in

Pemkot Semarang Pasang 20 Titik Sensor Pemantau Lereng di Gombel Lama, Antisipasi Risiko Longsor

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pemerintah Kota Semarang memperkuat upaya mitigasi bencana di kawasan Gombel Lama dengan memasang sistem pemantauan geoteknik pada sejumlah titik rawan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan stabilitas lereng tetap terjaga selama proses penataan kawasan dan penguatan infrastruktur berlangsung.

Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, mengatakan saat ini terdapat 20 titik pemantauan yang dilengkapi perangkat khusus untuk mendeteksi kondisi tanah secara berkala.

Perangkat yang digunakan meliputi sensor inclinometer dan piezometer yang berfungsi memantau pergerakan tanah, tekanan air bawah permukaan, serta perubahan kondisi geologi yang berpotensi memicu longsor.

“Monitoring dilakukan secara rutin sehingga setiap perubahan kondisi tanah dapat diketahui lebih awal. Dengan begitu, langkah mitigasi bisa segera dilakukan apabila ditemukan potensi risiko,” ujar Ferry.

Sistem Pemantauan Berjalan Dua Tahun

Menurut Ferry, sistem pemantauan tersebut telah diterapkan selama dua tahun terakhir dan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan kawasan Gombel Lama yang memiliki karakteristik lereng cukup sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama saat musim hujan.

Data yang diperoleh dari sensor-sensor tersebut menjadi dasar dalam melakukan evaluasi kondisi lapangan sekaligus menentukan langkah teknis apabila ditemukan indikasi pergerakan tanah.

Dengan sistem pengawasan yang berjalan secara berkelanjutan, potensi gangguan stabilitas lereng diharapkan dapat terdeteksi lebih dini sehingga risiko bencana dapat diminimalkan.

Fokus pada Penguatan Lereng dan Stabilitas Tanah

Ferry menegaskan bahwa aktivitas yang saat ini berlangsung di kawasan Gombel Lama masih difokuskan pada proses pematangan lahan dan penguatan lereng.

Tahapan tersebut dilakukan untuk meningkatkan stabilitas tanah sebelum memasuki fase pengembangan kawasan berikutnya.

“Fokus pekerjaan saat ini adalah pengamanan lereng dan peningkatan stabilitas tanah. Belum ada pembangunan pusat perbelanjaan sebagaimana yang sempat berkembang di masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, seluruh pekerjaan dilakukan berdasarkan kajian teknis yang ketat dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.

Gunakan Teknologi Borpile untuk Perkuat Lereng

Pengawasan di lapangan juga melibatkan Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung guna memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai rekomendasi teknis.

Anggota tim ahli, Bambang Setioko, menjelaskan bahwa metode penguatan lereng yang diterapkan telah melalui kajian mendalam dan dirancang untuk mengurangi risiko pergerakan tanah dalam jangka panjang.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah sistem borpile, yaitu konstruksi pondasi dalam yang berfungsi memperkuat struktur tanah pada area yang memiliki tingkat kerawanan tertentu.

“Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan kestabilan lereng sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap kawasan sekitar,” jelasnya.

Kawasan Gombel Lama Memerlukan Penanganan Khusus

Berdasarkan hasil kajian geologi, kawasan Gombel Lama memang memerlukan perhatian khusus karena memiliki potensi pergerakan tanah yang meningkat saat curah hujan tinggi.

Kondisi topografi yang didominasi lereng membuat penguatan struktur tanah menjadi tahapan penting sebelum pengembangan kawasan dilakukan.

Karena itu, Pemkot Semarang mengombinasikan berbagai pendekatan mulai dari teknologi pemantauan modern, penguatan konstruksi lereng, hingga pengawasan berkala oleh para ahli untuk memastikan keamanan kawasan.

Melalui langkah tersebut, Pemerintah Kota Semarang berharap potensi risiko longsor dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga proses penataan dan pengembangan kawasan Gombel Lama dapat berjalan aman, terkendali, dan berkelanjutan. (*)