in

Perguruan Tinggi Tempati Urutan Pertama Kasus Kekerasan terhadap Perempuan

Mengapa kasus kekerasan seksual cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir?

Seorang perempuan membentangkan poster saat melakukan aksi unjuk rasa menyuarakan kesetaraan gender, perlawanan atas kekerasan seksual terhadap perempuan. (antara foto/hafidz mubarak)

YOGYAKARTA (jatengtoday.com) – Perguruan tinggi yang menjadi tempat pendidikan  tak terlepas dari catatan negatif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Tentu, ini menjadi ironi yang menyedihkan.

Direktur Center for GESI Wiwin Rohmawati mengatakan, angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih tinggi, bahkan cenderung meningkat. Komnas Perempuan mencatat, pada 2021, ada 4322 pengaduan langsung kekerasan terhadap perempuan dan meningkat menjadi 4371 kasus pada 2022.

“Kekerasan berbasis gender, baik fisik maupun psikologis, di lingkungan perguruan tinggi, menempati urutan pertama yakni 35 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan,” katanya dalam acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2023 di Auditorium Kampus Terpadu Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Rabu (6/12/2023).

Dikatakannya, peringatan HAKTP tidak dapat dipisahkan dari kelompok rentan dan marginal, seperti difabel, transgender, transseksual, penderita HIV/AIDS, anak dan remaja, lansia, orang dengan gangguan psikososial, dan kelompok rentan lainnya. Mereka kerap menjadi korban diskriminasi serta kekerasan.

“Di tengah kondisi yang tidak berpihak, karena adanya stigma, diskriminasi dan kekerasan, mereka membutuhkan resiliensi suatu daya tahan atau daya lenting,” kata Wiwin.

Menurutnya, peringatan HAKTP setiap tahun menjadi signifikan dalam rangka pendidikan, penyadaran dan advokasi kebijakan terkait isu-isu yang masih dihadapi oleh perempuan dan kelompok-kelompok rentan lainnya.

“Oleh karena itu, UNU Yogyakarta berupaya serius menciptakan kampus yang berkesetaraan gender, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual melalui berbagai program. Salah satunya rangkaian Peringatan HAKTP 2023,” ujar Wiwin.

Kepala Pusdeka Rindang Farihah menambahkan, kasus kekerasan seksual yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya disebabkan problem kesehatan mental, khususnya pada anak muda.

“Korban kekerasan seksual juga rentan mengalami trauma dan depresi. Fakta ini mendorong Pusdeka UNU Yogyakarta melakukan pencegahan kekerasan seksual yang efektif adalah dengan meningkatkan kualitas kesehatan mental,” ujarnya.

Ia menekankan, keluarga memiliki peran sangat penting. Namun sebagian besar anak muda di Yogyakarta terutama mahasiswa tinggal jauh dari keluarga. Berangkat dari kondisi ini, Klinik Konsultasi Keluarga dan Anak Muda (Klinik K2+) Kampus UNU Yogyakarta melakukan upaya-upaya penguatan ketahanan mental mahasiswa.

“Upaya ini bagian dari menciptakan UNU Yogyakarta sebagai kampus yang inklusif, aman dan nyaman untuk siapa saja,” jelas Rindang.

Sebelumnya, pada Selasa (5/12/2023), UNU Yogyakarta menggelar webinar nasional “Anjangsana Srikandi: Urun Rembug Implementasi UU TPKS” bekerja sama dengan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) dan didukung oleh Kementerian PPPA dan Australia-Indonesia Partnership for Justice 2.

Sedangkan pada Rabu (6/12/2023) dihelat dua talkshow, yakni “Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus: Berbagai Kasus serta Penanganannya” dan “Resiliensi Kelompok Rentan dan Marginal dalam Menghadapi Diskriminasi dan Kekerasan”. (*)

Abdul Mughis