in

Smartwatch: Revolusi Kultural di Pergelangan Tangan

Smartwatch sebagai produk yang membentuk budaya dan cara kita berinteraksi dengan dunia.

MONUMEN JAM. Semula komoditas, sampai akhirnya produk smartwatch berubah menjadi pembentuk budaya dan cara kita berinteraksi dengan dunia. (Image: DALL-E)

Dalam suatu ruang-tunggu, atau di suatu acara, sering terlihat siapa yang masih memakai jam tangan. Milenial dan Gen Z cenderung menghindari penggunaan jam tangan, seringkali dengan alasan, “Untuk apa memakai aksesoris yang fungsinya hanya menunjukkan waktu? Bisa lihat waktu dari ponsel.”. Secara fungsional, pendapat ini memang tepat.

Alasan Mereka Suka dan Tidak Suka Jam Tangan

Milenial dan Gen Z lebih mengutamakan fungsi dalam memperlakukan aksesoris. Dengan keberadaan ponsel, kebutuhan untuk melihat waktu dari jam tangan menjadi tidak esensial. Kecenderungan mereka menggunakan layar sentuh membuat jam tangan terasa “tradisional”. Daripada membeli jam tangan, mereka lebih memilih mengalokasikan uang untuk kebutuhan lain, terutama karena penggemar teknologi seringkali menghindari “perawatan” yang terkait dengan kepemilikan jam tangan.

Ada kelompok yang berbeda pendapat, menemukan nilai lebih dalam penggunaan jam tangan. Menurut mereka, terutama ketika bekerja, jam tangan memudahkan dalam melihat waktu tanpa perlu membuka aplikasi. Ini membantu mereka sinkronisasi dengan jadwal, lebih disiplin, dan fokus. Jam tangan tidak hanya sebagai alat penunjuk waktu tetapi juga simbol prestise, gaya, dan profesionalisme. Ini menjadi bagian dari fashion yang menunjukkan karakter, kepribadian, dan ekspresi diri. Dari sisi teknis, baterai jam tangan lebih tahan lama, dapat diwariskan, dan seringkali menjadi simbol penghargaan.

Smartwatch: dari Komoditi Menjadi Pembentuk Budaya

Di sinilah smartwatch (jam tangan pintar) memasuki perbincangan, dirancang untuk mendukung aktivitas dan pekerjaan. Toby Shorin punya ide tentang bagaimana “produk menciptakan budaya”. Smartwatch bisa kita pandang dengan perspektif seperti itu. Smartwatch bukan sekadar komoditi jual-beli. Smartwach membentuk budaya baru, cara kita berinteraksi dengan dunia (pekerjaan, orang lain, sekitar kita). Smartwatch menggabungkan teknologi dan gaya hidup dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Produk ini tidak hanya memperkaya fungsi sehari-hari melalui fitur-fitur seperti pemantauan kesehatan dan kemampuan untuk tetap terhubung tanpa harus mengeluarkan ponsel, tetapi juga mempengaruhi cara kita berinteraksi, membentuk perilaku sosial, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Melalui kapasitas untuk personalisasi yang mendalam, smartwatch memungkinkan pengguna tidak hanya untuk menyesuaikan tampilan dan fungsi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pribadi tetapi juga sebagai medium ekspresi sosial dan identitas, menandai era baru dalam hubungan manusia dengan teknologi.

Menggunakan smartwatch, kita dapat mengalami kemudahan mengganti interface, menikmati UI/UX, dan mengakses berbagai fitur untuk kegiatan luar ruangan dan olahraga, serta tetap terhubung bahkan ketika ponsel sedang di-charge. Dari memonitor detak jantung saat menonton serial thriller hingga merekam percakapan untuk keperluan wawancara, smartwatch memperluas batas kemungkinan interaksi digital kita tanpa mengganggu orang di sekitar.

Pada intinya, pengaruh smartwatch dalam budaya kontemporer, sebagaimana disinggung oleh Shorin, mencerminkan bagaimana teknologi dapat mengintegrasikan diri dalam aspek kehidupan manusia, memfasilitasi bentuk baru dari interaksi sosial dan komunikasi, serta memperkaya ekspresi diri dan identitas. Ini mengundang kita untuk memikirkan ulang peran teknologi dalam kehidupan kita, tidak hanya sebagai alat yang mempermudah kegiatan sehari-hari tetapi sebagai komponen kunci yang membentuk dan mendefinisikan budaya dan identitas sosial kita.

Biarkan ponsel sedang di-charge sambil memutar lagu atau audio book, berjalan-jalan sambil mendengarkan konten dari smartwatch menunjukkan betapa teknologi ini memudahkan multitasking dan integrasi hiburan ke dalam kegiatan fisik kita. Atau ketika ponsel berada di luar jangkauan, lupa diletakkan di mana, atau dalam skenario terburuk hilang, smartwatch memungkinkan kita untuk memanggilnya dengan suara keras. Ini menunjukkan bagaimana smartwatch tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga memberikan solusi praktis untuk masalah sehari-hari.

Kemampuan untuk mengambil foto dari jauh, memutar surah al-Quran atau lagu favorit, serta menerima notifikasi, panggilan, dan email langsung di pergelangan tangan kita adalah contoh bagaimana smartwatch memfasilitasi koneksi yang lebih dalam dan berkelanjutan dengan dunia digital, tanpa mengganggu momen atau interaksi dalam kehidupan nyata. Ini mencerminkan gagasan Shorin tentang teknologi sebagai pembentuk budaya, dimana smartwatch tidak hanya memperkuat hubungan kita dengan teknologi tetapi juga mengubah cara kita berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Fitur standar seperti thermometer, timer, countdown, kompas, dan GPS, menunjukkan betapa canggihnya teknologi yang kita bawa di pergelangan tangan. Ini bukan hanya tentang mengetahui waktu atau arah tetapi tentang memiliki alat multifungsi yang mendukung berbagai aspek kehidupan, dari petualangan luar ruangan hingga menjaga kesehatan dan produktivitas. Dalam konteks ini, smartwatch sebagai “produk yang menciptakan budaya” berperan dalam memperluas pemahaman kita tentang teknologi wearable, tidak hanya sebagai gadget atau aksesori tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi.

Berikan smartwatch ke seseorang, dan budaya orang tersebut akan berubah. Ini bukan sekadar pernyataan tentang efek teknologi pada individu tetapi tentang bagaimana inovasi seperti smartwatch secara kolektif mengubah praktik sosial, nilai-nilai, dan bahkan struktur komunitas kita. Dengan memakai smartwatch, kita tidak hanya mengadopsi teknologi baru tetapi juga berpartisipasi dalam evolusi budaya yang lebih besar, di mana batasan antara manusia dan mesin, personal dan publik, serta fisik dan digital menjadi semakin tak terdefinisi.

Kesimpulan yang diambil dari integrasi pandangan Shorin ke dalam artikel ini menunjukkan bahwa smartwatch lebih dari sekedar perangkat teknologi; itu adalah fenomena budaya yang menandai titik balik dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi dan satu sama lain. Melalui adaptasi, personalisasi, dan kemampuan untuk mempengaruhi kebiasaan serta interaksi sosial, smartwatch mengajak kita untuk memikirkan ulang dan mengevaluasi ulang potensi penuh dari teknologi wearable dalam mendefinisikan ulang dinamika sosial dan budaya di era digital. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.