in

Menilik “Tiga Blok M” Hutan Mangrove di Pesisir Semarang Seluas 80 Hektare

Hutan mangrove terbentang di pesisir Kecamatan Tugu, Kota Semarang. (istimewa)
Hutan mangrove terbentang di pesisir Kecamatan Tugu, Kota Semarang. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Kota Semarang memiliki ekosistem mangrove yang cukup luas. Di kawasan pesisir ujung barat kota ini terdapat hutan mangrove seluas kurang lebih 80 hektare yang dikenal sebagai “Tiga Blok M”.

Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Sudharto P Hadi yang juga pakar lingkungan menyebut, “Tiga Blok M” tersebut meliputi hutan mangrove di Mangkang Kulon, di Mangunharjo, dan di Mangkang Wetan.

Secara geografis, tiga wilayah kelurahan yang berawalan huruf “M” tersebut masuk dalam lingkup Kecamatan Tugu, Kota Semarang, salah satu kelurahan itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

“Hutan mangrove seluas 80 hektare ini di dalamnya terdapat sekitar 27 spesies mangrove,” ujarnya saat menghadiri lokakarya yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di pesisir Semarang, Rabu (24/7/2024).

Prof. Sudharto mengatakan, terbentuknya hutan mangrove ini tidak bisa terlepas dari peran inisiasi Sururi–warga setempat yang tahun 2024 ini mendapat penghargaan Kalpataru pada kategori Perintis Lingkungan.

“Apa yang dilakukan Pak Sururi menjadi rujukan orang yang mau belajar menanam dan merawat mangrove,” jelas mantan Rektor Undip itu.

 

Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Sudharto P Hadi. (baihaqi/jatengtoday.com)
Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Sudharto P Hadi. (baihaqi/jatengtoday.com)


Hutan Terbentuk secara Bertahap

Sururi bercerita, mangrove sebenarnya dapat tumbuh alami, tetapi tingkat harapan hidupnya rendah karena pengaruh pasang-surut air laut. Oleh karena itu, peran manusia dibutuhkan.

Ia menginisiasi membentuk hutan mangrove di pesisir Semarang secara bertahap.

Awalnya fokus menanam dan mengarahkan penanaman di pesisir Mangkang Kulon, kemudian di pesisir Mangunharjo, dan kini sedang proses menanam dan merawat hutan mangrove di Mangkang Wetan.

Sururi mulai melestarikan mangrove untuk menjaga kampungnya dari ancaman abrasi sejak 1995. Pada 1997 upayanya lebih terarah karena mendapat pendampingan dari pakar lingkungan Undip, Prof. Sudharto.

Pelestarian mangrove oleh Sururi semakin massif ketika mendapat dukungan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) pada 2007 silam. “Tahun 2007 saya lebih stabil karena jadi mitra BLDF,” ungkapnya.

 

Petani mangrove, Sururi sedang menunjukkan bibit mangrove yang hampir siap tanam. (baihaqi/jatengtoday.com)
Petani mangrove, Sururi sedang menunjukkan bibit mangrove yang hampir siap tanam. (baihaqi/jatengtoday.com)



Sururi sebagai petani mangrove menyediakan kebutuhan bibit mangrove yang akan dibeli dan ditanam BLDF di berbagai lokasi, termasuk di pesisir Semarang. Dalam setahun, Sururi mampu menyediakan 75.000 bibit.

Pada Rabu (24/7/2024), BLDF membawa rombongan puluhan mahasiswa dari berbagai kampus menanam 3.000 bibit mangrove jenis Rizhophora di Mangkang Wetan. Sururi mendampingi penanaman tersebut.

Kata dia, budidaya mangrove tidak cukup hanya menanam bibit atau menebar benih. Sehingga, setelahnya ia bersama petani lain di kampungnya melakukan perawatan sampai mangrove benar-benar hidup.

Director Communications BLDF, Mutiara Diah Asmara mengatakan, BLDF mendukung upaya Sururi melestarikan mangrove karena manfaat mangrove luar biasa, terutama dalam penyerapan emisi karbon.

Ia menjelaskan, BLDF telah menyumbang sedikitnya 1,1 juta pohon mangrove di berbagai lokasi dengan penanaman yang melibatkan 10.000 mahasiswa dari 250 kampus.

Mahsiswa dari berbagai kampus bersama BLDF menanam mangrove di pesisir Mangkang Wetan, Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)
Mahsiswa dari berbagai kampus bersama BLDF menanam mangrove di pesisir Mangkang Wetan, Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)


Hutan Mangrove Datangkan Manfaat

Keberadaan hutan mangrove di pesisir Semarang mendatangkan berbagai manfaat, baik dampak ekologis maupun dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

Hutan mangrove mengakselerasi upaya pemerintah mengurangi emisi karbon. Prof Sudharto menyebut, hutan mangrove mampu menyerap karbon dari atmosfer hingga lima kali lebih banyak daripada hutan di daratan.

Tak hanya itu, hutan mangrove menjadikan area pesisir Semarang lebih tahan abrasi dan banjir rob. Jarak perkampungan dengan laut yang semula hanya 600 meter perlahan bertambah menjadi 1,4 kilometer.

Dengan tiadanya rob, tambak masyarakat juga menjadi lebih produktif. Hutan mangrove menjadi habitat kepiting, udang, ikan, juga burung kuntul perak sebagai fauna khas Semarang.

Sisi lain, kelompok masyarakat setempat ada yang membuat usaha berbagai produk turunan dari buah mangrove seperti pewarna alami untuk batik, hingga bahan makanan seperti sirup, bolu, dan lainnya.

Hutan mangrove di pesisir Kecamatan Tugu, Kota Semarang bisa dikembangkan menjadi ekowisata maupun eduwisata. Sehingga akan menambah perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Pelestarian mangrove menjadi bentuk pembangunan berkelanjutan yang regeneratif. Mengutip pernyataan Prof Sudharto, pembangunan berkelanjutan itu menyembuhkan luka di bumi dan memberi manfaat bagi banyak orang. (*) 

editor : tri wuryono