in

Cinta Kamu Tidak di Media Sosial

Ini sebabnya, mengapa media sosial tidak berhasil mencarikan kamu teman kencan.

Kawan saya lebih suka berteman (atau cari pacar) di media sosial karena kesamaan. Dia menyukai preferensi yang sejalan dengan hobi, pekerjaan, dan lingkungan yang hampir sama. Sama-sama suka film “Godfather” (trilogy), dia terima pertemanan. Sama-sama suka berkebun, ia akan anggap orang itu telaten dan tidak egois. Dan foto yang menarik. Dia bisa terima sebagai pacar.

Beruntung sekali, dia memakai Facebook yang sangat cocok untuk perkawinan assortatif dan homofili (derajat persamaan dalam beberapa hal tertentu seperti keyakinan,nilai, pendidikan, status sosial, dll. dalam komunikasi antarbudaya).

Prinsipnya, “Suka X akan mendatangkan suka X”, atau jika kamu menyukai buku maka akan datang saran berkaitan dengan buku. Gantilah kata “buku” dengan apapun yang bisa dikenal Facebook.

Media sosial, termasuk situs kencan, menggunakan cara ini, untuk membuat semua orang terhubung. Filter, tren, versi realitas yang diarahkan untuk dan dari pemakai, akan membawa orang kepada Like. Seperti inilah “kesamaan” terjadi dna dibentuk.

Kita sendirilah yang sebenarnya mendatangkan “orang lain” ke dunia kita, berdasarkan apa yang kita suka, katakan, dan menjadi preferensi. Kalau kamu suka “sepeda gunung” maka akan muncul saran terkait “sepeda gunung” di Beranda.

Kata “kesamaan” ini bisa berbentuk banyak hal. Tanggal lahir. Hobi. Pernah klik Like di mana. Komentar dan balasan. Foto yang kamu upload. Algoritma menimbang potensi kecocokan ini, sebelum menampilkan “saran teman”. Kamu memilih mereka, dan sebaliknya, mereka memilih kamu.

Akhirnya, bertemulah X dan Y dan merasakan betapa cocoknya “kita” di media sosial ini. Seperti itulah pasar 2 sisi, saran dari 2 arah, “saya dan mereka”.

Semakin tinggi skor, semakin “match” (kecocokan) tercapai.

Pada tahun 1960-an, sudah ada algoritma Gale-Shapley, yang mencari kesamaan preferensi antara 10 perempuan untuk dipasangkan dengan 10 lelaki. Semakin banyak kesamaan antara item yang dipasangkan (hobi, residen, medis, dll.) merupakan masalah yang rumit.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada pikiran kawan saya, ketika memakai Facebook.

Lihat foto orang ini. Menarik, tidak menarik. Seperti siapa. Bagaimana kira-kira orang ini? Siapa namanya? Tinggal di mana? Apa hobinya. Baiklah, saya terima pertemanan. Lihat profile. Scroll, terus ke bawah. Lihat caranya bicara. Dia posting apa. Ah, aku juga suka ini. Yang ini juga. Berkomentar. Balas komentar. Chat sesekali. Kemudian ia jatuh cinta.

Tahu kenapa ia jatuh cinta? Karena “kesamaan” yang dipasangkan oleh algoritma dan kecerdasan buatan media sosial.

Tidak perlu dalam semua hal. Orang tidak peduli, orang lain suka merokok atau tidak, suka makan atau tidak. Kedua hal ini tidak menjadi preferensi berat dalam melihat kecocokan.

Seorang programmer tidak mau bertanya, “Apakah kamu menyukai pemrograman?” karena itu sudah menjadi bagian mendasar dari dirinya. Preferensi justru terjadi pada hal-hal periferal, produk sampingan, dan mirroring.

Semakin seseorang melihat dirinya sendiri dalam diri orang lain, semakin ia menyukai orang tersebut.

Kapan kamu bisa chat? Bolehkah aku menelepon? Kamu pernah pergi ke tempat itu? Aku juga punya sepeda gunung.

Fokusnya bukan “kesamaan”, tetapi hal-hal yang mengarahkan kesamaan.

Seperti: waktu luang, tempat melepaskan penat, dan hobi. Sementara itu, hal-hal buruk tetap menghantui dan maunya terhindarkan, jangan terulang lagi, seperti: Aku tidak suka orang tertutup. Jangan bicara pekerjaan. Lewatkan masa lalu sebagai masa lalu.

Kesamaan berarti “persepsi identitas bersama”. Kalau kita uraikan, mungkin ada 500 hal yang bisa kita cari sebagai persamaan: mulai dari bulan kelahiran, hobi, sampai jenis-jenis karakter orang yang tidak kita suka. Mungkin 500 lebih. Kesamaan mirip hal-hal abstrak yang selalu terbentuk-ulang ketika komunikasi berjalan.

Pernahkah kamu bertemu orang yang sebelumnya hanya kamu kenal di media sosial? Mungkin ada keterkejutan pada menit-menit pertama. Wajah yang berbeda. Bahasa tubuh yang tidak sama dengan imajinasi saya. Langsung bikin ill-feel. Betapa dangkal pikiran kita, terjebak di prasangka sendiri, bahwa ternyata kenyataan yang saya terima itu berbeda. Atau sebaliknya, orang ini sangat menyenangkan.

Ini bukan soal cinta semata. Kekecewaan kadang terjadi, berujung penyesalan. “Ah, mengapa saya tadi menceritakan rahasia hidup kepadanya? Ternyata orang ini tidak bisa dipercaya.”.

Teman adalah teman. Kita tidak boleh terburu-buru. Selalu berpikiran terbuka. Penampilan bisa menipu, ternyata saya perlu coba kamera dan aplikasi terbaru agar tidak kagum pada penampilan visual.

Chemistry — dalam cinta, jika kamu percaya ada — tidak bisa dibentuk dengan algoritma. Saya dan orang ini sama-sama memiliki nilai (value) mendalam, memiliki pandangan tentang hidup. Kita¬† menemukan perubahan dan konflik, serta mengerti bagaimana cara mengatasinya.

*) Prinsip-prinsip inilah yang membuat kita bisa berhasil menjalankan kencan, yang berlanjut dari hubungan yang sebatas online.

Jika tidak, kencan ini hanya menuruti algortima platform media sosial. Apapun namanya. Kalau saya harus browsing “cara kencan yang berhasil”. Kalau saya percaya tidak percaya statistik. Kalau saya percaya pada mind-reader yang datang dari statistik. Kalau saya lebih banyak menduga dan berprasangka, sekalipun itu baik, ternyata penuh tipuan. Kalau saya percaya bahwa cinta bisa datang dari kesamaan.

Cinta yang datang dari kesamaan, jadi mirip pemasangan berbasis algoritma.

Cinta yang awet, tidak datang dari kesamaan. Kesamaan, termasuk kesamaan kepentingan dan kesamaan tujuan, datang sebagai transaksi. “Aku mencintai kamu jika..”, “Aku mencintai kamu asalkan..”. Cinta transaksional seperti itu, berawal dari kesamaan dan berakhir dengan kekecewaan.

Cinta datang dari getaran. “Entah kenapa, saya tidak bisa marah pada orang ini. Begitu mendengar suaranya, saya tidak jadi marah.” Atau, “Hobi kami jauh berbeda, tetapi..”. Kamu tidak bisa memprediksi chemistry dan tidak mudah menjelaskan “getaran”. Bukan suatu transaksi.

Cinta kamu tidak di media sosial. [dm]