in

Politik Komoditas dan Eksploitasi Identitas

Ketika suara menjadi komoditas politik, berlaku perang proxy dan aktivasi token bersama para influencer. Identitas berharga mahal.

“Komoditas” dari “commodus” (Ltn.), artinya “nyaman, cocok, atau memadai”, dari kata-kerja “commodare“, artinya “memperbaiki, menyesuaikan, atau memberi kepuasan”. Kata ini menjadi “commodity“, artinya “barang dagangan, barang mentah, atau produk pertanian untuk diperdagangkan”. Biasanya mengacu pada produk atau barang yang diperdagangkan.

Transaksi terjadi, memperdagangkan komoditas. Bukan hanya jual-beli beras. Transaksi terjadi dalam politik. Quid pro quo. “Sesuatu untuk sesuatu”. Memberi ini, dapat itu. Yang bertransaksi sama-sama setuju dan dapat manfaat.

Politik terjadi dengan transaksi. “Komoditas” dalam politik, bukan lagi berbentuk fisik. Jasa buzzer, sabet (Jw. “tim pemenangan”), citra dan popularitas, isu untuk elektabilitas, kepentingan politik finansial, proyek-proyek yang siap diteruskan, dukungan massa, termasuk janji dan imbalan kesejahteraan. Ini sudah menjadi mekanisme transaksional antara pemilih dan politisi.

Profil memegang peringkat tertinggi dalam daftar bentuk komoditas. Tanpa profil calon, tidak ada pemilu, tidak ada transaksi di sekitarnya. Semakin tinggi visibilitas, nilai jual semakin tinggi. Black campaign menguntungkan visibilitas calon. Kampanye berarti “jual produk”, jika kita lihat dari perspektif transaksi.

Kalau mau melihat Indonesia ke depan, lihatlah pemilihnya. Merekalah “pasar” yang menjadi tempat transaksi. Calon datang ke pasar itu. Calon berdandan dan tampil, agar diterima di pasar.

Jika sekarang (semoga besok tidak) terjadi money politics, itu karena para pemilih suka money politics. “Saya memilih yang ngasih saya uang.” Kalimat seperti ini sering kita dengar dari mana, kalau bukan dari pemilih?

Pemilih memakai preferensi “uang” karena tekanan, berupa: kebutuhan hidup, amplop 5 tahun sekali, dan sudah dianggap “normatif”. Pencitraan calon, juga faktor penekan yang luar biasa. Kita lihat baliho di mana-mana, sampah plastik ratusan ribu ton, Beranda medsos, perbincangan, sampai membentuk emosi pemilih. Jangan remehkan serangan visual. Sekarang bukan lagi zaman menghapus atau men-sensor konten. Sekarang ini zaman di mana berita buruk ditutup dengan lebih banyak berita, agar orang capek memfilter mana yang benar.

Citra publik dikerjakan dengan marketing dan manufactur of consent. Profile adalah “branding” dan pemasaran seluruhnya. Membangun citra positif di iklan dan penampilan publik.

Manusia butuh keamanan, jaminan untuk sehat, menikmati infrastruktur, bekerja dengan tenang, anak dapat pendidikan — maka janji akan berada di sekitar itu.

Singkatnya, komoditas dalam politik bukan lagi “fisik”. Kungfu tingkat dewa para calon sudah merambah sampai non-fisik (janji, citra positif, kharisma, popularitas, dll.).

Calon datang dari masa depan, mengajak kita meninggalkan segala macam masalah “sekarang”.

Data pribadi di Dukcapil, Dinkes, sampai DPT (daftat pemilih tetap) bisa berubah menjadi pivot table yang diperebutkan demi kepentingan meraih suara. Surveillance capitalism seperti ini, sudah lama dipakai selama pemilu.

Identitas juga menjadi komoditi. Kita yang terlahir dan suka konflik identitas, sudah mirip los pasar tempat lapak sejenis berada. Sebelah kiri jual sayuran, sebelah kanan jual bumbu, dengan identitas berbeda-beda. Eksploitasi identitas selalu terjadi. Apa agama kamu? Apa pekerjaanmu? Apa pertimbanganmu menyukai sesuatu? Semua ini diidentifikasi, agar mudah bagi calon untuk “beli” di lapak sebelah mana. .

Selagi para pemilih masih suka menilai religiusitas calon dengan potongan video 15 detik, berantem di kolom komentar, selamanya kita masih bertarung dengan identitas, demi identitas. Selagi sikap etno-chauvinistic, membanggakan diri sebagai suku terhebat, kontras identitas kita akan semakin mudah dikuras demi kepentingan politik.

Dalam politik identitas, “tokenisme” sangat kuat. Konsolidasi ke tokoh dan influencer. Satu token untuk mengaktivasi banyak pengikut.

Selagi pengidolaan dan “menjadi pengikut” masih dominan di bawah, semakin banyak komoditas yang bisa “dipakai”.

Mayoritas pemilih, tidak mau membuka diri untuk mempelajari pengaruh suara mereka terhadap perubahan.

Kita bisa menjaga suara, menjadi lebih “mahal” jika kita tidak takut berpolitik, mau membaca pengaruh suara kita terhadap perubahan.

Data kita, pilihan kita, identitas kita, pengetahuan kita, itulah yang berharga sangat mahal. Bukan untuk amplop lima tahun sekali.[dm]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.