in

Mengikuti Resep Terbaik Orang Lain

Kebanyakan mengikuti pola, hasilnya seperti pekerjaan orang lain. Bukan pekerjaanmu sendiri.

(Credit: Mellisa Bellanger, Unsplash)

Kebanyakan orang, menyukai pola ini. Mencatat proses, tiru dan perbaiki (copy, modify), uji dan ukur keberhasilan. Ulangi sampai semakin baik dan mencapai titik optimal. Dalam bahasa tersingkat: mengikut resep terbaik orang lain.

Kita melihat pola yang sama, diterapkan dalam “proses desain”, “pembelajaran di kelas”, “menulis kreatif”, dll. Perulangan untuk perbaikan, intinya itu. Produk dari pabrik, menggunakan formula proses yang sama seperti di atas.

Dalam sebagian besar kasus, hasilnya: sebaliknya. Contoh: masuklah universitas X agar kamu berpeluang menjalankan profesi X. Ingin kaya? Ikuti jalur ini. Kalau kamu mau ngehit, ikuti resep terbaik kamu. Hasilnya? Tidak semudah yang di bayangkan.

Iklan mengatakan hal sama. “Resep ini telah kami uji. Ada penelitian di baliknya. Ilmuwan atau koki, mengumpulkan bahan, “memasak”, sampai kemudian bercerita bahwa produk ini ampuh.”

Kita sering melihat produk dengan iklan seperti ini. Mie instant, dengan 2 telur setengah matang, sangat enak. Hasil fabrikasi yang sudah meneliti cita-rasa dan bahan-bahan pilihan. Es krim, betapa enaknya.

Kemudian orang berpikir, “Bagaimana caranya agar produk ini menjadi terbaik.”.Pernahkah kamu berpikir menjadi yang terbaik di kelas ini?

Proses “ulangi dan perbaiki” menjadi pilihan kebanyakan orang. Proses ini hampir mirip brute-force, mencoba satu persatu, ketika lupa-password, sampai dapat password yang benar.

Follower dan penonton YouTube akan menyarankan “yang seperti ini..”. Mereka ingin membuat “yang seperti ini..”. Mengikuti yang sudah terbukti.

Mengikut pola, berbahaya ketika pola itu ada di dalam pikiran. Menganggap, seolah-olah ada pola, padahal belum tentu berhasil. Ramai love bird, memelihara love bird, namun ternyata harga love bird turun drastis. Menganggap sekolah sebagai satu-satunya faktor penentu terbesar dalam membentuk profesi, sehingga tidak pernah ada dalam pikiran orang ini untuk menekuni hal baru, yang kelak bisa menjadi suatu pekerjaan. Dalam content, lebih suka mengikuti pola media-media besar, sampai akhirnya mati-gaya ketika tidak pernah tampil “berbeda”. Ini semua terjadi karena mengikuti pola.

Orang yang beli togel dan bermain scatter juga beranggapan bahwa ada pola tertentu. Mereka tidak tahu kalau di balik itu, ada algorithma yang “selalu berubah”. Kamu tidak bisa menebak angka “random”, tidak bisa bermain ketika aturan bermain selalu berubah.

Pola-pikir (mindset) inovator, agak berbeda.

Lakukan hal yang berbeda, lebih menantang, dan mungkin tidak berhasil. Kamu tidak mencapai yang “impossible” jika hanya mencoba hal-hal biasa. Kembangkan pernyataan baru. Tunjukkan wilayah yang belum dijelajahi, ceritakan bagaimana kamu sampai ke sana. Bertanya, “Mengapa seperti ini?”. Tidak masalah kalau sering gagal di dapur percobaan.

Orang berada di antrian panjang untuk sampai di halaman 1. Orang cenderung main-aman dalam beradaptasi dengan meniru orang lain.

Inovator sejak awal sudah tahu, “Ini mungkin tidak berhasil, namun hasilnya akan bagus..”. Inovator berada di dapur yang “sempurna”, bernama kemungkinan. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.