in

Mengenalkan Pewarna Alami pada Anak

Kenalkan pewarna alami ke anak sejak usia dini. Kembali ke alam. Orang tua tenang ketika anak tidak konsumsi pewarna sintetis (kimia). (Foto: Rasuane Noor)

Penggunaan pewarna sintetis (kimia) memiliki efek negative bagi kesehatan dan lingkungan. Lebih baik pakai pewarna alami yang mudah didapatkan dan aman untuk anak-anak.

Pewarna alami sudah lama digunakan sebagai bahan pewarna pakaian, rumah tangga, dan pewarna makanan. Pewarna alami tergerus dan kurang populer, seiring perkembangan teknologi.

Kalau kita mau revitalisasi dengan slogan “back to nature” (kembali ke alami), salah satu bentuknya: mulai mengenalkan pewarna alami kepada anak usia dini.

Penghasil Pewarna Alami

Pewarna alami adalah pewarna yang dapat dihasilkan dari alam tanpa adanya proses kimia atau sentetis. Pewarna alami bisa kita dapatkan dari hewan, mikroorganisme, bebatuan, tanah, dan tumbuhan.

  • Pewarna dari hewan, misalnya: warna hitam dari tinta cumi-cumi, warna ungu dari teripang, dan warna hijau dari rumput laut.
  • Pewarna dari mikroorganisme, seperti: warna coklat dan merah dari
    fermentasi angkak, warna hitam dan cokalat bisa didapatkan dari lumpur, tanah, atau bebatuan.
  • Pewarna dari tetumbuhan bisa diambil dari bagian tumbuhan yang mengandung pewarna, seperti bagian daun, bunga, buah, kulit buah, kayu, kulit kayu, akar, dll.

Kearifan Lokal dalam Memakai Pewarna Alami

Pewarna alami sudah lama digunakan di Indonesia selain pada pewarna makanan, yang paling jelas pada tradisi membatik yang merupakan budaya leluhur Nusantara.

Kearifan tradisional, sudah lama memperkenalkan pewarna alami pada makanan. (Foto: Rasuane Noor)

Saat ini bahan pewarna sintetis yang banyak digunakan sebagai pewarna batik sudah mulai beralih ke pewarna alami. Ini dikenal dengan “natural dye” (pewarna alam) untuk batik. Balai Besar Batik dan Kerajinan sudah meneliti dan mengembangkan secara luas, tetumbuhan penghasil warna alami. Ada 100+ tanaman penghasil warna kain untuk membatik.

Ajak Anak Kembali ke Alam

Anak akan senang jika diajak menggunakan pewarna alami, untuk menulis, menggambar, ketika mereka di usia Paud, TK, dan SD. Jika sudah menjadi bagian dari belajar mereka sehari-hari, pewarna alami akan menyatu dalam proses belajar anak. Orang tua tidak khawatir terhadap bahaya pewarna, tidak seperti ketika anak-anak itu memakai bahan pewarna sintetis (kimia).

Efek Negatif Memakai Pewarna Sintetis (Kimia)

Pewarna sintetis (kimia) sering dipakai di produk cat, tekstil, dan makanan. Pewarna tekstil yang dipakai untuk pakaian, berasal dari bahan sintetis, termasuk cat, dan makanan olahan dalam kemasan. Efek negatif yang terjadi: keracunan (sakit perut, mual, dan muntah), hiperaktivitas, gangguan tingkah laku, karsinogenik (penyebab kanker), peningkatan peluang terkena tumor, kerusakan kromosom, iritasi kulit, perubahan warna air kencing (urine), mengganggu perkembangan janin dan bayi, hipersensitif, kelelahan, pandangan kabur, peningkatan sekresi nasofaringal, perasaan sesak nafas atau asma, jantung berdebar (bukan karena jatuh cinta), urtikaria, gatal-gatal, bengkak atau bilur di bawah kulit, (ruam kulit), rinitis (hidung meler), purpura (kulit lebam) dan anafilaksis sistemik (shock) serta
gangguan kesehatan lain.

Pewarna Sintentis (Kimia) Berbahaya yang Sering Beredar

Apa saja pewarna sintetis (kimia) yang sudah banyak beredar dan digunakan?

Pewarna sintetis (kimia) yang dilarang untuk makanan: Rhodamin B, D, dan C Red No 19. Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine, dan Brilliant Pink, dengan ciri warna merah menyala. Methanil Yellow, berwarna kuning dan tidak mudah di air. Ponceau 4R (E124 atau SX Purple), berwarna merah hati agak keunguan. Tartrazine (E102 atau Yellow 5), Sunset Yellow (E110, Orange Yellow S atau Yellow 6). Allura Red (E129), berwarna merah-jingga. Quinoline Yellow (E104), berwarna kuning. Brilliant Blue, senyawa pewarna biru.

Pewarna Sintetis Berbahaya (Kimia) Dipakai di Mana?

Pewarna berbahaya itu sering dipakai dalam pembuatan kerupuk, terasi, cabe merah giling, agar-agar, permen, aromanis atau kembang gula, manisan, sosis, sirup, minuman, selai, kue, roti, sereal, bubuk pemanis, minuman berenergi, jus
jeruk, es krim, ikan kalengan, keju, jeli, minuman soda, obat-obatan dan produk lainnya.

Kenalkan Pewarna Alami kepada Anak

Indonesia penuh sumber pewarna alami. Kita bisa kenalkan kepada anak sejak usia dini.

  • Mengenalkan anak tentang asyiknya memakai pewarna alami untuk menggambar, melukis, dan corat-coret.
  • Memakai pewarna alami dengan menanam dan memanen tetumbuhan penghasil warna alami.
  • Memperkenalkan hewan-hewan penghasil pewarna alami.
  • Mengaplikasikan warna di alat peraga dan memasukkan penjelasan tentang pewarna alami dalam kegiatan belajar.
  • Memperkenalkan kepada anak tentang sumber-sumber pewarna alami yang bisa lebih mendekatkan mereka kepada alam (back to nature).
  • Menjelaskan tentang ciri-ciri dan bahaya pewarna sintetis (kimia).

Pihak-pihak pemegang kepentingan dan kebijakan, sebaiknya bersikap tegas dan menegakkan peraturan tentang bahaya pewarna sintetis (kimia) berkaitan dengan kesehatan, kelestarian alam, dan masa depan anak Indonesia, dengan melarang pemakaian pewarna berbahaya, mengawasi lebih ketat, karena sepenuhnya berbahaya.

Dan tidak ada lagi kasus keracunan sirup akibat zat pewarna sintetis (kimia). Orang tua dapat dengan tenang melihat anak mereka belajar, menyatu dengan alam. [rn]

*) Rasuane Noor. Mahasiswa program doktor Biologi, Universitas Gadjah Mada.