in

5 Sebab Kamu Tidak Percaya Diri

Banyak orang, secara tak-sadar, ingin percaya-diri namun melakukan yang sebaliknya: membunuh rasa percaya-diri.

(Image: "Self Confidence by @fosy Dribbble)

Saya tidak percaya, kalau percaya-diri itu bawaan. Yang menentukan rasa percaya diri: kebiasaan kamu sekarang. Bukan peristiwa masa lalu.

Banyak orang, secara tak-sadar, ingin percaya-diri namun melakukan yang sebaliknya: membunuh rasa percaya-diri

Kecanduan Kepastian

Mencari kepastian itu seperti mengalihkan kekuatan emosional ke orang lain. Kecanduan kepastian menyabotase dan membuat hubungan retak. Selalu meminta kepastian, membuat orang kehilangan rasa percaya-diri.

Contoh kasus. Ada seorang kawan, mengajakmu ketemuan besok, tanpa menjelaskan agenda pertemuan itu. Kamu merasa ada masalah. Pada kondisi ini, kamu tidak mendapatkan kepastian. Kamu bicara kepada kawan dekatmu (yang lain), menceritakan rasa penasaran kamu, menebak-nebak. Kemudian kawan dekatmu ini bilang, “Semuanya baik-baik saja.”.

Yang tidak baik-baik saja, dari cerita di atas:
Kamu menghindari perasaan menyakitkan (penasaran, cemas) selalu membuat mereka lebih buruk pada akhirnya. Kamu melarikan diri dari kesulitan emosional ini, dengan cara bercerita kepada kawan dekatmu. Kamu pelan-pelan mengkondisikan otakmu, mengatakan bahwa kamu takut, merasa buruk, tidak sanggup menangani masalah ini sendiri. Kamu memakai orang lain agar merasa lebih baik.

Takut dan merasa “insecure” itu milik kamu sendiri. Tanggung jawab kamu sendiri.

Terlalu Sering Menebak Diri Sendiri

Orang sering bertanya, “Menurutmu, aku orangnya bagaimana?”, “Apa yang terjadi padaku? Apa yang sebenarnya aku inginkan? Aku ini siapa?” dst. Mereka ini “insecure”, merasa kurang aman dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Itu ekspresi tidak percaya-diri, jika berulang-ulang kamu lakukan.

Bagaimana mengatasi ini?

Coba pikirkan, “Kondisi apa yang sedang saya ajarkan kepada otak saya, ketika saya sering menebak diri saya sendiri?”.

Ketika datang masalah besar, pelan-pelan, secara spontan kamu berkata dalam batin, “Saya tidak mampu memutuskan ini sendirian.”. Ini sama dengan mendidik pikiran kamu sendiri untuk tidak percaya-diri.

Meminta pertimbangan orang lain itu baik, sebatas memvalidasi variabel yang kamu pakai untuk mengambil keputusan. Yang perlu kamu tahu, kamu tidak akan pernah menghilangkan ketidakpastian sepenuhnya. Selalu ada kemungkinan salah dalam membuat keputusan. Selalu ada kemungkinan buruk.

Inti dari menebak-nebak: tidak mau menghadapi ketidakpastian mendasar dalam hidup. Bahkan secara detail kamu ingin semuanya pasti.

Menebak-nebak, sebenarnya mengarah pada perfeksionisme. Kelak, sebaik apapun pekerjaanmu, kamu tidak pernah puas. Terobsesi pada detail. Ingin menguasai sepenuhnya.

Cobalah berdamai dengan ketidakpastian. Buat keputusan, dengan segala konsekuensi buruknya.

Kamu Suka Menciptakan Bencana di Masa Mendatang

Ini disebut “catastrophizing”. Membayangkan semua skenario terburuk.

Bencana, dalam hidup, sudah biasa terjadi sesekali. Membayangkan skenario terburuk itu bagus agar kita waspada, dalam momen yang tepat.

Apa yang kamu bayangkan, itulah yang mengkondisikan dirimu.

Faktanya, sangat sulit percaya-diri jika sering membayangkan skenario terburuk.

Alihkan energi kamu ke apa yang bisa kamu lakukan dan buat.

Kamu Masih di Pikiran Masa Lalu

Ini pikiran yang selalu bercerita tentang “kemarin” yang buruk. Kamu teringat ketika ada orang marah di tempat itu. Kamu teringat mantan yang membuatmu menyeleksi siapapun agar tidak melihat apa yang pernah kamu benci dari mantan kamu.

Refleksi dan retrospeksi itu sehat dan normal. Yang tidak baik adalah membiarkan masa lalu masih memiliki energi yang mengendalikan kamu.

Hal buruk dari masa lalu, berada di masa lalu. Dirimu di masa lalu, berbeda dengan kamu yang sekarang. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu.

Takut pada Rasa Takut

Ketakutan sudah mengunyah kedamaianmu, sejak kamu pikirkan ketakutan itu.

Kemarin (di masa lalu), kamu tidak pernah bicara di depan publik. Kamu takut pada masa lalu, seperti itu. Masa depan, berkata lain kepadamu, “Belajarlah bicara di depan publik. Ada ilmunya, kamu bisa berlatih, dan di masa depan kamu akan bisa bicara di depan publik. Kelak, kamu akan semakin baik dalam hal berbicara di depan publik.”.

Orang yang hidup di masa lalu, dengan orang lain di masa lalu, lebih memilih ketakutan. Dan tidak bisa berbicara di depan publik.

Alkohol, merokok, tepuk-tangan, testimoni, bukanlah hal-hal yang layak mengendalikan kamu dan dijamin bisa memperbaiki kualitas kamu. Ketakutan mengundang teman-temannya, yang kamu benarkan, sampai akhirnya rasa takut menjadi “kebenaran” dan “kenyataan” yang kamu benarkan dan kamu wujudkan dalam kenyataan. Kamu menyerah.

Buatlah hubungan yang lebih sehat. Kamu lebih berkuasa dibandingkan rasa takut. Orang yang percaya diri, bukan berarti tanpa ketakutan. Mereka bisa mengendalikan rasa takut. Bukalah jendela, menarilah di bawah matahari. Kalau matahari sudah tenggelam, hari telah berganti.

Jangan kondisikan pikiranmu, secara tak-sadar, ke arah sesuatu yang tidak kamu inginkan. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.