in

Membongkar Skema Ponzi dalam Investasi

Realitas kejam Skema Ponzi dalam penipuan berkedok investasi. Mengenal ciri-ciri dan cara menghadapi Skema Ponzi.

SKEMA PONZI. Berkedok investasi, fokus pada rekruitmen lalu pergi tanpa jejak. Kenali ciri-ciri dan cara menghadapi penipuan Skema Ponzi. (Image: DALL-E)

Mengenali Skema Ponzi dari Cerita “Panen Monyet”

Pada suatu hari, di Desa X, ada seorang peternak monyet, yang memiliki 1000 monyet. Peternak ini menyebar orang kepercayaannya ke 10 desa yang cukup jauh. Tugas mereka, mencari monyet, dan membeli dengan harga mahal. Satu ekor monyet mereka beli dengan harga 2 juta rupiah. Harga monyet biasa, 500 ribu. Melihat ini, para penduduk desa lain mulai memelihara monyet dengan harapan memanfaatkan kenaikan harga dan mendapatkan keuntungan besar. Orang-orang senang, bisa dapat keuntungan 300% dari setiap ekor monyet. Harga monyet semakin naik, dari 2 juta menjadi 3 juta, sampai 4 juta, sampai 5 juta. Pada saat yang sama, Peternak Monyet di Desa X menjual seluruh monyetnya. Orang kepercayaan Peternak Monyet ini tidak berhenti. Mereka merekrut lebih banyak pemodal, “Barangsiapa yang mau tanam modal untuk bisnis monyet, maka akan dapat keuntungan 10% setiap bulan, tanpa perlu bekerja.”. Para pemodal datang kepada para perekrut ini, yang bisa jual dan beli monyet dengan harga mahal. Setelah modal terkumpul, para perekrut ini menghilang. Desa-desa menjadi penuh monyet yang tidak laku dijual. Panen Monyet tidak terjadi.

“Skema Ponzi” artinya modus penipuan investasi yang membayar keuntungan kepada investor bukan dari hasil usaha atau investasi yang sebenarnya, melainkan dari uang investor sendiri atau uang investor baru yang bergabung. Singkatnya, ini seperti skema piramida terselubung, di mana pengelola skema membayar keuntungan kepada investor lama menggunakan uang yang disetorkan oleh investor baru. Ini menciptakan ilusi investasi yang menguntungkan, sehingga menarik lebih banyak investor untuk menyetor uang.

Cerita “Panen Monyet” di atas adalah analogi dari skema Ponzi dalam dunia investasi, di mana investor awal dibayar dengan uang yang diinvestasikan oleh orang lain, bukan dari keuntungan yang dihasilkan oleh bisnis itu sendiri. Ini juga menunjukkan bagaimana spekulasi pasar dapat mempengaruhi harga aset dan bagaimana investor besar dapat memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka sendiri, seringkali dengan kerugian bagi investor kecil.

Ciri-ciri Skema Ponzi dalam Penipuan Berkedok Investasi

Kenali ciri-ciri Skema Ponzi berikut ini.

Janji Imbal Hasil Tinggi. Katanya, kamu hanya perlu ngasih modal, duduk manis, akan ada keuntungan 10% dari modal yang kamu titipkan.” Jauh dari apa yang bisa diperoleh dari investasi tradisional.

Pelunasan dengan Dana Investor Baru. Imbal hasil dibayarkan dengan dana yang diberikan oleh investor baru, bukan dari keuntungan usaha atau peningkatan nilai aset. Ini sebabnya, Skema Ponzi selalu merekrut investor baru.

Kurang Transparan. Mereka memberikan cerita kabur tentang bagaimana cara mereka menghasilkan keuntungan, selalu menghindari pertanyaan tentang strategi investasi mereka.

Tekanan untuk Segera Investasi. Pelaku skema Ponzi sering mendorong calon investor untuk segera memberikan uang mereka, dan menciptakan rasa urgensi atau takut ketinggalan.

Banyak Skema Ponzi tidak terdaftar, tidak diatur, tidak punya landasan hukum kuat. Terutama jenis penipuan yang menggunakan dalih rahasia, eksklusif, hanya untuk mereka yang pintar. Skema Ponzi sering kali dijual sebagai “peluang sekali seumur hidup” atau “hanya untuk anggota tertentu”. Agar orang merasa istimewa dan pintar.

Perekrutan merupakan fokus utama, karena uang dari investor baru digunakan untuk membayar investor lama. Dalam cerita “panen monyet” di atas, investor kelas jutaan, akan dibayar dengan investor baru di kelas sama, sedangkan investor kelas milyaran yang akan digelapkan, tanpa jejak.

Pada awalnya, sistem pembayaran imbal-hasil yang cepat, memang terjadi. Ada bukti, mulai screenshot, transfer rekening 3 bulan terakhir, memang bisa dibuktikan terjadi. Fokusnya, pada rekruitmen. Agar para investor baru, ikut mencari orang sekitar agar mau menjadi investor.

Yang tampil di status WhatsApp dan Facebook para investor baru ini adalah testimoni positif. Para influencer, orang-orang kaya, ikut menanamkan modal. Tidak jarang, kalimat-kalimat positif terkait keputusan finansial, membanjir, dan semakin mengalir di bawah-sadar orang-orang, seperti: “Tidak perlu bekerja keras, biarkan aset kita bekerja.”, “Imbalan datang setiap bulan, tanpa perlu bekerja.”.

Bukan berarti kalimat itu salah. Kalimat itu tidak membuktikan bahwa investasi Skema Ponzi terbukti. Testimoni positif ini sangat sejalan dengan metode “emotional selling point” yang ditawarkan Skema Ponzi. Agar kepercayaan dari para calon investor datang dan seolah-olah Skema Ponzi ini investasi ideal. Emosi negatif lain, yang dimainkan: kesempatan menjadi bagian dari komunitas eksklusif. Tujuan dan uang bisa menjadi penyatu, menjadi orang-orang terpilih, pintar, dan cepat-kaya. Rasa kedekatan dengan orang-orang kaya, termasuk bisa bertemu Direktur Bank X, pemimpin perusahaan Z, menciptakan rasa percaya diri dan kredibilitas.

Untuk mem-bypass terlalu banyak pertanyaan, Skema Ponzi sering menggunakan klaim investasi dalam teknologi baru, seperti cryptocurrency, yang belum banyak diketahui orang. Selain memiliki daya tarik tinggi, orang tidak mau berpikir terlalu rumit tentang cara-kerja investasi -dengan- teknologi canggih. Investor yang punya modal lumayan, tidak perlu memiliki pengetahuan atau pengalaman, agar dapat keuntungan 10% setiap bulan dari modal yang ia tanamkan.

Mencari keuntungan, tidaklah semudah janji Skema Pozi. Kenyataan sebenarnya? Pasar sangat volatile, sulit untuk diprediksi, bahkan oleh bot.

Marketing Skema Ponzi memang dahsyat.

Mereka sudah melakukan targeting. Mereka memetakan psikografi dari target yang mau mereka ajak bergabung. Apa kebutuhan mereka? Uang. Apa ketertarikan mereka? Uang dalam waktu cepat. Bahkan jika kamu tidak punya uang, kamu tetap dapat uang, jika berhasil merekrut investor besar.

Mereka melakukan “branding” dan pemasaran profesional. Bahan pidato mereka tampak profesional, menciptakan ilusi legitimasi, membangun hubungan pribadi dan kepercayaan, sebelum menawarkan peluang investasi. Mereka menceritakan tren dan kecanggihan teknologi, agar orang semakin tertarik, tanpa perlu berpikir.

Setelah itu, mereka memainkan tekanan waktu, seperti: kamu akan dapat diskon, bonus, jika melakukan rekrutmen ke pemodal besar, lebih cepat lebih baik. Janji keuntungan tinggi dengan risiko rendah, merupakan 2 kombinasi yang jauh dari realitas. Orang lebih mudah tertarik pada jumlah angka (hasil) daripada pusing menghitung risiko. Sebagian besar dari mereka bahkan hanya tertarik pada daftar nama dan bukti saldo rekening yang bertambah. Setelah pembayaran awal terjadi, insentif diberikan. Lancar dalam beberapa bulan pertama. Yang terjadi, informasi tetap mereka sembunyikan. Sampai suatu ketika, Skema Ponzi itu terungkap, maka terjadilah bencana finansial.

Setelah Tipuan Berjalan dan Investor Menagih Janji

Ketika para investor merasa dirugikan, terjadilah “fase” yang sudah dipersiapkan para penipu ini. Mereka sudah siap dengan “buku petunjuk” untuk menghadapi tuntutan para investor.

“Kami minta dana dikembalikan.” Tidak bisa, karena sesuai perjanjian, modal tidak bisa ditarik dengan cepat, dan jika perusahaan pailit maka dana kamu hilang, sementara kamu termasuk pemodal di perusahaan ini.

“Keuntungan yang kami dapatkan tidak sesuai dengan janji awal.” Fluktuasi keuntungan itu normal dalam setiap investasi, nanti keadaan akan kembali normal. Semua investasi datang dengan risiko dan kami tidak dapat menjamin keuntungan setiap saat.

“Kami tidak dapat menghubungi perusahaan. Ada apa?”. Ada kendala teknis, sedang kami perbaiki, secepat mungkin.

Kemudian ada pergantian manajemen, tanpa diketahui publik. Jika ada rumor negatif tentang “perusahaan ini”, mereka menepis itu sebagai serangan dari pesaing dan mereka sudah menempuh jalur hukum. Dan berkilah yang paling enak, tentu saja menggunakan faktor eksternal, seperti: kondisi politik, ekonomi global, kebijakan baru yang tidak memihak, dst.

Skema Ponzi tetaplah Skema Ponzi. Biarpun bentuknya berbeda-beda. Para penipu selalu mengambil keuntungan, berdasarkan emosi negatif manusia, yang utama: kebutuhan untuk dapat uang dan ketertarikan untuk dapat uang itu dengan cepat.

Skema Ponzi bisa mengubah tanaman “Gelombang Cinta”, sarang burung walet, dan Love Bird menjadi berharga sangat mahal, lalu turun sangat drastis. Bagi pemelihara sungguhan, yang memang menyukai Love Bird, tentu ini tidak masalah. Bagi mereka yang tertipu Skema Ponzi, tentu mereka menangis karena harga tidak selalu menaik.

Menghadapi Skema Ponzi

Lihat kembali ciri-ciri di atas. Jangan mudah tertarik pada hasil. Hitung risiko dan kenali prosesnya. Jika ada ajakan (misalnya) trading, pelajari apa itu trading, sampai kamu merasa benar-benar siap untuk trading.

Lakukan uji tuntas (due diligence), yaitu proses investigasi untuk memverifikasi informasi dan mengidentifikasi potensi risiko sebelum melakukan transaksi, seperti investasi, merger, atau akuisisi. Proses uji tuntas biasanya melibatkan pemeriksaan berbagai dokumen dan data, seperti: Laporan keuangan, informasi legal, analisis pasar, dan peninjauan operasi bisnis. Tujuannya, agar kamu memahami tentang aset, kewajiban, dan risiko yang terkait dengan transaksi. Tanpa “due diligence” kamu sama saja menyerahkan uangmu kepada orang lain.

Kenali Skema Ponzi, agar kamu tidak masuk ke dalam jebakan betmen investasi Skema Ponzi.

Bekerja pintar adalah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Bukan terbuai hasil dari cara-kerja yang tidak kamu ketahui. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.