in

Batas Kabur Podcast dan Talkshow di YouTube

Kebanyakan Podcast YouTube berwujud talkshow. Lebih “staged”, kehilangan komunikasi otentik, dan kena badai monetisasi. Mengapa kita harus betah lihat tampang podcaster?

(Image: DALL-E)

Kebanyakan Podcast YouTube berwujud talkshow. Lebih “staged”, kehilangan komunikasi otentik, dan kena badai monetisasi. Mengapa kita harus betah lihat tampang podcaster?

Sejarah Podcast

Kata “podcast” yang merupakan kombinasi dari “iPod” dan “broadcast.” Istilah ini muncul di tahun 2004 ketika podcasting adalah fenomena baru yang merevolusi dunia konten audio. “Podcast” artinya kemampuan untuk mengunduh audio konten melalui internet dan menyimpannya di perangkat, khususnya iPod, yang merupakan pemutar musik populer pada saat itu.

Ide kata “podcast” berasal dari Ben Hammersley, seorang jurnalis Inggris, yang menciptakannya dalam artikel untuk surat kabar The Guardian pada bulan Februari 2004. Ide dasar di balik podcast adalah memungkinkan orang untuk berlangganan dan mendengarkan konten audio secara on-demand, tanpa harus terikat pada jadwal siaran radio tradisional.

Bukan hanya lagu. Konten orang bicara, tentang musik atau kesehatan, atau segmen siaran radio, kemudian download ke iPod, seperti itulah podcast. Revolusioner. Pendengar bebas pilih apa yang mau mereka dengarkan, sambil fitness atau minum kopi.

Seiring berjalannya waktu, dunia podcast mengalami berbagai perubahan signifikan, baik dari segi konten, format, maupun penerimaan oleh audiens.

Konten podcast semakin beragam. Yang pasti, lebih banyak percakapan informal antara host dan gues, mengulas topik pinggiran yang tidak diperhatikan media konvensional, termasuk berita, fiksi, edukasi, komedi, dll. Proliferasi genre podcast, sudah mirip film. Ada true crime, komedi, bisnis, dst. Menyesuaikan minat pendengar dan ceruk pasar. Format podcast semakin fleksibel. Awalnya, podcast tidak punya format terstruktur, namun karena banyak peminat, persaingan, dan efisiensi waktu, ilmu broadcast ikut menentukan skrip dan produksi yang semakin canggih. Apalagi, karena terlahir dari iPod, persaingan audio kualitas tinggi semakin banyak. Podcast menyenangkan karena waktu itu belum ada media sosial. Orang bisa menyampaikan wawasan yang tak-terwakili di media massa tradisional. Senang rasanya kalau mendengar ada orang pintar, musisi, pengamat, bicara tentang keseharian kita. Platform podcast kemudian ngehit melalui Apple, Spotify, Google, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Salah satu poin penting dalam sejarah podcast adalah bagaimana medium ini menjadi media alternatif dan inklusif yang memperdengarkan suara minoritas. Podcast memungkinkan siapa pun, terlepas dari latar belakang atau status sosial mereka, untuk membuat konten audio dan berbicara tentang topik yang mereka pedulikan. Ini adalah kontras dengan media massa tradisional yang terkadang hanya mewakili sudut pandang mayoritas.

Dengan demikian, podcast telah menjadi wadah bagi kebebasan berbicara dan kesetaraan dalam berbagi cerita, sehingga membuatnya menjadi medium yang inklusif dan demokratis dalam dunia media.

(Image: DALL-E)

Beda Podcast dan Talkshow

Podcast “tradisional”, sebenarnya berbentuk audio, bisa serial, pendengar bisa streaming atau download, fokus di topic tertentu. Format percakapan naratif. Keunggulan podcast “tradisional” karena sederhana, mudah dinikmat sambil melakukan aktivitas lain.

Talkshow, tidak demikian. Ada “show” berbentuk “talk”, pertunjukan orang bicara. Isinya wawancara, antara host dan guest. Biasanya kalau dirancang untuk konsumsi visual, cenderung lebih teatrikal dengan set yang lebih kompleks, lighting, dan biaya produksi lebih tinggi.

Podcast memiliki pendekatan yang lebih intim dan personal, seringkali merasakan seperti percakapan antara host dan tamu untuk pendengar. Talk show melibatkan interaksi langsung dengan audiens atau mungkin memiliki segmen yang lebih terstruktur dan berorientasi pada hiburan.

Kekuatan Podcast

Mudah didengarkan, sambil aktivitas lain. Kamu bisa berolahraga sambil mendengarkan podcast. Tidak menyita perhatian, tidak seperti ketika kamu harus melihat tampang orang di YouTube.

Podcast Tradisional punya “Theater of Mind”.

“Theater of the mind” mengacu pada cara audiens menggunakan imajinasi mereka untuk memvisualisasikan cerita, percakapan, atau ide yang disampaikan melalui audio. Ketika pendengar membayangkan dan dirinya terlibat karena audio, seperti itulah “theater of mind”. Pendengar punya kebebasan membentuk gambaran mental sendiri tentang apa yang mereka dengar, lebih aktif, “menciptakan” pengalaman mendengarkan sendiri, dengan interpretasi pribadi mereka. Kekuatan suara, intonasi, teknik “decompressing”, menciptakan koneksi emosional yang lebih mendalam. Ini menantang penyiar untuk mengatasi keterbatasan visual. Kalau kamu pernah menyukai segmen acara di radio atau mendengarkan drama radio, seperti itulah “theater of mind”.

Kelemahan Podcast Tradisional

Podcast Tradisional kurang populer karena beberapa alasan. Podcast tradisional hilang karena kurang promosi dan sumber daya. Ketidakpastian kualitas produksi, juga menjadi masalah. Persaingan ketat. Ini juga dialami para pemain visual. Yang jelas, preferensi audien sudah berubah. Para pendengar lebih suka sesuatu yang terstruktur, jika ada label “podcast”, “berita”, atau perbincangan. Bahkan untuk tertawa di acara komedi, orang lebih suka yang terstruktur.

(Image: DALL-E)

YouTube Datang, Kekuatan Podcast Hilang

“Theater of mind” terkikis habis ketika podcast berubah menjadi visual mirip talkshow.

Trend podcast YouTube semacam ini, justru ngehit.

Ketika YouTube datang, keadaan berubah. Kamu pakai Apple atau Android, semua bisa akses YouTube. Orang bisa berlagak ikut jalur sukses orang lain, bermain-main, atau bikin rumah produksi yang serius, semua dalam naungan YouTube. Ketika memakai YouTube, aspek visual yang menjadi preferensi kebanyakan orang, lebih dapat tempat.

Pergeseran terjadi karena harus terjadi. “The Joe Rogan Experience”. Joe Rogan awalnya dikenal karena podcast audio-nya yang sangat populer. Ketika migrasi ke YouTube, formatnya berubah secara signifikan. Mereka bisa lihat Joe Rogan dan guest. Penonton lebih banyak.
“The H3 Podcast” yang dipandu Ethan Klein dan Hila Klein, ketika pindah ke YouTube, tidak hanya membahas suatu topik. Mereka menampilkan elemen visual seperti meme, video pendek, dan interaksi visual yang membuat kontennya lebih menarik secara visual.

Podcast di YouTube disukai orang. YouTube punya kekuatan di elemen visual. Kalau sudah “video”, kamu bisa tampilkan apa saja di situ. Screen recorder dari Android, layar laptop, rekaman video drone, kualitas 4K, audio HD, lagu, hasil candid, perjalanan dari laut ke gunung, CCTV, segala macam bisa. Komentar dan interaksi sangat tinggi. Banyak penonton di YouTube yang sangat suka baca komentar. Fitur Picture in Picture, memungkinkan pemakai untuk melihat YouTube sambil aktivitas lain. YouTube menjanjikan monetize, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Alasan Mengapa Podcast di YouTube Lebih Populer

YouTube mengumbar kebebasan dan kesukaan visual semua orang. Format lebih terstruktur, mirip siaran televisi. Script, storyboard, konsep, kreativitas, teknik editing, interaksi, tampilan host dan tamu yang lebih formal, mendapat sambutan dari platform YouTube. Betapa banyak aplikasi dan platform pihak ketiga yang ingin membuat orang ngehit di YouTube. Bukan hanya audio. Ketika seorang guest-pengamat datang membicarakan tren anak muda, ada selingan atau insert beberapa detik yang mendeskripsikan apa yang sedang menjadi pembicaraan. Live streaming, memungkinkan interaksi perang komentar, nge-flood dengan emoticon, dan umpatan. Tidak semua hal bisa ditampung dengan audio. Promosi zaman radio sudah lewat, karena produk sekarang (yang diiklankan YouTube), mulai Shopee sampai channel artist, bisa tampil -sebagai- video.

Aspek Visual yang Bisa Dimainkan

Secara teknis, apa saja aspek visual yang bisa dimainkan orang ketika memakai platform YouTube untuk podcast?

Ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Kadang, ini mirip yang terjadi pada Tiktok. Ekspresi biasa, justru bisa ngehit. Orang suka melihat ekspresi orang, apalagi kalau itu selebritas dan influencer. Interaksi fisik antara host dan tamu, seperti kontak mata, tawa bersama, atau gestur, bisa menambah dimensi kedalaman dalam percakapan dan membuat tontonan lebih menarik. Penggunaan grafik, slide, atau elemen visual lainnya bisa sangat berguna, terutama jika podcast membahas topik yang kompleks atau mengandalkan data dan statistik. Ini memungkinkan penjelasan visual yang dapat memperjelas poin-poin penting atau konsep yang dibahas. Podcast di YouTube punya kelebihan bisa demonstrasi (peragaan) atau praktik langsung. Melihat set yang bagus, apalagi kalau pindah-pindah ke alam terbuka, tidak selalu di dalam studio. Visual branding juga bisa kuat ditampilkan di sini. Bagi yang lebih suka “mute” (bisukan), bisa lihat subtitle dan anotasi.

Hilangnya Kekuatan Podcast Tradisional di YouTube

Motivasi sederhana, membincang topik pinggiran, dan memperdengarkan suara minoritas, yang menjadi dambaan podcast tradisional, semakin hilang ketika YouTube datang, dengan janji monetisasi konten melalui iklan. Orang tetap bisa menjalankan mimpi podcast tradisional, namun, mimpi popularitas dan monetisasi YouTube menghancurkan itu. Host dan produsen podcast dapat menghasilkan pendapatan dari iklan yang ditampilkan dalam video podcast. Ini menciptakan insentif ekonomi yang kuat untuk memasukkan podcast ke dalam platform YouTube.

Sekarang, ini bagian negatif yang perlu kita ulas. Persaingan ketat, di dunia ekonomi pelanggan (sukses di YouTube mengandalkan subscribe dan klik), kita banyak melihat kreator tumbang. Tidak seindah yang dibayangkan. Podcasting di YouTube masih tetap diminati orang. Iklan yang mengganggu tetap menjadi bawaan YouTube. Sekalipun kamu berlangganan premium, tawaran tidak pernah berhenti. Terlalu banyak iklan. Selain itu, kita sering menemukan konten yang tidak otentik. Podcast dengan topik gosip, pemihakan politik, pertarungan identitas, dan perang proxy, sering kita lihat.

Bisakah Podcast YouTube Membuat Perbedaan?

Podcast di YouTube memiliki potensi untuk membawa inovasi dan perubahan positif dalam dunia podcast secara keseluruhan. Diversifikasi konten, kolaborasi antar platform, partisipasi aktif audiens, penggunaan teknologi baru, dan kemudahan ditemukan adalah beberapa cara di mana podcast di YouTube dapat membuat perbedaan. Masa depan podcast mungkin akan melibatkan integrasi lebih erat antara elemen audio dan visual, membuka pintu untuk pengalaman mendengarkan yang lebih beragam dan menarik.

Kemunculan elemen visual telah memengaruhi format dan persepsi audiens tentang podcast, sehingga podcast di YouTube lebih mirip dengan talk show. Sementara ini membuka peluang baru untuk audiens yang lebih luas, kita juga kehilangan sebagian dari kekuatan podcast awal, seperti “theater of the mind” dan komunikasi otentik.

Di sisi lain, faktor ekonomi juga memainkan peran penting dalam tren podcast. Monetisasi melalui iklan dan sponsorship telah menjadi model bisnis yang dominan, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam hal komersialisasi berlebihan dan pengaruh iklan terhadap konten.

Kita memiliki harapan baru bahwa podcast di YouTube dapat membawa inovasi dan perubahan positif. Diversifikasi konten, kolaborasi antar platform, partisipasi aktif audiens, penggunaan teknologi baru, dan kemudahan ditemukan adalah beberapa potensi yang dapat diterapkan oleh podcast di YouTube. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.