in

Menang Hadapi 13 Serangan dalam Debat Politik

Stop mempertontonkan debat politik yang tidak cerdas kepada penontonmu.

Penonton bisa melihat gap berupa jurang komunikasi, ketika tonton debat politik.

Acara talkshow politik yang bagus sering pakai taktik mendatangkan narasumber pintar. Acara semacam ini bisa hancur (kualitasnya) ketika host (yang berperan sebagai moderator, kalau di podcast atau YouTube) hanya flaming, memicu perdebatan.

Banyak podcast dan channel YouTube yang diformat dengan “menjual” kontroversi, memancing komentar sampai membludak, dan trending topic terjadi.

Acara debat sering gagal menjadi medium berbagi cara-pandang. Hasilnya lebih sering untuk memetakan sikap setuju mana, apa alasannya. Tidak lagi mendengarkan cerita dengan telinga orang lain.

Saya sempat mengamati bagaimana orang-orang berdebat politik di podcast dan YouTube, yang mengacaukan persepsi audien. Yang ingin saya lakukan di tulisan ini, mengajak penonton untuk mengamati, betapa banyak “blunder” yang sering terjadi ketika seseorang “dipaksa” berbicara namun tidak siap berdebat.

Narasumber sering “terjebak” ketika berhadapan dengan pertanyaan tanpa antisipasi, yang belum disiapkan dan dipelajari, yang membuat mereka memberikan jawaban yang berubah menjadi boomerang.

Televisi, podcast, YouTube, sering membuat seseorang (yang tidak siap) menjadi bahan bully para netizen.

Saya mendaftar beberapa hal yang perlu kita perhatikan selama berdebat, terutama debat politik, agar penonton lebih pintar melihat, apa dan siapa yang sedang mereka simak.

Berikut ini taktik dalam debat yang [bisa] dipakai untuk menjatuhkan lawan, serta cara mengatasinya.

Zoom-out

Pernah bicara kemudian penjelasan kamu dikecilkan begitu saja? Lawan bicara kamu seolah-olah menyampaikan wawasan yang sangat luas? Taktik ini disebut “zoom-out”.

Cegah lawan bicara melakukan zoom-out. Itu akan menjadi abstrak dan kehilangan detail kecil. Seolah-olah memperlihatkan “gambar besar”, namun justru memperkecil masalah.

Zoom-out adalah tindakan scanning, rawan bias konfirmasi, generalisasi, dan bias berpikir. Contoh, dalam suatu percakapan, saya dengar seseorang berkata, “Produk Indonesia yang mendunia apa saja, ya? Kayaknya nggak ada..”.

Orang di sekitarnya, yang tidak paham teori ekonomi dan tidak rajin browsing, bisa dengan cepat membenarkan ini. Prestasi bangsa Indonesia di bidang export yang sudah mendunia, menjadi tidak terlihat. Dalam ceramah keagamaan juga sering terjadi zoom-out. Mereka menyimpulkan di awal, membuat pernyataan berisi asumsi, tanpa ada pemeriksaan.

Ini sama saja ketika nilai-tukar rupiah menurun, orang langsung anggap ekonomi negara ini melemah. Zoom-out lebih kejam dari generalisasi.

Untuk mengalahkan zoom-out, arahkan orang kepada sudut-pandang “sekarang”. “Pernyataan ini dari sudut pandang siapa?”. Tunjukkan kepada pendengar, ke mana orang ini mau mengajak kita berbicara.

Pertanyakan Asumsi

Orang sering bilang “ini fakta..”, namun sebenarnya asumsi. Jika ada penilaian sepihak, itu asumsi. Ada kasus anak kecil masuk rumah sakit gara-gara kelamaan main game online, langsung kecam game online. Asumsi sering disembunyikan, “Ada lah, tetapi tidak usah saya sebut siapa nama pejabatnya..”. Ketika menyatakan asumsi, banyak orang merasa pintar, karena dia tidak tahu kalau itu asumsi.

Perlakukan asumsi sebagai asumsi. Setiap asumsi layak dipertanyakan statusnya.

Contoh terpopuler, ketika banyak artikel berbicara mengenai “pro-kontra” game online bagi anak. Kemudian moderator memperkenalkan siapa yang mau berbicara.. dengan intro, “Dewasa ini banyak orang tua khawatir tentang pengaruh negatif permainan game online bagi anak. Seperti ada salah satu berita tentang..”. Ini sudah bikin asumsi kalau “game online” itu negatif, dengan pembenaran berupa berita.

Ajak orang yang tidak tahu itu untuk melihat realitas. Ketika 2 orang melihat realitas obyektif (misalnya, tetangga beli mobil) yang sama, cara-pandang orang bisa berlainan.

Serangan Manusia Jerami

Serangan manusia jerami adalah membingkai fakta untuk untuk menyerang lawan; menyimpulkan apa kata lawan, dengan bahasanya sendiri, untuk menyerang lawan.

Kita sering dengar adegan ini, “Tadi Anda anggap begini..” kemudian dibalas, “Saya tidak mengatakan itu..”. Bingkai selalu membatasi realitas.

Serangan manusia jerami sering terjadi ketika sebuah foto diberi komentar. Tidak tahu isteri seorang pejabat dapat tas impor dari mana, langsung memberi caption bahwa dia materialistis.

Perilaku atau sikap sub-kelompok, sering dipakai untuk menyerang kita. Misalnya, saya bersikap “tidak mau menerbitkan buku”, kemudian dianggap sebagai orang yang tidak punya pembaca.

Seringnya, gaya wawancara “serangan manusia jerami” ini, sering muncul. Memancing agar ada jawaban panjang dan “pernyataan resmi”.

Tujuannya, agar narasumber menguraikan lebih detail.

Cara mengalahkan serangan manusia jerami: tanyakan dari mana asal pertanyaan itu.

Biasanya, untuk kasus “tidak mau menerbitkan buku” di atas, saya membalik begini, “Dari mana datangnya anggapan kalau menerbitkan buku itu selalu menjadi level kepenulisan seseorang? Apa yang terjadi kalau saya punya alasan lain?”.

Mengubah Topik

Wawancara dan perdebatan yang bagus, selalu seru ketika narasumber mempertahankan pendapat atau menyerang pendapat lawan-bicara mereka. Biasanya, wawancara ada script. Tidak 100% spontan. Biasanya, script menyimpang karena ada jawaban mengejutkan dari narasumber. Keadaan berkembang. Pada kondisi inilah, pewawancara atau moderator sering ubah topik.

Misalnya, ada pertanyaan, “Pemilu 2024 dikatakan sebagai pemilu terpenting dalam sejarah demokrasi Indonesia setelah era Jokowi. Bagaimana pendapat Anda?”.

Sebelum mempertanyakan pertanyaan di atas, kita harus periksa, apakah pewawancara sedang mengubah topik? Apakah pertanyaan ini semacam kumpulan hal-hal yang berkaitan dengan politik, terus apa saja (kalau seru) ditanyakan? Sungguh receh sekali.

Sebagai narasumber, kamu jangan pasif hanya menjawab pertanyaan yang diajukan. Kalau pasif, kita akan menjadi “pemain” yang ditentukan oleh instruksi (pertanyaan). Kita akan menjadi “object”.

Balik permainan seperti ini, dengan menguji apakah moderator konsisten dengan script dan topik yang sedang dibawakan.

Semua Pakai Label

Ketika menyerang manusianya, itu namanya “ad hominem”. Ketika menyangkal dan sinis, itu namanya “defensif”. Banyak peristilahan yang bisa kita terapkan untuk menyerang lawan. Jangan abused, jangan bermain dengan double-coin term, jangan pakai apa kata kamus dan euforia istilah yang sedang ngehit.

Gunakan selalu dengan tepat. Jangan salah pakai sesuatu, karena salah penempatan label. Saran saya, pelajari peristilahan dan arti sebenarnya. Banyak sekali abused pemakaian istilah. Tapi ya begitulah, kebanyakan orang yang berdebat, lebih suka ditonton dalam keadaan mem-bully dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari, apa arti debat itu setelah 3 bulan atau 1 tahun mendatang.

Semua Orang Pembohong

Terutama jika kamu tidak bertanya “kapan” dan pertanyaanmu berkaitan dengan penilaian.

Hampir semua orang berbohong. Tidak semua orang berbohong di saat yang tepat. Tidak semua orang bisa selalu-aman dalam kebohongan. Ketika kamu ditanya, ini warna apa? Belum tentu “merah” itu “merah”. Perdebatan berdasarkan bahasa, selalu ada sifat ambigu, penuh distorsi makna, dan realitas selalu disunting selama manusia berbahasa.

Ketika ada pertanyaan, “Apakah kepemimpinan sekarang ini adil?” maka jawaban apapun bisa terasa sebagai kebohongan, tergantung siapa yang menanggapi jawaban. Karena “adil” itu kualitas, bukan angka, bukan hitam-putih. Sama juga ketika kita menilai seseorang cantik atau tidak. Bagi orang lain, apapun jawaban kita, bisa dianggap berbohong.

Intinya, berbicara tentang “jawaban yang benar” adalah berbicara tentang ukuran yang sedang dipakai. Kebohongan bisa dibongkar dengan menunjukkan detail dan sudut pandang.

Bedakan Antara Negasi dan Inversi

Saya sering alami ini. Bicara dengan lulusan S2 (yang sudah mengikuti perkuliahan logika 3 semester) tetapi tidak bisa bedakan antara “negasi” (pengingkaran) dan “inversi” (kebalikan). Saya berikan contoh terpopuler. “Hari ini kamu tampak cantik..”. Perempuan sensitif, bisa dengan mudah membalik pertanyaan itu, “Berarti, kemarin-kemarin aku nggak cantik?”. Tahu kenapa? Karena dia tidak bisa membedakan antara negasi dan inversi.

“Hari ini kamu tampak cantik” itu strukturnya sama dengan “Swalayan di samping rumah saya hari ini ramai pembeli”. Apakah berarti biasanya tidak cantik? Tidak. Belum tentu. Negasi adalah negasi. Itu suatu “cerita” dalam bingkai waktu (time framing).

Konsekuensi yang Menakutkan

Biasanya ada adegan di mana seseorang berbicara berapi-api, terutama dalam kampanye politik, dengan kalimat seperti: “Kemanusiaan kita dipertaruhkan”, “Ini rasisme yang bertentangan dengan budaya Indonesia”, dll. Itu adalah kesimpulan pembicara dan perlu pembuktian.

Sudah jelas, pernyataan seperti itu berisi pembingkaian, asumsi, dan mencari dukungan. Saya bersimpati kepada orang yang kritis, tetapi saya lebih mendukung orang yang mau bersikap lebih tenang.

Cara mengalahkan teknik yang menebar ketakutan adalah dengan memberikan cermin kepada orang yang berbicara, “Lihatlah, sekarang Anda mengatakan ini. Bisakah membuktikan itu?”.

Anekdot yang Berbahaya

Anekdot adalah cerita yang menyimpan “moral” (pesan cerita), dimodifikasi secara bebas oleh penuturnya, dan biasanya dirujuk atau seolah-olah terjadi pada orang-orang terkenal. Anekdot bisa berupa humor, satir, sarkas, dll. “Ada orang urus ektp sampai meninggal di antrian..” tidak menunjukkan bahwa layanan dukcapil menyiksa warga. Kamu adalah apa yang kamu perhatikan, Jika orang yang suka kuliner jalan-jalan, mereka akan ceritakan dan lihat hal-hal yang berkaitan dengan kuliner.

Seperti apa “hater” berbicara? Seperti apa “penggemar drakor” menceritakan drakor? Itulah perhatian mereka.

Fakta yang Sekarang

Ada seorang ekonom menjadi pejabat, lalu bercerita kalau dia bikin analisis apa saja selalu pakai data. “Saya tergila-gila pada data,” katanya. Ketika diperiksa di pasar, dia salah sebut harga bahan-bahan pokok. Benar, dia pakai data, dari tim yang ia bentuk, namun data itu salah.

Sering dalam berdebat ada kutipan untuk membenarkan fakta. Teori, statistik, temuan di lapangan, dll. Fakta dianggap mewakili kebenaran.

Fakta adalah “pernyataan tentang realitas menurut versi penutur”. Tidak identik dengan kebenaran. Media besar bisa salah. Partai mayoritas bisa salah.

Banyak orang tidak tahu, China dan Russia tidak menganut ideologi komunis. Banyak orang tidak tahu, kalau sistem pengukuran kesejahteraan yang diterapkan di negara-negara Africa, membuat negara-negara itu selalu dalam status negara miskin. Banyak orang tidak tahu, kalau Frederick Douglass bisa menjalankan pemerintahan tanpa voting. Banyak orang tidak tahu, revolusi perlawanan perbudakan yang membentuk negara Haiti, lebih berhasil dibandingkan perlawanan perbudakan sejak zaman Mesir Kuno.

Jangan berdebat di media sosial jika tidak tuntas.

Kesimpulan Negatif

Lawan selalu kesimpulan negatif. Saya tidak pernah mau ada “kesimpulan” setelah berbicara di depan publik. Orang bertanya, “Intinya apa? Kesimpulannya bagaimana?”. Semua orang punya cara baca berbeda. Kalau moderator menyimpulkan sesuatu, pastilah itu kesimpulan moderator sendiri. Kalau kita sudah bikin tulisan dan menjelaskan secara mendalam, tentu cara orang mendapatkan sesuatu dari pertemuan dengan kita boleh berlainan.

Yang Tertawa Tidak Terlihat

Tujuan debat adalah mengubah persepsi penonton. Ajak semua orang melihat. Singkap siapa yang diuntungkan dalam debat ini. Temukan pesan tersembunyi. Prediksi agenda di balik debat ini, jika disembunyikan. Buat orang mendengarkan kamu, bukan melihat bingkai acara ini.

Wajah Musuh Kita

Setiap orang akan senang dan mendukung kita.. jika dan hanya jika..

Kita selesaikan masalah kita. Namun kita tidak bisa sepenuhnya. Setidaknya, tunjukkan di mana pintunya dan bagaimana cara membukanya.

Kita lawan musuh mereka, kita kalahkan iblis-iblis pengganggu mereka. Biasanya, musuh sesungguhnya bersifat impersonal. Bukan seseorang. Tetapi cara-pandang kita sendiri. Pembelaan terhadap tradisi dan penalaran yang tidak ubah keadaan. Kurang jalan-jalan. Terlalu mengagungkan kelompok. Tidak mau melihat kebenaran sebagai pelangi, hanya hitam-putih. Dan tidak percaya bahwa kita bisa.

Orang akan mendukung kita, jika kita selesaikan masalah mereka. Setidaknya, beri perspektif yang lebih baik, agar mereka tahu bagaimana cara kita memandang masalah.

Seorang pemimpin tahu di mana masalahnya dan bagaimana sampai ke sana.

Debat itu penting. Dan perlu latihan. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *