in

Pengembaraan Panjang di Balik ‘Album Ghaib’ Nada Sumbang

Mereka memilih tempat pertunjukan santai seperti di teras rumah, kebun dan hutan.

Pertunjukan Nada Sumbang di teras rumah Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang di Jalan Nakula II Nomor 5 Semarang atau Kedai Kopi Samsara, beberapa waktu lalu. (abdul mughis/jatengtoday.com)

Tour keliling ini sengaja menggunakan rute melintasi lima hutan sakral, yakni Alas Larangan, Alas Roban, Alas Mentaok, Alas Ketonggo dan Alas Purwo.

SEMARANG (jatengtoday.com) –  Sosok musisi muda visioner itu bernama Ade Kurniawan, biasa disapa Kucel. Dia dikenal sebagai musisi folk asal Purbalingga Jawa Tengah dengan nama panggung “Nada Sumbang”. Penampilannya selalu nyentrik dan menonjolkan kesederhanaan. Tapi melalui pemikirannya menunjukkan cara pandang yang unik, reflektif dan imajinatif.

Karya-karya musik yang lahir dari tangan dinginnya tampaknya bukan hal sederhana. Jejak pemikiran, proses panjang hingga spiritualitasnya kerap membawa kejutan-kejutan tak terduga.

Ketika fenomena musisi secara umum cukup mengeluarkan karya lagu ‘single’, Nada Sumbang tak tanggung-tanggung dengan menyiapkan album berisi 13 lagu sekaligus.

Uniknya, jika musisi lain tour keliling setelah meluncurkan album, Nada Sumbang justru sebaliknya, dia membawa 13 lagu yang belum pernah direkam di studio rekaman itu untuk pentas tour keliling 30 kota di Pulau Jawa.

“Semua lagu belum diproduksi melalui proses rekaman, mixing dan mastering. Setelah tour selesai, baru nanti akan diproduksi,” ungkap Kucel, ditemui jatengtoday.com saat singgah di Kota Semarang, beberapa waktu lalu.

Ini menjadi tour album ketiga. “Sesuai dengan judulnya‘Jalan Pengembara’, maka 13 lagu ini ditirakati dulu untuk diajak keliling se Pulau Jawa. Setelah selesai tour keliling, nanti baru proses produksi, rekaman, mixing dan mastering. Saya bilang ini album ghaib. Karena memang belum diproduksi,” ujar pria kelahiran Purbalingga, 20 Juli 1994 itu.

Nada Sumbang pun menjalani proses panjang untuk tour keliling Pulau Jawa. Pertunjukan pertama dimulai dari Purbalingga pada 15 April 2022 lalu. Kemudian bertolak menuju Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Mejalengka, Kuningan, Purworejo, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Ngawi, Kota Semarang, Kendal, Batang, Kudus, Banyuwangi dan kota-kota lain di Jawa Timur, hingga akhir Juni 2022.

Setiap pertunjukan dikemas secara unik, sederhana dan menyatu. Mereka memilih tempat pertunjukan seperti di teras rumah, kebun dan hutan. Seperti halnya saat singgah di Kota Semarang, pertunjukan dihelat di teras rumah Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang di Jalan Nakula II Nomor 5 Semarang atau Kedai Kopi Samsara.

“Justru itu menjadi poin, bahwa pertunjukan musik tidak harus di venue yang gemerlap, mewah dan mahal. Saya lebih suka pertunjukan yang intim, menyatu dengan alam, menyatu dengan penonton, lebih membangun keakraban. Pertunjukan bisa sembari bercakap-cakap dan guyub,” ungkapnya.

Tour keliling ini membawa tema “Sambang, Sambung, Sumbang” . Tujuannya menyambangi teman, menyambung tali persaudaraan dan mengumpulkan donasi untuk kegiatan sosial atau bantuan korban bencana. “Sederhananya ya menyambung paseduluran sekaligus menggelar pertunjukan apresiasi,” katanya.

Melintasi Lima Hutan Sakral

Kucel mengaku mempercayai hal-hal yang bersifat spiritual. Maka tour keliling ini sengaja direncanakan melintasi lima hutan sakral, yakni Alas Larangan, Alas Roban, Alas Mentaok, Alas Ketonggo dan Alas Purwo.

Alas Mentaok adalah hutan yang pernah ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Mentaok merupakan wilayah bekas Kerajaan Mataram Kuno yang menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada abad 8 hingga abad 10.

Sedangkan Alas Ketonggo terletak 12 km arah selatan Kota Ngawi, tepatnya di Desa Babatan Kecamatan Paron. Terdapat puluhan situs bersejarah yang diyakini sebagai petilasan Raja Majapahit. Alas Larangan atau Gunung Larang berada di Desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Alas Roban terletak di jalur Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jalur penghubung Jawa Tengah dengan Jawa Barat ini merupakan gagasan dari Herman Willem Daendels dengan mempekerjakan rakyat Indonesia secara paksa.

Sementara Alas Purwo adalah sebuah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, masyarakat mempercayai Alas Purwo sebagai hutan tertua di Pulau Jawa.

“Secara pribadi, saya tertarik dalam hal spritual,” katanya.

Dalam album ketiga ini, lanjut Kucel, memuat 13 lagu di antaranya berjudul: Jalan Pengembara, Pengembara, 6 Mei, Kabar Burung, Dalam Perjalanan, Hasrat, Kosong, Hanya Bermain Gitar, Dalam Perjalanan Pulang, Lagu Biru, dan lain-lain.

Lagu Kabar Burung terinspirasi saat itu sedang mengikuti sebuah acara refleksi di Tugu Yogyakarta, memperingati kasus terbunuhnya wartawan Udin. “Kami tabur bunga. Mengingat perjalanan Udin dibunuh karena berita. Saya merenung, ketika itu teringat salah satu bait puisinya Jalaluddin Rumi, aku ingin bernyanyi seperti burung berkicau,” katanya.

Dalam perjalanan pulang ke Purbalingga, melewati jalur Pantai Utara (Pantura) Batang, Pekalongan, Pemalang. Karena sudah terbiasa melewati jalur Pantura yang udaranya panas, dia terinspirasi untuk melintasi jalur sisi selatan di tiga kota tersebut.

“Ternyata saya menemukan kondisi alam yang indah, hamparan hijau, pertanian hingga pegunungan. Maka terciptalah lagu berjudul ‘Dalam Perjalanan’. Selagi masih tersisa, ayo kita rawat,” katanya.

Konsep musik Nada Sumbang dikemas menggunakan alat musik akustik. Tapi Kucel tidak mau terkekang dengan istilah genre. Maka Nada Sumbang bisa saja memasukkan unsur blues, grunge, pop dan lain-lain. “Bebas,” ujar dia.

Pentas Keliling hanya Dibantu Dua Orang

Tour keliling ini hanya dibantu oleh dua orang kru. Satu orang membantu secara teknis dan satu orang bertugas mendokumentasikan foto dan video. “Tapi biasanya ada teman menyusul akhirnya ikut membantu keliling. Tapi yang ikut terus hanya dua orang,” katanya.

Pengelola Kedai Kopi Samsara, Pijar, mengapresiasi keuletan Nada Sumbang untuk proses ini. “Saya rasa ini sekaligus membangun jejaring antar pegiat kesenian. Tidak hanya seni musik, tapi juga seni rupa, teater, sastra dan lain-lain,” katanya.

Nada Sumbang sendiri berdiri di Yogyakarta pada 2016 silam. Album pertama, berjudul “Peringatan” berisi enam lagu, album kedua “Proyek Keji” (Proyeksi Kelana Jiwa) berisi enam lagu dengan membawa spirit tembang mocopat, Mijil, Maskumambang hingga Pucung, dan album ketiga yang akan diluncurkan berisi 13 lagu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.