in

Bekerja di Seni Kreatif tanpa Ketakutan

Bagaimana tetap menjadi seniman kreatif tanpa ketakutan. Bahaya dan ganjaran di balik cipta seni.

Seni dan Ketakutan. Bagaimana menjadi kreatif dalam seni, tanpa rasa takut? (Credit: Amazon)

Pekerjaan kreatif yang #belum kita lakukan, tadinya tampak begitu nyata, ketika masih di dalam pikiran, lebih nyata daripada bagian pekerjaan yang telah kamu selesaikan.

Setelah setengah jalan, bagaimana rasanya? Kelelahan di studio. Mengangkut peralatan. Tidak menemukan nada berikutnya. Belum menemukan kalimat yang pas untuk puisi ini. Kolaborasi gagal. Gelap ketika melihat tren. Kamera bermasalah. Menghadapi kritik. Hasil yang seperti kemarin. Tanpa pembaca. Sudah banyak orang di “jalur ini” (yang sedang kamu tempuh), ternyata mereka jauh lebih mahir dan profesional dibandingkan dengan kamu.

Seni dan Ketakutan. Bagaimana menjadi kreatif dalam seni, tanpa rasa takut? (Credit: Amazon)
Art and Fear Ringkasan buku Art & Fear: Observations on the Perils (and Rewards) of Artmaking (Seni dan Ketakutan – Observasi tentang Bahaya (dan Ganjaran) dalam Cipta Seni), Edisi 1, Kindle version, 193 hlm, 2001, Amazon LLC, 978-0961454739

Bekerja di seni kreatif, mengundang bahaya (perils) sekaligus penghargaan (reward).

David Bayles dan Ted Orland meneliti “seni dan ketakutan” dalam menciptakan karya seni dalam buku Art and Fear – Observation on the Perils (and Rewards) of Artmaking.

Mengapa jenuh kalau ini pekerjaan kreatif? Rahasianya, temukan “makanan” di dalam pekerjaan kreatif kamu. Apa yang menarik? Bagaimana rasa yang kamu temukan dan tidak diketahui orang lain? Tidak bisa melalui cerita, tanpa kamu mengalami.

Ini berarti, kejenuhan, kecemasan, dan bentuk-bentuk lain dari ketakutan, selalu ada dalam pekerjaan kreatif. Jaminan terbaik agar tidak jenuh adalah menyadari, selalu ada yang bisa kamu pelajari di dalam pekerjaan ini, sehingga akan menemukan hal-hal menarik.

Berkarya merupakan proses. Pasti ada cela. Tidak sekali menjadi bagus. Makhluk tanpa cela tidak perlu membuat karya seni. Apresiasi itu bagus, namun kamu berkarya bukan demi apresiasi.

Sebagian besar karya seni kamu hanya untuk mengajarkan (kepada dirimu sendiri)/bagian kecil dari karya besar yang akan kamu buat.

Temukan potongan yang gagal, jangan buang. Kamu belajar dengan menciptakan karya. Seniman tidak berhenti kecuali: “sakit ketika bekerja” lebih sakit dibandingkan “tidak bekerja”.

Banyak seniman berhenti berkali-kali selama menjalani proses, lalu berhenti sama sekali. “Keluar” (quit) dari proses kreatif, terjadi berkali-kali dan menjadi sumber kegagalan, sedangkan “berhenti” (stop) hanya sekali, tidak mau memulai lagi.

“Seni adalah tentang bagaimana memulai lagi.”.

Seni bukan untuk pembosan, bukan untuk orang-orang yang lari dari pahit dan sakit demi melupakan penyelesaian. Seni itu tentang pandangan subyektif yang membuat orang lain ikut melihat.

Seniman tidak berkeinginan sesekali demi kepuasan dirinya (misalnya, ingin pameran di Gedung A) kemudian berhenti. Mereka selalu berkarya. Mereka merawat mental sekalipun tanpa pameran, tanpa penonton, tanpa komentar, dan tanpa dorongan semangat dari luar.

Ketakutan datang. “Tidak ada yang mengerti maksud saya, tidak ada yang suka karya saya, pekerjaan saya.”. Itu ketakutan manusianya. Tidak ada hubungannya dengan seni.

Sapuan pertama di kanvasmu, memenuhi syarat seperti 1000 lukisan terbaik di dunia. Jika kamu lanjutkan sampai akhirnya lukisan itu selesai, maka sapuan terakhir di kanvas itu hanya pas untuk lukisanmu. Unik. Tidak sama dengan lukisan manapun. Hanya cocok dengan lukisan itu sendiri. Perkembangan imajinasi, dari sapuan pertama sampai terakhir, itu masalah ” kemungkinan” yang semakin berkurang. Bisa begini, bisa begitu. Semakin unik.

Puisi dalam pikiran, selalu terasa sempurna. Seniman berkarya bukan di dalam lamunan. Mereka melamun sebagai tahapan dalam berkarya. Seni seperti memulai kalimat sebelum kamu tahu akhirnya. Karya terjadi di tengah berkarya. Proses menempa kamu.

Seni berjalan bersama ketidakpastian, menghargai kemungkinan tanpa-prediksi.

Menyelesaikan karya merupakan momen “kehilangan”. Semua kemungkinan, sekarang ini, kamu singkirkan dan menjadi suatu karya. Kamu memilih “kalimat ini”, “teknik ini”, “bentuk ini” dari sekian banyak kemungkinan.

Dunia penuh orang istimewa namun hanya sedikit yang menghasilkan karya. Akhirnya, dunia tidak lagi peduli dengan orang-orang yang istimewa ini. Dunia tidak menyebutnya sebagai orang-orang berbakat, karena mereka tidak memulai berkarya, terus-menerus.

Mereka yang bilang, “Saya pernah.. Saya pernah mendapatkan penghargaan.. Saya sebenarnya dianggap berbakat..” namun berhenti di masa lalu, berhenti berkarya karena puas tak-puas, pernah tak-pernah, hanya layak selesai di masa lalu, jika tidak melanjutkan kerja kreatif. Mereka yang bilang, “Saya akan.. Saya nanti akan..” tanpa segera belajar sambil berkarya, hanya layak melamun tanpa karya.

Seniman menjadi lebih baik dengan mengasah kemampuan. Mereka setiap hari menorehkan coretan, mengarsir drawing, berlatih vokal, memperdalam sentuhan, apa yang mereka tekuni mereka pelajari. Menjelajahi teknik, media, gagasan, dan kebaruan. Bukan mengulangi yang kemarin melulu.

Artis menjadi lebih baik dengan mengasah keterampilan mereka atau dengan memperoleh yang baru; mereka menjadi lebih baik dengan belajar bekerja, dan dengan belajar dari pekerjaan mereka.

Berkarya sekali, sama sekali membuatmu tidak terlihat, sekalipun kamu berorientasi terhadap “kualitas terbaik”.

Penting Mana: Kualitas atau Kuantitas?

Pada suatu hari, seorang guru pembuat vas keramik, membagi kelas menjadi 2 bagian. Sebelah kiri, untuk murid-murid yang akan dihitung karyanya berdasarkan kuantitas (jumlah) dan sebelah kanan akan dinilai berdasarkan kualitas (mutu). Kalau mencapai 50 vas keramik, dapat nilai “A”. Kalau terhitung jumlahnya 40 dapat “B”.
Sedangkan yang dihitung berdasarkan kualitas, hanya perlu membuat 1 pot, yang harus “sempurna”, sebagus mungkin, dan akan mendapatkan nilai ” A”.
Pada hari penilaian, bagaimana hasilnya?
Semua karya terbaik, ada di kelompok “kuantitas” (jumlah).
Kelompok “kuantitas”, membuat berkali-kali. Tidak semuanya bagus. Ada perkembangan. Mereka belajar dari proses. Mengasah ketrampilan. Tidak membuang potongan gagal. Tidak berhenti berkarya. Mereka tahu apa yang menyebabkan beberapa vas di tahapan awal kurang bagus.
Kelompok “kualitas”, yang memilih pekerjaan 1 karya, kebalikan dari itu. Membuat hanya sekali. Tidak ada pembanding, jadi kalau dibilang “bagus” itu karena hanya satu-satunya. Tidak ada perkembangan, sekali saja lalu selesai. Ketrampilan mereka tidak teruji. Mereka berhenti berkarya setelah mencapai target “1 yang dianggap terbaik”. Mereka tidak pernah bisa membandingkan karya mereka sekarang dengan yang sebelumnya, karena tuntutan sekali saja.

Hapus “yang penting, sudah pernah..” jika melakukan kerja seni kreatif.

Seniman itu bekerja. Pekerjaan adalah.. Metode kerja. Disiplin. Kekuatan dan kelemahan. Pandangan hidup. Pelajaran yang harus kamu pelajari, ada di dalam pekerjaan kamu.

Untuk melihat pekerjaan kreatif kamu.. Lihat dengan jelas, tanpa penilaian, tanpa kebutuhan, tanpa harapan atau keinginan, tanpa ketakutan. Tanpa harapan emosional. Kesampingkan ketakutanmu selama berkarya.

Manakah yang kamu pilih: memiliki lulisan Van Gogh di dinding ruang tamu atau ada Van Gogh di ruang tamu kamu?

Coba periode isolasi. Masa di mana kamu sepenuhnya berkarya, tanpa dunia luar. Bagi waktu untuk orang laim dan waktu berkarya.

Dunia luar mungkin masih tampak diam ketika kamu berkarya. Namun keinginan berkarya dari dalam dirimu, yang tanpa ketakutan, seperti nyala api. Menjalar dan membesar. Ketakutan hanya memberimu diam, menanti, dan waktumu akan dimangsa ketakutan itu.

Kita tidak tergerak karena melihat orang lain berkarya. Orang lain hanya memberikan wawasan. Keunikan ada di tangan dan pikiran kita sendiri. Setiap ada godaan untuk membuat hal yang sama, teknik sama, medium sama, dan gagasan sama, maka itu datang dari masa lalu. Penjelajahan lebih luas dan dalam, ada di masa depan. Seni berarti penjelajahan.

Seni post-modernis adalah seni post-audience.

Kekuasaan tidak dapat dipinjam melintasi ruang dan waktu. Ada perbedaan antara makna yang terkandung dan makna yang dirujuk. Tidak ada yang boleh memakai topi nelayan Yunani kecuali seorang nelayan Yunani.

Ide-ide baru datang jauh lebih jarang daripada ide-ide praktis – ide-ide yang dapat digunakan kembali untuk ribuan variasi, menyediakan kerangka kerja untuk keseluruhan karya daripada satu bagian.

Penemuan bentuk-bentuk yang berguna, sangatlah berharga.

Bagi kebanyakan seniman, membuat karya seni yang baik bergantung pada pembuatan “banyak” karya seni.

Sebuah karya seni adalah ekspresi permukaan dari kehidupan yang dihayati dalam pola produktif.

“Saat para bankir berkumpul untuk makan malam, mereka membahas seni. Saat seniman berkumpul untuk makan malam, mereka membahas uang.” – Oscar Wilde

Karya seni yang baik, jika mengajak pemirsa mengalami kepekaam darinsidit pandang seniman, pasti mempertanyakan sistem kepercayaan pemirsa itu sendiri.

Ada cerita bagus tentang hilangnya kepekaan dan kemampuan orang dalam seni.
“Ketika putri saya berusia sekitar tujuh tahun, suatu hari dia bertanya kepada saya apa yang saya lakukan di tempat kerja. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya bekerja di perguruan tinggi – bahwa tugas saya adalah mengajari orang cara menggambar. Dia balas menatap saya, tidak percaya, dan berkata , “Maksudmu mereka lupa?” “- Howard Ikemoto.

Banyak orang lupa bagaimana rasanya menyanyi, menggambar, karena kecerdasan mereka tergilas memperhatikan hal-hal lain. Mereka memilih tidak berkarya, hanya menjadi penonton.

Sekolah menampung siswa yang ingin menjadi seniman dan guru yang berjuang untuk tetap menjadi seniman.

Fokus. Jika kamu mengejar 2 kelinci, kamu tidak menangkap keduanya.

“Untuk pemula, ada banyak jalur. Untuk yang mahir, hanya ada sedikit jalur.” – Zen Proverb

Perkembangan karya sebagian besar seniman dari waktu ke waktu adalah kemajuan dari seni menuju kerajinan. Mereka menjadi perajin karena.. Mengerjakan hal sama dengam cara sama dan pemikiran sama. Mengerjakan pesanan. Diburu deadline. Tidak mau belajar. Kurang tantangan. Zona nyaman. Mengejar uang. Membutuhkan validasi dan pengakuan. Kurang kritik.

Penemuan besar seorang seniman biasanya datang lebih awal, dan seumur hidup kemudian dialokasikan untuk mengisi dan menyempurnakan penemuan tersebut.

Jawaban meyakinkan, tetapi ketika kamu menemukan sesuatu yang sangat berguna, itu mungkin akan berbentuk pertanyaan. Orang-orang dengan jawaban menarik adalah mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik.

Berkaryalah. Terus-menerus. Jangan berhenti. Jangan pernah takut. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.