in

Menulis Catatan Perjalanan untuk Instagram dan Vlog

Panduan menulis catatan perjalanan untuk Instagram dan vlog.

Apakah “perjalanan” (journey) itu?

Menyusuri rute. Menemukan kejutan yang tak-diharapkan. Menempuh resiko yang dikatakan asumsi lama, mencapai cara-pandang baru. Menikmati perjalanan. Melepaskan diri dari rutiniitas, atau “off the grid”. Proses. Mengenal orang lain, budaya lain. Mendapatkan pengetahuan baru.

Serendipity

Perjalanan baru menyenangkan kalau menemukan “serendipity”, atau kejutan di luar perkiraan, apalagi jika ada resiko di luar buku panduan yang berhasil kamu atasi. Akhirnya, ada cara-pandang baru tentang perjalanan kamu. Perjalanan adalah “proses” dan mencapai kedalaman pengalaman menurut versi kamu sendiri. Kehidupan berjalan seperti itu. Apa yang ditawarkan sekolah dan pekerjaan, ternyata tidak seperti yang kita harapkan, sehingga, seseorang menemukan kesan dan pengalaman yang berbeda-beda.

Seperti cerita-cerita Disney, semua orang bisa terpisah dari keluarga, rutinitas, menempuh perjalanan, lalu menemukan diri yang baru, kembali lagi ke rumah. Perjalanan sangatlah penting.

Pemandu Asing

Tempat disebut keren kalau membuat orang ingin datang ke sana lagi. Kebanyakan blogger dan vlogger, hanya menampilkan perjalanan dari sisi visual saja. Nyaris tanpa kedalaman. Tidak jarang mereka memilih menyisipkan musik ilustrasi daripada “bercerita”. Kamu bisa bisukan tayangan video yang hanya mengandalkan visual.

Datang, sebagai orang asing, tanpa memberikan informasi baru. Kalimat seperti “Penasaran!? Ayo kita datang ke sini..” yang diajarkan jurnalisme televisi yang sering hanya datang sekejap itu, menjadi “opening” yang tidak mencapai kedalaman.

Penonton (atau pembaca) melihat kilasan, mendengar pembacaan-ulang brosur dan apa kata orang setempat, bahkan sering tanpa pengujian-silang. Kata seperti: “konon..”, “ada yang bilang..”, “menurut informasi penduduk setempat..”, “dalam sejarah disebutkan..” sering disampaikan untuk membuat orang percaya.

Orang yang datang selalu diposisikan sebagai orang asing, yang diberitahu orang asing. Berapa lama mereka berada di situ sebelum melakukan liputan? Sedekat apa mereka dengan tempat itu? Jadi, apakah kamu pernah meragukan liputan seperti ini sebagai produk jurnalisme yang layak diikuti?

Mengubah Sejarah

Tanpa catatan perjalanan, tidak ada catatan sejarah yang menceritakan manusia lain, budaya lain. Kompilasi laporan dalam the History of Java dari Raffles, the Origins of Species Charles Darwin (yang menuliskan bagaimana burung bermigrasi dan hewan tersenyum), laporan Aceh dan Perayaan Mekkah dari Snouck Hurgronje, serta Religions of Java dari Clifford Geertz, adalah bentuk tulisan panjang yang menjadi pintu pembuka studi lebih lanjut, yang berbentuk catatan perjalanan.

Jika sebuah laporan perjalanan membuat orang pembaca merasakan pengulangan yang sama, foto yang sama, dan kedalaman analisis yang sama, berarti tulisan itu tanpa melalui pendekatan riset yang memadai.

Banyak tulisan perjalanan yang menceritakan “fisik” suatu tempat atau kota, namun melupakan “chemistry” di dalamnya. Kesamaan laporan perjalanan, sering terjadi. Misalnya, kalau berbicara tentang Kota Lama Semarang, selalu yang diceritakan adalah view yang “amazing” dan spot foto yang “instagrammable“. Padahal kalau mau berhenti sejenak, banyak keajaiban di Kota Lama Semarang. Kalau mau melihat komunitas seni, yang rutin berlatih dan mengadakan pertunjukan, Kota Lama Semarang menjadi alternatif menarik.

Sejarah gedung, arsitektur, yang bisa kita dapatkan dari brosur wisata, masih kalah dibandingkan dengan kalau kita mau berdialog dengan manusianya. Berdialog dengan manusia, mengenal lebih dekat, sering terabaikan, dibandingkan dengan view yang instagrammable.

Catatan perjalanan bisa menjadi semacam medium perkenalan antara kesan (impression) yang kamu rasakan, agar orang lain bisa merabanya, sebelum mereka mendengar penjelasanmu, membaca perjalananmu, atau menonton foto/video kamu.

Berikan pertanyaan bebas, namun jangan memaksakan jawaban. Kamu bisa bertanya, “Adakah makanan yang lebih murah lagi? Adakah penginapan yang lebih mahal dari ini? Siapa yang bikin tempat ini awut-awutan? Mengapa pengembangan tempat ini sangat lamban? Adakah pijat plus di sini?

Pertanyaan bebas (ini berarti acak), bisa mengarahkanmu kepada “petualangan” yang terlepas dari buku panduan.

“Perjalanan Saya Bermasalah”

Beberapa kawan, mengaku tidak bisa bercerita ketika melakukan liburan perjalanan. Biasa saja, hanya pantai atau pegunungan. Sebaliknya, mereka baru bisa bercerita ketika pertanyaan saya ganti, “Apakah perjalananmu di sana bermasalah?” atau “Apa bedanya dengan tempat lain?”. Mereka menyampaikan harapan, “seandainya..”, dan menjadi guide yang hebat.

Pengalaman buruk, harapan, dan bagaimana kamu mengatasi masalah, adalah keseruan tersendiri.

Bagi para pendaki gunung dan penggemar petualangan alam, tidak ada medan yang sama. Mereka punya banyak cerita yang tidak ada di buku panduan. Mereka tidak sekadar “menikmati” alam. Mereka mengalami panas-dingin, mendengarkan “suara gunung”, melihat hantu, tersesat dan dipandu seekor burung kecil, berbagi perbekalan, berkenalan dengan pendaki lain, melihat tanaman unik, atau melihat matahari yang “berbeda”.

Panduan yang kamu bawa, atau search dari Google, akan sangat berbeda jika kamu berani melepaskannya. Kejutan sering berawal dari apa yang tidak ada di panduan.

“Saya mau mencari tempat yang bebas-iklan,” begitulah kalimat yang selalu saya pikirkan setiap berada di suatu tempat. Saya ingin tempat tanpa label, tempat yang orang-orang tidak mengerti seperti apa riwayatnya.

Perjalanan sebagai Kilas-Hidup (Nostalgia)

Kilas-hidup berarti nostalgia. Ada episode dalam hidupmu yang bisa “terulang” atau “terkenang” dalam perjalanan ini.

Menuliskan perjalanan naik kereta api, jika pernah, akan membangkitkan pengalaman dan kenangan naik kereta api. Begitu pula menyusuri pantai, naik gunung, dll.

Menuliskan catatan perjalanan, berarti menuliskan pengalamanmu sendiri.

Menuliskan catatan perjalanan, berarti menceritakan “sejarah” ruang dan waktu, menceritakan manusia.

Menulis Perjalanan sebagai Berita-Cerita

Catatan perjalanan selalu menarik untuk disampaikan sebagai feature (berita-cerita).

Gunakan seluruh kemampuan indera untuk menjalin “emosi” pembaca.
Mata dapat diwakili dengan foto, audio dan emosi bisa diantar dengan video, dan keterlibatan orang bisa direkam, disajikan dalam tulisan panjang.

Narator Asing

Ada kalimat di iklan Visa, “Ketika kamu berjalan-jalan ke tempat asing, kamulah orang asingnya.”. Namun saya sering melihat tayangan video vlog di YouTube, di mana narator mengalami “inferrior complex“, terlihat dari sedikitnya data yang mereka gali, ditutupi dengan humor dan data yang diambil dari referensi yang sudah banyak dibaca orang.

Coba lihat lagi, siapa vlogger lokal yang memberitakan lokalitas? Siapa yang dengan kesungguhan menghasilkan temuan baru? Akhirnya terpilih jalan pintas: memberitakan keindahan alam (yang sudah ada) dan kuliner “tanpa” sejarah.

Solusi mengatasi masalah ini, adalah dengan sungguh-sungguh belajar fotografi, videografi, dan bagaimana menuliskan catatan perjalanan.

Jadi, pertanyaan pertama dalam catatan perjalanan adalah, “Siapakah -saya- dalam laporan ini?”.

Apakah kamu narator sebuah cerita? Berlagak seperti guide yang paling kenal tempat yang kamu lewati di antara para pembaca, padahal sebenarnya hanyalah orang asing yang beberapa jam berada di situ? Ataukah orang yang baru pertama kali datang ke sini yang berawal dari ketertarikan melihat foto di Instagram? Pemburu gambat dan video yang ingin mendapatkan subscriber? Orang yang diam-diam sedang membujuk pembaca untuk hanya melihat fotomu yang keren? Seseorang yang ingin membuka mata publik tentang realitas yang belum diungkapkan orang lain? Siapa dirimu, menentukan seperti apa tulisan perjalananmu.

PERTANYAAN AWAL. Siapakah “saya” dalam catatan perjalanan ini? Tentukan, sebagai siapa kamu menulisnya. (Credit: Instagram @tamanmerah)

Theme dan Mood

Theme itu “suasana” perjalanan. Menceritakan perjalanan wisata “ziarah walisongo”, tentu berbeda dengan perjalanan wisata ke Gunung Bromo. Apakah ini perjalanan mencari jejak sejarah, studi, mengenal budaya orang lain, atau “just for fun”. Tentu saja bisa digabungkan seperlunya.
Mood lebih mirip atmosfer yang berubah-ubah selama melakukan perjalanan, misalnya: sekarang menapaki medan berat, sejam kemudian menikmati makanan khas, lalu kedinginan di malam hari. Mood bisa mengubah perjalanan menjadi seru. Di sini, kamu perlu menceritakan “kejutan” (di luar rencana dan perkiraan), bagaimana bertahan-hidup (survive), dan sisi mana yang jangan terlewatkan. Cobalah keluar dari “buku panduan”. Baca dan dengarkan apa kata orang lain, namun carilah sisi yang belum terjelaskan di situ.

Berkenalan dan Menyingkap

“Kalau kamu memperkenalkan suatu desa, kepada orang lain yang belum pernah berkunjung ke sana, dalam bentuk 10 foto, atau video berdurasi 2 menit, apa saja yang akan kamu tampilkan?”.

Saya mengajukan pertanyaan itu kepada 20 orang fotografer. Mereka tidak punya jawaban pasti.

Teknik mereka memotret, sangat bagus dan sering melakukan perjalanan, namun kurang membekali diri dengan pengetahuan tentang sosiologi sna antropologi. Seperti apa masyarakat di sini? Bagaimana manusia di dalamnya? Kedua pertanyaan itu sering terlepas (kurang memdapatkan perhatian) dari konteks dalam meliput perjalanan wisata.

Tentukan Permulaan, Perkirakan Durasi

Setiap melakukan perjalanan, tentukan titik-mula. “Perjalanan ini dimulai dari mana?”. Sebagaimana cerita yang menarik, gunakan formula “sedekat mungkin dengan ending”. Jelaskan, dalam ringkasan atau pembukaan, rute mana saja yang akan kamu lewati.

Kalau punya titik-mula, gunakan “timer” (pewaktu). Tanpa “timer”, orang akan kelelahan mengikuti maumu.

Memperkirakan durasi berarti membuat antisipasi, memiliki rencana, dan memberikan “janji” tentang perjalanan ini.

Tentukan, misalnya, mulai dari sisi Utara Kota A, selama 12 jam, berkeliling. Dengan cara ini, orang bisa mengukur, selama 12 jam di kota itu, bisa dipakai untuk apa saja. Ini disebut “wisata durasi”. Mencari waktu-luang atau liburan itu sangat susah, jadi, hargailah waktu mereka. Orang akan suka jika kamu beritahukan bahwa dalam 6 jam mereka bisa singgah di 3 tempat, atau belajar sesuatu yang baru di situ.

“Wisata durasi” menjadi andalan travel agency dengan paket yang bermacam-macam.

Selama melakukan perjalanan, buatlah “rapid log“, yaitu baris-baris catatan singkat tentang urutan yang kamu jalani. Tidak perlu menulis sambil berjalan, karena justru itu akan mengganggu nikmatnya perjalanan. Nanti kalau ada waktu, barulah kamu menguraikan “rapid log” itu. Untuk mengingat apa yang telah terjadi, selain “rapid log“, ambil foto seperlunya. Dari foto, kamu bisa melihat tanggal dan waktu, untuk melengkapi catatan.

Di tengah perjalanan, berikan peringatan kepada diri-sendiri, bahwa ini masih separuh dari seluruh perjalanan.

Tidak semua tempat harus kamu kunjungi. Atau mungkin ada yang kamu lewati. Ada baiknya bertanya, adakah tempat yang kamu lewati. Ini bisa membuka perbincangan lebih panjang dengan pembaca. Atau jika sengaja tidak mengunjungi, sampaikan mengapa kamu melewatinya.

Bisa jadi, perjalananmu ini bukan perjalanan wisata sejarah, bisa jadi hanya acara belanja produk lokal dan menikmati pemandangan.

Penyebutan “yang lain” (kota atau tempat lain), bisa memberikan hubungan fisik dan emosional. Singkatnya, tidak ada salahnya kamu menyebut tempat lain, bukan hanya yang sedang kamu kunjungi.

Misalnya, menyebutkan bahwa tempat ini. memiliki kesamaan ritual dengan tempat lain, tidaklah masalah. Hanya saja, sebaiknya jangan menanamkan “inferior complex” seperti ketika menyebutkan suatu kota sebagai kota yang nggak kalah keren dengan sebuah kota di Eropa atau Amerika. Setiap tempat memiliki keunikan.

Sampaikan Tujuan Perjalanan

Ini menjawab pertanyaan “mengapa” dan “untuk apa” (what for) kamu melakukan perjalanan ini.
“Saya datang ke tempat ini untuk melihat ritual dugderan setahun sekali di Semarang.”

Saya Punya Peraturan Perjalanan

Perjalanan yang kamu lakukan, pasti memiliki “aturan” tersendiri. Carilah mana yang “tidak”, mana yang “harus”, dan mana yang “menantang”.
Buatlah daftar-peraturan untuk diri-sendiri, yang umum, yang bisa kamu pakai di perjalanan apa saja.

Peraturan itu misalnya begini:

  • Hindari kemacetan
  • Tidak makan di restoran atau kafe yang punya cabang di mana-mana. Tidak memprioritaskan makanan instan. Siapkan selalu makanan dan minuman darurat.
  • Coba jalan baru, jika sudah pernah datang ke sini
  • Berhenti sebelum gelap, biar mudah singgah dan dapat foto bagus.
  • Selalu mencatat dan merekam yang terpenting.
  • Lebih mengenal manusia lain dan lebih banyak belajar sambil-jalan.

 

kuliner-bubur-7-rupa-lasem
5 TITIK. Terdapat 5 pusat perhatian dalam catatan perjalanan: kuliner, manusia, pergerakan (perpindahan), tempat, dan tontonan. (Credit: Instagram @tamanmerah)

Daftar-Periksa Rahasia

Kemudian saya membuat daftar pertanyaan yang bisa kamu pakai dalam memperkenalkan suatu tempat.

Deskripsikan rute ke tempat ini.

Bedakan antara peta dan rute. Peta memperlihatkan tempat lain, berada di dekat apa, dan jalan-alternatif. Rute merupakan jalur yang kamu tempuh, dari titik A ke B. Rute merupakan pilihan, sebab mungkin ada rute lain. Jika mau praktis, aktifkan GPS di kompas atau Google Maps.

Jika tidak ada koneksi, deskripsikan rute ini dan berikan tanda koordinat kalau nanti dapat koneksi. Maps bisa memuat rute. Sedangkan rute, perlu kamu deskripsikan.

Sematkan dalam tuliskan atau cantumkan koordinat GPS. Buat beberapa titik yang kamu singgahi.

Apakah kamu sudah melakukan location scouting?

Sebelum perjalanan, kalau perlu. Lihat, siapa saja yang pernah ke sini? Bagaimana orang lain memotretnya? Saya membuat panduan location scouting untuk fotografi Instagram.

Bagaimana pemandangan di sini?

Fotomu perlu memperlihatkan seperti apa cuaca di sini. Cuaca adalah segalanya. Cuaca menentukan kapan orang panen, bagaimana mereka berpakaian, apa makanan mereka, bentuk rumah, sampai bagaimana cara mereka bertahan-hidup.

Di mana pusat perhatiannya?

Kamu singgah untuk mencari pusat-perhatian. Apakah itu pasar souvenir? Sebuah rumah-ibadah? Upacara adat yang hanya berlangsung 20 menit? “Pusat perhatian” (bukan pusat keramaian) memperlihatkan apa yang penting bagi mereka. Pusat perhatian adalah “nilai”, cerita, interaksi manusia dengan alam, dan yang paling dicari.

Bagaimana mereka bertransaksi?

Apakah manusia di sini mikirin uang melulu ataukah menolong sebisanya?

Saya pernah mengalami pengalaman buruk beberapa kali tentang bagaimana orang bertransaksi di tempat wisata.

Ceritanya, saya datang bersama seorang kawan, untuk menikmati pemandangan dan ingin “tidak melakukan apa-apa”. Datang seorang pedagang asongan. Saya tidak tertarik sama sekali dengan dagangannya, selain itu, saya memang ingin menjauh dari keramaian. Karena terus mendesak, saya memberinya uang Rp10.000, “Saya sedang ingin menyendiri. Saya tidak ingin membeli makanan itu. Uang ini bawa saja.”.

Pedagang itu menjawab, “Saya berjualan, bukan meminta-minta. Tolong beli dagangan saya.”. Kawan saya bertanya, “Ya sudah, itu uang 10 ribu dapat apa?”. Pedagang itu memberikan 3 bungkus jajanan tradisional yang nggak sehat, “Ini harganya 4 ribuan, tinggal nambah 2 ribu, pas.”.

Saya tidak punya pecahan Rp2.000. Saya berikan Rp5.000, “Sudah, kembaliannya ambil saja.”. Makanan itu saya taruh, tidak saya sentuh setelahnya. Pedagang itu pergi. Lalu datang pedagang lain, “Beli dagangan saya juga, Mas. Biar merata.”.

Saya sudah tahu sejak awal trik seperti ini. Kejadian itu saya rekam. Transaksi menunjukkan seperti keberadaban tempat itu.

Apakah “recommended“? Ataukah justru cerita buruk yang akan menyebar? Sebagai “orang asing”, kamu harus bisa bertahan hidup di tempat asing.

Kekuatan apa yang membuat kamu tertarik mendatangi tempat ini?

Seringnya, orang datang karena “cerita” dan “visual”. Sebaiknya, kamu datang bukan untuk membuktikan, agar tidak kecewa. Orang yang datang tanpa cerita bombastis, justru tertarik untuk datang-kembali.

Kalau mencari “apa uniknya perjalanan ini”, bisa kamu awali dengan pertanyaan “mengapa tempat ini saya pilih”. Apakah memang unik? Apakah untuk menyingkap apa yang selama ini belum mereka lihat? Seperti suatu fotografi, kadang menariknya bukan pada kebaruan, melainkan pada detail.

Apa fungsi tempat ini bagimu?

Setiap tempat memiliki fungsi. Berikan selalu, pertanyaan untuk diri-sendiri, “Apa fungsi tempat ini?”. Ibarat sebuah cerita, pasti ada “mood”, “tension”, “konflik”, dan “suasana” yang bisa dirasakan di sana. Misalnya, kamu di tengah suatu kota, tentu kota ini tidak selalu memiliki fungsi sama dengan kota lain. Pasti ada yang berbeda, yang unik. Berikan satu kalimat yang menjelaskan, apa fungsi kota ini bagimu.

Sebuah tempat yang kamu singgahi, bisa menjadi: kesenangan, terapi, membangkitkan kenangan pribadi, atau “mesin waktu” (bisa ke belakang atau ke depan).

Sampaikan secara singkat, apa fungsi tempat ini. Biasanya, akan menjadi bahan judul menarik. Misalnya, dengan melihat posisi, kelengkapan arsitektur, dan kesejarahan Kota Lama Semarang, kamu bisa menggambarkannya dalam judul catatan perjalanan, “Kota Lama Semarang – Mesin Waktu Sejarah Kolonialisme”.

Apa yang tak terlihat?

Tujuan menulis dan seni, hampir sama: membuat orang lain “melihat”. Prinsipnya, gunakan semua indera. Jangan hanya dengan mata. Tidak semua hal bersifat _tangible_. Ada yang tak-terlihat, ada yang dirasakan namun tersembunyi. Atau sebenarnya terlihat, namun membutuhkan pengamatan mendalam.

Mulailah dengan mengamati dan bertanya. Mencari hubungan.

Kalau dalam kasus Kota Lama Semarang, kita bisa bertanya, “Acara apa yang tidak boleh diadakan di sini?Komunitas apa saja yang giat mengadakan acara di sini? Urban legend apa yang dipercaya orang di sini? Adakah kehidupan “bawah-tanah” (underground) yang tidak diketahui orang?”. Dari pertanyaan seperti ini, akan muncul tulisan tentang bukti adanya “benteng bawah tanah” di Kota Lama Semarang, sumur yang tak pernah kering, bagaimana nasib anak-anak kecil di sekitar kompleks ini, dst.

Bagaimana cara mereka bertahan-hidup?

Bertahan-hidup memiliki arti luas. Pertanyaan ini datang ketika saya asing dengan cara mereka hidup. Mengatasi cuaca dingin, jarak-tempuh jauh tanpa motor, atau desa tanpa pasar, misalnya, bisa menjadi bahan menarik dalam menceritakan perjalanan.

Souvenir apa yang bisa saya bawa pulang?

Perjalanan membutuhkan validasi, bukti. Entah itu cindera-mata, kerajinan, sobekan tiket, kartu sarapan di hotel, dll. Foto dan nomer WA, tidak termasuk dalam souvenir.

Pengetahuan apa yang bisa saya dapatkan?

Resep masakan apa yang bisa saya bawa pulang? Bukan hanya souvenir. Pengetahuan yang kamu dapatkan, juga sangat berharga dalam perjalanan.

Bisakah saya menuliskan panduan singkat?

Pengalaman beberapa jam atau wawancara, bisa menghasilkan panduan singkat, untuk perjalanan serupa, atau keahlian tertentu yang sangat berharga. Panduan ini bisa menjadi “insert” tersendiri, dalam tulisan, misalnya: Bagaimana tata-cara adat dalam perayaan ini? Bagaimana cara ikut workshop membuat souvenir? Bagaimana cara memasak menu ini?

Apakah tempat ini memiliki sonic profile?

Suara bisa mengingatkan kenangan orang. Suara memiliki kekuatan dahsyat. Jangan tergesa-gesa “menghapus” suara asli dengan musik lain. Kalau perlu, buatlah rekaman-suara khusus dari tempat itu. Tampilkan sebagai audio tersendiri.

catatan-perjalanan-rute
TERUS BERGERAK. Selalu mencatat dan merekam, tanpa kehilangan moment. Kalau ada waktu, baru tuliskan detailnya. (Credit: Instagram @tamanmerah)

Masih banyak pertanyaan lain.

  • Peraturan apa yang tidak boleh dilanggar di sini?
  • Adakah ritual sakral, perayaan, dan tempat yang diagungkan di sini?
  • Lambang, logo, brand lokal, yang mengingatkan orang terhadap tempat ini?
  • Tempat yang masih alami, terjaga, pernah dikonservasi, atau justru rusak?
  • Bagaimana pakaian dan cara mereka berpakaian?
  • Apakah mereka menciptakan sesuatu?
  • Seperti apa transportasi mereka?
  • Bahasa yang mereka pakai? Adakah dialek dan kosakata lokal yang menarik?
  • Siapa saja para penghuni istimewa di sini?
  • Di mana mereka berkumpul?
  • Bagaimana mereka memanfaatkan ruang publik?
  • Seperti apa langit malam di sini?
  • Apakah saya memiliki hobi yang terpuaskan di sini?
  • Apakah saya akan kembali ke sini?

Tentang Foto dan Video

Buat foto/video yang “menyesuaikan” subject yang sudah kamu tentukan. Misalnya, jika gerak, poteretlah dengan gerak.

Foto kamu pasti memiliki genre tersendiri, misalnya: Abstrak, gerakan, arsitektur, anak-anak, dokumenter, street photography, konseptual, lanskap, makro, manusia, malam hari, alam, dan potret.

Simpan selalu foto asli. Setiap foto berisi data teknis, detail exif/metadata, dan logistik (rute).
Mengunjungi pantai tidak hanya mengabadikan pemandangan pantai tetapi juga melihat kehidupan manusianya.

Mari melakukan kembali perjalanan dan menuliskan catatan. [dm]

——-
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.