in

Rahasia Penulis Kaya: Mereka Bangun Pelanggan dan Klien dengan Newsletter

Panduan lengkap membuat newsletter. 

Rahasia penulis kaya: mereka bangun pelanggan dan klien dari newsletter. Kamu sedang baca panduan lengkap membuat newsletter.

Inspirasi Saya dalam Membuat Newsletter

Film “Conspiracy Theory” (1997)

Ceritanya, Jerry Fletcher (Mel Gibson) seorang agen pembersih yang diminta untuk “menghilangkan” seseorang. Ada anak perempuan kecil di situ, yang kelak menjadi Alice Sutton (Julia Roberts). Setiap hari, Mel Gibson merasa bersalah dan “menjaga” Alice Sutton dalam bentuk pengintaian. CIA takut rahasianya terbongkar. Dalam versi Jerry, ada banyak teori konspirasi yang nyata. Ini bagian menariknya:

Setiap hari, Jerry Fletcher membeli koran (karena ini cerita tahun 1990-an), berbagai macam penerbit, kemudian ia masuk ke apartemen yang sudah dia amankan secara manual. Dia hafal bagaimana cara CIA mencari. Itu sebabnya, apartemen yang ia punya, sudah siap “terbakar” sewaktu-waktu. Dia melingkari peristiwa yang tertulis di koran. Satu gepok koran itu ia ringkas hanya menjadi 1 lembar tulisan, untuk membuktikan bahwa teori konspirasi, menurut Jerry, ada.

Berapa pelanggan Jerry? Hanya 12 orang.

Jerry tidak pernah berhenti. Itulah rasa bersalah yang harus ia bayar agar orang lain tidak tersesat menjadi kaki-tangan kepentingan personal (oknum CIA, bukan CIA).

Film itu terjadi, ketika saya masih suka layout majalah, mengatur tipografi, editing kata per kata, memperbaiki foto, dll. Itu era desktop publishing, di mana Apple merajai dunia pracetak dan Microsoft melakukan kampanye operating system populer bernama Windows.

Saya suka meringkas, sejak dulu. Setiap mengetahui kesalahan saya, atas proses yang saya jalankan sangat panjang, saya menyunting realitas. Selain itu, jangan sampai orang lain tersesat, jangan sampai mereka tidak dapat saripati tetapi harus dengan proses berbelit-belit.

Itulah yang tertanam dalam pikiran saya, bahwa saya bisa melakukan perubahan di circle saya.

Ketika teknologi sudah berubah, selembar kertas Jerry berubah menjadi berbentuk newsletter.

Kekayaan Para Penulis Terkenal dari Newsletter

Saya pernah bertanya, kepada para penulis yang sudah dapat ratusan ribu pembaca, seperti di Medium. Apa yang membuat mereka mapan secara finansial? Kesamaan jawaban mereka: “.. membuat para pembaca berlangganan newsletter berbayar.”. Ingat, ada kata “berbayar” di situ.

Entah isinya kursus online, tips, konsultasi, dll., yang jelas, mereka mixing antara content yang free dan berbayar. Selain itu, jaminan akan dapat semakin banyak pembaca.

Di Medium.com, kalau kamu dapat 8K view (bukan viewer), kamu bisa earning USD405, atau sekitar 5.8 juta. Mesin yang dipakai para penulis adalah newsletter. Mereka berlomba-lomba ngasih content sebaik mungkin, sesuai pembaca mereka.

Viewer tidak sama dengan subscriber. Viewer hanya melihat, membaca. Mereka pasif. Tidak jarang, mereka melihat sepintas-lalu. Sedangkan subscriber newsletter, mereka membaca content yang kamu kirimkan melalui email.

Lihat keahlianmu, cari pelanggan, dan beri mereka newsletter.

“Content” inilah kata kuncinya.

Dan itu menjadi mudah kalau kamu mau belajar dan eksperimen, selalu menulis. Tulisan ini akan menceritakan apa saya yang bisa kamu terapkan untuk menaikkan pelanggan newsletter.

Newsletter adalah..

Surat berita. Kabar yang kamu sampaikan melalui email, untuk para pelanggan yang biasanya berasal dari website kamu.

Kalau kamu dapat email dari Google yang menceritakan produk menarik mereka, statistik terbaru, dll. seperti itulah Newsletter.

Contoh Newsletter

Contoh terbaik newsletter berlangganan:

  • Austin Kleon. Penulis buku-buku bestsellers yang suka corat-coret dan punya tips berbeda dalam menghadapi proses menulis kreatif.
  • Morning Brew. Perasan di pagi hari. Isinya berkelas, singkat, dan membuat kita ingin baca.
  • the Economist Espresso. Memang espresso yang kental dan tanpa ampas. Seluruhnya bernilai. Biasanya berisi intelejen ekonomi.

Apakah Saya Perlu Membuat Newsletter?

Perlu. Bahkan personal, perlu. Yang penting, kamu punya content bernilai dan percaya ini bisa memperbaiki pekerjaan dan hidupmu.

Alasan yang bisa kamu pakai:

  1. Menyebarkan informasi yang menurutmu sangat bernilai;
  2. Untuk menumbuhkan audien;
  3. Melayani konsumen — kamu promosi, punya barang baru;
  4. Menghasilkan pengarah — ketika mereka baca newsletter, ada link ke content web kamu;
  5. Meningkatkan penjualan. Menjual itu penting, gaes. Campaign, copywriting, ngasih yang gratisan, itu semua bagian dari taktik penjualan.

Kalau kamu pemilik web, sebaiknya kamu punya newsletter untuk pelanggan (orang yang register). Kalau kamu seorang dosen, kamu bisa mengatakan 1 hal melalui email, yang lebih intensif dan personal, kepada orang-orang yang mengikuti perkuliahanmu. Pemilik brand? Aktivis? Influencer? Pakailah newsletter agar posisi dan reputasi kamu lebih mapan.

Yang mana jawaban kamu? Apa yang akan kamu buat, berdasarkan jawaban itu?

Ukuran Newsletter Berhasil

Ukuran keberhasilan newsletter:

  1. Konversi pembaca menjadi pelanggan.
  2. Angka pelanggan selalu menaik, secara eksponensial.
  3. Pelanggan benar-benar membaca newsletter yang kamu kirimkan.
  4. Tambahan: mereka mau ikut program content berbayar dari kamu.

Faktor Penentu Keberhasilan Newsletter

Kualitas. Luangkan beberapa jam untuk membuat content newsletter kamu. Content bagus, desain bagus.

Konsistensi. Setiap minggu, hari apa, jam berapa, tentukan.

Kenal Audien. Harus kamu kenal. Bukan kenal nama dan siapa mereka. Kenal di sini berarti kamu mempelajari “keinginan”, “masalah”, dan “perilaku” mereka. Jangan meminta mereka mengenal kamu. Jangan merasa dirimu penting bagi mereka.

Proses Berlangganan Newsletter di Web

Jadi prosesnya begini:

  • Orang membuka website kamu.
  • Orang klik menu atau buka landing page “Newsletter” > Mereka baca dan tertarik > Mengisikan email > kemudian mendapatkan balasan otomatis berisi: “.. klik link ini untuk konfirmasi berlangganan” > Subscriber mendapatkan balasan otomatis berupa welcome email.

Status dia sudah berlangganan. Setiap ada newsletter baru (biasanya mingguan) yang kamu buat, dia akan membacanya.

Membuat Landing Page untuk Berlangganan Newsletter

Buat landing page menarik. Pasang di menu. Rancang dengan Elementor Pro.

Landing page berupa halaman tersendiri. Berikan pengantar singkat, yang mengajak pembaca mendaftarkan email mereka.

Buat landing page jika kamu sudah punya 3-5 content untuk edisi mendatang.

Content dari Landing Page Newsletter

Statement. Pernyataan resmi bahwa kamu punya newsletter yang kamu kirimkan ke subscriber, berkala 1 minggu sekali. Katakan content kamu menjawab masalah mereka. Berikan “nilai” yang bisa membuat hidup pembaca menjadi “lebih” dan “berbeda”. Contohnya, bisa kamu lihat dari halaman newsletter yang membuatmu tertarik berlangganan.

Logo. Ada logo resmi dari web kamu. Jika kamu tambahkan logo yang terpercaya, misalnya: MailChimp, orang akan lebih suka. Atau tulisan “Powered by ..”. Saya memilih beli plugin premium agar bisa secara resmi memasang logo mereka.

Form. Berisi kotak berlangganan newsletter. Kotak ini yang nanti akan diisi dengan email, ketika orang mau berlangganan.

Jangan terlalu meminta informasi terlalu banyak. Hanya meminta email, sudah cukup. Jangan meminta address fisik, nomor telepon, serta info lain.

Social Proof. Bukti bahwa secara sosial kamu diterima secara luas. Paling ampuh, kalau kamu dapat testimonial dari beberapa subscriber yang punya pengaruh secara sosial. Pasang foto asli dan sebaris informasi tentang “siapa” mereka, dan sekalimat dari mereka.

Content Berbayar. Beri kesempatan kepada audien untuk melihat versi berbayar, setidaknya 1 edisi. Kalau tidak bisa kamu kerjakan dengan plugin, cantumkan saja langsung di halaman landing page, 1 edisi newsletter berbayar. Pastikan isinya menarik, awet, dan tahan-lama.

Edisi Sebelumnya. Buat daftar tulisan (arsip) yang berisi judul dan deskripsi dari newsletter yang pernah kamu kirimkan kepada subscriber. Jika mereka tertarik dengan daftar tulisan itu, mereka akan berpikir, ”Isinya bagus. Saya akan berlangganan..”. Jangan biarkan semuanya bisa dibaca. Tidak menguntungkan jika daftar tersebut bisa diakses semua, tanpa berlangganan.

Berikan yang gratis, adakan yang berbayar. Jangan gratis sepenuhnya, jangan bayar semua.

Perlakukan landing page untuk newsletter ini secara khusus. Buang yang tidak penting dari halaman. seperti: ikon media sosial, tombol like atau share, widget, sidebar, iklan popup, dll. Ingat: giring pembaca agar mau mendaftarkan email mereka #tanpa gangguan.

Setelah mereka mendaftar, pastikan kamu membuat welcome email yang menarik. Ini email balasan otomatis, ketika orang terkonfirmasi sebagai pelanggan.

Merancang Content dari Welcome Email

Yang perlu kamu tuliskan di welcome email:

Subject yang berisi keterangan bahwa langganan sudah terkonfirmasi.

Terima kasih, sudah bergabung..”. Anda sekarang di tahapan ###. Berikan overview tentang apa yang akan mereka dapatkan. Berikan link berisi daftar edisi dan ringkasan newsletter. Tambahkan link share ke WhatsApp, Twitter, dan email.

Pastikan kamu pakai link yang jika diklik, akan ada tawaran berlangganan. Sebisa mungkin, jangan ada instruksi lain, selain “klik untuk berlangganan”. Hanya sekali klik, isi email, done.

Bagaimana cara membuat link seperti ini?

Untuk membuat link yang bisa kamu share langsung ke akun media sosial, gunakan ini:

https://www.amazingfoodmadeeasy.com/info/makin-bacon/more/social-media-sharing-links-generator-tool

Pastikan email yang Terkirim 

  • Berikan petunjuk singkat untuk memulihkan email kamu, jika berada di folder spam.
  • Cara lain yang lebih manusiawi adalah mengajukan pertanyaan. Jika mereka menjawab, maka email kamu tidak dikategorikan sebagai spam.  Intinya bukan bertanya demi terbebas dari spam. Intinya menjalin hubungan.

Tambahkan link landing page newsletter kamu di bio akun media sosial.

Misalnya begini: https://domain.com/newsletter

Rancang Call-to Action (CTA) untuk Berlangganan Newsletter

Rancang CTA yang membuat orang mau berlangganan newsletter kamu.

Cari contoh terbaik. Kamu bisa memulai dengan contoh berikut:

Saya punya trik ampuh belajar menulis berita dan opini. Akan saya kirimkan setiap minggu, langsung di inbox Anda. Eksklusif, Rahasia, dan Gratis.

Template newsletter yang bagus, bisa kamu dapatkan dari MailChimp.

Memilih Topik untuk Newsletter

Sebelum memilih topik, jawab dulu pertanyaan ini:

Yang terpenting: rancang content yang menarik.

Content yang menarik, selalu content yang bernilai bagi audien.

Jika kesulitan memikirkan nilai, ingatlah 1 kata ini: “transformasi”. Mengubah audien dari Titik A ke Titik B. Dari belum tahu menjadi akhirnya tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari melihat dengan sebelah mata menjadi lebih awas.

Jika pelanggan imajiner bertanya, “Apa manfaatnya berlangganan newsletter kamu?”. Kamu bisa gunakan kalimat ini:

Newsletter ini akan menolong _______ yang biasa _______ untuk mengatasi masalah _______ agar mereka bisa _______.

Definisikan dulu: Siapa mereka? Apa masalahnya? Mereka ingin apa? dan Perilaku mereka seperti apa?

Misalnya {pelanggan} kamu adalah {mahasiswa} yang {malas belajar, suka nongkrong, nge-game}, yang punya masalah {ingin kuliah cepat selesai} dan secara sosial mereka ingin dapat {nilai baik dan pekerjaan setelah lulus}.

Kalau sudah terdefinisikan seperti itu, berarti kamu sudah dapat ini:

  • Demografi (siapa mereka): mahasiswa
  • Behavior (perilaku): malas belakar, suka nongkrong, nge-game
  • Pain (masalah berat): ingin kuliah cepat selesai
  • Gain (mau mencapai apa): dapat nilai baik dan pekerjaan setelah lulus

Newsletter ini akan menolong {mahasiswa} yang biasa {malas belajar, suka nongkrong, nge-game} untuk mengatasi masalah {ingin kuliah cepat selesa} agar mereka dapat {nilai baik dan pekerjaan setelah lulus}.

Untuk kasus lain, silakan ubah sendiri.

Jika subject email tidak kamu rancang dengan baik, orang tidak mau buka email kamu. Menulis subject email, butuh template tersendiri. Jangan sampai orang tolak, hapus, atau block email kamu karena subject email kamu buruk.

  • Subject email yang bagus, bergantung pada topik, audien, dan tujuan newsletter kamu.
  • Pastikan subject kamu spesifik. Selalu to the point. Jangan “Newsletter #003 Agustus 2022”. Subject yang bagus adalah “apa isinya”.
  • Tanamkan rasa penasaran (curiousity). Jangan singkap terlalu detail.
  • Informal, ramah, dan buat kesan email itu hanya untuk 1 orang (dia).

Contoh subject yang punya open-rate tinggi:

  • “Mungkin bukan untukmu, tetapi..”
  • “Lewati ini”
  • “Saya mau mengaku..”
  • “Cara dapat 1000 subscriber dalam 1 hari”

Menuliskan kalimat pertama memang tidak mudah. Penulis yang terkena writer’s block, yang masih canggung untuk menuliskan kalimat pertama, biasanya bukan karena mereka tidak bisa menulis kalimat pertama, tetapi karena mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada orang lain di awal tulisan. Selain itu, karena ini newsletter untuk pekerjaan dan web kamu, tuliskan kalimat pertama yang membuat orang mau baca sampai selesai.

Apa yang terjadi kalau kalimat pertama kamu membuat orang tidak mau meneruskan baca sampai akhir?

Jika kamu tidak bisa menulis kalimat pertama yang menarik perhatian audien, yang terjadi: Audien kecewa. Mereka tidak mau mendengarkan kamu. Merasa sia-sia sudah melewatkan 4 detik, tanpa tertarik. Selama kamu tidak mempelajari cara menulis kalimat pertama, kapanpun kamu menulis artikel, email, presentasi, bahkan ketika berbicara biasa, orang akan mengabaikan pembicaraanmu.

Hanya butuh 4 detik untuk menarik perhatian. Jika melewati 4 detik orang tidak tertarik, mereka akan menutup email kamu.

Jangan buat intro panjang. Hanya 1 kalimat, kalau bisa. Berisi nilai yang mengatasi masalah pembaca.

Menulis kalimat pertama yang menarik, sebenarnya mudah, dan bisa kamu pelajari.

Berikut ini, beberapa konsep agar kalimat pertama kamu menarik.

  • Tujuan “kalimat pertama” adalah: agar orang membaca kalimat berikutnya. Sampai selesai.
  • Kalimat pertama bukanlah.. pengulangan judul, bukan meringkas gagasanmu, ataupun menjelaskan siapa kamu.  Jadi, hindari 3 hal itu. Coret dari daftar.

Kalimat pertama adalah audisi. 

Dalam audisi, kamu hanya punya waktu sebentar untuk memukai. Suara, gerakan, atau kata-kata kamu, harus bisa memukai. Tidak perlu perkenalan, tidak perlu mengatakan kamu bisa apa. Tunjukkan.

Buka “loop” (pengulangan) di pikiran pembaca

Seperti kalimat penyiar sebelum commercial-break, “Jangan ke mana-mana, kita akan ulas seperti apa kejadian sebenarnya, setelah yang satu ini..”. Di mana “loop” itu terjadi? Pengulangan yang terjadi adalah “menonton” session demi session, yang diselingi commercial break. Kita mengatakan, akan ada apa setelah ini, agar orang mau tetap duduk sampai acara selesai.

Kalimat itu memberikan janji. Menyebutkan “keinginan” dan “masalah” audien, dengan istilah spesifik dari masalah mereka.

Contoh yang bisa kamu pakai:

“Rahasia membaca buku dan bisa selalu ingat isinya, akan saya singkap di sini..”.

Kalau diuraikan, rumusnya begini:

  • Kamu berjanji (saya akan berikan rahasia),
  • yang mudah mereka lakukan (baca dalam 3 menit),
  • untuk atasi masalah (agar tidak gagal),
  • dengan istilah spesifik (trading).

Mulai dari Tengah 

Jangan bercerita secara kronologis dari awal. Ini berarti.. tunjukkan hasilnya, baru kemudian menyusul caranya bagaimana.

Seperti ketika kamu menonton film action. Tiba-tiba ada kejadian menarik, di awal film, baru kemudian ajak penonton melihat bagaimana bisa terjadi adegan itu.

Rawat harapan (expectation) audien dengan baik. 

Tujuan menulis adalah agar orang mengambil tindakan. Tulisan yang baik selalu actionable.

Kuncinya ada pada kejelasan (clarity). Jelas dulu, detail kemudian.

“Saya punya 2 langkah mudah (tidak ada langkah 3) untuk lenyapkan iklan dari Android..”.

Jika kamu bilang hanya 2 langkah, jelaskan 2 langkah itu.

Ukuran Newsletter

Tidak ada ukuran pasti. Kalau singkat, orang tidak komplain. Mereka komplain hanya kalau newsletter panjang.

Singkat berarti ringkas, tidak butuh waktu lama, dengan mudah dapat menemukan intinya apa, dan berpeluang akan dibaca sampai selesai.

Tulis Sebagaimana untuk 1 Orang

Biarpun kamu punya 10K subscriber, mereka hanya akan baca 1 newsletter dalam 1 kali buka.

Kamu tidak sedang berpidato. Kamu sedang berbicara dengan 1 orang. Buat seperti perbincangan khusus, pribadi, dan membuat 1 orang itu mendapatkan perlakuan istimewa.

“Secara khusus, saya ingin berterima kasih kepada Anda karena sudah mau baca newsletter ini.”

Ini yang diperhatikan orang setelah “subject” email. 

Tulis judul dengan format berbeda, walaupun isinya sama seperti di website. Jangan misleading; periksa jangan sampai melenceng dari tujuan awal. Jangan click-bait. Jangan redirection. Click-bait dan redirection membuat orang merasa tertipu. Sekalipun itu content humor, jangan lakukan. Orang tidak akan senang meluangkan waktu 3 menit untuk baca newsletter, kalau endingnya disuruh klik ini itu, atau diarahkan ke artikel yang sama melulu.

Jika Newsletter Edisi Ini Berbentuk Ringkasan..

Seminggu sekali, kamu bisa tawarkan 3 content andalan, yang kamu bagikan di newsletter. Ini berarti inti newsletter kamu adalah membagikan 3 link.

Gunakan struktur kuat berikut ini

  • Buatlah pengingat (reminder), bahwa kamu menulis itu untuk mereka.
  • Jelaskan mengapa kamu harus membagikan link itu. Beri deskripsi singkat, untuk menarik perhatian mereka.

Struktur yang bisa kamu gunakan:

  • Ulangi sampai 3 link.
  • Berikan penutup di akhir newsletter.

Contoh Newsletter Berbentuk Ringkasan

Subject: Mereka Komplain ke Saya, tentang 3 Link Ini

Minggu ini saya sudah dapat komplain dari beberapa pembaca, karena dianggap mendukung cara berpikir para petaruh lotre, materialistis, dan mendukung kemalasan.

Sebenarnya, tidak. Annie Duke, seorang pemain poker profesional juga memakai perspektif taruhan dalam berpikir, namun tidak untuk taruhan.

Membahas kemalasan sebenarnya untuk mendapatkan cara yang lebih cepat dan lebih baik. Jadi, kalau solusi lebih efisien dan efektif, malas akan hilang sendiri.

Tentang hal-hal membahagiakan, yang bisa dibeli dengan uang, itu nggak materialistis, tetapi realistis.

Ini dia, 3 link yang mendapatkan komplain paling banyak itu:

Cara Berpikir dan Keadilan Versi Lotre

https://jatengtoday.com/lotre-adil

Lotre sangat adil dan diterapkan dalam banyak aspek kehidupan.

Hal-hal Membahagiakan yang Bisa Kamu Beli dengan Uang

https://jatengtoday.com/pakai-uang

Cobalah hidup tanpa paket data, tanpa makan enak, dan abaikan uang.

Malas Bisa Membuatmu Lebih Produktif dalam Menulis

https://jatengtoday.com/produktif-menulis

Menulis dengan proses lebih singkat dan mengubah malas menjadi produktif.

Tips Ampuh untuk Naikkan Jumlah Pelanggan

Buat nama newsletter yang menarik. Tidak harus sama dengan domain yang kamu pakai. Dalam 1 domain, kamu bisa membuat beberapa topik newsletter secara berbeda. Yang terpenting, buatlah nama yang menarik: singkat, mudah diingat orang, searchable, kalau diketik tidak typo, 2 suku kata (seperti semua brand terkenal) dan sedikit nakal.

Content. Jangan buat content acak. Buat content yang menjawab masalah mereka. Content yang bernilai, akan dihargai pelanggan. Ingat kembali: demografi, perilaku, pain, dan gain mereka. Tentukan dulu untuk siapa. Kalau kamu merasa “nilai” tulisanmu masih lemah, coba bongkar dan perbaiki lagi.

List. Tambahkan daftar berisi artikel, subtitle, dan description di bagian bawah, agar mereka membuka website kamu. Pastikan hanya content yang relevan dengan edisi sekarang.

“Newsletter ini Berbeda..”. Dalam content newsletter, katakan selalu, bahwa apa yang kamu kirimkan lewat email ini, “lebih bagus” dan “berbeda” dari content yang ada di web. Misalnya? Di website kamu berbicara tentang “cara editing”, di newsletter kamu membuat kemasan berbeda: “daftar-periksa untuk editing tulisan”. Apa yang di newsletter harus actionable (bisa dijalankan) dan sangat berharga.

Jangan andalkan jumlah subscriber. Andalkan jumlah orang yang benar-benar membaca newsletter kamu. “Benarkan newsletter yang sudah terkirim ini sudah dibaca mereka?”. Kamu harus pastikan ini. Newsletter hanya bisa tumbuh kalau orang benar-benar membaca Newsletter kamu. Gunakan pemeriksa untuk memastikan bahwa newsletter kamu sudah mereka baca. Ada web berbasis aplikasi yang bisa kamu pakai.

Facebook Ads jangan untuk newsletter. Jalankan iklan Facebook untuk content. Bukan untuk meminta berlangganan newsletter.

Meminta dan Bertanya. Orang sering tidak tahu, langkah pertama yang harus mereka lakukan. Buat penawaran dengan meminta dan bertanya. “Kamu tertarik dengan konten seperti ini? Saya bisa kirim gratis newsletter mingguan ke inbox kamu, yang bisa selesaikan masalah kepenulisan dan berpikir kreatif. #link

Tanpa penyingkat link. Jangan pakai bitly, jangan singkat link, agar orang tidak curiga. Kadang kamu perlu tampilkan link secara utuh.

Tidak perlu menuliskan “klik di sini”. Cantumkan link dengan teks yang mengundang rasa penasaran. Caranya, perhatikan bagaimana kamu menulis SUBJECT email, kalimat pertama, cara meracik deskripsi link, dst.

Pengalaman pemakai ketika membaca di email, tidak sama dengan ketika membaca di buku kertas atau buka website. Email lebih “pribadi”, mereka cenderung baca teliti, jadi berikan sentuhan manusiawi.

Premium Template. Pakailah template newsletter premium. Atau tiru dari desain yang bagus. Kamu bisa pakai Canva, GoDaddy Studio, MailChimp Elementor Pro, dll. untuk dapat desain bagus.

Pelajari keterbatasan Gmail dalam menampilkan font dan media. Jangan kirim dalam bentuk gambar.

Gunakan subheading, style bold italic, color, seperlunya dan setepat mungkin. Pada prinsipnya, buat orang membaca #seluruh newsletter kamu dengan #detail. Image (gambar) menambah daya tarik, tetapi jangan berlebihan dalam memakai gambar.

Lebih singkat berarti akan dapat lebih banyak pembaca. Simple selalu lebih baik.

Pemakaian style, subheading, dan gambar, bisa menahan mereka untuk baca secara teliti (skimming).

Jangan beli daftar pelanggan dari orang lain.

Lakukan promosi secara langsung. Jangan andalkan jasa, apalagi kamu tidak tahu siapa yang diberi promosi. Salah memberikan kepercayaan, hasilnya, domain kamu akan diabaikan orang.

Siapa yang Potensial Menjadi Pelanggan Saya?

Orang yang paling potensial mau berlangganan:

  1. Orang yang pernah bertemu kamu dan mendiskusikan topik yang kamu tuliskan.
  2. Orang yang bergabung di group yang sejalan dengan topik atau focus keyword yang kamu perjuangkan.
  3. Orang yang berkomentar positif.
  4. Orang yang berkomentar negatif berdasarkan ketidaktahuan, misleading (salah lihat-arah), atau disinformasi (infonya usang) — sedangkan kamu merasa bisa membereskan masalah tersebut.
  5. Orang yang berada secara berseberangan dengan topik atau focus keyword yang kamu perjuangkan. Kalau ada orang suka motor, sudah pasti biasanya suka musik. Kalau kamu tidak suka musik tetapi suka motor, kamu bisa ajak mereka yang suka motor untuk berlangganan.
  6. Follower media sosial kamu.
  7. Orang yang dengan mudah merelakan email dan nomor hape mereka tersebar dan nggak rahasia.

Cari email atau WhatsApp mereka, kemudian Anda perlu bertanya dan meminta berlangganan, melalui email. Kamu boleh kirimi mereka content newsletter, asalkan mereka boleh.

Di group WhatsApp, ada banyak nomor. Bisa kamu pakai sebagai eksperimen, apakah mereka tertarik dengan content kamu. Jangan mentarget [calon] pelanggan secara acak.

Promosi Secara Langsung Itu Penting, Gaes..

Saya sangat suka membaca buku. Kalau ketemu kawan-kawan, biasanya saya cerita tentang buku baru. Mereka permisif (mengizinkan) ketika saya bagikan tulisan saya tentang ringkasan buku, yang tidak saya upload di website. Itu content tersebar ke mana-mana. Di bagian bawah, saya tuliskan nama dan siapa saya. Arahnya ke mana? Ke domain website saya.

Ketika bertemu dengan circle berbeda, saya mendeteksi, apakah mereka suka buku atau tidak. Biasanya, saya persuasi dengan “masalah” mereka.

“Kamu punya waktu untuk membaca? Saya suka meringkas buku-buku baru, dari Amazon, Good Reads, dan New York Times Bestsellers. Ringkasan yang saya tulis, sudah berbahasa Indonesia. Sangat actionable. Bisa kamu terapkan untuk atasi masalah pekerjaan dan hidup. Kalau boleh, saya kirim ke WhatsApp atau Telegram.”

Serangan saya adalah “perilaku” orang yang suka membaca, tetapi mereka bermasalah di “waktu baca” dan “tidak terbiasa baca buku berbahasa Inggris”, sedangkan mereka ingin mencapai level “keren, info terupdate, dan nggak ribet mengetahui isi buku ini.”.

Jangan membuat orang malu. Jangan mengejek mereka. Perlihatkan, bahwa mereka tidak hanya paham buku. Mereka dapat kemudahan: terbaru, cepat, ringkas, dan actionable. Pastikan content kamu bernilai tinggi bagi mereka.

Berhasil. Berapa pelanggan saya pada awalnya? Tidak lebih dari 10 orang. Berkembang menjadi 50 dalam 1 tahun (benar, saya tidak terapkan growth hack, waktu itu), kemudian jumlah ini naik eksponensial, menjadi 10 kali lipat.

Minta orang berlangganan. Senang atau tidak, berikan tawaran awal.

Saya memakai plugin yang bisa atur kapan iklan popup akan muncul: (1) Setelah orang selesai baca 1 artikel; (2) Ketika mau menutup atau berpindah halaman; (3) Ketika klik tag tertentu.

Siapkan Link dan QR Code Berlangganan Newsletter 

Siapkan link di mana sekali klik orang bisa berhadapan dengan form subscribe newsletter kamu. Pakai apa? Pakai plugin. Kamu bisa pakai MailChimp. Ada alternatif lain, silakan search sendiri. Yang berbayar, biasanya lebih bagus.

Buat QR Code (quick response). Ingat ya gaes, yang kamu bikin QR Code adalah link halaman berlangganan newsletter, bukan domain kamu.

Pakai ini:

https://www.qr-code-generator.com/

Kalau kamu pakai Windows, tekan Win+Shift+S untuk crop dan save QR Code yang kamu dapatkan.

Pasang link di mana?

Kalau off-page (di luar website), bisa kamu pasang di sini: 

  • Bio media sosial. Saya biasanya memakai bio ini: “Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Semarang. Owner SakJose.com, content creator @AsliSemarang, redaktur opini JatengToday.com” *) Saya pakai ini di mana-mana.
  • Signature email. Bagian bawah sekali, semacam “tanda tangan”. Kamu bisa baca Cara Guat Signature di GMail.
  • Ucapan Terima Kasih
  • Materi Promosi

Kalau on-page (di website), pasang di sini: 

  • Menu > Landing page: Newsletter
  • Akhir content dari single page (postingan)
  • Di tengah archive dan search.
  • Di tengah page (halaman). Khusus ini, sisipkan secara manual.
  • Pop-up setelah tuntas baca 1 artikel. Pemicu sebaiknya timer (2 menit), jangan scroll.

Apa yang Bisa Saya Lakukan Setelah Ini?

Sebelum kamu tutup tulisan ini, tanyakan lagi kepada diri-sendiri, “Apakah saya ingin dapat lebih banyak pelanggan? Apakah saya bisa mulai praktik membuat newsletter seperti cara yang tertulis di atas?”. Sebaiknya, sekarang. Mulailah dengan eksperimen dari kontak WhatsApp. Tidak harus dengan bahasa formal, tidak perlu punya website dulu. Meskipun kalau kamu punya website, lebih banyak hal bisa diotomatiskan. Yang terpenting, ide kamu lebih meluas, produk kamu dikenal, dan pekerjaanmu lebih sukses — dengan newsletter.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.