in

Membaca Tragedi Oedipus dan Sangkuriang

Menelusuri akar kompleksitas hubungan manusia dan kekuasaan dari kisah Oedipus dan Sangkuriang.

SANGKURIANG. Kisah bertema complex Oedipus, tentang patriarkisme, perlawanan manusia menaklukkan alam dan takdir, dan legenda dari Jawa Barat. (Image: DALL-E)

Kisah Tragis Oedipus: dari Kutukan sampai “Kebenaran”

Raja Laius dari Thebes dan Ratu Jocasta dikutuk karena Laius membunuh seorang anak laki-laki. Kutukan tersebut menyatakan bahwa Laius akan dibunuh oleh anaknya sendiri.

Oedipus lahir sebagai putra Laius dan Jocasta. Takut akan kutukan, Laius menusuk kaki Oedipus dan meninggalkannya di gunung untuk mati. Oedipus diselamatkan oleh seorang gembala dan dibesarkan di Korintus. Ketika dewasa, Oedipus pergi ke Delphi untuk mencari tahu tentang masa lalunya. Oracle di Delphi memberi tahu Oedipus bahwa dia akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus, tidak mengetahui ramalan itu, meninggalkan Korintus untuk menghindari nasib tersebut.

Dalam perjalanan, Oedipus bertemu dengan Laius dan tanpa sengaja membunuhnya dalam perkelahian. Oedipus kemudian datang ke Thebes dan menyelesaikan teka-teki Sphinx, monster yang meneror kota. Sebagai hadiah, Oedipus dinobatkan sebagai raja Thebes dan menikahi Ratu Jocasta, yang tidak lain adalah ibu kandungnya.

Terjadilah “tragedi”. Oedipus memerintah Thebes dengan bijaksana selama bertahun-tahun. Wabah penyakit kemudian melanda Thebes. Oedipus berkonsultasi dengan Tiresias, seorang peramal buta, untuk mengetahui penyebabnya. Tiresias mengungkapkan bahwa Oedipus adalah pembunuh Laius dan telah menikahi ibunya. Oedipus awalnya tidak percaya, tetapi setelah diselidiki, kebenaran terungkap. Jocasta bunuh diri karena malu, dan Oedipus menusuk matanya sendiri karena rasa bersalah. Oedipus diasingkan dari Thebes dan mengembara dengan putrinya Antigone hingga akhir hayatnya.

Sumber: Ensiklopedia Britannica

Kisah “Sangkuriang”: Kekuatan Alam, Patriarki, dan Legenda

Jawa Barat punya cerita “Sangkuriang”, yang menceritakan Jaka Sona dan Dayang Sumbi (ibunya), sekaligus terjadinya Gunung Tangkuban Perahu.

Film “Sangkuriang” (1981) merefleksikan bagaimana cerita rakyat ini telah beradaptasi dan berkembang dalam media modern, sambil tetap mempertahankan elemen-elemen inti ceritanya.
Suzzanna bermain sebagai Dayang Sumbi di film “Sangkuriang” (1981). Suzzanna Maria, ratu horror yang
Meskipun sudah mengalami komodifikasi sinematik, cerita intinya masih tetap sama.

Film “Sangkuriang” (1981) bisa kamu tonton di sini:

Dayang Sumbi sedang menenun, taropongnya jatuh. Dayang Sumbi berdoa kepada Hyang Runuhun, jika ada perempuan yang membawakan taropong, akan dijadikan saudara selamanya, dan jika lelaki akan ia jadikan suami. Yang datang ternyata pembantu-lelakinya, bernama Lengser. Mereka berhubungan badan, sampai kehamilan Dayang Sumbi diketahui Sang Raja. Lengser dikutuk menjadi anjing. Dayang Sumbi diusir dari kerajaan. Dayang Sumbi melahirkan Jaka Sona. Pada suatu hari, Dayang Sumbi ingin makan hati menjangan (sejenis rusa).

Terjadilah tragedi.

Panah Jaka Sona nyasar ke Tumang, anjing hitam itu. Menjelang ajal, anjing ini berubah menjadi Lengser, bapaknya. Jaka Sona datang membawa hati bapaknya dan bercerita bahwa Tumang mati. Dayang Sumbi marah, memukul kepala anaknya dengan beruk sampai berdarah, dan mengusirnya.
Jaka Sona tinggal di goa, menjadi pilihan para dewa dan mendapatkan kesaktian. Jaka Sona memiliki tubuh atau “sangkur” (wadah) yang memuat “kekuatan alam” atau “Guriang”. Jaka Sona bergelar “Sangkur Guriang”, alias “Sangkuriang”. Setelah 3 tahun keluar dari goa, Sangkuriang membela rakyat dari kekejaman orang-orang kerajaan, bertemu Dayang Sumbi. Keduanya saling mencintai. Sampai akhirnya terkuak kebenaran bahwa Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi tidak mau.

Amarah dan rasa bersalah membakar jiwa Sangkuriang.

Kisah ini juga menunjukkan peran penting Dayang Sumbi sebagai tokoh wanita yang memiliki kedalaman emosional dan kekuatan karakter, dalam menghadapi konflik moral yang kompleks.
Tekadnya bulat untuk membendung lautan, melampiaskan gejolak hatinya. Dengan kekuatan luar biasa, dia menendang sebuah perahu besar, membalikkannya dengan sekali hentakan. Perahu raksasa itu tergeletak terbalik, menjulang tinggi di atas tanah, menciptakan sebuah gunung yang dikenal sebagai Tangkuban Perahu. Di puncak gunung itu, Dayang Sumbi, diliputi kesedihan yang mendalam atas tragedi yang menimpa anaknya, memilih untuk bertapa, meninggalkan dunia fana dan mencari ketenangan jiwa.

Perspektif Levi-Strauss

Claude Levi-Strauss, seorang antropolog Prancis, terkenal dengan metode analisis strukturalnya dalam mitologi. Dalam menganalisis cerita rakyat, Levi-Strauss fokus pada struktur biner, miteme, dan transformasi mitos.

Struktur biner memperlihatkan pertentangan 2 elemen berlawanan, sebagaimana terlihat pada lingkungan hutan-gunung yang masih liar ketika Sangkuriang dibesarkan dan keraton tempat Dayang Sumbi berasal. Termasuk ketika suami Dayang Sumbi berubah menjadi anjing hitam, serta ketegangan hidup-mati ketika Dayang Sumbi ingin membunuh Sangkuriang.

Miteme membicarakan makna terkecil dalam suatu mitos. Anjing menjadi simbol kesetiaan dan pengabdian, hutan mewakili realitas alam liar dan primitif, dan kutukan Raja menjadi momen hukuman atas pelanggaran norma.

Transformasi mitos berbicara tentang bagaimana mitos berubah dan beradaptasi seiring waktu. Cerita Sangkuriang memiliki banyak versi. Ada versi naskah manuskrip, versi film, versi cerita tutur, dll.

Levi-Strauss melihat mitos sebagai sistem pemikiran yang kompleks dan logis, memperlihatkan bagaimana manusia memahami dunia mereka. Ini terlihat dari cara mereka menghadapi kutukan, sumpah, hukuman, bertahan-hidup, pergantian identitas, termasuk hubungan antara manusia dan alam, aturan adat, dan konsekuensi dari pelanggaran norma.

Pendekatan Levi-Strauss ungguk ketika menemukan struktur bawah sadar, membantu kita melihat struktur dasar cerita yang mungkin terlewatkan oleh pembaca. Cerita ini dibangun dari konsep biner. Ketika membandingkan kompleks Oedipus dan Sangkuriang, kita bisa mengungkapkan makna universal atau evolusi mitos tersebut.

Setiap mitos, menurut Levi-Strauss memiliki logika dan koherensi internal yang dapat dipahami jika kita menggunakan pendekatan strukturalis. Ini membantu kita menghargai mitos sebagai bentuk pemikiran yang kompleks dan bermakna.

Pendekatan Levi-Strauss sering mengabaikan konteks spesifik, detail, dan kekhususan, demi menemukan struktur universal. Selain itu, terlalu abstrak dan formal, serta melupakan aspek emosional dan estetika cerita. Agensi individu, dalam pendekatan Levi-Strauss sering terabaikan, karena fokus pada struktur cerita secara keseluruhan.

Psikoanalisis dan Posmodernisme

Kompleks Oedipus bisa kita interpretasikan sebagai narasi atau mitos budaya dan kekuasaan dominan. Narasi ini tidak memiliki kebenaran objektif atau otoritatif. Narasi ini merupakan bentukan sosial (socially constructed). Bisa berubah sesuai perspektif dan konteks berbeda. Narasi dominan, dalam cerita kompleks Oedipus “Sangkuriang”, narasi ini menjadi alat kontrol sosial untuk memastikan konformitas individu terhadap norma-norma yang ditetapkan (untuk sangat menghormati ibu).

Narasi ini menciptakan rasa bersalah dan kecemasan pada individu yang tidak sesuai dengan pola pikir dan perilaku yang diharapkan. Menjaga status quo dan mempertahankan hirarki, itulah tujuan narasi dominan. Cerita menjadi persilangan konstruksi budaya dan kekuatan berbeda, yang bisa kita bandingkan, antara Kompleks Oedipus dengan Sangkuriang.

Narasi dominan tidak harus diterima-begitu-saja (taken for granted). Narasi dominan bisa saja membatasi kebebasan individu dalam menentukan identitas dan mengungkapkan hasratnya.
Sejajar dengan Kompleks Oedipus adalah kompleks Elektra, yang mengacu pada fenomena psikoseksual di mana seorang anak perempuan mengalami ketertarikan seksual terhadap ayahnya dan bersaing dengan ibunya. Kompleks Oedipus (dan kompleks Elektra) merupakan konsep psoksosial, yang diperkenalkan Sigmund Freud.

“Psikoseksual” merujuk pada hubungan yang kompleks antara aspek psikologis dan seksualitas individu, serta pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian dan dinamika psikologis. Konsep ini membantu dalam memahami bagaimana seksualitas berinteraksi dengan aspek-aspek psikologis lainnya dan berperan dalam membentuk identitas dan perilaku individu.

Dalam teori psikoseksual Freud, ia mengusulkan bahwa individu mengalami serangkaian tahap perkembangan seksual yang melibatkan pergeseran fokus dan kepuasan pada zona-zona erotis tertentu dalam tubuh mereka. Tahap-tahap ini meliputi tahap oral, tahap anal, tahap falik, tahap laten, dan tahap genital.

Narasi kompleks Oedipus merupakan bentukan sosial — yang layak dipertanyakan, tanpa kebenaran obyektif, dan tidak ada interpretasi tunggal yang paling “benar”.

Kita perlu memeriksa konstruksi identitas dan peran gender dalam cerita itu, melihat paparan konflik dan kekuasaan. Selain itu, “reader” (pembaca) memiliki subjektivitas pengalaman individual yang mempengaruhi interpretasi dan pemahaman narasi.

Membaca narasi memerlukan intertekstualitas, memperhatikan referensi dan pengaruh teks lain.
Mempertimbangkan konteks historis dan budaya tempat cerita ini berasal juga penting untuk pemahaman yang lebih lengkap. Ini membantu kita menghargai bagaimana cerita-cerita ini beresonansi dengan masyarakat pada waktu itu dan bagaimana mereka terus relevan hingga saat ini.

Tema Kompleks Oedipus (dan “Sangkuriang”) menarik karena melibatkan konflik psikologis yang kompleks dan kontroversial. Inti cerita kompleks Oedipus adalah hasrat seksual dan rasa bersalah.
Subteks Kompleks Oedipus menyoroti konflik internal individu dalam menentukan identitas dan hasrat seksual mereka, yang melibatkan rasa cemburu, persaingan, dan konflik antara keinginan individu dengan norma-norma sosial. Subteks ini dapat menggugah perasaan dan refleksi yang mendalam pada pembaca atau penonton.

Narasi ini juga menggambarkan dinamika kekuasaan dan hierarki keluarga. Subteks ini dapat memunculkan pertanyaan tentang struktur keluarga, peran gender, dan pengaruh kekuatan dominan pada individu.

Narasi Kompleks Oedipus juga dapat menjadi menarik untuk subkultur yang tertarik pada eksplorasi psikoanalisis, seksualitas, dan tabu.

Yang menarik, dari Kompleks Oedipus (dan “Sangkuriang”), karena narasi ini menjadi medium untuk membincang konflik antara anak dan orang tua, hasrat seksual, dan rasa bersalah, serta pertentangan antara keinginan individu dan norma sosial. Semua budaya dan era menemukan masalah ini.
Cerita ini tentang ketegangan emosional, refleksi dan eksplorasi psikologis, kontroversi dan provokasi, keunikan dan keaslian, hubungan keluarga, hubungan antara seks dan moralitas, subordinasi gender, interpretasi dan makna yang bisa dihadapi “reader” secara subjektif dan berbeda. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.