in

Betapa Berat Menjadi Togog

Betapa beratnya mendapatkan tugas dari Langit untuk menjadi panakawan bagi para ksatria jahat di Bumi. Ada yang mau?

Semar tidaklah demikian. Semar mendapatkan misi mengawal para ksatria berwatak putih. Belum apa-apa, semua orang mengakui kalau Semar itu dewa (bernama Ismaya) yang menyamar sebagai rakyat biasa. Ia berada pada titik siklikal: rakyat jelata titisan dewa, sekaligus kesaktiannya di atas para dewa yang lain. Bahkan gambaran fisik semar, dideskripsikan tidak seperti lelaki tidak pula seperti perempuan, wajahnya pucat karena banyak tirakat dan tidak bergantung kepada dunia. Tidurnya mengetahui perguliran jagat raya, ditakuti para lelembut, dan di mana Semar berpihak kemenangan akan datang.

Tentu saja, yang seperti Semar, dalam kehidupan manusia, tidaklah pernah ada.

Adik Togog yang lain, menjadi Bathara Guru, rajanya para dewa dalam pewayangan Jawa, punya tugas mengatur apa yang terjadi di mayapada.

Bathara Guru tidak bisa berjalan, berdiri di atas Lembu Andini. Bathara Guru sering menerima hasutan dan laporan palsu dan salah menghukum manusia di Bumi.

Pemerintahan yang dijalankan Bathara Guru, berdasarkan paseban, pasewakan. Menerima laporan dari bawah, yang lebih banyak bilang, “Keadaan baik-baik saja..”. Senyatanya, tidak demikian. Kalau keadaan terasa tenang, selalu saja ada “masalah”, konflik yang sengaja diciptakan. Yang paling sering, jika ada protes dari Bathara Kala dan Bethari Durga.

*) Entah mengapa, di pewayangan Jawa, sosok Bethari Durga diidentikkan dengan kejahatan dan sifat buruk, sementara Bathara Kala yang menguasai keseimbangan waktu, juga berada di kawasan yang sama: sering protes tentang hak dan salah membaca sejarah.

Setiap ada masalah, misalnya ketika Kahyangan diserang Raksasa atau anak-anak Pandawa diserang, selalu mengandalkan bantuan pihak luar Kahyangan, lalu memberikan hadiah. Manajemen konflik dengan biaya boros.

Sekali tempo, Bathara Guru dan Naraddha blusukan ke muka bumi, dengan cara menyamar sebagai Pendeta sakti atau menjadi raja gadungan untuk menguji para ksatria, namun sering dikalahkan oleh Semar atau anak-anak Pandawa yang rajin mengalahkan para dewa.

Lagi-lagi, Semar menjadi pemenang. Di mana-mana orang memasang gambar Semar, Sang Pamomong para ksatria. Tidak sekali dua kali Semar memperingatkan para ksatria, namun selalu dengan ending tanpa-kekalahan, bersama ketiga anaknya.

Berbeda nasib dengan Togog. Apa kata Togog, entah itu memperingatkan dengan sejarah atau dengan imbauan moral, tetap saja tidak didengarkan. Togog lebih sering diusir, lebih memilih “mengalah” dari kesombongan momongannya dan mau balik ke desa menjadi bukan orang-dekat para penguasa.

Togog sejak awal turun ke bumi, sudah diberi misi tersebut. Togog nyaris tak pernah diceritakan marah kepada momongannya, apalagi sampai mengeluarkan kesaktian yang membuat kredibilitasnya diakui orang-lain.

Togog setia kepada misi utama: menyamar untuk mencapai keseimbangan.

Jangan sampai yang jahat semakin jahat, jangan sampai yang benar bersikap sewenang-wenang karena memang sedang benar, atau hanya merasa benar.

Tidak jarang, kita melihat konflik di media sosial itu sudah melampaui verifikasi fakta. Mereka mencari “sebenarnya bagaimana”, kemudian mengarah kepada “siapa yang benar” untuk “merasa benar sendiri”. Akhirnya, kebenaran (sementara) menjadi kesewenang-wenangan. Tidak lagi menyadarkan, tidak memaafkan, tidak mengajak menjadi benar bersama.

Penonton lebih suka kepada heroisme anak-anak Pandawa yang menghajar Kurawa. Penonton lebih suka melihat Bathara Guru dan para dewa dikalahkan Semar dengan statusnya yang levelnya di atas para dewa.

Nama Togog sudah jarang disebut dalam pentas wayang kulit. Togog menjadi karakter yang kurang menghibur di tengah permainan wayang kulit hang durasinya sangat padat untuk hiburan dan pesan sponsor. Belum lagi, memainkan karakter Togog itu membutuhkan keterbukaan dalam mengkritik.

Betapa sering, dengan mudahnya orang menganggap orang yang berposisi sebagai Togog, yang berada di pihak “lawan” sebagai sepenuhnya salah. Mereka tidak tahu, menjadi Togog belum tentu pilihannya sendiri. Mungkin menjadi Togog menjadi bagian dari “keseimbangan” dan “permainan”. Pandawa punya Krishna dan Semar yang juga selalu mengingatkan, namun cenderung dianggap benar.

Padahal tanpa Togog, dunia bisa kacau. Jika orang yang dianggap salah, tak lagi diingatkan, jangan-jangan orang itu yang ngotot mau benar sendiri.

Jika tidak ada informasi dan pengakuan dari lingkaran orang jahat, atau tanpa pengakuan iblis, jangan-jangan malah mirip 5 orang buta yang meraba seekor sapi? Jika tidak tahu bahwa yang salah itu salah, bisa jadi tidak tahu kalau yang benar itu belum tentu benar. Hanya merasa benar.

Kalau di antara jahatnya Kurawa ada keluguan Togog yang selalu mengalah, di Pandawa ada Krishna yang sebenarnya kejam dan Semar yang tak boleh disalahkan siapapun. Pantas saja jika demikian, lebih banyak orang tidak lagi merindukan kehadiran Togog, panakawan yang bersedia mendampingi pihak-jahat demi keseimbangan jahat raya.

Sedangkan seorang Togog, semulia apapun misinya, sudah sejak awal dipertanyakan, disalahkan.

Mari belajar kembali dari pewayangan. Kekuasaan di Kahyangan tidak bisa dijalankan dengan paseban dan pasewakan yang penuh laporan palsu dan anak (Bathara Kala) yang menuntut hak dengan kekuasaan bapaknya (Bathara Guru). Bahwa selain Semar, ada Togog yang juga mengingatkan pihak-jahat demi mencegah terjadinya kerusakan dan peperangan yang sia-sia.

Agar yang terdengar bukanlah egoisme, bukan konflik horisontal, bukan paksaan untuk memihak.

Mengapa kamu mendukung lawanku? Mengapa kamu berdiri di pihal yang salah? Mengapa kamu tidak menyeberang ke pihakku saja? Mengapa kamu tidak memilih saya? [dm]

——-
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.