in

Sekarang, Sensor Berita Sudah Diganti dengan Metode Ini

Tentang alasan kawan saya tidak mau mengikuti berita terbaru..

(Credit: seb_ra)

Sore itu, seorang kawan kirim pesan, “Saya tidak ikuti berita. Termasuk tidak lihat status kawan-kawan saya di WhatsApp.”. Saya bertanya, “Mengapa?”. Dia jawab, “Tidak ada relevansi dengan hidup saya.”. Jarang ada orang punya sikap seperti itu. Umumnya, orang suka scroll berita dan lihat video lucu sampai lama.

Jumlah orang yang tidak suka baca berita sangat kecil dibandingkan orang yang dimanipulasi berita.

Demi Perbincangan, Bukan Relevansi

Sebagian besar orang.. Membaca berita untuk membicarakan berita itu. Bukan karena relevansinya dengan hidup mereka.

Kita sering dengar sepintas: “Bagaimana kronologi kecelakaan kemarin?”, “ML dan Bestie itu apa?” , “Kapan pandemi berakhir?”, “Menang mana, Russia atau Ukraina?”. Kemudian, orang search Google. Ada banyak hasil pencarian yang relevan (menurut algoritma Google). Orang bahas berita itu. Pertarungan, perdebatan, menyala dan hangat, datang berita serupa yang masih dalam 1 topik atau 1 longtail keyword. Feed berita terus berjalan.

Tujuan Media Membuat Berita

Tujuan media membuat berita itu komersial, demi keuntungan. Media ingin kamu mengkonsumsi berita itu. Semakin sering, lama, berulang, dan “terlibat” (engaged). Media dan sistem traffic, mereduksi “manusia” menjadi: pembaca, audien, konsumen, AVR (average reading time, waktu baca rata-rata), like, comment, share. Semua dihitung sebagai grafis. Keterukuran berdasarkan kuantitas.

Eksploitasi Emosi

Media menyajikan informasi berdasarkan content yang memiliki muatan emosi, agar terasa penting. Bikin citraan bahwa ini “yang pertama”, “yang tidak bisa kamu lewatkan”, dan memintamu waspada.

Jangan dikira, orang tidak terpengaruh. Berapa banyak orang yang percaya kalau Indomie Instant berbahaya, padahal mereka tidak pernah datang ke pabrik Indomie untuk lihat proses pembuatannya?

Tidak jarang, tingkat keparahan ini dibesar-besarkan — dengan prediksi, analisis ahli, yang bertugas membenarkan dan memihak pada keinginan media, “Mari kita lihat saja apa yang terjadi berikutnya..”. Itu kalimat lain dari “Ikuti terus berita kami..”. Biarpun masuk perbincangan buruk, sentimen negatif, yang penting perbincangkan terus agar issue ini selalu jadi pembahasan.

Dalam teknik menulis, broadcasting, ada aturan: buat orang mengikuti sampai selesai dan mengulang.

Orang terobsesi pada detail yang tak-relevan dengan hidup mereka sendiri, seperti: bagaimana kebiasaan tidur Anya Geraldine, BTS, berapa biaya pembuatan film ini, dst.

Perspektif Minor yang Tak-Relevan

Kalau pembaca jenuh, beri hiburan berupa humor. Untuk mempertinggi “engagement”, mereka membuat segmen khusus hiburan, yang berisi video lucu, agar semua orang tertawa.

Jangankan content berisi product review atau live broadcast.. kalau mau orang suka, dapat –retention– tinggi, sisipkan humor. Pengajian, acara seni, debat politik, semua jual humor. Jual content yang “negatif” agar viewer tinggi, klik iklan, dan dapat earning tinggi.

Efeknya, konsumen merasa seperti diberitahu, padahal yang sebenarnya terjadi: mereka diarahkan ke perspektif minor tentang peristiwa yang tak-relevan. Ledakan di luar kota mereka, memancing luapan emosi (sedih, marah, haru), dan pikiran kita terus dimanipulasi dengan berita berjalan.

Memainkan emosi dan menyentuh ketidaksadaran, itulah taktik untuk mempengaruhi keputusan orang, membuat orang mengalami kebutuhan baca berita. Ini eksploitasi emosi dan bias kognitif orang. Fear of missing out (FoMo), bujuk dan katakan kalau pembaca tambah keren jika simak informasi terbaru.

Informasi yang Berguna

Media berita mengoptimalkan informasi yang terasa penting dengan sedikit memperhatikan kepentingan aktualnya. Jika kita melihat ke belakang melalui sejarah, ini adalah keadaan umum era di mana jaringan informasi sangat terdesentralisasi. Ada informasi di mana-mana.

Era jaringan informasi “terpusat” memiliki masalah sebaliknya: mereka berbagi informasi yang tampaknya tidak penting tetapi sebenarnya cukup penting. Informasi makro yang berguna adalah informasi yang secara langsung berdampak pada ekonomi. “Mengapa harga minyak goreng naik?” itu penting. Bagaimana bikin ternak lele dari drum plastik di rumah, itu penting. Termasuk mengajarkan hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah: produktivitas, negosiasi, networking, dll.

Ekonomi mendukung budaya, bukan sebaliknya.

Selesai dalam Kalkulasi

Setelah pemberitaan menakutkan, “trauma berulang” bisa terjadi.

Sekarang, perang Russia – Ukraina dengan statistik berjalan, menjadi hiburan. Perang menjadi berbentuk crowdsourcing. Perang menjadi cari dukungan, adu-data, klaim, dan itu membuktikan kalau perangnya sudah “selesai”, yang belum selesai hanya pembuktian perhitungan masing-masing pihak. Baudrillard mengulas perang seperti ini dalam buku The Gulf War Did Not Take Place, 2012.

Sama halnya, ketika media merilis acara (bukan peristiwa). Teks, image, sudah “selesai” sebelum ditayangkan. Acara menjadi “laporan kantor” dan iklan. Konflik selebritas dan pencitraan para politisi, memburu popularitas di jalan mereka sendiri. Kita membiarkan tayangan seperti ini sebagai hal yang wajar.

Mari lihat bersama, apa yang terjadi ketika media sajikan informasi yang nggak penting bagi hidup kita?

Trauma Berulang

Studi menemukan bahwa banyak orang yang melihat peristiwa bencana (serangan teroris, penembakan massal, bencana alam) berulang-ulang di televisi dapat mengembangkan gejala seperti PTSD, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman langsung dari bencana tersebut. Tentang studi PTSD akibat konsumsi informasi ini: Mark A. Schuster, et al., (2001) “A National Survey of Stress Reactions After the September 11, 2011, Terrorist Attacks”, New England Journal of Medicine, 345.

Pengulangan Terencana

Ketika media berita menjadi terobsesi dengan suatu topik dan menayangkannya berulang kali, orang-orang mulai percaya bahwa topik itu penting, baik itu benar-benar penting atau tidak.

Dearing, J; Rogers, E (1988) menjelaskan taktik pengulangan berita ini, dalam “Agenda-Setting Research: Where Has It been, Where is It Going?”. Communication Yearbook. 11: 555–594.

Pada berita negatif, orang jadi memperbesar masalah. Hater, buzzer, pemihakan, dan kesenjangan kognitif tinggi.

Teori Kultivasi

Orang yang menonton lebih banyak berita cenderung melebih-lebihkan jumlah kejahatan dan kekerasan yang terjadi di dunia nyata. Mereka juga umumnya lebih sering tidak mempercayai sesama warga, menjadi paranoid bahwa semua orang berusaha mendapatkannya. Riddle, K. (2009) menjelaskan ini dalam Cultivation Theory Revisited: The Impact of Childhood Television Viewing Levels on Social Reality Beliefs and Construct Accessibility in Adulthood. International Communication Association. pp. 1–29.

“Hati-hati, banyak orang jadi tega kalau sudah urusan uang..”, misalnya nasehat waspada seperti itu. Akhirnya, orang menjadi paranoid, mudah curiga, dan alami kecemasan ketika interaksi dengan orang lain.

Misinformasi dan Propaganda

Media besar bisa salah. Berita dari channel seperti Fox News dan MSNBC di Amerika Serikat, menurut penelitian Poynter, banyak berisi informasi yang lebih buruk daripada seseorang yang tidak menonton berita.

Industri berita sering memberikan informasi salah. Saya tidak uraikan di sini, contohnya sangat banyak.

Pertaruhan Mental

Terjadi pertaruhan mental di balik cara konsumsi informasi. Rasa pesimisme lebih besar tentang dunia dan kehidupan pembaca sendiri, seperti kata Mary E. McNaughton-cassill (2001), dalam The News Media and Psychological Distress, Anxiety, Stress, and Coping, 14:2, 193-211.

Mental mencari pintasan dan mereduksi masalah, sering terjadi ketika pembaca berhadapan dengan realitas faktual obyektif yang sama. Bias berpikir terjadi. Misalnya, melihat Anya Geraldine sedang di fitness. Komentar orang berlainan, berseberangan. Cara pandang stereotype (berstandar ganda), negatif (misalnya pada kasus tontonan berita selebritas dan gosip artis).

Konten kamu baik karena berisi nasehat dan ajaran agama? Mungkin. Namun jika dirancang untuk membajak perhatian, itu tidaklah baik. Mendorong perilaku kompulsif dan berulang-ulang pada pembaca.

“Beranikah kamu dinilai dari Beranda medsos kamu? Beranikah kamu diuji terkait keputusan yang kamu ambil berdasarkan informasi yang kamu terima?”

Ada semacam kewajiban moral untuk mengikuti berita.

Media sosial, dengan cara kita meluangkan waktu, tidak selalu buruk.

Kajian longitudinal selam 8+ tahun menemukan, sedikit efek negatif dari pemakaian media sosial. Tidak semuanya negatif. Selalu ada optimisme dan jalan ke masa depan yang masih cerah. Media sosial yang digunakan dengan baik juga bisa meningkatkan kesejahteraan.

Jaringan Informasi Manusia Bukan Sebatas Angka

Media dapat keuntungan, kita dapat sedikit sekali informasi yang relevan. Jaringan terdesentralisasi mempromosikan jumlah yang lebih tinggi dari informasi berkualitas rendah. Kuantitas informasi dirancang untuk demografi dan psikografi pembaca, berdasarkan umur, agama, lokasi, dan pilihan keyword kesukaan. Apakah identitas lokal dan budaya menjadi menguat karena informasi?

Yang Perlu Kita Lakukan

Belajar menavigasi diri kita dalam memilih sumber terpercaya, memahami apa sebenarnya informasi, menyadari mana yang relevan dan bisa ubah hidup saya, dan tahu mana yang hanya berupa omong kosong. Apakah informasi ini relevan bagi saya? Bisa konversi waktu dan energi saya untuk hidup yang lebih baik?

Seandainya ada pajak untuk perhatian, mungkin banyak aplikasi dan media yang kena pajak tinggi karena membajak perhatian “saya”.

Penelitian Grossma mengatakan, respon terhadap emosi negatif lebih kuat daripada peristiwa positif. Vaish, A., Grossmann, T., & Woodward, A. (2008). Tidak semua emosi diciptakan sama: bias negativitas dalam bangunan sosial-emosional. Psychological Bulletin, 134(3), 383–403

Informasi Menghasilkan Bias

Bias Narasi

Orang ingin membuat “cerita” di balik peristiwa. Misalnya, ketika Jokowi sudah terpilih 2 kali periode, banyak orang berspekulasi, kalau Jokowi akan nyalon lagi. Mereka bikin skenario, tentang partai baru, tentang “rencana yang sudah lama”, dll. Keinginan untuk mengatur informasi dalam kerangka struktur cerita yang koheren (Peristiwa X terjadi karena Peristiwa Y), meskipun itu tidak benar.

Bias Konfirmasi

Kecenderungan untuk menyusun informasi baru sehingga sesuai dengan keyakinan yang kita pegang sebelumnya. Kalau tidak sesuai dengan apa yang tidak kita percaya, kita abaikan.

Jadi, berita yang akhir-akhir ini kamu konsumsi biasanya begini: negatif, baru, sesuai cerita, dan mendukung kepercayaan kamu.


Berita berada dalam frame “ekonomi perhatian” (attention economy) yang merampas 4 detik yang kamu punya (ketika melihat preview sepintas atau notifikasi, sampai kamu klik. Berita sering memanipulasi pikiranmu, memanfaatkan apa yang kamu punya.

Apa Ciri Informasi Penting Itu?

Informasi yang penting memiliki ciri: jangka panjang *apakah kelak masih berlaku?) lambat (butuh pemahaman bertahap), impersonal (bukan tentang “orang”, melainkan tentang gagasan), abstrak (intisari yang butuh uraian panjang), dan tidak harus negatif. Hidup ini menarik dan menyenangkan, tidak semurung apa kata berita.

Sekarang, mari hitung-ulang, informasi penting apa yang telah ubah hidup kita? Saya berikan beberapa contoh yang mungkin mengejutkan:

Kecelakaan mobil membunuh lebih banyak orang daripada gabungan terorisme, penembakan massal, dan bencana alam.

Rekayasa genetika, berupa editing DNA, bisa prediksi penyakit dan kondisi tubuh sebelum terjadi dan meningkatkan kesehatan milyaran manusia di masa datang (jika diterapkan). Tidak perlu seorang indigo untuk meramal apa yang masih akan terjadi, selagi cara kita memperlakukan orang lain masih mirip angka statistik. Kuantitas dan kuantitas melulu.

Mari bertanya ke diri sendiri, “Seperti apa update dan koleksi informasi saya?”.

Jika informasi sering memberikan kita “tujuan” dan mempengaruhi cara kita melihat dunia, mari secara sadar memperbaiki cara kita memilih dan memperlakukan informasi.

Tanyakan lagi, “Apakah saya punya metode untuk mengkonsumsi informasi?”.

Tren mendatang, orang akan suka membayar jika itu menjamin hidup mereka lebih baik.

Bayar untuk membaca, jika perlu, asalkan informasi itu tidak lagi menjadi “gangguan” (distractions), tidak lagi anggap kamu sebagai produk, dan bisa ubah hidup kamu menjadi lebih baik. Perlakukan seperti ketika kamu memilih baju (yang dipakai selamanya), memilih sekolah (yang akan kamu ikuti 5 jam sehari).

Pilih yang layak mahal bagimu, dari sisi waktu dan energi. Jangan biarkan sampah melintas dalam mimpi dan waktu kita. Hidup kita tidak untuk click-bait, berita singkat, dan ajakan membeli terus-menerus.

Bukan Zaman George Orwell

Kawan saya, masih sering analogikan zaman sekarang dengan novel fiksi 1984 karya George Orwell. Tentang Big Brothers, sensor, pilihan buruk, pengawasan (surveillance) di mana-mana. Menurtku, mungkin tidak seperti 1984. Dia tidak membaca Aldous Huxley.

Huxley benar. Orwell berkemungkinan salah.

George Orwell bercerita tentang hegemoni. Takut pada mereka yang akan melarang buku; yang merampas informasi dan menyembunyikan kebenaran. Budaya tawanan. Orang dikendalikan dengan rasa sakit. Apa yang kita benci, menghancurkan kita.

Aldous Huxley, memakai sudut pandang lain. Tidak ada buku terlarang, karena orang tidak mau baca. Kebenaran akan tenggelam dalam lautan yang tidak relevan. Budaya nggak-penting (sepele). Orang dikendalikan dengan kesenangan. Apa yang kita takut, menghancurkan kita.

Musuh kita bukan pemerintah besar versi Orwell, yang menghasilkan berita palsu untuk kendalikan rakyat. Musuh kita: pemerintah (atau lembaga berwenang) yang tidak membatasi kekuatan perusahaan media swasta untuk mematikan rasa pemilih dengan tontonan visual dari televisi. olahraga, komedi situasi tanpa pikiran, dan atraksi adiktif dari perangkat informasi genggam yang selalu ada. Musuh kita duduk di Silicon Valley sedang memperbaiki aplikasi yang membuat orang bisa posting content sebanyak mungkin, sampai kawannya tidak bisa bedakan mana yang penting dan tidak lagi. Atau di Hollywood sedang menyulut api pop culture.Musuh kita tidak di ibukota pemerintah.

Kita tidak lagi berhadapan dengan sensor karena sensor sudah tidak perlu lagi. Kita berhadapan dengan content yang lebih banyak, lebih populer, yang membuat tampak penting karena kuantitas. Ketika berita X yang datang dengan relevansi tinggi datang, bisa muncul berita Y yang menetralisasi pentingnya berita X tadi. Sensor digantikan dengan netralisasi. Dunia Orwell digantikan Huxley.

Media yang menganggap popularitas tweet sebagai kemenangan melawan media konvensional itu ironis sekali.

Dan mereka yang selalu menganulir usaha seseorang untuk “berbeda”, mengajak berpikir, betapa sering mendapatkan netralisasi dari kawan di sebelahnya, “Hidup itu dinikmati saja. Dari dulu, hidup memang begini.” sambil menikmati lagu-lagu cover di YouTube dan bermimpi kaya seperti orang-orang terkenal itu. Sebatas mimpi. Sebatas konsumsi dan menghibur diri. Mungkin dia tidak membaca Huxley, sehingga tidak tahu kalau mematikan usaha kreatif kawannya adalah kejahatan yang tidak pernah dianggap sebagai kejahatan. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.