in

Rahasia Menulis Buku dari 21 Penulis Hebat

Ikuti tips terbaik dan sudah dijamin “work”. Mereka berhasil, pernah gagal, dan berbagi tips terbaik untuk para penulis buku.

ilustrasi vector tips menulis buku
Ikuti tips menulis hanya dari penulis buku yang sudah berhasil dan terbukti "work". (Credit: Mikhail Seleznev)

Menulis buku tidak sekadar berpikir lalu menulis. Ada banyak hubungan dengan penerbit, editor, dan topik sama yang pernah diangkat penulis lain. Selain itu, proses yang penuh tantangan.

Tips ini disusun berdasarkan jenis proses dan masalah yang paling sering dihadapi para penulis buku dan berhasil diselesaikan 21 penulis hebat. Jadi, memang dirancang sebagai tips yang “work” dan bisa kamu terapkan dalam menulis buku.

Berikut ini 21 penulis buku hebat berbagi tips tentang menulis buku. Mereka pernah mengalami proses berat, berhasil melewati, dan tips mereka dijamin “work”.

Carl Zimmer

Penulis a Planet of Virus, the Tangled Bank,  dan Brain Cuttings

Lakukan penelitian “tanpa” internet, terlibat dengan orang-orang yang masih hidup, secara langsung, di tempat nyata.

Atur sejumlah besar data, gunakan wall (dinding) atau aplikasi seperti sebanyak mungkin jauh dari Internet — dengan orang yang masih hidup, di tempat nyata. Gunakan aplikasi seperti Scrivener untuk kelola data.

Bersiaplah memangkas seluruh bab; ini menyakitkan dan harus kamu lakukan ketika editing.

David Shenk

Penulis the Forgetting dan the Genius in All of Us

Buat bukumu jadi buku hebat, biarpun waktu menulisnya lama. Tidak ada istilah “terlalu banyak draft”, tidak ada “terlalu lama”. Buku bagus akan bertahan selamanya, akan mengubah hidup seseorang. Buku biasa, hanyalah komoditi dagang.

Dapatkan feedback, sebanyak mungkin. Tunjukkan cuplikan bukumu kepada banyak orang, banyak lapisan. Buat mereka jujur. Cari tahu mana yang hilang, mana yang disalah-artikan, apa yang kurang meyakinkan, mana yang gagal. Tidak semua saran perlu kamu terima. Prosesnya: kombinasikan visi kamu dengan cara orang memberikan reaksi. Hasilnya akan tak-ternilai.

Biarkan dirimu ikut di dalamnya. Sekalipun buku ini bukan memoar, tetapi sebagian di dalamnya masih tentang kamu — apa yang kamu lihat, cara kamu berpikir, dan pengalamanmu dengan orang lain. Percayalah, pembaca tertarik pada “siapa” kamu. Jangan takut biarkan potongan-potongan kepribadian kamu, bahkan detail kepribadianmu memasuki teks. Ini akan membuat bukumu lebih hidup.

Cory Doctorow

Penulis With a Little Help, For the Win, Makers, dan Down and Out in the Magic Kingdom

Menulis setiap hari. Apapun yang kamu lakukan setiap hari menjadi lebih mudah. Terlalu sibuk? Batasi dalam jumlah kecil (100 atau 250 kata), lakukan terus setiap hari.

Menulis, sekalipun suasana hati tidak sedang baik. Kamu tidak tahu, apakah yang kamu tulis itu baik atau buruk, saat menulisnya.

Tulis saat bukunya payah dan tidak ke mana-mana. Terus saja menulis. Kesadaran kamu jadi panik karena tidak percaya kalau alam bawah-sadar kamu tahu apa yang harus dilakukan (menulis).

Berhenti di tengah menulis. Tinggalkan kesan kasar (belum selesai) untuk kamu mulai lagi besok, dengan begitu kamu bisa tulis 3 atau 5 kata tanpa menjadi kreatif, tanpa sadar, kamu ternyata sedang menulis.

Tulis sekalipun dunia sedang kacau. Kamu tidak perlu rokok, keheningan, musik, kursi nyaman, atau kedamaian batin untuk menulis. Kamu hanya perlu 10 menit dan alat-tulis.

Bill Wasik

Penulis And Then There’s This

Pembaca ingin buku kamu melengkapi pelajaran mereka. Tidak harus panjang. Yang penting mencakup semua dasar dasar untuk paham suatu subject (pelajaran). Apa yang orang sudah tahu, tidak harus kamu masukkan semua. Mereka ingin kamu sebut apa yang sudah mereka tahu.

Pikirkan tentang struktur tulisan (outline) yang tepat. Kamu akan melihat 1000 kata yang bisa kamu atur kalau punya struktur tulisan.

Geoff Manaugh

Penulis BLDGBLOG

Baca: “Building Blog”.

Jangan tahan kunjungan website fantasi, panggilan telepon, wawancara, pertanyaan, atau pertemuan-pertemuan yang ingin kamu lakukan. Segera masukkan hasilnya ke buku. Lakukan sekarang. Buku ini adalah tiket emas kamu.

Jangan kehilangan catatan kamu atau ide masa depan untuk dimasukkan ke buku. Konsentrasi, bahan-dasar, koherensi, baca ulang, dan kompres. Simpan dalam 1 tempat.

Biasakan mengorganisasi data.

Ceritakan kisah-kisah unik dan samar-samar memalukan, tentang bagaimana kamu pakai 8 spidol berwarna berbeda, 4 jenis stabilo, dan beberapa versi halaman tambahan.

Ambil foto agar kamu tidak kehilangan rekaman. Jangan menjelaskan bagaimana kamu lupa memasukkan hal-hal penting di buku, karena bukumu akan menjadi buku payah yang tidak selesaikan masalahmu.

Jangan mendadak ketika menghadapi deadline. Kamu perlu waktu untuk kembali dan membaca sesuatu dari kejauhan.

Mark Frauenfelder

Penulis the Mad Professor dan Rule the Web

Gunakan aplikasi Scrivener untuk tulis buku. Ini aplikasi untuk menulis dan mengorganisasi literatur. Jika wawancara tidak hasilkan banyak perubahan, matikan komunikasi. Jika wawancara hasilnya bagus, pertahankan percakapan selama kamu bisa. Tulis buku yang nanti kamu ingin baca.

Deborah Blum

Penulis Poisoner’s Handbook dan Ghost Hunter

Tulis bab pertama di paling akhir. Dalam penelitian dan penulisan bab-bab selanjutnya, biasanya kamu tahu apa poin utama kamu dan cara terbaik untuk membingkai itu.

Untuk menulis narasi non-fiksi: buatlah pahlawan yang kamu tulis berada dalam masalah dan tahan di sana.

Saya biasanya punya 1 kalimat yang bisa gambarkan pesan utama buku ini. Jadi, buatlah kalimat seperti itu, yang meringkas dan menggambarkan seluruh buku kamu.

Saya biarkan draft pertama saya payah. Draft pertama hanya untuk buka alur dan logika cerita. Jika saya terjebak, saya hanya masukkan tulisan “xxx” ke dalam draft, kemudian saya cari tahu nanti. Saya sampai alami mimpi buruk tentang “seks di otak” ketika menulisnya menjadi buku, di mana dalam mimpi itu orang-orang bertanya, apakah saya mengadopsi penulisan avant garde.

Saya terobsesi dengan penelitian saya. Saya mengatur dan mendaftar-silang dan membuat file dari awal, membuat catatan tentang poin-poin kunci, isu-isu, dan tema-tema. Saya melacak semua momen penting ini, agar saya mengenali pola yang tidak saya lihat sebelumnya.

Setelah buku jadi, pekerjaan penulis tidaklah selesai. Penerbit mengharapkan kamu menjadi bagian dari pemasaran buku secepatnya. Tidak bisa menjadi penulis sains dan hanya tinggal di rumah, membiarkan royalti membanjiri saya.

August Kleinzahler

Penulis Sleeping It Off in Rapid City dan Cutty, One Rock

Kadang saya merasa terbantu — dan masih mengejutkan saya — ketika menjelaskan tentang apa yang ingin saya tuliskan, kepada orang cerdas, dari zona intelektual berbeda, dan bukan penulis. Atau ketika kirim email kepada orang itu.

Ketika rasa jijik mencapai massa kritis (critical mass), saya siap pergi. Buat jeda, buat jarak, sampai kamu harus menulis lagi.

Ben Casnocha

Entrepreneur dan penulis My Start-Up Life

Draf pertama yang menyebalkan. Akan menjadi “draf ke-20 yang menyebalkan.” Sampai lama.

Kembangkan rencana sangat serius untuk tangani gangguan internet. Saya pakai aplikasi Self-Control di Mac. Kembangkan lagi rencana yang sangat sangat serius untuk tangani gangguan internet!

Barry Boyce

Penulis/editor the Mindfulness Revolution dan In the Face of Fear

Kamu lebih baik dari yang kamu kira, karena kamu sudah pernah lakukan ini sebelumnya — menyusun, menceritakan kisah — untuk menjadi lebih panjang, menjadi sebuah buku. Jangan cemas berlebihan hanya karena kamu belum pernah menulis buku.

Planning, planning, dan planning. Menulis buku itu “campaign”. Saya pakai pirani manajemen project. Butuh lebih banyak manajemen untuk dukung kreativitas. Kembangkan hubungan-baik dengan editor kamu sejak awal. Editor akan menjadi master tugas kamu di beberapa titik. Lebih baik lagi kalau editor itu juga teman, kolega, pendukung, dan penggemar kamu.

Trungpa Rinpoche mengingatkan (saya parafrase): nikmati aktivitas menyegarkan dari waktu ke waktu. Rencanakan dan jadwalkan dengan baik, akan berpeluang teratur dan menyegarkan.

Peter Conners

Penulis Growing Up Dead: The Hallucinated Confessions of a Teenage Deadhead dan White Hand Society: The Psychedelic Partnership of Timothy Leary & Allen Ginsberg

Ketika sedang proses menulis suatu buku, saya hanya baca buku lain yang berhubungan dengan buku saya.

Jika informasi tidak melayani proses saya, tidak saya lakukan, sekalipun keinginan saya membaca sangat besar. Saya yakin, banyak orang memberikan nasehat agar saya beristirahat cukup, berhenti membaca, dll. Tidak. Saya terobsesi sepenuhnya untuk selesaikan buku saya. Nikmati kegilaan.

Non-fiksi seharusnya tidak berarti ditulis dengan buruk. Menulis adalah menulis dan seni dalam menulis selalu berarti.

Jangan fokus pada aspek promosi media sosial. Cukup bagikan hasrat kamu terkait materi yang kamu pelajari karena itu menjadi filter proses penulisan kamu. Aspek promosi akan menjadi perpanjangan organik dari hasrat menulismu.

David Crosby

Penyanyi-penulis lagu, anggota pendiri Byrds dan Crosby, Stills, Nash and Young, penulis Long Time Gone dan Since Then

Pesan David Crosby sangat singkat, dalam 3 baris berikut:

Efek katarsis.

Cinta dari frasa yang berubah dengan baik.

Tetapkan waktu tertentu untuk bekerja.

 

John Schwartz

Penulis Walking Tall When You’re Not Tall at All

Saya dapat saran dari Nancy Cooper, editor Newsweek tahun 80-an tentang menulis buku: “Mulai saja bekerja dan terus kerjakan sampai selesai. Caranya begitu. Tidak ada misteri.”

 

Sylvia Boorstein

Penulis Happiness is an Inside Job dan It’s Easyer Than You Think

Ketika saya menulis buku..

Tidak buka email sampai jam 5 sore pada hari kerja, agar bisa lebih banyak menulis.

Jangan baca karya orang lain dengan topik sama. Kamu akan tergoda mencari data yang relevan dan sama dengan apa yang kamu tuliskan.

Selektif dalam meminta orang lain membaca apa yang sedang kamu tuliskan. Minta pertimbangan orang lain hanya jika kamu merasa sudah menemukan suara kamu sendiri.

Ketika saya tidak suka dengan apa yang saya tulis, saya berhenti. Saya lakukan aktivitas lain, seperti memasak. Saya “mendengar” apa yang berkecamuk dalam pikiran saya, kemudian jika itu seperti pembicaraan alami, baru saya mengetiknya, melanjutkan menulis buku.

Saya tidak menulis langsung dari awal sampai akhir. Saya menulis agar bagian-bagian tertentu terbentuk dalam pikiran saya dan saya menikmati merenungkan apa yang saya pikirkan itu. Saya bayangkan sedang menjelaskan itu kepada seseorang. Baru kemudian saya tuliskan.

Saya tidak pikirkan urutan dulu. Bagian-bagian penting, saya kerjakan, yang membuat saya bersemangat. Kemudian saya tambahkan bagian-bagian lain, baru kemudian saya urutkan.

Deadline pertama yang sudah kamu janjikan kepada penerbit itu hal yang serius. Patuhi itu.

Penulis Anonim

Dari para penulis buku-buku tentang sains dan psikologi.

Setiap penulis mengalami dunia yang berat. Mereka tidak sepenuhnya ceritakan itu. Tidak layak membebankan masalah yang kamu hadapi sebagai alasan kegagalan kamu. Apapun masalah dan keadaan hidupmu, kamu tetap harus patuhi deadline, menulis dengan baik, dan sampai kepada pembaca.

Bekerja seperti memiliki daya tarik alami. Tujuannya bukan pada uang semata, tetapi pada janji lain yang sangat istimewa, misalnya penerbit menjanjikan perjalanan lama ke tempat istimewa.

Jangan bergantung kepada penerbit. Mereka dengan mudah berkata, “Penjualan buku ini menurun, hanya ini yang bisa kita lakukan.”. Ketika kamu menjadi penulis, kamu membangun personal brand (merek pribadi) kamu sendiri. Memang tidak disarankan untuk menulis sekaligus menjadi pencetak, pemasar, dan penjual. Tetapi kamu tidak bisa diam ketika karya kamu tidak mendapatkan perlakuan layak dari penerbit dan pembaca.

David Gans

Musisi, produser radio, dan penulis Playing in the Band dan Conversations with the Dead.

Periksa editing yang dilakukan penerbit. Hal yang paling mencolok tentang proses buku saya adalah tidak ada seorang pun di penerbit yang melakukan pengeditan sama sekali. Tidak ada pengecekan fakta, tidak ada pengeditan baris.

 

Josh Shenk

Penulis Lincoln’s Melancholy

Selesaikan draft secepat mungkin. Draft menggambarkan akan seperti apa buku kamu nanti.

Aturan penulis lama berlaku: Berani menulis dengan buruk.

Pecah draft menjadi beberapa bagian dan tetapkan deadline dengan teman, agen, atau editor. Kirimkan progress sekalipun masih kasar, setidaknya perlihatkan perkembangan penulisan buku kamu.

Menulis buku adalah pengalaman yang sangat kesepian dengan cara yang tidak dapat dibayangkan oleh siapa pun yang belum pernah membacanya.

Apa ide atau argumen kamu, jika diringkas ke dalam 1 atau 2 kalimat? Kalimat ini akan ditanyakan penerbit, pembaca, semua orang.

Terapkan itu ke MacDowell, Yaddo, Blue Mountain Center, Headlands — beberapa residensi bagus lainnya, termasuk satu di Cali yang saya tidak ingat sekarang. Sekitar 4-8 minggu kamu, tenang, di antara seniman penulis lain, dengan orang-orang yang memberi kamu umpan sesuai jadwal, itu akan memberimu keajaiban.

John Tarrant

Penulis Bring Me The Rhinoceros & Other Zen Koans That Will Save Your Life, and The Light Inside the Dark: Zen, Soul & the Spiritual Life

Berikut ini adalah 3 hal yang mungkin hanya berlaku untuk saya.

  1. Ide tidak datang dari mana saja yang bisa dikenali, jadi saya percaya bahwa ide itu akan diberikan. Ini seperti mencambuk keledai.
  2. Proses melapisi buku, memberikannya cara di sisi tempat tidur, bertanya, “Buku ini tentang apa?”. Tambahkan lagi, “Sebenarnya buku ini tentang apa?”. Saya harus jelaskan pekerjaan itu kepada diri saya sendiri dalam bahasa yang semakin dasar. Saya datang untuk menikmati pekerjaan ini, membantu saya menyadari bahwa proses penemuan adalah bagian dari penulisan dan saya tidak harus melaluinya.
  3. Selalu ada masa ketika saya bergulat sendiri dengan proses saya sendiri dan pada saat yang sama saya suka kolaborasi. Jadi saya telah belajar jenis pengeditan apa yang cocok untuk saya. Editor yang baik adalah kekuatan impersonal yang mengatakan hal-hal seperti, “Kamu bisa buang sebagian awal dari bab pertama kamu dan memulai dengan apa yang terjadi setelahnya..” dan segera saya tahu apakah editing itu benar atau tidak. Jadi saya belajar untuk percaya diri untuk membagikan pekerjaan saya ketika itu tidak sepenuhnya terbentuk, belajar bahwa prosesnya kuat dan proses itu akan menjaga dirinya sendiri.

Jonah Lehrer

Penulis Bagaimana Kita Ambil Keputusan dan Proust adalah Ahli Saraf

Saran dari saya: editor kamu brutal. Selalu ada pena marah di setiap halaman. Setidaknya dalam pengalaman saya, buku itu hanya menjadi layak selama fase ini, karena semua kesayangan dan penyimpangan terbunuh. Ini adalah proses yang sangat penting, namun terlalu banyak editor yang terlalu lemah lembut (atau terlalu banyak bekerja) dan terlalu banyak penulis yang menolak suntingan mereka. Editor yang baik selalu berperan hebat di balik buku hebat.

Seth Mnookin

Penulis the Panic Virus dan Memberi Makan Monster

  1. Jika kamu pemakai Mac, pakailah aplikasi Scrivener. Ada versi trial 30 hari, layak kamu coba. Itu benar-benar menyelamatkan saya dari tumpukan ratusan ribu kertas virtual ketika menulis buku terakhir.
  2. Semua bacaan yang tidak berhubungan dengan buku harus dibuat semenarik mungkin.
  3. Saya mencoba, tidak selalu berhasil, untuk memulai setiap hari dengan beberapa tujuan yang ingin saya capai: menulis 200 kata, atau melewati sejumlah penelitian, atau melakukan dua wawancara, atau apa pun. Jika saya berangkat untuk menghabiskan hari “menulis”, itu akan sangat melelahkan sehingga saya akhirnya hanya online dengan aktivitas tidak jelas.
  4. Asumsikan buku kamu akan dijual secara komersial. Itu akan membantu kamu mengingat bahwa kamu tidak menulis buku terlaris. Ini bisa menggairahkan kamu secara intelektual. Kamu berharap untuk dapat berbagi pemikiran, pengamatan, dan kesimpulan dengan sekelompok orang yang kamu hormati dan ingin kamu ajak berdiskusi. Selain itu hanyalah saus dan penyedap. Hasilkan sesuatu yang kamu yakini, bukan yang menarik perhatian orang.

Maryn McKenna

Penulis Superbug dan Mengalahkan Kembali Iblis

Temukan skema organisasi untuk catatan dan materi buku kamu. Jika kamu merekam dan memakai buku catatan, pastikan itu mudah kamu akses. Jangan terobsesi dengan skema yang tampaknya lebih baik yang dimiliki orang lain.

Biarpun ada aplikasi yang katanya cocok dan lengkap untuk menulis buku, jangan tergoda. Kecuali, mereka yang membuat dan pakai aplikasi itu memiliki metode kerja yang mirip kamu, atau jika itu tidak merepotkan kamu dalam menulis buku.

Pengerjaan ulang skema organisasi sangat menggoda dan menghabiskan banyak waktu.

Jangan menunggu terlalu lama untuk mulai menulis, terutama jika buku kamu berisi elemen deskriptif atau naratif. Tulis setidaknya sketsa singkat elemen sensorik dan emosional yang melekat pada saat kamu kembali dari lapangan.

Kamu sudah habiskan banyak waktu di pikiranmu. Jaga fisik kamu juga. Miliki komitmen menjaga fisik dan kesehatan, sama dengan komitmen untuk menyelesaikan buku. Jika tidak peduli dengan kesehatan kamu, pikirkan kesombongan kamu nanti.

Bersikap baiklah kepada pasangan kamu dan lindungi waktu untuk mereka, karena mereka di sini bersamamu. Tidak seperti kamu, mereka tidak memilih menulis, namun mau menemani kamu. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.