in

Mengapa Ganjar-Mahfud Kalah

Analisis subjektif dari pendukung Prabowo-Gibran tentang kekalahan Ganjar-Mahfud di Pilpres 2024.

Ganjar Pranowo diumumkan sebagai kandidat oleh PDI-P pada April 2023, berkoalisi dengan PPP, Perindo, dan Hanura. PSI yang paling awal menyatakan Ganjar sebagai capres, menarik dukungannya pada Agustus 2023 ketika Jokowi mendukung Prabowo.

Mahfud MD digadang menjadi cawapres pada Oktober 2023. Pada awalnya, kehadiran Mahfud menaikkan “rate” kelas menengah, terutama intelektual (banyak kawan saya dukung Ganjar karena ada Mahfud di sana). Mahfud sempat menjadi bintang, ketika April 2023 mendesak DPR untuk memperjuangkan Persetujuan RUU Perampasan Aset Tindak Pidana dan RUU Pembatasan Transaksi Uang Kartal. Pada Oktober 2023, Mahfud masih bahas ini dalam Dialog Terbuka Muhammadiyah Bersama Calon Pemimpin Bangsa di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Kamis (23/11/2023), di mana Mahfud MD tidak bisa menyebutkan conflict of interest yang katanya ada menteri yang ditekan anggota DPR. Mahfud jika memang disukai publik, tidak disukai banyak partai. Bambang Pacul dari PDI-P, di Senayan waktu itu, sempat mengatakan, dirinya tergantung apa kata Ketua Partai. Satu lagi yang berat, dari kedatangan Mahfud MD adalah koalisi yang tidak mencerminkan “diversitas”. Bicara Indonesia, bicara diversitas. Indonesia tidak suka terjadinya “khusus kalangan tertentu”. Semakin bisa diterima semua orang, terutama, semakin bisa diterima lawan (jika nanti jadi), itulah yang disukai orang. Bersih atau tidak bersih orang itu. Pintar atau tidak pintar orang itu.

Entah siapa yang bikin ide “dress code” serba hitam di banner Ganjar-Mahfud. Ini blunder visual yang parah sekali. Tanyakan desainer grafis kalau nggak percaya. Selain itu, simbol 3 jari dan kata “m3tal” (ini menyebut “metal” sekaligus nomor urut “3”) yang datang dari tahun 1990-an, ketika banteng melawan Orde Baru. Kesan yang justru didapatkan publik adalah partai bergambar banteng di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru, sebelum ada multipartai di Pemilu 1999, partai berlogo banteng ini memang di urutan nomor 3. Mengapa tidak simbol yang dikenal milennial dan Gen Z? Setidaknya yang memperlihatkan semangat Indonesia ke depan. Tulisan “m3tal” dan salam tiga jari a la “heavy metal” yang ngehit di tahun 1990-an ini nggak terlalu mengena bagi publik, karena mundur ke masa lalu. . Menurut saya, pilihan semiotik untuk menampilkan “3” dan “metal” ini kurang tepat, karena apapun yang ada di balik Ganjar-Mahfud jangan memperlihatkan dominasi PDI-P di kolalisi. Pernah berhasil di masa lalu bukan berarti akan berhasil lagi.

Struktur Tim Kampanye. Tim Pemenangan Nasional (TPN) dipimpin oleh Arsjad Rasjid, dengan beberapa mantan pejabat TNI-Polri dan loyalis Jokowi. Keberagaman tim ini mungkin kurang mencakup seluruh spektrum pemilih. Beberapa pengusaha terlibat dalam TPN, seperti Bagas Adhadirga dan Heru Dewanto, yang bisa memberi kesan kampanye terlalu berorientasi pada kalangan bisnis. Keterlibatan Andi Widjajanto dan Eko Sulistyo dalam TPN menandakan upaya mengakuisisi dukungan dari pendukung Jokowi, yang mungkin tidak sepenuhnya berhasil. Penempatan mantan pejabat tinggi TNI-Polri di posisi strategis TPN bisa menimbulkan persepsi negatif terkait militerisasi politik. Singkatnya, strategi menyusun Tim Kampanye terbaik adalah “memperluas spektrum”. Orang tidak perlu bertanya, bagaimana pekerjaan mereka. Yang orang ingin tahu adalah “siapa” dan “mewakili siapa” mereka. Semakin tinggi diversitas, semakin besar peluang pluralitas.

Strategi Ganjar-Mahfud adalah strategi co-branding. Memperlihatkan ini kelompok apa, bukan ini person yang seperti apa. Orang ingin tahu paslon, bukan ingin tahu siapa yang menjadi deken/backing di belakang calon. Kalau personality paslon kurang kuat, dukungan tidak akan menaik. Mau pilihan kepala desa, caleg, atau presiden, “personality” itu nomer 1. Ganjar-Mahfud gagal di situ. Koalisi memang penting, tetapi yang terpenting memperlihatkan siapa saja (di luar koalisi) yang mendukung mereka. Punya 5000 buzzer berbayar, bisa kalah melawan 5 influencer dan tokoh masyarakat. Banyak sekali hasil survey, sebelum dan semasa kampanye, yang menunjukkan sebatas apa “trending topic” dan pemakaian media sosial berpengaruh pada pemilih. Sayang sekali, para pendukung Ganjar-Mahfud banyak yang menganulir hasil survei. Sekadar info, hanya bagi yang belum tahu, bahwa laporan Peta Elektoral Survey Pemilu 2024 di DI Yogyakarta, dari LSI Denny JA, memuat detail kalkulasi perkembangan elektabilitas, peluang-menang partai, caleg, di setiap dapil. Sangat detail, termasuk ulasan metodologi survei, validasi sample, dll. Ini mencapai 197 halaman. Apa yang muncul di media, memang hanya hasil besar dan komentar pakar, tetapi sebagai suatu penelitian, orang bisa menguji tingkat keilmiahan. Sekalipun bagi yang tidak suka lihat hasilnya, lebih mudah menganulir hasil penelitian daripada melakukan refleksi kritis.

Di internal Prabowo-Gibran juga ada kerja keras ketika hasil survei dan laporan di lapangan menunjukkan progress kurang. Mereka bahkan “mengabaikan” medsos. Relawan semacam Garuda Nusantara 08 di Jateng, bahkan punya prinsip: bikin acara sosial, bagikan di medsos, abaikan komentar negatif. Dan ini berhasil.

Ketika dukungan Jokowi sudah pasti ke Prabowo-Gibran, apa yang terjadi? Para hater Jokowi tidak berhenti mengkritik Jokowi. Bahkan terkesan mencari-cari kesalahan. Apa saja dihubungkan dengan “permainan” Jokowi. Ini sebenarnya jutsu Mugen Tsukoyomi yang tidak bisa ditangkal. Semua media menyampaikan “kritik” dari hater Jokowi dan jawaban versi pendukung/pembela Jokowi. Hasilnya? Semua serangan ke satu arah. Elektabilitas siapa yang naik? Tentu saja pasangan Prabowo-Gibran. Orang memilih karena tahapan ini: tahu, kenal, pilih. Sedangkan di pihak Prabowo-Gibran, selalu ada imbauan, “Jangan tanggapi serangan dengan sikap buruk..”. Pemilu 2024, akhirnya minim issue SARA dan hoax tidak bertahan lama. Orang Indonesia lebih pintar menilai, mana yang disukai orang dan yang tidak disukai orang. Issue HAM dan radikalisme, nggak ada effect di para pendukung Prabowo, karena yang rajin menjawab bukan Prabowo-Gibran, melainkan para pendukungnya. Musuh banyak menyebut, pendukung banyak pembela. Itulah jalan popularitas sebenarnya. Jurus Mugen Tsukoyomi Jokowi berhasil. Jokowi menjadi Zuge Liang yang tidak ikut bertarung namun “menentukan” warna Pemilu 2024.

Ketika orang sibuk mem-branding “personality” paslon, yang perlu dipertanyakan adalah, “Seberapa efektif komunikasi publik paslon?”. Kita bisa lihat sendiri. Citra Prabowo terlihat lucu, menggemaskan, ketika joget gemoy. Prabowo menyajikan “komunikasi otentik” yang sangat didambakan milenial dan Gen Z, di mana ia menjadi dirinya sendiri. Ketika sedang bertemu publik, ia menyampaikan cita-cita ingin menjadi Presiden, memohon dengan sangat, agar diberi mandat dan diperintah rakyat Indonesia, agar bisa melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Prabowo selalu menyebut siapa saja yang ada di sampingnya, seperti AHY, Kaesang, dll. Prabowo tidak sendirian. Prabowo memiliki koalisi dan bangga dengan dukungan untuk Indonesia Maju. Prabowo tidak bicara demi menjawab pertanyaan, karena di setiap pidato ia selalu menceritakan Indonesia di masa depan. Prabowo dikenal bukan karena caranya menjawab kritik, tetapi dikenal karena kejelasan (clarity).

Isu sosial, komunikasi publik, penggunaan media, cara merespon kritik, diversitas pendukung, komunitas lokal, dan pemilihan issue, semua itu sudah selesai sejak awal.

Saya tidak ingin mengkritik Ganjar-Mahfud. Selain Pemilu 2024 sudah selesai, kritik saya sejak sebelum Oktober 2024 sudah saya bagikan secara terbatas kepada kawan-kawan pendukung Prabowo-Gibran. Termasuk issue yang tidak muncul di media, karena media memang terbatas, penuh kekerasan simbolik. Yang pasti, sejak awal tim Prabowo-Gibran punya banyak angka 2, seperti di permainan poker. Tidak semuanya dikeluarkan. Sejak Mei 2023, ketika Prabowo bertemu Gibran, dan ini sebenarnya tertulis dengan jelas di berita, angka 2 sudah tersimpan rapi.

Sekian. Saya tidak ingin memperpanjang daftar alasan dalam analisis ini. Terima kasih untuk kawan-kawan Projo, Garuda Nusantara 08 di Kota Lama Semarang, media pendukung, semua relawan, dan para pendukung Prabowo-Gibran. Kami juga berterima kasih kepada para pendukung paslon lain, yang telah melewati pertarungan yang “fair” dan penuh tantangan. Kami menyimpan damai dan menebarkan damai. Pemilu 2024 telah usai. Sekarang saatnya kembali bersinergi, bersatu, untuk Indonesia maju. Tidak ada kebencian, semua bersaudara. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.