in

Nonton Film Paradise: Umur sebagai Komoditas Kesehatan Swasta

Menonton komodifikasi umur manusia dalam lanskap teknologi kesehatan futuristik, di film “Paradise” (2023) Netflix

(Image: Netflix)

Sinopsis

*) Kalau tidak mau kena spoiler, lewati bagian sinopsis ini.

Perusahaan Aeon punya model bisnis unik: transfer usia. Umur menjadi komoditas. Asal DNA cocok, orang bisa jual umur, dapat uang untuk melanjutkan hidup menjadi lebih bermakna (tanpa utang, pendidikan lebih bagus, kreatif, dan memulai hidup baru). Donor akan lebih tua, sesuai jumlah umur yang didonasikan, sedangkan resipien bisa lebih muda. Tentu ada risiko.

“Adam”, kelompok bersenjata di bawah Lilyth, menentang keras bisnis Aeon.

Max, pegawai teladan Aeon, dan Elena, istrinya, mengalami tragedi. Apartemen yang mereka beli secara kredit, terbakar ludes. Elena yang memakai jaminan umur, terpaksa harus mendonasikan umurnya: 40 tahun. Dari semula cantik, langsung menua 40 tahun. Resipien umur Elena adalah Sophie Theissen, direktur Aeon.

Max berjuang, melewati perbatasan Jerman-Lithuania, setelah menculik Marie Theissen, anak dari Sophie Theissen, untuk bertemu dokter ilegal, agar bisa mentransfer umur Marie ke Elena. Di tengah perjalanan, dan pengejaran di belakang mereka, Max-Elena bertemu Lilyth dkk.

Semua terbongkar. Motivasi riset Aeon, mengapa Lilyth menentang Aeon, serta skeptisisme Elena menerima donasi umur Marie. Cerita bar bermulai ketika Max mau menjadi umpan untuk bertemu dengan Sophie, atas saran Lilyth.

Film ini berawal dari kehidupan Max-Elena yang hancur karena klaim asuransi mereka ditolak. Mereka akhirnya merelakan jaminan: umur Elena. Perempuan itu menjadi 40 lebih tua dan kehilangan bayi.

“Paradise” (2023), Netflix

Judul: Paradise
Genre: Thriller, Science Fiction
Sutradara: Boris Kunz
Pemain: Marlene Tanzik, Kostja Ullmann, Gizem Emre, Iris Berben, Lisa-Marie Koroll
Negara: Jerman
Tanggal Rilis: Kamis, 27 Juli 2023

*) Kamu bisa tonton di Netflix. Tulisan ini bukan advertorial.

Melawan Penuaan

.. ketika hidupmu singkat namun bermakna, ketika kamu menjadi tetap muda, sebagaimana promosi Aeon.

Menurut hasil penelitian terbaru, penuaan itu patologi, yang dapat dicegah. David Sinclair, dari Harvard,.mendaftar 9 penyebab penuaan (aging). Instruksi epigenetik rusak, kehilangan instruksi penting (tidak berfungsi), kerusakan DNA, sehingga kehilangan kepadatan sel, kehilangan kepadatan mitokondroid, nukleus, protein, lipid, dan karbohidrat.

Menurut Sinclair, kita bisa mengintervensi proses “alami” tubuh, sehingga proses penuaan bisa dibalik. Kebiasaan seperti makan junk food, merokok, dan minuman beralkohol, dapat mempercepat penuaan.

Di dunia modern, “penuaan” merupakan ide menakutkan yang dilawan. Tubuh yang kencang, awet muda, menjadi “project” perusahaan komersial agar manusia tetap cantik dan muda.
Penuaan menjadi sasaran perusahaan asuransi yang ingin memberikan jaminan (ketika kamu mendadak sakit, butuh pendidikan berkualitas, atau menua secara alami).

Penuaan menjadi hambatan produktivitas, menjadi pasca-produktivitas manusia-pekerja manusia. Kehidupan manusia menjadi linieritas, dengan fase lahir, sekolah, bekerja, dan berada di akhir hidup.

Mengalami Surga

“Surga” (paradise) yang diimpikan orang, itulah setting film “Paradise”. Tentu saja, surga versi Aeon, yang ingin membuat hidup manusia menjadi lebih bermakna.

Sophie Theissen, dalam presentasi, mengajukan persuasi di depan publik. Sophie bertanya, “Wolfgang Amadeus Mozart meninggal di usia 35 tahun. Apa yang terjadi jika Mozart berumur lebih dari 35 tahun?”.

Sophie, sebagai agen dunia asuransi medis berbasis rekayasa genetika, yang kontroversial, ingin memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang, agar hidup mereka lebih bermakna.

Mereka yang hanya punya umur, namun dalam lilitan utang, pendidikan kurang bagus, atau ingin mencapai kebahagiaan yang berbiaya tinggi, dapat mendonasikan umurnya. Hidup hanya sebentar, namun menjadi lebih bermakna.

Sebaliknya, mereka yang (punya uang dan) ingin melanjutkan hidupnya namun terhambat penuaan, dapat menjadi muda kembali dan mencapai lebih banyak impian.

Bahasa tujuan, bahasa promosi, tentu sepintas menyenangkan. Sayang sekali, kerumitan terjadi ketika kita singkap detail promosi Aeon.

Awet muda selamanya, juga menjadi narasi di serial “Friday the 13th” atau horror Indonesia, tentang pertolongan benda pusaka-terkutuk atau dukun, agar seseorang menjadi muda.
Komodifikasi umur, dengan segala tujuannya, sama dengan mengukur kualitas hidup dengan terminologi pasar, bernama: sekolah pintar, bekerja, dan makmur di hari tua.

Transaksi untuk mengakali penuaan, berorientasi pada hasil akhir.

Ini yang kemudian membuat Elena kehilangan bayi di kandungan.

Inilah yang diprotes kelompok radikal “Adam”, di mana orang kaya dapat menjerat seseorang dengan transaksi kesehatan.

Harga umur dapat mengalami fluktuaasi, sesuai “supply and demand”, saham naik-turun, meskipun tidak diceritakan siapa saja kompetitor Aeon. Jual-beli (atau donasi-resepsi) umur, akan menjadi model bisnis yang kontroversial. Perhitungan biaya-manfaat, rumah-sakit “umur”, klinik teansfer usia, akan menjadi pemandangan menarik dalam lanskap kota yang futuristik. Umur bisa menjadi salah satu faktor penentu distribusi kekayaan.

Yang keren, dalam film ini, kecanggihan tidak terlalu jauh. Masih bisa dibayangkan orang, kecuali “kecepatan” proses membalik tubuh yang tua menjadi kembali muda. Film ini masih perlu angkut peralatan operasi pakai mobil box, memakai tenda, dan pemandangan kamp pengungsi di Lithuania.

Orang bisa memiliki pandangan berbeda, yang merevisi pandangan lama, terutama yang berasal dari agama tradisional, bahwa Tuhan telah menentukan umur setiap manusia. Umur menjadi “fungsi”, area penelitian, di mana ketakutan untuk mati, tekanan sosial, dan ekonomi, menggunakan terminologi “umur”.

Betapa rumit regulasi hukum dan bio-etika jika ini terjadi. Seseorang berusia 60 tahun memiliki fisik 27 tahun, atau sebaliknya. Kita akan menghadapi pertanyaan hukum tentang regulasi, kontrak, dan perlindungan hak individu dalam konteks perdagangan umur.

Masyarakat dalam film “Paradise”, berisi kelas lemah dan kelas kaya. Penuaan sudah menjadi transaksi komersial. Penuaan menjadi ketidaknyamanan estetis. Hambatan produktivitas, penghalang kreativitas. Penyakit yang bisa diselesaikan dengan teknologi. Bayar sekian, kamu akan menjadi muda kembali.

Kritik untuk “Paradise”

Saya melihatnya sebagai kritik sosial terhadap keinginan hidup abadi, eskapisme dari rasa takut terhadap kematian, serta fase linier kehidupan kerja manusia modern.

Dalam disiplin kesehatan publik, penuaan itu pasti terjadi, namun memiliki risiko kesehatan yang dapat dikelola (bukan diakali), dengan mengurangi dampak negatif penuaan, seperti: makan sehat, olah raga, dst. Bagian ini tidak dijelaskan di film “Paradise”, mungkin karena gambaran masyarakat sudah sangat maju.

Apa yang terjadi ketika teknologi kesehatan, pemetaan DNA, dan informasi data kesehatan publik, sudah dipakai untuk memanipulasi umur manusia?

Menjual Umur

Mungkin sebagian besar kita, melakukan itu.

Saya pernah menulis tentang cara memperlambat waktu. Tepatnya, mengakali waktu. Caranya, dengan lebih membuat hidup kita menjadi bermakna. Berpikir secara sadar, jangan sampai ada defisiensi waktu, serta bagaimana agar terpapar pada “serendipity” dan “petualangan”, agar tidak terjebak selamanya dalam rutinitas mekanistis pekerjaan dan sekolah yang sudah mirip pabrik (factory).

Secara tidak langsung, saya melihat banyak orang membiarkan umur mereka terbuang (bahkan tidak melakukan donasi seperti di Aeon). Waktu untuk ghibah, tanpa “tujuan hari ini”, dan menyibukkan diri menjadi penonton dan follower di Beranda medsos, menjadi rata-rata, mengabaikan prioritas, dst. Seandainya mereka tahu bahwa umur mereka sangat berharga, tentu mereka akan meminta, detik-detik yang pernah mereka pakai untuk waktu yang sia-sia itu, dikembalikan.

Ada seseorang, mungkin setahun yang akan datang, yang berterima kasih kepadamu, karena kamu tidak “menjual” umur kamu di masa depan. Ia berterima kasih kepadamu, karena kamu menyiapkan masa depan. Seseorang itu adalah pasangan kamu, anak-cucu kamu. Seseorang itu adalah kamu sendiri. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.