in

Pajak Perhatian

Selamat datang di “attention economy”, dunia pembajak perhatian. Serahkan perhatian kamu demi keuntungan kami.

banner attention please
EKONOMI PERHATIAN. Perlu pajak perhatian. Sebelum membeli dan ambil keputusan, kita "memperhatikan" sesuatu. Terlalu banyak perusahaan komersial yang membajak perhatian kita demi keuntungan mereka. (Credit: Alexey Yakovenko)

Kita membeli, membaca, marah, simpati, memberikan donasi, klik iklan, apatis, like, share, nyaris dalam semua hal, melakukan semua itu karena kita sempat memberikan perhatian.

“Jangan lupa subscribe, karena subscribe itu gratis..”. Kita sering dengar itu. Permintaan berlangganan. Dengan janji lebih banyak keuntungan.

Begitulah “ekonomi perhatian” berjalan. Tolong, lakukan ini sebentar. Terima kasih. Kamu sudah berstatus sebagai pelanggan. Selanjutnya, kami akan merampok perhatian kamu.

Ada perhatian yang menyita, memaksa, ada juga yang secara tak-sadar membuat kita memberikan perhatian.

Apa “Perhatian” Itu?

William James, pendiri psikologi Amerika , mendefinisikan “perhatian” (attention) sebagai berikut:

“[Perhatian] adalah penguasaan oleh pikiran, dalam bentuk yang jelas dan nyata, dari satu, dari apa yang tampaknya beberapa objek atau rangkaian pemikiran yang mungkin secara bersamaan.. Ini menyiratkan penarikan diri dari beberapa hal untuk menangani yang lain secara efektif, dan merupakan kondisi yang memiliki kebalikan nyata dalam keadaan bingung, linglung, tercerai-berai.”

Terlalu Sering Kita Membayar Karena Perhatian

Tidak semua model bisnis membutuhkan perhatian penjualan. Sebagian besar aplikasi berbayar tidak memiliki iklan dan dirancang untuk mendukung tugas yang secara sadar kita setujui. Ketika perusahaan mendapat untung dari penjualan perhatian, mereka mendesain antarmuka untuk mendorong kita mengubah aktivitas kita tanpa persetujuan tegas.

Ini tidak perlu contoh, karena kita sangat sering melakukan “perhatian” seperti ini. Sebagai penjelas saja. Ada 3 kawan kita di Facebook, klik iklan online shop, kemudian kecerdasan buatan (artificial intelligence) di Facebook memberikan “saran” berupa iklan, di Beranda kamu. Kita klik karena penasaran. Kamu baru saja memberikan perhatian pada iklan itu. Atau ada teman kita sedang singgah di suatu restoran, sambil selfie dan pamer “kebahagiaan”. Beberapa hari kemudian, kita melakukan hal sama. Entah di tempat itu atau tempat lain. Setidaknya, ada kontribusi sekian persen, kita meniru aktivitas orang lain, setelah melihat foto mereka. Dengan satu catatan, kita “membayar” apa yang kita makan. Dengan kata lain, perhatian yang kita berikan, membuat kita “membayar”. Kalau kamu bermain medsos, ada seribu contoh lain yang bisa kamu sebutkan.

Cara Perusahaan Komersial Membajak Perhatian

Jeff Hammerbacher, salah satu perancang aplikasi Facebook, menceritakan,

“Pikiran terbaik dari generasi saya berpikir tentang bagaimana membuat orang mengklik iklan … Itu menyebalkan.”

Saat mereka merancang untuk membajak fokus kita, seperti yang diukur dengan rasio klik-tayang, inilah saatnya mereka dapat dikenai pajak. Jadi, bayangkan, jika negara “memeriksa” bagaimana cara aplikasi yang berhubungan dengan keputusan komersial ini, dikenakan pajak pendapatan. Itu kan juga bagian dari “iklan”, bagian dari usaha mendapatkan keuntungan yang menggunakan “data” dan “keputusan” pelanggan.

Setiap kali browsing, yang terjadi adalah adu-banting untuk fokus yang tidak terfragmentasi.

Banyak produsen konten dengan enggan didorong ke dalam model iklan, tidak dapat mempertahankan diri mereka sendiri dengan berlangganan saja.

Model pembajakan perhatian ini dirancang untuk memanipulasi kamu agar membayar konten mereka, dengan cara mengalihkan-perhatian kamu.

Apa kata aplikasi? Pihak aplikasi berkata, “Jika tidak ingin melihat iklan, konsumen harus membayar berlangganan.”. Ini semacam paradoks dalam memilih.

Aplikasi khusus untuk memblokir iklan, tumbuh pesat 30% lebih, tahun 2018.

Jika pemerintah tidak mengenakan pajak kepada pengiklan, perusahaan akan “membebani” konsumen sebagai gantinya.

Google Kontributor adalah contoh terbaru dari solusi komersial untuk “masalah pemblokir iklan”. Google Kontributor adalah program yang dijalankan Google di mana pemakai di Jaringan Google dari situs konten, bisa melihat situs web tanpa iklan apapun, yang diadministrasikan, diurutkan, dan dikelola oleh Google.

Intinya begini: kamu bayar Google untuk hapus iklan di situs yang berpartisipasi, dan Google membayar perusahaan yang menyediakan konten semacam biaya kompensasi (sehingga mereka masih dapat berfungsi dalam ekonomi perhatian).

Artinya, kamu membeli-kembali perhatian kamu dari Google.

Peran ini, membuat Google menjadi mirip bank. Perantara yang untung dari 2 pihak: dari perusahaan yang membayar sebagian perhatian kamu atau dari kamu karena melindunginya (kesepakatan manis).

Bukankah seharusnya kita yang ambil keputusan atas perhatian kita yang “tidak mau melihat iklan”?

Haruskah kita membayar untuk mendapatkan kembali sesuatu yang benar-benar milik kita yang bernama “perhatian” itu?

Itu juga akan mengurangi serangan rahasia terhadap kebebasan mendapatkan informasi dan menyatakan pendapat, yang dilepaskan melalui clickbait “kemarahan moral”.

Agar adil, Google juga berupaya membantu pengguna mengelola waktu mereka dengan lebih baik. Mereka telah mendengar protes konsumen dan inisiatif Google Digital Wellbeing (ada di Android kamu) untuk membantu pengguna memahami dan mengelola perhatian mereka sehingga mereka dapat “fokus pada hal yang paling penting”. Kalau ingin melihat aksi digital wellbeing, lihatlah notifikasi di Android kamu.

Benteng Terakhir: Perhatian Pemakai

Setiap pagi saya sering mendapatkan pertanyaan dari pengunjung warung kopi, tentang apa yang terjadi pada Android mereka. “Mengapa ada permintaan membersihkan memori di Android saya? Katanya, memori sudah penuh.”. Ada lagi yang cemas karena pesan, “Android kamu terkena virus, segera bersihkan..”. Serta notifikasi dari media agregasi berita yang selalu menayangkan notifikasi tentang berita baru. Akhirnya, mereka memilih mematikan notifikasi dan tidak mau membaca berita. Digital wellbeing tidak memberikan pilihan default untuk membebaskan perhatian pemakai. Tidak semua pemakai Android bisa membedakan antara iklan dan pemberitahuan dari sistem, tidak bisa membedakan ini berita komersial atau tidak.

Upaya seperti ini menempatkan tanggung jawab untuk mengelola perhatian kembali pada pengguna. Apakah itu cukup?

Mungkin yang kita butuhkan adalah model bisnis yang lebih inovatif, dan mungkin pajak dapat memotivasi perusahaan untuk mengembangkannya. Paling tidak, itu akan secara dramatis mengurangi jumlah gangguan yang mencecar kita, membantu kita fokus pada kegiatan yang penting.

Browser Brave yang semula menjanjikan kebebasan dan pemakai dapat keuntungan dengan “tanpa” iklan, ditukar dengan BAT (token), akhirnya mendapatkan protes.

Kita perlu cara untuk mengekang akibat-negatif dan penyalahgunaan perhatian ekonomi yang tak terpuaskan. Kita mendambakan bisnis yang dapat berkomunikasi dengan konsumen tanpa secara berlebihan merampas perhatian.

Selamat Datang di Dunia Pembajak Perhatian

Saya tidak tahu, apakah dengan pajak, akan terjadi permainan seimbang, sehingga nanti ada pajak perhatian, yang bisa “dikembalikan” kepada konsumen dengan mendidik mereka agar lebih well-educated terkait mengelola perhatian, ataukah justru menjadi permainan baru yang lebih menarik bagi perusahaan komersial.

Perusahaan komersial menggunakan waktu 4 detik untuk menyita perhatian konsumen dalam mengalihkan mereka ke arah keputusan tak-sadar. Google membajak perhatian milyaran manusia untuk klik iklan mereka. Kita sebenarnya ikut membayar pajak restoran yang kita beli secara online.

Dan sementara itu, di mana-mana, periode baru kita dalam berinternet sudah melangkah ke level berikutnya. Teknologi web 3 membentuk ekonomi dan cara kita memandang hidup. Kartu seluler sudah upgrade ke 4G dan perangkat keras ke 5G. Televisi sudah digital.

Selamat datang kembali di dunia pembajak perhatian.

Di level end user, kita punya “perhatian”, yang kita rawat, yang sering diserang perusahaan komersial, dan itulah yang membuat kita memutuskan: perhatikan atau tidak, beli atau tidak, share atau tidak. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.