in

Mengapa Orang Suka Bandingkan Hidupnya di Medsos

Bukan karena medsos dan bukan penyakit hati. Bisa kamu atasi dengan cara ini..

Merasa, orang lain bekerja lebih pintar dan lebih “menghasilkan” daripada saya. Melihat, pasangan-lain lebih romantis. Atau, mengakui bahwa kawan kamu secara keseluruhan lebih sukses daripada kamu.

Efek samping negatif dari pembandingan itu sangat jelas: cemas, percaya-diri rendah, konflik hubungan, dan sindrom menipu diri-sendiri, merasa rendah-diri, dll.

Sebenarnya, membandingkan-hidup dengan hidup orang lain itu kebiasaan (habit). Ada faktor-faktor yang membentuk, ada yang memperkuat (dan bisa kita perlemah), dan dulu belum ada (ini berarti bisa tiada lagi).

Salah satu keuntungan besar yang terjadi ketika saya hapus semua content di akun Facebook adalah tidak ada lagi “gangguan” berupa melihat orang lain membandingkan hidup mereka dengan hidup orang lain.

Saya tidak sarankan meninggalkan media sosial, karena pasti ada banyak kawan dan pekerjaan di sana. Tulisan ini mau menjelaskan, alasan alasan psikologis, mengapa orang suka membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.

#1 Kamu Meredam Keinginanmu Membandingkan Hidupmu dengan Hidup Orang Lain

Padahal membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain itu sangat wajar.

Sekalipun ada nasehat, “Hidup orang itu berbeda-beda, jangan bandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.”. Dari nasehat ini, kita sering menasehati diri-sendiri, merasa sadar, bahwa tidak ada gunanya membandingkan. Faktanya, manusia adalah makhluk sosial. Manusia hebat karena adaptasi, bekerja sama, punya kapasitas koordinasi.

Pada manusia purba, ada kesadaran untuk selalu bergantung pada kelompok, sehingga mereka mengakui hirarki dan status sosial. Sampai bisa kita lihat, di Mesir Kuno, negara-kota Yunani, Roma, hirarki ini dibentuk dengan perbudakan dan penindasan. Secara biologis, pembandingan ini terjadi sejak lahir. Begitu seseorang terlahir, mereka sudah diberi label, dimasukkan ke dalam klasifikasi: agama, status sosial, ekonomi, klan mana, daerah mana, suku apa, dst.

Yang perlu kita sadari, bukan menghindari pembandingan. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa membandingkan diri dengan orang lain itu sangat normal. Lebih baik memvalidasi (benar, saya sedang membandingkan hidup saya dengan hidup Nagita Slavina) daripada menolak kenyataan bahwa saya sedang membandingkan.

Emosi menyakitkan justru bisa terkurangi jika sadar sedang membandingkan.

Untuk mengatasi “faktor pertama” pembandingan ini, coba lakukan hal ini: benarkan dorongan untuk membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Semua orang merasakannya.

Charles Bukowski berhasil menulis ketika dia menyadari dirinya. Sebelum ia menjadi penulis hebat, dia seorang yang menjengkelkan, menyukai banyak perempuan, ekspresif, dan bisa membahasakan batinnya ke dalam puisi dan prosa. Bukowski tetap menjadi bajingan setelah menjadi penulis terkenal. Bukowski menjadi dirinya sendiri. Sadar dirinya seorang bajingan. Itulah langkah awal sukses: siapapun saya dan tindakan saya, harus berdasarkan kesadaran sebagai “saya”. Bukan dengan menipu diri-sendiri.

#2 Kamu Tidak Suka Ketidakpastian

Yang pasti: hidup itu penuh ketidakpastian.

Kebanyakan usaha membandingkan-hidup dengan hidup orang lain, yang tak-sehat, merupakan mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) atas ketidakpastian.

Bayangkan adegan yang sering terjadi ini. Setelah rapat kerja, seseorang membatin, “Apakah saya bisa seperti dia? Apakah saya bisa sepintar dan setenang dia? Kenapa saya tidak bisa tenang?”. Self-talk seperti ini, hasilnya adalah cemas, malu, tak-percaya diri. Self-talk seperti ini, seperti pewaktu (timer) sebelum kekecewaan datang. Kita menjadi overthinking, terobsesi, namun semuanya dalam bingkai ketidakpastian.

Tahu di mana masalahnya?

Kamu ingin kepastian. Dan kepastian itu belum terjadi. Atau tidak selalu sejalan dengan keinginanmu.

Untuk membuktikan keberhasilanmu mengerjakan project, yang dijadwalkan akan selesai bulan depan, berarti menunggu bulan depan. Untuk setara atau melampaui rekan kerja kamu, berarti kamu membutuhkan ukuran tepat dan pasti.

Apakah itu realistis?

Hampir semuanya, tak-realistis. Yang realistis adalah beradaptasi, improvisasi. Kamu adalah hamster di roda-putar. Bermainlah, kadang lambat kadang pelan, namun pastikan kamu menikmati permainan itu.

Berdamai dengan ketidakpastian, hasilnya lebih bagus untuk mental.

Project apapun tidak selalu sama dengan rencana. Orang lain yang kita lihat dari luar, adalah penampakan semata. Prestasi yang diunggulkan, bukan sesuatu yang “disebabkan oleh” 1 hal, melainkan “dibentuk oleh” beberapa faktor.

Jadi, sebaiknya, tanyakan ini: (1) Mengapa saya khawatirkan ini? (2) Saya sedang menghadapi ketidakpastian dalam bentuk apa? (3) Bagaimana kalau saya fokus di pekerjaan dan menikmati ketidakpastian?

Yang paling boleh kita bandingkan hanyalah hidup “saya yang kemarin” dan “saya yang sekarang”. Jika yang sekarang bisa lebih baik daripada kemarin, itu sudah cukup. Membandingkan diri dengan orang lain, apalagi orang itu berjumlah 10 orang, tidak akan ada habisnya.

#3 Tidak Menyadari Kebiasaan

“Membandingkan” itu kebiasaan. Ada pemicunya. Biasanya berasal dari kebiasaan lama yang kita perparah sendiri, tanpa kita sadari.

Saya berikan contoh terpopuler di dunia. Membuka Facebook.

Di mana pemicunya? Facebook menampilkan Beranda, dengan content berikut: (1) Iklan; (2) Apa yang pernah kita Save, Share, Comment, dan Like. Jejakmu adalah kelakuanmu, dan isi Berandamu adalah masa lalu kamu itu. (3) Preferensi. Pengaturan kesukaan. Misalnya, kamu sering klik Profile siapa, kata apa yang kamu blokir, apa yang kamu atur untuk muncul paling atas, dll. Instagram, YouTube, Tiktok, semuanya demikian.

Ketika kamu suka perempuan berkulit bersih, itulah yang “disarankan” di Beranda kamu. Ketika berteman dengan berandal yang sedang menyamar menjadi lelaki paling ganteng, itulah yang datang. Jika Facebook “tahu” kamu menyukai mobil, maka content yang relevan dari kesukaanmu itulah yang akan ditampilkan. Jadi, kamu sendirilah yang mendatangkan penggoda dan pemicu itu, sehingga masalah membandingkan hidup kita dengan orang lain, dirancang kita sendiri dan ditampilkan untuk kita.

Singkat kata, kebiasaan kita sendiri yang menghasilkan pembandingan hidup dengan hidup orang lain.

Kita sering membiarkan pemicu datang. Kita sering tidak menyadari bahwa yang terjadi sekarang ini (Beranda dan feed) terjadi karena kelakuan kita sendiri.

Bentuklah kebiasaan yang lebih baik, maka pembandingan akan berkurang drastis. Berita buruknya, ini membutuhkan usaha yang konsisten. Selagi kamu selalu berada di dalam iklan, kamu akan hidup di dalam iklan. Selagi kamu berteman dengan orang-orang yang suka selfie, mengabarkan otw liburan, dan pamer makanan, maka pembandingan akan merongrong batin kamu untuk sibuk “menolak pembandingan”. Bahkan sebelum kamu terpengaruh atau tidak, waktu kamu untuk reject dan close sudah memakan waktu.

#4 Kamu Tidak Punya Model untuk Diri Sendiri

Akhirnya, memakai apa yang tersedia di sekeliling: hidup orang lain.

Cara menghindarinya, sebenarnya mudah. Targetkan hidup seperti apa yang kamu inginkan. Jangan memakai orang lain sebagai model.

“Belajar meniru” merupakan insting dasar dalam “bertahan hidup” (survival), selain itu, memakai orang lain atau hidup orang lain sebagai model, itu pintasan termudah. Sayangnya, belum tentu menguntungkan kita.

Kita sering mendengar orang tua atau tetangga menceritakan kisah sukses orang lain. Termasuk di media sosial. “Lihat, orang ini sukses di bidang ini..” atau “Orang itu berhasil padahal dulunya..”. Akhirnya, pikiran kita sibuk memakai orang lain sebagai model. Kalau mau terbebas dari pembandingan, jalan terbaik adalah memakai prinsip dan tujuan kamu sendiri. Tidak harus meniru pola orang lain yang seringnya kita tidak tahu seperti apa dalamnya. Gunakan pola sukses kamu sendiri, dengan segala resiko.

Akui bahwa membandingkan hidup dengan hidup orang lain itu sangat wajar. Cobalah berdamai dengan ketidakpastian. Dan bentuklah kebiasaan yang bisa mengurangi pembandingan hidup dengan hidup orang lain. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.