in

Mengenang Dalang Ki Hadi Sugito

Memori dan penghargaan seorang penggemar wayang kulit untuk Dalang Ki Hadi Sugito.

Hampir setiap malam, saya dengar wayang, sebagai pengiring tidur, atau ketika bekerja sendirian di malam hari..Tidak jarang, saya pause dan lanjutkan besok. YouTube dan Android memudahkan cara kita menikmati sajian audio wayang.

Malam itu, saya merasa aneh ketika dengar lakon “Trigangga Takon Bapa” (setting Ramayana, bukan Mahabharata). Nggak dengar Sengkuni, Durna, Antasena, dan Kresna. Yang penting, masih di tangan Dalang Gito (Ki Hadi Sugito). Telinga memang perlu dengar cerita yang tidak Pandawa-Kurawa terus.

Setiap ketemu orang yang suka wayang, saya sering bertanya, “Kamu suka dalang siapa?”. Mereka sebut beberapa nama.

Dalang idola saya: Ki Hadi Sugito, alias Dalang Gito.

Saya tetap suka Dalang Gito. Sewaktu saya masih kecil, ketika mendengarkan wayang masih pakai teknologi radio (dan kaset), saya sering dengar wayang di Desa Wingkoharjo (Ngombol, Purworejo), bersama kakek dan sepupu saya, ketika liburan sekolah Bulan Ramadhan.

Momen ini yang membuat saya semakin suka wayang. Sepupu saya pintar menggambar wayang, suluk, dan spoiler ceritanya. Wayangan Ngayogja (Yogyakartan), agak berbeda dibandingkan versi Pantura, asal saya, yang kebanyakan berkiblat ke versi Surakarta.

Kakek saya lebih suka wayang “Ngayogja”. Salah satu bedanya, kalau wayangan Ngayogja pakai bunyi “thing thing”, sedangkan Sala suaranya “crek crek”.

Sampai saya besar, saya melihat pertunjukan dalang rumpun Surakarta, lebih teatrikal. Wayangnya cantik, gagah, dan tampan. Mereka menata pertunjukan sangat detail. Dan mewah.

Saya hanya ingin mengenang Dalang Gito, bukan karena sentimen. Mau wayang suket, mau wayang di alun-alun, atau di gedung dan streaming, saya tetap suka wayang.

Tulisan ini hanya ingin menceritakan, mengapa saya suka Dalang Gito. Bukan karena terbawa masa kecil, karena memang Dalang Gito menurut saya bagus.

Mengapa saya suka Dalang Gito?

Kalau ndalang selalu durasi full di atas 7 jam. Orang menonton atau mendengarkan wayang itu selain karena pertunjukan, juga karena atmosfer dan suasana selama menonton atau mendengarkan wayang.

Nggak perlu bintang tamu, tanpa dagelan tambahan, yang diselipkan di babak “Limbuk-Cangik” atau di “Gara-gara”. Sepanjang pertunjukan, penuh joke lucu. Apa saja lelucon atau kalimat yang memancing reaksi, kebanyakan diasosiasokan dengan erotic joke atau family joke. Tidak menyebut nama waranggana sebelum meminta nembang.

Paraga (karakter) yang ia bawakan, selalu hidup. Sorakan penonton dan yaga (pemain gamelan) terdengar selalu. Tidak jarang, sangat riuh. Adegan perang, terutama Sencaki melawan Durna, atau Antasena melawan Kurawa, diiringi tepuk tangan.

Kalau mau “theatre of mind”, dengarkan Dalamg Gito.

Nggak pernah lepas dari “pakem”. Kalau belum tahu, pakem itu pembagian babak dalam pertunjukan, yang merupakan alegori perkembangan hidup manusia.

Dalang Gito kalau nyandra sangat bagus. Seperti dalamg lain, yang harus mengerti tembang dan karawitan, Dalamg Gito pintar sekali menata playlist, memberi selingan, dan menjelaskan arti tembang selama pertunjukan, biasanya ketika babak “Gara-gara”.

Dalang Gito punya banyak keyword, seperti: “pertimbangan” (pasangan), “mak cilik” (paman), Sencaki (Setyaki), Paman Nujum (Durna), Senggana (Anoman), Kakang Mbambung (sebutan Wisanggeni untuk Antasena).

Ketika menyuarakan Emban atau isteri Bagong, Dalang Gito punya ciri yang membuat semua orang tertawa.

Adegan pasewakan, adegan perang, sudah biasa kalau penonton tertawa keras atau bertepuk tangan.

Dalang Gito selalu menyebut “peta” di sekitar kerjaan, nama hutan, rute dari Dwarawati ke Asrina, dari Astina ke Kahyangan, dll. Jadi bisa tergambar seperti apa peta itu di pikiran pendengar.

Jangan lupa: Togog dan Mbilung. Kedua karakter ini berperan sebagai panakawan di karakter antagonis. Togog selalu menjadi pengingat untuk tidak berperang, untuk tidak mengusik Pandawa dan Dwarawati.

Sebenarnya, batasan antagonis-protagonis agak kabur di pertunjukan Dalang Gito. Tidak ada yang terlalu mendominasi cerita. Ketika lakon “Arjuna Papa”, terasa sekali sosok Arjuna yang tidak jagoan, karena melakukan kesalahan fatal. Lakon “Gatotkaca Winisuda”, karakter Gatotkaca terlihat lemah, kurang dominan, namun sebelum pathet sanga, baru muncul Gatotkaca yang ditunggu dan tampil sebagai sosok super. Lakon “Kresna Obong”, yang sangat dominan dan membuat pagelaran hidup, justru Pandita Durna. Keseruan lakon yang saya sebut itu, hanya bisa terasakan kalau kamu dengar langsung. Sebagian besar lakon Dalang Gito seperti itu. Gayeng dari awal sampai akhir.
Ketika mengembangkan cerita, plotnya sangat hidup dan mirip film utuh.

Lakon “Sengkuni Ngraman”, atau “Sengkuni Tundung”.

Ceritanya, anak Sengkuni jatuh cinta kepada Udawa, mahapatih dari Dwarawati (kerjaaan Kresna) Sengkuni menerima keputisan pahit, diusir dari Astina. Tidak aeperti biasanya, Setyaki dan Arjuna menolong Sengkuni untuk melawan Astina. Sungguh aneh, Sengkuni yang biasanya menjadi musuh Pandawa dan penyulut api konflik, di lakon ini menjadi yang tersakiti dan ditolong musuh-musuhnya. Seru, lucu, haru.

Lakon “Antasena Ngraman”

Antasena, karakter yang ajaib. Sejak lahir menjadi jagoan para dewa, dan di bawah asuhan langsung Pikulun Pada Wenang (Sang Hyang Wenang),. Dia dibesarkan Sang Hyang Anantaboga, naga besar yang menguasai bumi dan dunia underground. Tentu saja tidak terkalahkan. Sayangnya, Antasena hidupnya hanya sebentar. Kelak ia tidak ikut menyaksikan Bharatayuddha. Kalau Antasena dan Wisanggeni ikut perang, tidak akan ada perang karena keduanya tak-terkalahkan.

Antasena, di lakon “Antasena Ngraman”, punya ulah nakal. Antasena mengajak Pancawala (anak Yudhistira) untuk meminta negara Astina. Semula, Kurawa tidak takut, karena Pancawala tidak pernah bertarung. Keadaan berbalik ketika tahu, di belakangnya ada Antasena. Semua jagoan Kurawa kalah. Senjata Kuntawijayadanu milik Karna (yang kelak membunuh Gatotkaca) dan Nanggala milik Baladewa, nggak mempan, dan dirampas Antasena.

Antasena ngraman (memberontak) karena ia tahu satu fakta tersembunyi: selama ini, Raja Suyudana hanya menduduki singgasana replika. Yang asli, hanya bisa diduduki penguasa sejati. Siapa yang kuat menduduki singgasana asli, itulah yang menjadi pertanyaan Antasena. Kekuatan Antasena bertambah ketika Antareja dan Gatotkaca bergabung. Siapa saja tidak ada yang kuat.
Sampai datanglah Gajah Antisura, yang melambangkan rakyat Astina, datang mendudukkan Abimanyu di singgasana asli Astina. Abimanyu kuat. Antasena meminta semua putra Pandawa untuk menghormati dan menyembah Abimanyu.

Seperti biasa, Krishna memperbaiki keadaan. Meminta Antasena mengembalikan Astina ke Raja Suyudana, sampai nanti diperebutkan dalam perang Bharatayuddha. Tentu dengan ending yang seru, tanpa meninggalkan peran Panakawan dan lelucon sepanjang adegan. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.