in

Program “Petani Gajian”, Terobosan PT BPR BKK Jateng Dorong Swasembada Pangan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan swasembada pangan dan menjadi wilayah lumbung pangan nasional di tahun 2026. Dalam mendukung hal tersebut, perlu adanya ekosistem pertanian yang baik dan sistem pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Pembentukan ekosistem tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerjasama Program Ekosistem Pertanian dan “Petani Gajian”.

Program “Petani Gajian” merupakan terobosan dari PT BPR BKK Jateng (Perseroda) yang dirancang untuk memberikan kepastian penghasilan bagi petani melalui skema yang terstruktur dan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, hasil pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada fluktuasi pasar, melainkan telah diatur dalam suatu mekanisme yang memberikan kepastian nilai dan waktu penerimaan pendapatan bagi petani.

Program ini juga merupakan kolaborasi antara Koperasi Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah dengan BUMD Provinsi Jawa Tengah yaitu PT. BPR BKK Jateng, PT. JTAB (Perseroda), dan PT. Jamkrida Jawa Tengah. Penandatangan perjanjian kerja sama tersebut dilakukan pada Jumat (17/3/2026).

Program ini akan menghadirkan sistem pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk pendampingan, asuransi hingga pembiayaan modal untuk petani. Koperasi Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah berperan dalam pengkondisian lahan dan pendampingan petani, PT. BPR BKK Jateng menyediakan akses permodalan, PT. JTAB (Perseroda) menjadi off taker hasil panen, serta PT. Jamkrida Jawa Tengah memberikan penjaminan dan asuransi guna memitigasi risiko usaha pertanian.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah berperan dalam penguatan kebijakan, pendampingan teknis, peningkatan kapasitas petani, serta memastikan kesesuaian program dengan arah pembangunan pertanian daerah.

Direktur Utama PT. BPR BKK Jateng, Rudi Wahyu Triyanto, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung petani dari sisi pembiayaan. Antara lain pemberian akses permodalan secara mudah dan terjangkau.

“Kami berkomitmen menghadirkan akses permodalan yang mudah dan terjangkau, sehingga petani dapat lebih fokus meningkatkan produktivitas tanpa terkendala modal,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah, Eko Christanto, menegaskan pentingnya pendampingan petani dalam program ini. “Ini bukan hanya soal bertani, tetapi bagaimana petani mampu mengelola usaha secara profesional. Ekosistem ini kami bangun agar petani naik kelas dan memiliki kepastian pendapatan,” jelasnya.

Dari sisi hilir, Direktur Utama PT. JTAB (Perseroda), Totok Agus Siswanto, memastikan kesiapan perusahaan sebagai penjamin pasar. “Kami memastikan hasil panen petani terserap dengan harga yang kompetitif dan stabil, sehingga ada kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama,” katanya.

Adapun Direktur Utama PT. Jamkrida Jawa Tengah, M. Nazir Siregar, menekankan pentingnya perlindungan risiko dalam sektor pertanian. “Melalui skema penjaminan dan asuransi, kami ingin menjadikan sektor pertanian lebih aman dan layak dibiayai, sehingga semakin banyak pihak yang percaya untuk terlibat,” ungkapnya.

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah, Wawan Pramono, menyebut program ini sebagai terobosan nyata bagi kesejahteraan petani. “Dengan sinergi lintas sektor seperti ini, kami optimistis petani di Jawa Tengah akan semakin mandiri dan sejahtera,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defrancisco Dasilva Tavares menyampaikan dukungan penuh terhadap program ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem pertanian daerah. “Kami melihat program ini sebagai model kolaborasi yang sangat strategis. Dinas akan memastikan pendampingan teknis berjalan optimal, mulai dari peningkatan produktivitas, penggunaan teknologi pertanian, hingga penguatan kelembagaan petani agar program ini berjalan berkelanjutan,” ujarnya.

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Ia menilai program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong swasembada pangan. “Kolaborasi ini adalah langkah konkret dalam memperkuat sektor pertanian. Kami berharap program ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas pangan di Jawa Tengah,” tuturnya.

Melalui Program “Petani Gajian”, diharapkan tercipta sistem pertanian modern yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan bagi petani secara berkelanjutan. Program ini sekaligus menjadi model pengembangan ekosistem pertanian terpadu yang berpotensi direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. (*)