in

Alasan Mendasar Mengapa Kamu Gagal Menyelesaikan Masalah

Metode “problem solving” tidak menyelesaikan masalah. Justru “problem solving” itulah masalah sebenarnya. Apalagi kalau sudah melibatkan “emosi”.

(Credit: gruissa)

Cara sudah benar, masalah lebih banyak datang. Sudah kerja-keras, masalah tetap tidak terselesaikan. Tahu mengapa ini terjadi? Masalahnya ada pada “problem solving” dan cara kita melihat masalah.

“Masalah ini” meresahkan saya. Banyak orang berpikir seperti itu, menggiring perasaan mereka sendiri ke pertanyaan, “Bagaimana cara menyelesaikan -masalah ini-?”.

Banyak orang menjadi berbalik, “Kalau cara saya sudah benar, mengapa masih ada lebih banyak masalah?”.

Ini terjadi pada banyak masalah dalam hidup seseorang: banyak hutang, tidak bisa piknik, pasangan kejam, kawan tidak menyenangkan.. dan masih banyak lagi.

Kerangka Berpikir Kita Sudah Salah Arah Sejak di Sekolah

Mereka berpikir, hidup adalah usaha dan perjuangan, tidak ada hasil tanpa kerja keras, dan kalau menutupi kekurangan mereka masih bilang, “Ada pelajaran berharga di balik semua ini.”. Ironis. Menyedihkan. Kamu percaya pada prinsip “hidup adalah perjuangan” namun masih banyak masalah tidak bisa terselesaikan.

Standar penyelesaian kamu, cara kamu memandang masalah, dan emosi kamu. Sekali lagi: ternyata masalahmu tidak selesai, bertambah banyak.

Jangan menutupi perasaan resah, jangan lari dari emosi yang tidak bisa membuat kamu tidur nyenyak.

Pernahkah kamu bertanya, “Adakah yang salah dari cara saya memikirkan -masalah ini-?”. *) Cara kamu memikirkan masalah, bukan cara kamu menyelesaikan masalah.

Saya ringkas. Kamu ingin masalah ini selesai. Kamu cemas, khawatir, dan stres — serta jarang menemukan solusi memuaskan. Ini disebut pendekatan “problem solving“. Sejak di sekolah dasar, pendekatan ini tertanam. “Jadi, apa jawabannya? Bagaimana menyelesaikan masalah ini?”.

Mari pilih satu masalah yang sering terjadi: kita sering kekurangan uang. Berapapun penghasilan kamu, merasa kekurangan uang itu bukan sesuatu yang memalukan. Ketika memikirkan masalah kekurangan uang ini, emosi negatif kita datang.

Melibatkan “Emosi”, Itu Masalahnya

Kita ingin segera berpindah ke keadaan bernama “tidak lagi kekurangan uang”. Kita mau solusi, sementara sistem kita berada dalam kondisi bermasalah, sehingga kita tidak mendapatkan solusi memuaskan.

“Kita tidak bisa selesaikan masalah kita, dengan pemikiran yang sama, seperti saat menciptakannya,” kata Einstein. Dengan kata lain, kita tidak bisa selesaikan masalah kita, dengan kesadaran yang sama, seperti saat kita menciptakannya.

Jadi, masalah sebenarnya bukan “kekurangan uang”. Masalah sebenarnya: keadaan emosi kamu.

“Kekurangan uang” itu baik dan normal, tetapi kamu menafsirkan “kekurangan uang” sebagai masalah, karena kamu merasa buruk. Semua masalah bermuara pada kenyataan bahwa kamu tidak menyukai apa yang kamu rasakan.
Dengan baris yang lebih singkat: gelisah (dan emosi negatif lainnya) tidak ikut menyelesaikan masalah kamu.

Lebih baik, fokuskan seluruh kapasitas mental kamu untuk menemukan solus tanpa terkurung dalam emosi negatif kamu. Caranya begini..

Bayangkan, bagaimana rasanya “nanti” jika masalah ini selesai? Itu lebih baik. Keadaan tanpa emosi negatif, di masa depan, itu yang perlu kamu bayangkan.

Saya pernah bertanya kepada seorang anak kecil, “Apa kamu tidak capek, menggambar terus?”. Tanpa menoleh, ia menjawab, “Nanti kalau gambarku sudah banyak, aku mau pameran tunggal.”. Anak kecil ini sudah membayangkan “masa depan” ketika pekerjaannya selesai, gambarnya semakin bagus, dan dia melambaikan tangan ke semua orang. Itulah yang ia pakai untuk menekan emosi negatif bernama rasa lelah dan ejekan orang.

Sekalipun situasi eksternal kamu buruk, atau dunia di luar dirimu tidak menyenangkan, kalau dirimu sudah berdamai dengan dirimu sendiri, kamu akan lebih kuat.

Mengakui Masalah, Bisa Menjadi Sumber Masalah

Dick Grayson, dalam serial “Titans”, Season 3, mendapat bujukan negatif dari Scarecrow, musuh Batman, yang menyalahkan cara Batman mendidik Dick Grayson. Scarecrow berkata, “Mengapa kamu menuruti Batman? Dia menyingkap kekuatan dirimu, namun itu berarti membuatmu mengakui kelemahanmu.”. Dick Grayson mengerti “serangan negatif” Scarecrow yang sangat halus ini. Dick Grayson mengangguk. Adegan berikutnya, Dick Grayson kecil, yang sedang dilatih Batman, kembali ke rumah-hutan sambil memperlihatkan hasil buruan kepada Batman.

Dick Grayson mengakui, “sekarang” (waktu itu) ia lemah, dan kelemahan itu bisa dihilangkan dengan melihat dirinya di masa depan, yang berhasil menjadi Robin pertama, anak-angkat terhebat Batman.

Emosi kamu, menentukan hasil pemecahan masalah. Dunia di dalam dirimu, menentukan hasil pemecahan masalah. Fokuskan mental kamu untuk mempertanyakan cara kamu menyelesaikan masalah, -tanpa- emosi negatif yang menghambat tindakan kamu. Lihatlah buktinya, orang-orang itu sering salah.

Sebagian besar masalah terjadi, karena orang terlalu percaya pada pola, “metode terbaik”, dan gagasan menurut para ahli. Ini yang dilawan Nicholas Nassim Taleb dalam buku _Incerto_, yang menjelaskan “sains” di balik ketidakpastian dalam hidup.

Mari melihat kenyataan yang lebih mengerikan: tindakan itu penting dan ternyata sudah bertindak tetap saja masalah tidak terselesaikan.

Tindakan Bukanlah Solusi

Tindakan bukanlah solusi. Tidak ada tindakan eksternal yang dapat mengkompensasi ketidakselarasan internal. Bertindak, sama sekali tidak menjamin kekhawatiran kamu hilang. Tindakan bukanlah kunci. Sudah lulus kuliah, sudah ikut ini dan itu, sudah bertindak, ternyata hasilnya tidak sepenuhnya sesuai impian.
Kebanyakan orang berkata, mereka akan bahagia jika terjadi ini dan itu. “Saya bahagia jika sudah punya rumah dan anak” atau “Saya bahagia jika sudah baca buku tanpa gangguan”. Itu kebahagiaan bersyarat.

Siapa yang mendatangkan “syarat untuk bahagia” itu?

Bayangkan, kamu bisa bahagia tanpa syarat.

Bisa kamu bayangkan itu? Kalau tidak bisa, itu karena pikiranmu sudah mengalami “loop” (pengulangan) untuk kembali ke pemikiran awal, bahwa hidup itu perjuangan, baru bisa bahagia jika punya sesuatu, bertindak, dan seterusnya. Itu sebabnya kamu tidak bisa membayangkan bahagia tanpa-syarat. Kamu sendiri yang mengatakan, bisa bahagia kalau sudah begini dan begitu.

Sekarang, kamu tahu, mengapa kamu sulit bahagia tanpa-syarat. Pikiranmu sendiri yang memblokir jalan bahagia kamu.

Banyak orang memakai 8 jam hidupnya untuk tidur, 8 jam untuk gelisah, dan 8 jam untuk hidup demi orang lain. Sedikit orang yang memahami arti “don’t worry be happy”. Lebih sedikit lagi, yang memahami meditasi dengan mata terbuka: jangan berpikir, jangan bertindak. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.