in

Selain Gereja Blenduk, Ada Gereja Bergaya Gothic Ini di Kota Lama Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Menyebut gereja tua di Semarang, orang selalu tertuju pada Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama. Namun jarang yang tahu, masih ada gereja tua lain yang sarat akan nilai sejarah.

Namanya Gereja Paroki Santo Yusup. Warga Semarang lebih akrab dengan sebutan Gereja Gedangan. Sebab, gereja Katolik tertua di Semarang ini dulunya berada di Jalan Zeestraat-Kloosterstraat-Gedangan. Sekarang jalan tersebut bernama Jalan Ronggowarsito.

Pengurus gereja, Romo Smit dan bagian interior Gereja Gedangan. baihaqi/jatengtoday.com.

Dalam sejarahnya, gereja gothic ini menjadi saksi perjuangan pemuda Semarang melawan tentara Jepang.

Perlawanan itu terkenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang yang pecah pada 15-19 Oktober 1945. Gereja Gedangan menjadi tempat persembunyian yang aman.

Menurut pengurus gereja, Romo Smit, Gereja Gedangan ini dibangun pada tahun 1870 hingga 1875. Bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda, W.I. Van Bakel dan diresmikan oleh Mgr. J. Lijnen. Dana pembangunannya sebesar 110.000 franc.

“Karena besarnya biaya pembangunan itu membuat tanah di Jalan Cenderawasih dan Taman Srigunting (Kota Lama) dijual,” ujar Smit, warga kebangsaan Belanda yang kini tinggal di Semarang menjadi pengurus gereja.

Smit menyebut, bahan bangunan seperti batu bata dan ubin gereja didatangkan langsung dari Belanda. Perangkat-perangkat di dalam gereja juga dari luar negeri.

Seperti lonceng berukuran 93,5 cm, Orgel Pipa yang hanya ada tiga di dunia, Lukisan Triforium (bagian interior bergaya gothic).

Karena itu, orang yang memasuki Gereja Gedangan akan disuguhi pemandangan ruangan dengan gaya arsitekur Eropa abad XII-XVI.

Di bagian depan terdapat jendela art glass dengan figur Santo Yusup. Altar pemujaannya juga khas. Di dalamnya ada empat patung tokoh penting yang didatangkan dari Jerman pada tahun 1880. Ada pula ukiran-ukiran yang menampilkan empat belas salib di sebuah altar.

“Kursi-kursi ini juga didatangkan dari luar negeri,” ujar lelaki kelahiran Belanda tahun 1941 itu sembari mengajak mengitari gereja.

Gereja ini, imbuhnya, selain difungsikan untuk keperluan jamaag Katholik, sebenarnya juga boleh dikunjungi wisatawan.

“Kalau ada wisatawan ingin melihat-lihat, boleh saja selama gereja masih buka. Tidak dipungut biaya,” terangnya.

Namun, saat ini katanya sudah tidak banyak pengunjung. Smit menduga, orang-orang barangkali tidak mengetahui karena lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Lama.

Apalagi di depan gereja merupakan jalan utama yang dilewati kendaraan-kendaraan besar, sehingga orang susah untuk menyeberang.

Selain gereja, di komplek Gereja tersebut juga terdapat beberapa gedung lain. Seperti gedung pastoran, biara, serta lembaga kependidikan dari SD sampai perguruan tinggi. (*)

editor : ricky fitriyanto