in

Sejarah Sunan Kuning dan Keberadaan Makam Tokoh Penyebar Islam yang Pamornya Tertutup Lokalisasi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pengurus wisata religi Makam Soen An Ing atau yang lebih akrab disebut Sunan Kuning, mengaku lega lantaran lokalisasi yang berada di dekat makam bakal ditutup total pertengahan Agustus 2019 nanti. Sehingga, nama wali tidak lagi disalahgunakan.

Menurut Ibrahim, salah satu pengurus makam, selama ini masyarakat lebih mengenal Sunan Kuning sebagai nama lokalisasi. Padahal, lokalisasi yang terletak satu kawasan dengan makam tersebut sebenarnya bernama Resosialisasi dan Rehabilitasi Argorejo.

Semua itu bermula ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menetapkan kompleks di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, menjadi lokalisasi pada 1962. Lokalisasi ini resmi dibentuk agar para wanita pekerja seks (WPS) tidak menyebar di sudut-sudut kota.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat akhirnya mengenali lokalisasi ini dengan sebutan Sunan Kuning. Sebaliknya, makam penyebar Islam bernama Sunan Kuning yang berada di bukit Pekayangan atau Tepis Wiring tersebut pamornya semakin meredup.

Berdasarkan warisan cerita dari pendahulunya, Ibrahim menjelaskan, penurunan jumlah peziarah sangat terlihat pasca keberadaan lokalisasi. “Padahal sebenarnya tidak ada hubungannya antara makam dan lokalisasi. Tapi nyatanya, tempat yang berdekatan itu sangat berdampak,” ucapnya, Sabtu (29/6/2019).

“Sampai sekarang, peziarah sepi. Bahkan kadang tidak ada yang berziarah sama sekali. Paling yang lumayan ramai kalau hari Jumat, Minggu, sama Senin. Biasanya kalau Jumat peziarahnya orang-orang muslim, tapi kalau Senin (malam Selasa) mereka yang melakoni ritual,” imbuh Ibrahim.