in

Restoran Tanpa Menu

Sebuah restoran tanpa menu, siap memasak apa saja untuk kamu, sesuai request. Ini mengubah cara kita melihat Google.

(Credit: Alexei Morozov)

Shinta memilih untuk belajar memasak dengan bantuan Google. Search resep.masakan, lihat cara membuat masakan itu di YouTube. Sepertinya, tersedia semua di sana. Bahkan orang yang tidak terlalu memikirkan prioritas, akan berkata, “Ini saja, nggak ada habisnya. Sudah hebat kalau bisa kuasai 50 resep”.

Ribuan resep masakan online, mudah kita dapat. Mulai aplikasi, YouTube, sepertinya seolah tersedia. Mental “cari di Mbah Google” mungkin cocok jika orang ingin di posisi konsumen. Tidak mau repot-repot membuka buku masakan, tidak seperti kawan saya yang perlu 3 bulan lebih untuk bikin resep bebek resto.

Google seperti sederet restoran, dengan tema menu berbeda-beda. Ada masakan Perancis, Jawa, Korea, Turki, dll. Kamu hanya bisa pilih apa yang ada.

Ada aplikasi yang punya konsep berbeda: sebut apa saja bahan yang kamu punya, kami akan tampilkan menu apa saja yang bisa kamu masak.

Kalau ini berbentuk restoran, seperti pelayan yang datang dan berkata, “Kami tidak punya menu. Apa yang ingin kamu nikmati sebagai sajian makan pagi ini? Kami akan memasak untukmu.”. Seperti pelayanan sungguhan, “Pagi ini Tuan Putri ingin makan apa?”.

Restoran ini tidak memajang menu yang mirip “index” hasil pencarian Google. Mereka menyajikan menu “custom” di mana orang tidak bisa bilang tidak. Ada pelayan yang berjanji, tentu dengan kemampuan memasak hebat, yang akan menyajikan pesanan kamu. Ketika yang tersedia hanya opor dan soto, kita tidak punya alternatif. Sementara, di restoran “custom” apapun bisa dimasakkan, dengan cepat.

Restoran dengan menu, memaksa orang berada di status quo. “Tidak, saya tidak suka.”.

Sayang sekali, kita sudah terbiasa makan dengan cara “menerima”. Adanya hanya menu ini. Ada yang lain, namun jauh. Atau ketika di rumah, ketika tidak suka ayam, ibu menyediakan ayam.

Kita sering makan tergesa-gesa dan memilih begitu saja. Sekarang sudah jamnya makan, mari cari makan. Kemudian tergesa-gesa memilih, seolah-olah ada kebebasan, pada kenyataannya pilihan itu ” dirancang” untuk kita pilih. Desakan waktu makan siang, ikut temam, atau mengikuti saran Google yang memang dirancang untuk mengarahkan keputusan kita.

Kita sering makan secara instan, butuh cepat, karena desakan waktu.

Kita sering makan karena desakan harga. Makan sebatas gini-gini aja, demi pemghematan, demi jalan menjadi vegan, demi kesehatan, dst.

Jarang sekali kita membentuk privilege (hak istimewa) ketika makan, misalnya, 2 jam sebelum makan, meminta orang memasak dengan selera kita, agar ready ketika jam makan siang datang.

Perspektif ini, mungkin sedikit menggeser cara-pandang kita atas mesin pencari, terutama Google.

Kita sering beranggapan, Google menyediakan banyak hal, sangat lengkap, seperti dalam ungkapan, “Tanya ke Mbah Google”.

Benarkah Google menyediakan apa yang kita cari, ataukah selera kita yang terlalu terbatas untuk mencari hal-hal yang terlalu biasa?

Hal-hal biasa itu adalah.. Lebih memilih bertanya ke Google ketika mencari bahan untuk menyelesaikan pekerjaan dan deadline, daripada bekerja secara mendalam. Lebih memilih membaca tentang sesuatu, daripada mengambil tindakan dan melihat apa yang terjadi, secara langsung.

Apakah kita lebih suka puas menjadi konsumen, dengan membaca, browsing, scroll, menerima pilihan dari orang lain, tanpa mengembangkan keahlian dan menjadi “pembuat” dan ikut menciptakan perbedaan?

“Selera” adalah salah satu kriteriia yang membuat orang “berbeda”. Bukan dengan mengikuti merk, bukan dengan menjadi konsumen. Kamu punya selera makan, selera pedas, namun lebih baik lagi jika kamu yang menentukan “tanpa” menerima pilihan. Selera memperlihatkan seberapa pintar dan berkelas kamu.

Mana yang kamu pilih: datang dan menerima pilihan menu dari orang lain, ataukah kamu meminta orang lain menyediakan makanan yang memenuhi selera kamu?

Mulai makan-siang besok, 2 jam sebelum makan, silakan melakukan pemesanan di restoran tanpa-menu. Kamu ingin dimasakkan apa? Pesanan kamu akan ready. Dengan menu yang tidak ada di restoran manapun. Menu yang kamu konsumsi, tidak akan ada di Instagram manapun.

Mungkin restoran itu ada di rumah kita, ketika seorang ibu bertanya kepada anaknya, atau isteri kepada suaminya, “Kamu ingin makan apa? Aku akan memasak untuk kamu.”. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.