in

Riset Lintas Feminis Temukan Sebanyak 289 Perempuan Korban Pembunuhan

Fenomena ini disebut Femisida, yakni pembunuhan perempuan yang mengandung unsur kekerasan berbasis gender dan seksual.

Capture Screen salah satu dokumen ilustrasi dalam laporan riset Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta.

JAKARTA (jatengtoday.com) – Laporan riset Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta menemukan sebanyak 256 kasus pembunuhan perempuan di Indonesia pada 2021, dengan total korban 289 perempuan. Total pelaku sebanyak 309 orang.

Fenomena ini disebut Femisida, yakni pembunuhan perempuan yang mengandung unsur kekerasan berbasis gender dan seksual.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 217 kasus femisida, 17 kasus pembunuhan akibat tindak kriminal, 4 kasus pembunuhan transpuan, 18 kasus pembunuhan bayi, balita dan anak perempuan.

Sebesar 49 persen dari total kasus dilakukan di area rumah. 37 persen dari korban yang dapat diidentifikasikan memiliki hubungan intim dengan pelaku. Riset ini juga menyebut kasus femisida paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur, dengan masing-masing 35 kasus.

Berikutnya disusul Provinsi Jawa Barat menempati peringkat ketiga sebanyak 29 kasus, Provinsi Sulawesi Utara 19 kasus dan Provinsi Aceh 16 kasus.

Research Officer Jakarta Feminist, Fatima Gita Elhasni, menjelaskan femisida adalah pembunuhan perempuan yang menekankan adanya elemen ketidaksetaraan gender, penaklukan, opresi, dan kekerasan sistematis terhadap perempuan, termasuk transpuan.

“Femisida memiliki dimensi yang berbeda dengan pembunuhan ‘biasa’, karena memiliki unsur kekerasan berbasis gender dan seksual (KBGS) serta penindasan terhadap perempuan yang terjadi secara masif,” terangnya, dalam keterangan pers tertulis dikutip pada Rabu (7/12/2022).

Pihaknya menemukan hal unik ketika mengalkulasikan kontribusi kasus pembunuhan perempuan di suatu daerah dengan tingkat kerentanan per 100.000 perempuan di daerah.

“Tingkat kerentanan perempuan menjadi lebih tinggi di daerah-daerah yang jumlah kasusnya lebih rendah, seperti Sulawesi Utara dan Aceh dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur,” katanya.

Dalam kata lain, perempuan lebih rentan atas pembunuhan di wilayah-wilayah tersebut. “Ini bisa kita tanyakan kembali, apakah ada konteks lokal di dimensi sosial-kultural pada daerah tersebut yang mempengaruhi perbedaan angka ini?” ungkapnya.

BACA JUGA: Pelecehan Seksual Suporter Sepak Bola terhadap Jurnalis Perempuan di Yogyakarta

Lebih lanjut, berdasarkan analisa pemberitaan kasus, ‘motif’ pelaku femisida yang paling sering ditemukan adalah masalah komunikasi antara pelaku dan korban yakni 75 kasus, diikuti problem asmara 36 kasus, penyerangan seksual 22 kasus, dan kehamilan 18 kasus.

“Permasalahan komunikasi ini kebanyakan terjadi pada relasi-relasi intim, khususnya di ranah rumah tangga,” terangnya.

BACA JUGA: Kapolda Copot Kasat Reskrim Polres Boyolali yang Lecehkan Korban Pelecehan Seksual

Direktur LBH Apik Jakarta, Siti Mazuma, pihaknya mencatat telah melakukan pendampingan terhadap 1512 korban kekerasan terhadap perempuan pada 2022. “Kami menemukan bahwa KDRT memang menjadi motif kekerasan terbanyak,” ungkapnya.

Sedangkan Khanza Vinaa dari Sanggar Swara melihat femisida ini dari perspektif transpuan, menyayangkan minimnya pemberitaan media untuk kasus pembunuhan perempuan transgender.

BACA JUGA: UMY Investigasi Kasus Dugaan Pelecehan Seksual terhadap Mahasiswi

Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena letak geografis peristiwanya hingga adanya anggapan bahwa peristiwa tersebut tidak penting. “Kerap sekali ada anggapan bahwa kelompok trans pantas dibunuh karena dianggap menyimpang,” ujarnya.

Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi menambahkan bahwa ketika para korban ini meninggal, seringkali ada yang berpikir bahwa haknya sudah selesai. “Padahal, mereka juga masih memiliki hak atas keadilan, kebenaran dan pemulihan baik untuk korban maupun keluarga dan relasi yang ditinggalkan,” terang dia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *