in

Mengakali Prinsip Kesenangan Sesaat

Jika sepintas menyenangkan namun kamu ragu, saring dengan 3 pertanyaan ini..

Jika sepintas menyenangkan, tanyakah: Apakah ini penting dalam jangka panjang? Bagaimana alokasi dan waktu saya yang lain? Bagaimana kalau saya bilang "tidak"? (Credit: Nicoleta Ionescu)

Mereka meminta saya berbicara di workshop. Tidak ada charge untuk itu. Kalaupun ada, dibandingkan dengan waktu dan kualitas yang saya berikan, tidak mencapai sepertiga dari harapan saya. Komunitas yang mengundang, kurang bersemangat. Tidak menarik. Sayang sekali, saya menyadari ini setelah terlanjur menyanggupi akan datang ke sana.

Pernah mengalami jebakan kesenangan seperti itu? Sepintas menyenangkan, kita bilang “Iya,..” ternyata merugikan kita sendiri.

Kita sering dapat tawaran kemudian mengiyakan dan terjebak di sana. Ajakan masuk organisasi X, ajakan jalan-jalan dan nongkrong, ajakan lomba rebahan tingkat kecamatan.

Kita sudah terlanjur mengatakan “iya”. Terlalu sering saya bilang “iya”, pada sesuatu yang ternyata tidak menguntungkan bagi kita.

Sebelumnya, saya sering alami hal seperti itu.¬†Kemudian saya bertanya kepada orang-orang yang “kejam” dalam mengambil keputusan. Mereka memberikan tips.

Mengakali Prinsip Kesenangan

Ketika melihat jadwal di kalender masih kosong, masih sebulan lagi, dengan mudah saya bilang “iya”.

Spoiler: trik ini juga yang dipakai orang untuk mengikat kita dengan janji. Kemudian, saya bertanya kepada diri sendiri, “Untuk apa saya bersedia, padahal jelas tidak menguntungkan?”.

Sigmund Freud memperkenalkan “prinsip kesenangan”: keuntungan jangka pendek untuk rasa sakit dalam jangka panjang. Maksudnya? Sepintas, senang. Setelah menimbang jangka-panjang, ternyata nggak enak.

Lihatlah apa yang terjadi pada orang yang terlanjur mengiyakan:

  • Saya tidak tahu kalau transportasi itu mahal.
  • Ternyata, 2 hari sebelum tanggal itu, saya harus siapkan presentasi.
  • Saya terlanjur mengiyakan dan terikat dengan organisasi X, sehingga setiap hari Selasa, waktu saya full di situ.
  • Makanan ini ternyata membuat perut saya mual.
  • Mengecewakan, saya seperti menghancurkan apa yang sudah saya bangun selama ini: saya coba “making time”, menciptakan waktu luang, waktu saya malah habis untuk aktivitas yang nggak jelas.

Untuk menghindari jebakan “prinsip kesenangan”, ajukan pertanyaan kepada diri-sendiri. “Apa yang terjadi kalau acara ini besok?”.

Perkirakan Waktu

“Bagaimana kalau setiap Selasa kita berkumpul di sini?”.

Sepintas juga mudah, namun menjadi tidak menyenangkan kalau keputusan itu melewatkan time-blocking. Singkatnya, sebelum menjawab, lihatlah jadwal kamu.

Jangan mengiyakan hanya karena waktu kamu yang mendatang itu kosong. Bisa jadi, kamu dulu sekali pernah punya rencana akan memakai waktu kosong itu untuk promosi, belajar, dll.

Waktu kosongmu tidak untuk orang lain. Kecuali, jika ajakan itu sangat penting dan berkaitan dengan pekerjaanmu.

Menjawab “iya” atau “tidak”, seperti melihat gunung es. Sudahkah kamu melihat bagian dasarnya?

Pikirkan seluruh aspek, jangan hanya puncaknya. Pikirkan jadwal reguler kamu. Antisipasi, siapa tahu ada kegiatan yang lebih menarik nanti.

Mengatakan “Tidak”, Membutuhkan Latihan Keras

Kita terlalu sering permisif, mudah membolehkan, mengulurkan bantuan, namun jarang mengatakan “Tidak..”. Ini membutuhkan latiahan keras.

Saya tidak banyak berbicara ketika bekerja. Saya tidak berkomentar pada topik yang memancing pertentangan horisontal. Saya tidak membaca content yang tidak mengubah hidup saya. Saya tidak asal baca buku yang dianggap “bagus” oleh orang lain.

*) Jika kamu punya banyak kata “Tidak..” pada konteks yang tepat, maka hidup menjadi lebih fokus, mengurangi gangguan.

3 Pertanyaan

Jika sepintas hal itu menyenangkan, coba saring dengan pertanyaan ini:

  1. Benarkah ini penting dalam jangka panjang dan tidak merusak prioritas saya yang lain?
  2. Bagaimana saya memperkirakan alokasi waktu di antara aktivitas saya yang lain?
  3. Bagaimana kalau saya bilang “Tidak..”, apa yang akan terjadi?

Jangan terjebak pada prinsip “kesenangan” tanpa menimbang banyak hal di masa depan. [dm]