in

Perjuangan Para Peneliti Mengatasi Silent Pandemic

Para peneliti masih melakukan langkah preventif dan penelitian tanpa henti, menghadapi silent pandemic.

Apa yang dimaksud dengan silent pandemic dan apa dampaknya?

Presidensi G20 Indonesia 2022 sukses diselanggarakan di Bali. Dan dalam rangkain kegiatan G20 sebelumnya, diadakan kegiatan Side Event AMR (24/8) di Bali. AMR adalah singkatan dari antimicrobial resistance (resistensi antimikroba).

Di Indonesia kasus penyakit infeksi masih tinggi misalnya penyakit tuberkulosis (TBC), pneumonia, malaria, kusta dan beberapa penyakit infeksi lainnya. Salah satu cara dalam memerangi penyakit infeksi ini adalah dengan pengunaan antiobiotik.

Antibiotik adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk menghambat atau membunuh mikroba penyebab infeksi. Dengan penggunaan antibiotik, maka penyakit-penyakit yang disebabkan oleh mikroba dapat ditekan perkembangannya.

Seiring dengan perkembangannya, telah banyak dilaporkan kasus di mana bakteri telah kebal atau resisten terhadap antibiotik tertentu.

Baca: Superbug di Balik Lezatnya Ayam, Ancam Kesehatan Manusia

Kondisi inilah yang disebut “silent pandemic“. Apa penyebab silent pandemic ini? Ketidakpatuhan pasien dalam menkonsumsi antibiotik dan kurang tepatnya penggunaan antibiotik merupakan faktor-faktor penyebabnya. Hal-hal tersebut akan mendorong mikroba dalam beradaptasi terhadap antibiotik dengan cara mengubah susunan genetiknya.

Perubahan ini dikenal dengan istilah mutasi. Resistensi mikroba terhadap antibiotik menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit infeksi. Resistensi mikroba dapat menyebabkan kegagalan pengobatan, kecatatan, kematian dan kerugian ekonomi suatu negara.

Kita memiliki benteng pertahanan untuk pencegahan, dalam bentuk riset ilmiah. Bagimana riset ilmiah dapat mencegah dan memerangi silent pandemic?

Kajian secara menyeluruh mengenai resistensi mikroba dapat dilakukan melalui kegiatan penelitian yang komprehensif. Banyak topik penelitian yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut seperti perilaku masyarakat dalam menggunakan antibiotik, bagaimana regulasi pemerintah dalam penggunaan antibiotik, mempelajari sifat mikroba patogen dan yang paling mutakhir saat ini adalah melakukan pengurutan genome dari mikroba patogen yang dikenal dengan istilah “Whole Genome Sequnecing” (WGS).

Beberapa penelitian di Indonesia saat ini sedang melakukan WGS terhadap mikroba-mikroba patogen dan bahkan sudah ada yang telah selesai dikerjakan. Beberapa mikroba yang telah dikerjakan dengan Whole Genome Sequencing seperti Sars_Cov2 dan Mycobacterium tuberculosis.

Genome Sars_Cov2 telah banyak dikerjakan oleh laboratorium-laboratorium jejaring yang telah ditunjuk Kementerian Kesehatan dan sekarang tetap berlanjut. Untuk Mycobacterium tuberculosis telah dikerjakan oleh Balai Litbangkes Papua walapun dalam jumlah sampel yang masih terbatas.

Saat ini, Kelompok Riset Patogenitas Bakteri pada Manusia di Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), juga dalam proses penyelesaian Genome Sequencing Streptococcus pneumoniae di Indonesia. Selain itu, Kelompok Riset tersebut telah bekerja sama dengan WHO untuk melakukan Whole Genome Sequencing bakteri Leptospira yang diperoleh dari daerah endemis Leptospirosis di Indonesia.

Salah satu tujuan utama dari kegiatan penelitian-penelitian tersebut adalah mempelajari resistensi antibiotik. Sedangkan tujuan lainnya adalah mempelajari epidemologi penyakit.

Dengan mempelajari sumber penyakitnya, pencegahan bisa dilakukan.

Peluang Penelitian dalam Memerangi Silent Pandemic

Pada saat ini teknologi WGS sangat berkembang pesat. Whole Genome Sequencing merupakan pengurutan materi genetik berupa asam nukleat (DNA) dari suatu organisme secara keseluruhan. Beberapa metode yang telah dikembangkan dalam melakukan WGS seperti Next Generation Sequencing (NGS) dan Oxford Nanopore Technologies (ONT).

Para peneliti mikroba patogen sedang mencegah silent pandemic.

Kedua metode tersebut telah mampu dikerjakan di Indonesia seperti pada beberapa lembaga penelitian, universitas, dan institusi lain. Saat ini, pemanfaat teknologi WGS juga menjadi salah satu program dari Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia. Program ini dikenal dengan Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi).

Walaupun biaya penelitian WGS masih sangat mahal, namun ada harapan baru untuk penyelesain masalah tersebut adalah adanya program Pandemic Fund yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada cara Presidensi G20 Indonesia, Bali. Dana tersebut juga dapat mendukung penelitian resistensi antibiotik untuk mengantisipasi munculnya kasus-kasus resistensi antibiotik yang tidak diinginkan.

Kegiatan Penelitian mengenai resistensi antibiotik juga akan sangat mendukung Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Tahun 2020-2024, dimana dalam salah satu strategi dalam peraturan tesebut adalah “meningkatkan pengetahuan dan bukti ilmiah melalui surveilans dan penelitian”.

Data WGS Dapat Mencegah dan Memerangi Silent Pandemic

Dengan adanya kegiatan Whole Genome Sequencing maka akan dihasilkanya data genom mikroba patogen untuk dapat mendeteksi kemungkinan terjadinya silent pandemic. Data genome tersebut dianalisis dengan menggunakan perangkat-perangkat lunak bioinformatika. Bidang ini merupakan kumpulan dari banyak rumpun ilmu seperti biologi, biologi molekuler, biokimia, kimia organik, dan ilmu komputer. Bioinformatika memiliki peran penting dalam pengolahan dan interprestasi data WGS.

Hasil analisis genom mikroba patogen memberikan banyak manfaat terutama dalam pengendalian mikroba tersebut.

Urutan materi genetik mikroba dapat digunakan untuk memperkirakan apakah bakteri tersebut akan resisten atau tidak.

Seperti contoh, data genom Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit tuberkulosis, dapat digunakan untuk memperkirakan kepekaan dan resistensi pada semua obat anti Tuberkulosis. Pengobatan pada Tuberculosis dibagi menjadi dua yaitu, obat lini pertama dan lini kedua.

Pada lini pertama digunakan obat-obat seperti Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, Etambutol dan Streptomisin. Sementara pada lini kedua, terdapat Amikasin, Capreomisin, Kanamisin, Etionamid dan lain-lain. Kepekaan dan resistensi M. tuberculosis terhadap semua jenis obat anti-tuberculosis tersebut dapat diperkirakan dengan menggunakan urutan dari materi genetik. Hal yang sama juga dapat diterapkan untuk bakteri-bakteri patogen yang lain seperti Streptococcus pneumoniae penyebab Pneumonia, Salmonella typhi penyebab tipes dan banyak lagi mikroba yang lain.

Dengan adanya data resistensi pada bakteri penyebab penyakit akan menjadi informasi yang sangat penting kepada para klinisi dan pelaksana program penanggulangan penyakit infeksi dalam memberikan antibiotik yang tepat. Hal ini sangat bermanfaat dalam memerangi bakteri resisten secara tepat sehingga akan mendukung terlaksananya program pengobatan berbasis precision medicine.

Artinya, seseorang diberikan pengobatan sesuai dengan karakter spesifik dari pasien termasuk sifat dari patogen yang menyerangnya. Sifat patogen yang menyerang mencakup kerentanan atau ketahanan terhadap antibiotik yang akan diberikan.

Dengan menerapakan metode tersebut diharapkan dapat meningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara umum. Pendekatan WGS kelak dapat dapat dilakukan di seluruh rumah sakit di Indonesia, terutama untuk mendeteksi resistensi antibiotik lebih dini untuk menurunkan angka kematian pada infeksi akibat bakteri resisten antibiotik. [ym]


Yustinus Maladan. Lahir di Toraja, besar di Papua. Peneliti di Balai Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), program doktor biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *