in

Dimasak Pakai Cethok, Nasi Goreng Keluh Kesah Jadi Favorit Masyarakat Semarang

Rioatmoko yang sempat menantang pandemi dengan nekat membuka usaha, kini telah sukses.

Nasi goreng babat dan iso Keluh Kesah siap dinikmati pelanggan. (baihaqi/jatengtoday.com)

WAJAH Rioatmoko (35) semringah, warung nasi goreng babat dan iso “Keluh Kesah” miliknya ramai diserbu pelanggan. Tangannya cekatan mengolah bumbu, mengaduk nasi, dan menjaga nyala api agar tetap stabil.

Tempat kuliner ini menyuguhkan cara masak yang berbeda dengan warung nasi goreng pada umumnya. Si pemilik beserta enam orang karyawannya memilih memasak menggunakan perkakas pertukangan, yakni cethok.

Iya cethok, alat yang biasanya digunakan untuk mengaduk semen, ini difungsikan sebagai alat aduk nasi goreng.

Rioatmoko bercerita, penggunaan cethok bukan tanpa alasan. Gagang cethok yang pendek dianggap lebih mudah untuk mengaduk ketimbang menggunakan spatula yang kadang memiliki gagang yang panjang.

Apalagi, nasi goreng merupakan jenis olahan yang harus diaduk tanpa henti agar bumbu dan bahan lainnya menyatu dan menciptakan rasa yang enak.

Maka jangan heran, kalau kulineran langsung di sini, pelanggan akan disambut aroma bumbu yang menguat diiringi bunyi besi (cethok dan wajan) yang beradu.

Kekhasan yang dihadirkan Rioatmoko tak hanya itu. Jika biasanya nasi goreng dibungkus sekenanya dengan kertas minyak, di sini pelanggan akan mendapatkan kertas pembungkus yang unik dan cantik.

Nasi goreng dengan tampilan menggoda itu, dibungkus kertas minyak setebal kardus snack berwarna hijau yang bisa dilipat rapi dengan tambahan logo mereka.

Warung yang terletak di Jalan Jati Raya, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang itu selalu dipenuhi pelanggan. Didominasi driver pengantar makanan berbasis aplikasi yang sedang antre memesan nasi goreng.

Icip-icip Nasi Goreng

Saya pun berkesempatan menjajal menu adalan di tempat ini. Setelah menunggu cukup lama, satu piring nasi goreng bertabur topping babat, iso, limpa, dan paru terhidang di atas meja dan siap untuk disantap.

Tak ketinggalan acar mentimun dan kerupuk juga ikut menjadi kondimen pendamping.

Saat disantap panas-panas, rasa nasi goreng Keluh Kesah benar-benar nikmat menggoyang lidah. Perpaduan bumbu, nasi, jeroan sapi terasa pas. Jeroan pun termasak dengan baik tanpa meninggalkan bau ‘prengus’.

Tak terasa satu porsi nasi goreng dengan porsi lumayan jumbo itu tandas tak bersisa.

Dengan rasa dan kualitas sebaik itu, sangat wajar jika Warung Keluh Kesah mampu menghabiskan 35 kilogram nasi.

Satu porsi nasi goreng bertabur toping lengkap babat, iso, limpa, dan paru itu hanya dibanderol Rp22 ribu. Sangat terjangkau bukan? Sementara nasi goreng dengan dua toping dipatok Rp20 ribu.

Menu nasi goreng tanpa jeroan seperti nasi goreng ayam plus telur seharga Rp18 ribu, kemudian nasi goreng telur saja Rp14 ribu. Ada juga bakmi goreng, harganya Rp20 ribu.

Masyarakat yang ingin mencoba olahan tersebut bisa datang langsung ke warung, atau cukup memesan lewat aplikasi layanan pesan antar. Nasi Goreng Keluh Kesah dibuka mulai pukul 11.00 hingga 23.00 WIB.

Menantang Pandemi

Nasi Goreng Keluh Kesah ini didirikan oleh Rioatmoko di tengah pandemi Covid-19, tahun 2020 lalu. Pemiliknya harus meninggalkan pekerjaan di Yogyakarta karena pembatasan kegiatan saat itu.

Nama “Keluh Kesah” pun dipilih karena perwujudan dari keresahan. “Nama itu saya pilih karena memang kondisinya dulu sedang resah, saya dirikan saat pandemi,” ungkap Rioatmoko, Selasa (16/11/2021).

Awalnya dia hanya jualan di teras rumahnya, tetapi lama kelamaan ramai. Saking ramainya sampai Rioatmoko sungkan, merasa mulai mengganggu tetangganya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk merelokasi tempat jualan. Dari yang awalnya berlokasi di gang sempit, kini berdiri di sebuah kios yang cukup besar di pinggir jalan yang ramai.

Dia bersyukur karena usahanya kini berbuah manis. Warung mendatangkan berkah di tengah pandemi Covid-19.

Rioatmoko yang sempat menantang pandemi dengan nekat membuka usaha, kini tampaknya sudah bisa berjalan dengan gagah. Lelaki bertubuh gempal itu memenangkan “pertandingan”.

Andalkan Penjualan Online

Rioatmoko sudah benar-benar berdamai dengan keadaan. Dia tak melulu menganggap pandemi sebagai sebuah bencana. Justru sebaliknya, dianggap sebagai tantangan untuk terus berkarya dan meraih tujuan.

Dia bercerita, salah satu kunci suksesnya adalah bersedia untuk beradaptasi. Rioatmoko menjalanan bisnis dengan menerapkan kebiasaan baru (new normal).

Pola berjualan yang tadinya sempat mengandalkan pelanggan yang makan di tempat, kini didominasi penjualan online.

Dengan layanan pesan antar, dia tak memerlukan banyak tempat. Sekaligus mendukung upaya pemerintah memutus mata rantai penyebaran Covid-19 karena dapat mencegah kerumunan.

Salah satu mitra usahanya adalah GoFood, layanan pesan antar makanan milik PT Gojek Indonesia.

“Konsepnya memang online saya daftarkan. Sekarang penjualan nasi goreng saya 80 persennya dari online, ya termasuk GoFood itu,” ujar Rioatmoko.

Gojek sendiri mencatat sudah ada 1 juta mitra usaha kuliner yang memanfaatkan GoFood. Sebagian besarnya bahkan berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Tercatat 250 ribu mitra usaha baru bergabung di GoFood pada 2020, dan 43 persen dari mereka adalah pengusaha pemula,” ujar Co-Founder Gojek, Kevin Aluwi dalam keterangannya.

Terpisah, pada acara di Kota Semarang, Menteri Koperasi dan Usaha Keci dan Menengah RI Teten Masduki menekankan pentingnya digitalisasi di sektor usaha kecil dan menengah.

Apalagi, Teten memprediksi ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 akan menembus nilai US$124 juta atau kurang lebih Rp1.700 triliun.

“Sebelum pandemi UMKM kita yang terhubung ke seluruh ekosistem digital hanya 8 juta. Saat ini hanya dalam 1,5 tahun itu sudah 16,4 juta atau naik 105 persen,” imbuhnya. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.