ada habisnya. Tidak jarang, pertanyaan ini “live”, misalnya ketika jalan-jalan di pantai, ya “theme” pertanyaan seputar pantai, atau seputar candi yang sedang kami datangi. “Apa arti relief candi ini? Seperti apa keadaan masyarakat di sekitar sini ketika candi ini berdiri?”. Termasuk ketika menonton film, membuka aplikasi, apa saja, saya harus bisa menjawab.

Kamu bisa menjawab pertanyaan seperti ini, kalau rajin baca sumber berkualitas bagus dan update pengetahuan.

Percaya atau tidak, jawaban yang terjadi sambil jalan-jalan, itu lebih mereka ingat.

(5) Memang mau menguji saya.

Boleh. Tidak ada kepercayaan kalau sepenuhnya percaya. Justru percaya itu menyebar. Orang baru percaya kalau punya sedikit keraguan. Itu sebabnya mereka bertanya atau menguji.

Orang baru mengakui kalau saya bisa, setelah melewati pengujian, dengan cara mereka. Yang paling mudah adalah dengan bertanya.

Sebenarnya, itu tidak menunjukkan siapa saya (bisa menjawab atau tidak), melainkan menunjukkan siapa mereka (dari cara mereka bertanya). Pertanyaan tetaplah pertanyaan, perlu ada jawaban. Dan kepintaran seseorang tidak bisa diukur hanya dari caranya menjawab.

Orang terlihat dari caranya menjawab, namun jawaban terjadi jika ada pertanyaan, dengan demikian, kualitas pertanyaan mendahului jawaban. Saya sering dapat pertanyaan cerdas dari anak usia belasan tahun. Mereka selalu menyimpan energi “ingin tahu” dan “tidak puas dengan jawaban sebelumnya” yang sangat besar. Banyak sekali tulisan saya berasal dari pertanyaan mereka.

Mengapa orang bekerja keras belum tentu kaya dan mengapa orang belajar tekun belum tentu pintar? Sejak kapan orang mengenal tulisan? Adakah sumber panas di bawah lautan sehingga bumi tidak terlalu membutuhkan matahari? Percayalah, semua itu ada jawabannya, secara ilmiah.

Saya pernah dapat pertanyaan, “Dari mana asalnya kata “corona”?”. Bisa ditebak, mereka tidak akan puas kalau dapat penjelasan bahwa kata “corona” ada hubungan dengan kata “crown” (mahkota), karena bentuk virusnya seperti mahkota. Mereka sudah baca itu. Yang belum mereka tahu, kata “crown” dari mana. Akhirnya, saya tidak langsung menjawab. Saya memberikan “janji”.

“Saya bisa jelaskan, dari mana asal kata -corona-. Kata ini bukan hanya berhubungan dengan “crown”. Kata ini bahkan berhubungan dengan “qarana” di Arab yang berarti “membandingkan”, “mengumpulkan”, juga dengan kata “korn” (tanduk), dan “horn” (suara melenguh).”.

Kamu disebut tahu kalau bisa menjelaskan titik-titik yang terpencar itu menjadi gambar besar.

Dengan “janji”, mereka mau menyimak. Asalkan penjelasan kita bagus. Jangan lupa, berikan sesuatu yang bisa mereka bawa pulang. Penjelasan, sepenting apapun, berakar pada 2 pertanyaan ini:

  1. Kamu tahu dari mana? Referensi, siapa yang menjelaskan, dan baca di mana.
  2. Bagaimana kamu bisa jelaskan seperti itu.

Jadi, saya berikan “keyword” atau referensi di mana mereka bisa belajar lebih lanjut.

Bedakan selalu antara “informasi” dan “ilmu pengetahuan”.

Data tidak pernah bisa berdiri sendiri. Data membutuhkan sudut pandang dan pengolahan, dan jadilah informasi. Itu sebabnya, data yang sama bisa menghasilkan sudut-pandang berbeda.

Jika informasi ini membentuk “noetic” (niskala) yang tidak saling bertentangan, barulah terbentuk struktur bernama pengetahuan. Dengan kata lain, informasi tidaklah sama dengan pengetahuan.

Kalau saya supply seseorang dengan informasi, betapapun banyaknya, tidak menjamin pengetahuan orang itu bertambah kuat. Bisa menjawab 1000 quiz trivia (yang masing-masing soal berisi hanya 1 jawaban benar) tidak membuat IQ seseorang bertambah.

Bukan hanya dari keluarga saya. Dari kawan-kawan, kenalan, siapa saja, motivasi mereka biasanya seputar 5 hal itu.

Pertanyaan Menjadi Pelajaran Bagi Saya

Saya mendapatkan pelajaran dari sering dihujani dengan pertanyaan.

Ini sumber inspirasi menulis bagi saya.

“Menjawab pertanyaan”. Sebelum menulis, saya sering bertanya: Apa yang terjadi jika ada “pertanyaan ini”? Dengan kata lain, tulisan yang sedang saya kerjakan adalah untuk menjawab suatu pertanyaan, menyelesaikan masalah, keingintahuan, dst.

Untuk bisa menjawab pertanyaan, saya harus belajar.

Saya tidak bisa pura-pura mengerti. Lebih baik bilang tidak bisa kalau tidak bisa. Bukan “belum bisa”.

Saya tidak memberi penjelasan seketika dari hasil pencarian Google kalau saya tidak tahu jawaban yang memuaskan. Percayalah, Google bukan penjawab terbaik. Terlalu banyak kesalahan fatal yang dihasilkan dari algoritma pencarian Google.

Investasi untuk tanya-jawab yang kredibel itu mahal.

Yang saya hadapi adalah: saya menjadi orang pertama, bagi diri saya, yang harus menerima kenyataan jika jawaban saya berasal dari pengakuan bahwa jawaban yang saya percaya kemarin itu salah.

Contohnya, saya pernah menganggap bahwa aksara hanacaraka itu mengandung filsafat kehidupan. Ternyata itu merujuk pada aksara Jawa modern, bukan aksara Jawa yang lebih kuno.

Mengetahui bahwa “kemarin saya salah” memang pahit, namun itu kesadaran bahwa pengetahuan kita telah bergeser. Mengetahui kalau diri saya baru tahu ini, rasanya keren sekali.

Ketiga hal di atas yang membuat saya salut dengan keberanian Yahoo! untuk mengakui bahwa popularitas Yahoo! Answers mereka menurun kemudian diikuti keputusan untuk menutup Yahoo! Answers. Selain itu, menciptakan platform QA (Question – Answer) yang kredibel memang tidak mudah.

Pertanyaan seperti, “Bolehkan orang yang hamil mengkonsumsi pepaya dan nanas?”. Ini pertanyaan fifty-fifty. Kalau dijawab dari sudut-pandang kesehatan, tidak masalah. Kalau dijawab dari apa kata orang Jawa, sebagian melarang dengan alasan data statistik yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Perlu seorang ahli yang menjawab.

Masalah pemrograman juga demikian. Ketika kita menyelesaikan 6/2(2+1) ternyata ada hasil berbeda antara kalkulator Casio dan kalkulator scientific. Problemnya pada penjumlahan linier. Atau ada perdebatan bahwa 0.999999999 = 1. Atau lagi, mengapa 3x3x3x3x3 dan 5×3 itu bukan hal yang sama. Saya anggap berbeda, ketika kita bicara “matriks”.

Hal yang kelihatan ilmiah, matematis, ternyata membutuhkan penjelasan dan pembuktian. Termasuk trivia, detail yang dianggap kurang penting, ternyata menjadi masalah ketika sudah dibingkai menjadi pertanyaan. “Benda apa yang paling tajam di dunia?”.

Ingat selalu: pengetahuan lebih penting daripada informasi. Kembali selalu kepada struktur noetic. Footnote di balik jawaban kamu, lebih penting, agar mereka bisa belajar sendiri dan mencapai pengetahuan mereka sendiri.

Saya tidak perlu “serba-bisa”. Jika saya tidak bisa, merasa suatu topik pertanyaan tidak relevan dengan diri saya, tidak perlu saya menjawab itu. Saya seorang diri, berhadapan dengan lingkungan keluarga saja, perlu perjuangan terus belajar, tanpa pura-pura bisa. Apalagi suatu forum yang disimak seluruh orang di dunia.

Ketika berhadapan dengan pertanyaan menarik, yang sering ditulis di group keluarga besar, biasanya saya memilih tidak menjawab jika tidak bisa menjawab secara memuaskan. Saya menunggu orang lain menjawab.

Tindakan saya untuk belajar agar bisa menjawab pertanyaan, terinspirasi dari nasehat ibu saya, “Jangan menjelaskan 2 kali.”. Penjelasanmu harus ringkas, menginspirasikan orang lain untuk belajar, dan terbuka pada koreksi orang lain.

“Selalu benar” dan “ingin sempurna”, itu beracun dalam komunikasi.

Kelihatannya nasehat ibu saya ini sederhana, ternyata tidak. “Menjelaskan sekali”, berarti sekali saja, sehingga penjelasanmu sebaiknya utuh, memperlihatkan sudut pandangmu, tidak mengarah kepada perdebatan yang tidak jelas. “Menjelaskan sekali” berarti kamu punya tempat atau tulisan yang mewakili jawabanmu, tidak kamu ulangi di mana-mana. Selain itu, “menjelaskan sekali” berarti itulah jawabanmu,. Pikirkan sebelum menjawab, dan jangan meminta orang lain mengakui jawabanmu. Selalu “open mind”, Bisa jadi, jawabanmu sekarang berbeda dengan jawabanmu besok.

Ketika saya terjemahkan dengan realitas sekarang, “Jangan menjelaskan 2 kali” berarti: tulis secara ilmiah dan buat mudah untuk dibagikan.

“Tuliskan apa yang ada di perjalananmu.”.

Tidak jarang, saya menggambar apa yang pernah saya lewati, “Nanti kalau saya punya kamera, saya akan tempelkan gambar ini dan foto di sebelahnya.”. Yang terjadi sekarang, saya hanya memotret dan menulis apa yang saya lewati.

Ada kejadian yang membuat saya selalu terdorong untuk bisa menjawab pertanyaan saya sendiri. Ini cerita tentang ibu saya, ketika ia tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Dulu saya pernah bertanya, “Seperti apa peta Jawa Tengah sebelum Indonesia merdeka?”. Ibu saya bercerita, bahwa kelak saya bisa datang ke perpustakaan besar, di mana di sana ada jawaban pertanyaan yang saya cari. Yang terjadi kemudian, sungguh berbeda. Perpustakaan itu tidak pernah memuaskan pertanyaan saya yang-lain, kemudian saya mencari jawaban. Kadang berupa buku, berupa perjalanan pencarian, atau dari seseorang yang menunjukkan kebodohan saya.

Sekali lagi, tidak mudah membuat platform tanya-jawab yang kredibel dan bisa dipercaya pemakai, dalam waktu singkat. Bahkan hanya untuk memilah jawaban mana yang kredibel, tidaklah mudah. Mau aplikasi kesehatan, sejarah, pemorgraman, dll. itu semua investasi mahal.

Namun kita bisa memulai membangun pengetahuan terbaik, bukan hanya dengan memilah, tetapi mulai ikut membuat jawaban terbaik, untuk orang-orang di sekitar kita.

Sepertinya, setiap keluarga perlu ada tradisi forum tanya-jawab informal yang mendorong anggota keluarga untuk belajar dan mencari informasi bernilai.

Di catatan harian, saya selalu membuat sebaris pertanyaan dan jawaban singkat, dengan link, yang mirip ringkasan apa saja pengetahuan baru yang sudah saya pelajari hari ini. Daftar ini berharga mahal (bagi saya), karena “belajar adalah jaminan untuk besok”.

Tanamkan tradisi tanya-jawab di keluarga, agar semua orang selalu belajar sejak dari rumah.

Tidak ada game, buku, aplikasi, yang bisa membuat orang bertambah cerdas. Kalau mau tambah cerdas, lebih baik berolah raga dan jalan-jalan, sambil belajar. Itu jaminan untuk cerdas.

Saya senang punya pertanyaan setiap hari dan itu seperti seruling ajaib yang bisa membuka gembok-gembok penjara di pikiran saya. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.