SEMARANG (jatengtoday.com) — Pabrik baterai lithium iron phosphate (LFP), PT LBM Energi Baru Indonesia resmi berdiri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industri Kendal, Jawa Tengah, Selasa (8/10/2024).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan langsung dimulainya tahap pertama produksi dan rencana ekspansi fasilitas produksi bahan katoda LFP.
Proyek itu terwujud melalui rencana kemitraan investasi strategis antara konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dan Changzhou Liyuan New Energy Technology Co.
CEO Changzhou Liyuan, Shi Junfeng menyatakan, PT LBM Energi Baru Indonesia merupakan produsen katoda pertama di luar China, yang pengoperasian tahap awalnya memiliki arti penting bagi peningkatan keamanan pasokan dari rantai pasok energi baru global.
Pabrik ini memberikan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Dengan penciptaan lebih dari 2.000 lapangan kerja. “92 persen di antaranya diisi oleh tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Investasi ini diharapkan akan berperan penting dalam memenuhi permintaan global terhadap baterai LFP, yang didorong oleh semakin meningkatnya penetrasi kendaraan listrik (EV) di seluruh dunia.
Luhut dalam sambutannya menegaskan, Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah. Indonesia harus menciptakan nilai tambah di negeri sendiri, membangun industri hilir yang kuat, dan menempatkan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global.
Hilirisasi bukan hanya kata-kata, tetapi strategi besar untuk mempercepat kemajuan Indonesia, terutama di sektor yang akan mendominasi masa depan, yakni ekosistem kendaraan listrik.
Investasi Bersama
Fasilitas yang terletak di Kendal ini diproyeksikan untuk menjadi produsen Katoda LFP terbesar di dunia di luar China. Investasi bersama yang direncanakan sebesar USD 200 juta bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 30.000 ton pada fase I, yakni yang saat ini sedang dalam pelaksanaan produksi percontohan, menjadi 90.000 ton pada fase II, yang diharapkan akan dimulai pada tahun 2025.
LFP adalah salah satu dari dua bahan kimia utama dalam baterai litium-ion, di samping Nickel Cobalt Manganese (NCM). Dikenal akan efektivitas biayanya, LFP sangat cocok untuk EV dan sistem penyimpanan energi.
Berdasarkan studi Bain tentang Ekosistem Baterai EV1, permintaan baterai global diperkirakan akan tumbuh sekitar empat kali lipat antara tahun 2023 dan 2030, yang didorong oleh meningkatnya adopsi EV, memposisikan LFP untuk memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan tersebut.
Pada tahun 2030, NCM diproyeksikan akan mewakili sekitar 50% dari permintaan baterai litium-ion, sementara LFP diperkirakan akan menyumbang sekitar 35%, dimana keduanya diperkirakan akan tetap menjadi pusat pertumbuhan industri baterai di masa depan. (*)
editor : tri wuryono