in

Memahami Bisnis dari Lalu-lintas (Lihat 12 Hal Ini)

Kamu bisa memahami bisnis dengan memperhatikan lalu-lintas sehari-hari.

ilustrasi vector lalu lintas dan orang pegang google maps
BISNIS DAN LALU LINTAS. Metafora untuk memahami bisnis, bisa kita lihat dari lalu-lintas sehari-hari. (Credit: elenabs)

Sore itu saya naik motor, seperti biasa, ke rute yang saya belum pernah lewat. Sengaja ingin tersesat. Membawa perbekalan di jok, untuk kepentingan darurat, memastikan bensin full, dan tetap punya nomor kawan yang ada di desa sekitar tempat yang saya lewati. Semacam emergency call kalau ada masalah di sekitar situ.

Yang menyenangkan, punya kawan baru dan menemukan keadaan yang tidak ingin saya share di medsos. Terlalu berharga.

Rute baru bisa memicu pikiran pada sebagian hal yang mirip dengan rute yang pernah kita lewati. Saya setuju kalau berkendara di rute baru bisa membuat pikiran lebih cerdas. Ini menjadi bagian dari “seni mengamati” yang sering saya terapkan dalam proses menulis kreatif.

Sambil jalan, saya berpikir tentang metafora perjalanan sore itu dengan membangun bisnis. Rupanya, kita bisa memahami bisnis dengan mengamati lalu-lintas dan perjalanan.

1
Perjalanan mengenal jarak-tempuh berbeda

Misalnya, saya dari Desa D, kamu dari Desa D, sama-sama mau ke Kota X. Jarak tempuh berbeda. Atau dari titik sama, kalau rute berbeda, tentu jarak-tempuh berbeda.

Dalam bisnis juga demikian. Kamu mau mencapai apa, bagaimana kamu ke sana, dengan apa, tentu hasilnya berlainan dengan orang yang ingin mencapai tujuan sama.

2
Lebih menyenangkan, kalau perjalananmu tanpa lampu merah, apalagi tanpa rambu-rambu

Tetap ada aturan, walaupun di jalan sepi.

Melewati jalan yang belum banyak dirambah orang. Tidak banyak peraturan. Tidak perlu buang energi untuk menepatkan kecepatanmu agar sering berjumpa lampu hijau di perempatan.

Ketika membangun bisnis baru, jangan habiskan waktu untuk peraturan (jalan raya dan lampu merah) dan berkejaran dengan kendaraan lain (persaingan).

3
Sepi atau tidak, kamu tidak perlu berteriak, apalagi bunyikan klakson keras-keras

Ketika melaju, kita hanya perlu berkendara aman. Tidak perlu mengumpat pemakai jalan yang tidak laik-jalan (kendaraan mereka tanpa rem, mungkin nggak punya SIM).

Klakson yang kamu bunyikan dengan keras, tidak membuat lalu-lintas menjadi lancar, tidak membuat pengendara lain mengikuti perintahmu (kamu sedang menjadi pengendara, bukan sebagai polisi lalu-lintas).

Di jalan sepi, kamu boleh berteriak sesekali. Itulah enaknya jalan sepi. Kamu perlu berhenti sejenak, singgah di suatu tempat, kalau perlu. Perhatikan transisi. Dalam bisnis, transisi selalu terjadi. Peralihan. Di antara lampu hijau dan kuning, ada transisi (peralihan) berupa lampu kuning. Bisnis juga demikian. Dari aktivitas A ke B, pasti ada proses peralihan. Seperti “break” di antara pewaktu Pomodoro.

4
Iklan dan minta-perhatian, seperti gas dan klakson

Terlalu sering nge-gas dan membunyikan klakson, orang menandai kamu sebagai orang yang masuk jebakan kesibukan (hustletrap). Tergesa-gesa, bicara selalu tentang menjual dan keuntungan, menganggap orang lain sebagai “konsumen”, bukan sebagai manusia.

5
Tidak peduli merk kendaraanmu, tolong jangan halangi jalan..

Semewah apapun kendaraan kamu, orang tidak peduli bagaimana kamu membelinya. Cash atau kredit, curian atau hasil kerja, orang tidak peduli. Mereka bahkan tidak peduli urusan kamu. Kendaraan kelebihan muatan, jangan lewat sini. Kendaraan yang menghalangi jalan, berarti memperlambat pekerjaan orang lain. Orang tidak akan segan turun untuk memarahi kamu.

Pastikan kamu tahu peraturan dalam berbisnis. Jangan menghalangi perhatian dan jalan orang lain. Kamu bisa potong-kompas, namun jangan melawan arus di jalan searah. Jangan berjalan lambat di jalur-cepat.

6
Abaikan iklan di jalan

Abaikan reklame, tawaran di tengah jalan, jangan terganggu dengan baliho di kanan-kiri. Itu bukan tujuanmu, kalau sedang berkendara.

Dalam bisnis, waktu sangat berharga. Pemanfaatan waktu, harus efisien: sejam yang kita luangkan, apakah sepadan dengan hasilnya?

Timing, seperti dalam permainan catur, menentukan kemenangan. Kamu perlu menentukan prioritas, membuat time blocking, schedule, dan mengerjakan hal-hal “penting”, agar tidak terjebak hal-hal “mendesak”.

Hanya perhatikan informasi yang kamu perlukan, bukan informasi yang kamu inginkan.

7
Arus lalu-lintas tidak selalu mengarah ke tujuan yang kamu inginkan

Antisipasi itu penting. Antisipasi kemacetan, pengalihan arus, dan harus berhenti ketika ada ambulan atau damkar lewat.

Lihat informasi lalu-lintas terkini, cari kabar keadaan jalan “sekarang”. Kamu bisa lihat dari Google Maps, jalur mana yang merah atau kuning. Agar kamu bisa tempuh rute alternatif.

Banyak rencana bisnis harus berubah, karena tiba-tiba ada peristiwa politik, pandemi global, atau keputusan pemegang kepentingan. Ini seperti peralihan lalu-lintas mendadak.

8
Jangan terjebak pada bias “pengetahuan sopir”

Saya tidak mengejek profesi sopir. Bias “pengetahuan sopir” itu istilah.

Banyak sopir melewati kota-kota yang jauh dari rumahnya. Hanya singgah ketika makan, atau bermallam sebentar, lebih banyak ” hanya lewat”. Sepanjang jalan ia melihat perkembangan kota-kota itu, namun sebatas pada jalan yang ia lewati. Atau melakukan percakapan dengan warga asli di situ, sebentar saja, infonya sekilas saja.

Namun orang yang berpergian jauh, sering menceritakan kesan yang ia dapatkan itu sebagai informasi terpercaya.

Tidak semua sopir seperti itu.

Banyak kawan saya yang terjebak dalam “pengetahuan sopir” seperti ini. Mereka merasa sudah mengerti algoritma, hanya dengan baca artikel dari orang yang menulis kredensial sebagai ahli SEO. Percaya pada kata ahli, meniru ahli, tidak lantas menjadikanmu ahli. Keahlian membutuhkan jam terbang, belajar 5-8 jam sehari, dan langsung mencoba. Bukan sekadar mendengar dan berbicara.

9
Mengikuti mobil lain, bisa membuatmu tersesat.

Kalau kamu dari Cepu, ke arah Barat mengikuti mobil plat H, belum tentu mobil itu ke Semarang. Bisa jadi ia belok ke Utara, menuju kota Rembang.

Jangan mengikuti bisnis orang lain, hanya karena kamu menebak hasilnya. Banyak orang terbuai dengan iming-iming simulasi “untung 300% per bulan”, melihat screenshot, dashboard, dan info saldo. Jangan meniru pola orang lain, terpaksa bergabung dengan orang lain. Sampai kemudian kecewa ketika cara itu tidak berhasil. Tentukan sendiri. Riset sebelum buat keputusan.

10
Isi bahan bakar dan periksa kondisi kendaraan

Dalam bisnis, jangan berhenti belajar. Itulah antisipasi paling berharga, pemakaian waktu yang bermanfaat untuk kamu dan manusia lain. Belajar dari ahli, lakukan riset. Belajar dengan pengalaman. Bukan sekadar belajar dari pengalaman.

Kalau sudah berkomitmen menjadi penulis profesional, masalahmu bukan lagi “teknik menulis”. Itu masalah “penulisan”, bukan masalah “menulis”. Yang menjadi masalah “menulis” justru banyak membaca, selalu riset, dan mengamati sekeliling.

11
Perhatikan hak-jalan orang lain

Itu tidak akan memperlambat jalanmu. Ingatlah, kamu sedang berkendara bersama pengendara lain.

Dalam banyak hal, bisnis itu aktivitas outsourcing. Kamu memproduksi sesuatu, tidak sendirian, bahkan jika kamu menjual keahlian. Kamu promosi, melibatkan banyak pihak. Ini zaman outsourcing. Zaman lintas-disiplin, zaman orang memainkan peran, berbagi, bekerjasama.

12
Peta tidak sama dengan wilayah

Kamu perlu peta. Itu memberimu banyak keuntungan. Sebaiknya, kamu custom peta ini. Pakai saja Google Maps.

Peta memberikan petunjuk, rute yang bisa kamu tempuh. Peta hanya abstraksi, menyimpan detail tersembunyi. Hebatnya sebuah peta, kamu bisa menambahkan penanda dan informasi sendiri. Kamu bisa melingkari di mana harta karun tersembunyi. Kamu bisa membuat berlapis-lapis kebutuhan dalam 1 peta. Ada peta sumber daya, peta lokasi musuh, peta bencana, dan peta lahan kosong yang bisa kamu jelajahi.

Dalam bisnis kamu harus punya petamu sendiri. Yang selalu kamu update.

Sekarang, saya sedang singgah di tempat, untuk ketemu kawan-kawan baru dan siap mendengarkan cerita mereka. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.