in

Paradox of Choice: Tetap Awas dan Tidak Cemas, di Tengah Banyak Pilihan

Pilihan-pilihan kecil bisa menjadi tirani. Salah pilih, sesal datang lagi. Cemas dan tidak happy. Tidak lagi, kalau kita pahami “paradoks pilihan” dari Barry Schwartz.

cover buku paradox of choice dan ilustrasi vector banyak pilihan
PANDUAN MEMILIH. Tanpa panduan memilih, bisa salah-pilih, dan bisa tenggelam di lautan pilihan. Ketika hidup terlalu banyak pilihan, kamu perlu memahami "paradoks pilihan".

Lebih banyak pilihan tidak membuat orang menjadi lebih baik. Adaptasi, penyesalan, kehilangan kesempatan, meningkatkan harapan, dan perasaan, tidak mampu dibandingkan dengan orang lain.

Eksperimen di Supermarket. Produk dalam kemasan stoples kecil yang dibeli: 30% dibeli. Kemasan stoples besar: 3%.

Pemaksimal selalu ingin menjelajahi setiap opsi terakhir sebelum mereka membuat keputusan, yang harus optimal dan akhirnya tidak membeli apa-apa. *) Contoh yang sering terjadi, seperti ini: Seorang perempuan ingin membeli kebutuhan dapur, kemudian keliling pasar selama 2 jam, hasilnya: ia membeli minyak goreng karena ada diskon dan ember plastik karena murah.

Pilihan-kecil bisa menjadi tirani. Kita lelah dan tidak mengambil keputusan. Apakah layak pergi ke toko 101 ketika kamu sudah pernah ke toko 100?

Google memanfaatkan keputusan-kecil, agar kita mau pilih iklan Google.

Baca: Strategi Iklan Google Mengalihkan Keputusan Tak-Sadar Milyaran Pemakai

Terlalu banyak pilihan, membuat orang jarang hanya menikmati apa yang mereka miliki, tetapi juga mencari lebih banyak dan siap melompat ke kesempatan atau pilihan berikutnya.

Orang membuat keputusan berdasarkan utilitas yang diharapkan. Contoh: Beli smartphone agar bisa dipakai untuk absen online, nonton YouTube, dan memotret.

Kalau sudah pernah sebelumnya, orang membuat keputusan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Heuristik Ketersediaan. Apa yang lebih berpengaruh bagi kita adalah apa yang lebih jelas dalam ingatan kita.

Anchoring. Mengingat yang utama, kemudian keputusan kita berdasarkan pembandingan dengan yang utama tadi — sekalipun itu tidak berarti apa-apa.

Framing. Menempatkan bingkai pada realitas, untuk mengarahkan pilihan.

Diskon vs. Biaya Tambahan. Sebenarnya, diskon itu buatan, untuk menciptakan efek psikologis bahwa kamu berhemat. Taktik penjualan seperti “Flash Sale”, promo, diskon 75% dan “bebas ongkir” itu untuk menutupi biaya tambahan dan menarik lebih banyak pembeli. Yang perlu dipikirkan adalah biaya-kehilangan. Orang lebih suka diskon daripada memikirkan biaya tambahan. Lebih suka menabung daripada kehilangan.

Loss Aversion. Kita benci kehilangan sesuatu, takut melewatkan sesuatu, misalnya: discount berlaku sampai 24 jam ke depan.

Efek Endowment. Menganggap semua yang kita miliki, lebih bernilai.

Ada tipe orang yang ingin memaksimalkan hasil, ada juga yang asal-cukup.

  • Maximiser. Harus melihat dan mencoba setiap alternatif terakhir. Mereka ini suka scroll, membandingkan dengan tempat lain (yang memberikan pilihan sama dengan opsi berbeda), detail mencari informasi, dan ingin dapat hasil paling baik.
  • Suficer. Mudah puas, tidak mengkhawatirkan kemungkinan yang lebih baik. — puas dengan cukup baik, tidak khawatir tentang kemungkinan yang lebih baik.

Pemaksimal kurang menikmati peristiwa positif — kurang bahagia, lebih tertekan. Kesejahteraan pemaksimal membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih — penyesalan pembeli. Pemaksimal cenderung merenung.

Menjebak pemakai dan pembeli ke dalam “pilihan” menjadi -jalan- bagi online shop dan menjadi user interface yang membuat orang memilih-untuk-membeli. Kamu bisa baca “11 Alasan Orang Mau Klik” untuk menyadari kalau kita sering terjebak untuk mengikuti pilihan penjual selama di jalan-jalan di online shop. [dm]

cover buku paradox of choice
SALAH-PILIH. Zaman kebisingan, terlalu banyak pilihan. Perhatian kita sering dibajak, harapan dibentuk. dan tidak menjamin bahagia. Buku ini semacam panduan di lautan pilihan agar energi kita tetap fokus dan menemukan ketenangan. (Credit: Harper Perennial, Barry Schwartz)

Kita harus buat keputusan: kapan pilihan benar-benar penting dan memfokuskan energi kita di sana!

Mengambil pilihan dari kita membuat kita lebih bahagia dan kita dapat fokus pada pilihan penting — pernikahan, agama, teman, komitmen — meskipun itu mengikat kita dengan cara membebaskan kita. Kelihatannya, membangun hubungan dan meyakini sesuatu itu membuat kita terikat, namun pada sisi lain, kita tidak repot dengan pilihan lain yang begitu menggoda. Jadinya, kita perlu fokus pada pilihan penting. Bukan menjelajahi semua pilihan.

Orang yang melakukan pernikahan selamanya (tidak bisa berbalik-mundur) ternyata lebih bahagia daripada yang menjalankan pernikahan yang bisa berbalik-mundur.

Mengikuti aturan menghilangkan pilihan yang merepotkan.

Standar dan praduga menetapkan aturan yang kita ikuti.

Kita paling menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan, bukan yang kita lakukan.
Dalam jangka pendek kita menyesali romansa yang rusak; dalam jangka panjang kita melewatkan kesempatan romantis.

Dalam jangka pendek kita menyesali pilihan pendidikan yang buruk; dalam jangka panjang kita melewatkan kesempatan pendidikan.

Kita menerima apa yang kita miliki sebagai pemberian, tidak peduli berapa banyak yang kita peroleh.

Kita berada di “treadmill hedonis”. Seperti “jalan di tempat” dan bisa atur kecepatan, namun tidak peduli seberapa cepat kita berlari, kita tidak bisa ke mana-mana.

Apapun pilihan kamu, bagus atau menyenangkan hasilnya, kamu masih berakhir di tempat kamu memulai, dalam hal pengalaman subyektif.

Semakin sedikit, semakin bermakna. Kenali bagaimana cara kamu memilih dan mengambil keputusan.

Tips Menjadi Bahagia di Antara Banyak Pilihan

Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki! Jangan selalu manjakan diri kamu — simpan untuk acara khusus. Pilih telaga yang tepat, jangan bandingkan diri kamu dengan semua orang. Orang-orang bahagia mengalihkan perhatian mereka dan melanjutkan, tidak mau banyak merenung. Kendalikan hidup kamu sendiri. Jangan menyalahkan diri sendiri.

diagram paradox of choice
Punya banyak pilihan tidak mengarah kepada bahagia. Cara membatasi dan menentukan pilihan, itu yang membawa ke bahagia. (Credit: thevrio)

Bagaimana Memilih yang Tepat

Perhatikan ini, ketika kamu mau buat pilihan:

  • Pilih kapan harus memilih — buat pilihan yang benar-benar paling penting kemudian fokuskan energi ke sana.
  • Jadilah pemilih (chooser), bukan asal-pilih (picker) — ciptakan peluang kamu sendiri.
  • Pikirkan biaya-peluang ketika membuat keputusan.
  • Buat keputusan kamu tidak dapat diubah.
  • Jalankan sikap bersyukur, berterima kasih — sikapnya, bukan ucapannya.
  • Antisipasi, adaptasi, dan ingatkan diri sendiri bahwa dulu kamu belum kaya dan belum bahagia.
  • Kendalikan harapan. Jangan terlalu kecewa kalau tidak sesuai harapan.
  • Batasi perbandingan sosial. Kalau mau membandingkan hidup kamu dengan orang lain, habiskan waktu kamu di media sosial.

Lebih dari 100 kali kita berhadapan dengan pilihan-pilihan kecil, setiap hari. Sekarang mau pesan kopi atau es teh? Mau buy, sell, atau hold? Mau jawab video call ini atau tidak? Mau share link ini atau simpan sendiri? Mau baca buku atau tidur? Pilihan kamu sekarang menentukan apa yang akan terjadi nanti. Pahami “paradoks pilihan” di tengah lautan pilihan. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.