in

Aroma, Pembunuhan Seumur Hidup, dan Kegagalan Ilmu Pengetahuan dan Agama (Review Novel Perfume)

Kisah sebotol parfume yang dibuat dari saripati 27 perawan dan mengguncang Paris.

Novel tahun 1985, dengan setting abad ke-17 di Perancis, sebelum dan sesudah Revolusi Perancis. Granouille, awalnya hanyalah bayi tanpa-nama, yang ditemukan orang. Sejak bayi punya keistimewaan: penciuman yang tajam. Kelak ia memiliki pandangan-dunia yang unik, dengan indera penciuman itu.

Sejak kecil orang-orang sudah merasakan kekuatan negatif Granouille. Ia belajar meracik parfum, menuruti bakatnya, sampai pada tahap ekstrem: membuat parfum terbaik dari kematian 27 perawan.

Di hadapan hukuman-mati sekalipun, ia bisa mengubahnya menjadi pemujaan atas dirinya. Bahkan mengubah seluruh kota menjadi orang-orang telanjang, bercinta-di-tempat, hanya dengan beberapa tetes parfum.

Ia masih memiliki beberapa tetes parfum lagi, yang akan dia bawa ke luar kota, di antaranya untuk menghadap Paus dan mengubah kebijakan para raja.

Novel Perfume terbagi menjadi 3 bagian: biografi, sejarah parfum, dan pembunuhan.

Benar, ini tentang seorang lelaki yang sangat tahu aroma. Sepanjang 51 bab, bahasa novel ini hanya satu: aroma.

Paris, abad ke-17. Kekumuhan terjadi. Bau tak-sedap kawin dengan bercak-bercak pembunuhan dan tatanan-sosial yang belum menemukan ketetapan. Kota mirip luka, berbau anyir. Nasib ditentukan nama kebangsawanan, seks, dan di mana kamu dilahirkan.

Paris bisa musnah setiap saat oleh wabah penyakit. Nasib orang bisa diubah dengan pengetahuan. Namun watak kuasa pengetahuan, lebih sering meminta korban.

Tepat saat itu pula, Paris dan Eropa percaya pada janji manis ilmu pengetahuan. Tahun-tahun di mana manusia menemukan jasad renik mikroskopis. Orang melihat dunia dalam pengamatan. Mesin-mesin ditemukan. Gereja mendapatkan pertanyaan dan guncangan. Intelektual menjadi tandingan bagi kebangsawanan seseorang. Intelektual menjadi borjuasi baru.

Peradaban yang sedang berlari. Agama yang terguncang.
Pada saat kepercayaan itu datang, cerita Perfume terjadi.

Pada saat itu, di manakah konsep “diri”?

Orang sibuk menerapkan pandangan-hidup, merumuskan ke mana peradaban melangkah, namun senyatanya yang terjadi sebaliknya: bau anyir kota. Orang menjadikan kota sebagai medan laga (berdagang, belajar, berkuasa, dan bercinta). Manusia menjadi obyek pengetahuan. Semua orang mencari saripati. Intisari kehidupan.

Intisari itu, menurut.Granouille, bernama aroma. Bukan kecantikan, bukan visual, bukan mesin, bukan nama bangsawan, bukan apa kata Gereja.

Manusia bisa dimampatkan _menjadi_ 1 tetes “perfume”.

Di novel ini, parfum-sempurna melalui 3 tahapan pembuatan: remaja, dewasa, dan tua.

Perfume berbicara mengenai ekstraksi tanaman. Substansi, yang jika salah, menjadi tak-berbau.

Dan karena mereka begitu bodoh, memakai hidung hanya untuk bernafas dan hanya meyakini apa yang dilihat mata, lantas beranggapan: ini pasti karena kecantikan, keanggunan, dan pancaran-pesona fisik si gadis. Tak seorangpun menyadari, sesungguhnya bukan penampilan yang menjerat. Bukan keindahan-tampak yang membuai jagat, namun sepenuhnya: aroma tubuh.” (hlm. 217-9)

Ini novel, settingnya sebelum dan setelah Revolusi Perancis.

Novel ini menertawakan fashion Paris, secara implisit.
Fashion itu yang tampak. Peradatan. Cara berfikir. Perancis yang melawan Gereja, menggunakan konsepsi “manusia” untuk melawan, namun melupakan “manusia” yang memiliki bau-tubuh.

Novel ini menawarkan kembalinya manusia, sebagaimana adanya, sebagai pilihan, untuk.menyelesaikan konflik pengetahuan manusia. Granouille yang berkeputusan untuk menghadirkan kembali saripati manusia dalam parfum.

Gambaran kondisi “manusia” yang terlalu manusiawi seperti ini, juga terjadi pada karya tentang perancis yang lain, misalnya: Caligula dan La Peste Albert Camus.

Benarkah ini novel tentang pembunuh? Sepertinya, itu satire Perancis. Ini justru kritik terhadap pengetahuan dan agama yang kejam, bikin rumus kepribadian dan ke mana peradaban harus mengarah.

Adakah manusia seperti dalam gambaran novel ini? Manusia yang lahir dan terbuang, yang memancarkan aura negatif. Bahasa pembunuhan. Agenda seumur hidup. Membunuh yang “harus dilakukan” untuk pencapaian pengetahuan.

Bukankah itu yang dilakukan pengetahuan dan agama? Membunuh, menyingkirkan, menyortir, mencari yang terbaik?
Dan rumah, bernama kota Paris. Perancis. Eropa. Semua kota yang mirip luka dan mendandani dirinya. Menutupi sampah dan anyir.

Penciuman, indera yang sering terabaikan dalam penulisan.
Orang lebih suka menulis dengan mata. Apa yang cantik, apa yang bergerak.

Ketika menonton film, melihat foto, atau membaca puisi yang menceritakan suasana, seberapa sering indera penciumanmu berperan dalam mengapresiasi karya tersebut?

Seorang ibu mencium anaknya, dan mengenang bau tubuhnya. Seseorang mencium kekasihnya. Tanpa perantara. Orang terlahir, mencari, dan menjaga “scent”, bau tubuh itu.

Penciuman, merasakan apa yang tak-terlihat.

Penciuman yang kuat, terjadi pada orang yang buta. Mungkin Granouille adalah orang buta itu. Ia ingin menunjukkan “pemandangan” yang tak-terlihat dan tak-teraba, yang ia miliki sejak kecil.

Ia mengekstrak tetumbuhan, menyimpan saripati dalam rupa aroma, dengan rasa yang tidak saling-menghancurkan. Bunga mawar adalah bunga mawar. Dan bau tubuh manusia adalah bau tubuh manusia.

Sebagaimana pemandangan yang tersimpan di dalam fotografi, Granouille mengabadikan kematian 27 perawan sebagai aroma paling mendasar dari tubuh manusia. Menjadi beberapa tetes saja.

Yang kemudian menyebar di udara, lantas terhirup, memasuki tubuh para penghirup, dan membangkitkan naluri dasar para penduduk kota untuk: tersenyum, mengampuni, memaafkan, merangkul, dan bercinta. Orang-orang merindukan indera mereka sendiri yang telah hilang.

Penciuman yang selama ini diperantarai pewangi (fragrance), zat tambahan, dan sesuatu yang tak-alami.

Orang-orang menerima aroma tubuh dalam parfum ajaib Granouille, seperti memandang horizon. Sebuah garis lurus, di batas-pandang, saat melihat laut yang tenang. Tempat matahari tenggelam, penghubung laut dan langit. Yang sebenarnya hanya sebuah lengkung, bahkan hanya garis semu, dari pandangan kita sendiri.

Novel ini keren dan bisa membaca-ulang diri kita sebagai manusia.

Bagaimana detailnya? Baca novelnya, tonton filmnya. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.