in

Membedah Anatomi Manipulasi Informasi bersama Mafindo dan Bawaslu

Tidak sedikit masyarakat menjadi korban mis-informasi, dis-informasi hingga hoaks atau berita bohong.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) wilayah Salatiga bersama Bawaslu Kota Salatiga menyelenggarakan Workshop Pencegahan Hoaks Pemilu di Hotel Front One Gosyen Jalan Jenderal Sudirman Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2023). (ist)

SALATIGA (jatengtoday.com) – Miliaran data dan informasi setiap hari bertebaran di internet hingga media sosial. Tidak semua data dan informasi terverifikasi, valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Maka tidak sedikit masyarakat menjadi korban mis-informasi, dis-informasi hingga hoaks atau berita bohong.

Itulah sebab mengapa begitu penting literasi digital untuk membentengi fenomena ‘banjir’ informasi di tengah kehidupan bermasyarakat. Terlebih menjelang Pemilu, begitu banyak informasi yang bisa menyesatkan.

Untuk itulah, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) wilayah Salatiga bersama Bawaslu Kota Salatiga melakukan Workshop Pencegahan Hoaks Pemilu di Hotel Front One Gosyen Jalan Jenderal Sudirman Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2023) lalu.

“Fenomena hoaks menjadi perhatian khusus bagi kami. Tahapan Pemilu yang semakin dekat, dibarengi dengan hoaks yang begitu masif,” kata Ketua Bawaslu Kota Salatiga, Dayusman Junus.

Dengan begitu, lanjutnya, literasi digital dan berbagai pelatihan untuk membedah anatomi manipulasi informasi menjadi sangat mendesak bagi penyelenggara Pemilu. “Pelatihan ini wajib bagi anggota Panwas,” ujarnya.

Perkembangan teknologi membuat fenomena hoaks di masa tahapan pemilu terus berkembang. “Bahkan, hoaks acapkali menyerang penyelenggara Pemilu seperti Bawaslu di berbagai level,” imbuh dia.

Pelatihan ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari anggota Bawaslu. Terdiri dari anggota di 4 kecamatan, Panwaslu Kelurahan/Desa (PKD), tenaga teknis dan tenaga pendukung, dan perwakilan stakeholders lainnya.

Mereka diberikan materi antara lain; Memetakan Narasi Mis/Disinformasi, Membedah Anatomi Manipulasi Informasi, Teori Dan Strategi Prebunking, dan Produksi Konten Prebunking.

Peserta dibekali oleh instruktur di antaranya; Dr Agus Triyono (UDINUS), Budhi Widiastuti (UKSW), Fiskal Purbawan (Penggiat Literasi) dan Andika Renda Pribadi (Penggiat Literasi).

Salah satu pemateri, Agus Triyono mengatakan salah satu agenda pelatihan yang diselenggarakan ini pendalaman materi Prebunking dan Debunking.

“Prebunking adalah tindakan preventif dan prediksi atas munculnya hoaks yang akan terjadi. Oleh karena dalam pelatihan ini diajarkan bagaimana mengantisipasi munculnya hoaks politik terkait tahapan pemilu,” terangnya.

Hal paling mendasar dalam Prebunking, peserta agar mampu mengurai dan mengenai indikator-indikator atas informasi terindikasi menyesatkan.  “Kita bisa prediksikan hoaks yang mungkin akan terjadi dengan melihat indikator-indikator yang ada. Kemudian kita berikan “vaksinnya”, sehingga nanti paparan hoaks itu akan kebal untuk penerimanya,” terang Agus.

Sedangkan Debunking adalah proses melakukan klarifikasi atas sebuah narasi/pesan hoaks. “Jadi, Debungking lebih tepatnya dapat dilakukan setelah hoaks muncul, tetapi kalau Prebunking bisa dilakukan pencegahan lebih awal,” imbuhnya.

Prebunking, menurutnya, sebagai salah satu cara untuk mencegah hoaks semakin berkembang. “Setidaknya ada upaya untuk melakukan pencegahan lebih dini untuk rekan-rekan Panwas dan juga yang lain,” ungkapnya.

Salah seorang peserta, Riyana mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut. Sebab, tidak hanya masyarakat awam, bahkan tidak jarang orang berpendidikan pun kerap menjadi korban.  “Pelatihan seperti penting dan sangat berguna sekali mengingat di wilayah sering muncul hoaks-hoaks berseliweran,” kata dia. (*)

Abdul Mughis