in

Mekanisme Pertahanan Diri: Fungsi, Contoh, dan Konsekuensinya

Pahami mekanisme pertahanan diri agar tidak menghambat perkembangan pribadi.

(Image: DALL-E)

“Mekanisme pertahanan” (self-defence) adalah tindakan individual sebagai respons untuk melindungi diri dari bahaya atau ancaman. Manusia tidak ingin cemas, tak-nyaman, sakit secara emosional, dan ingin unggul, itu sebabnya manusia punya tanggapan otomatis untuk menjaga keselamatan dan harga diri. Sigmund Freud dan Anne Freud memperkenalkan istilah ini.

Contoh Mekanisme Pertahanan

Mari melihat contoh keseharian, bagaimana “mekanisme pertahanan” bekerja.

  • Seorang kawan menegur Shinta yang mendapat perlakuan buruk dari pacarnya, namun Shinta berkata, “Dia tidak marah, begitulah caranya menyampaikan perhatian,” padahal sebenarnya Shinta sedih dan kecewa.
  • Seseorang yang memasuki pesta pernikahan dengan dress code yang tidak tepat, mengeluarkan seratus alasan mengapa ia berpakaian seperti itu.
  • Marah ketika melakukan kesalahan, agar tidak disalahkan.
  • Rapat membahas masalah mengapa kinerja tim buruk, bergeser menjadi tata-tertib membuang sampah.
  • Orang tua yang sebenarnya kecewa melihat prestasi buruk anaknya, memilih memberikan penjelasan “masuk akal” tentang mengapa anaknya berprestasi buruk.
  • Sering kena marah di rumah, di luar rumah berperilaku nakal dan membentak anak buah.
  • Stress di kantor, kirim selfie sedang fitness, padahal sebenarnya ia sedang melarikan diri.
  • Pria dewasa yang tertekan, tiba-tiba punya kebiasaan baru menonton kartun dan makan donat, demi membebaskan diri dari kepenatan.
  • Mencari hiburan ketika dalam masa berduka, karena tidak mau bersedih.
  • Menganggap tokoh yang didukung itu sangat sempurna, sampai tidak rela melihat orang lain mengkritik tokoh itu.

Pertumbuhan yang Terhambat

Hal yang sangat buruk, terjadi ketika orang tenggelam dalam mekanisme pertahanan. Terlambat tumbuh dan terhalang berkembang. Kalau kita mendengar orang berkata, “Sudah dewasa tetapi mentalnya masih anak-anak,” atau “Tidak berani mengakui kesalahan”, dst. Itu semua predikasi untuk orang-orang yang tenggelam dalam mekanisme pertahanan “negatif”.

Bagian mana yang terhalang?

Mekanisme pertahanan, sebenarnya bagus, hanya ketika tidak menghambat pertumbuhan emosi dan menghalangi perkembangan mental seseorang.

Mekanisme pertahanan melibatkan penipuan diri. Jika seseorang sudah terbiasa menipu dirinya sendiri, demi rasa nyaman, maka ia berada di batas-pandang yang kabur, antara realitas dan khayalan. Berita buruknya, penipuan diri (denial) hanyalah salah-satu bentuk mekanisme pertahanan diri.

  • Seseorang yang tenggelam dalam mekanisme pertahanan, tidak mampu menghadapi emosi.
  • Mereka lebih suka menjadi juara satu lomba lari menghadapi kenyataan.
  • Hubungan interpersonal menjadi bangunan rapuh, karena sering memproyeksikan masalah pribadi ke orang lain.
  • Tidak ada hubungan yang sehat, ketika sudah dipenuhi mekanisme pertahanan.
  • Orang menjadi tidak bisa menerima diri sendiri, karena berada di situasi ekstrem: menyalahkan orang lain, terlalu memuji diri sendiri, merasa selalu benar, tidak pernah salah, dst.

Para pelaku mekanisme pertahanan sering cemas, insecure, mau hidup di zona nyaman, tidak berani ambil risiko.

Proses dari Ancaman Menjadi Mekanisme Pertahanan

Pada awalnya, seseorang mengenal ancaman, kemudian merespon secara emosional, mengaktifkan, dan menerapkan mekanisme pertahanan. Ketika mengenal ancaman, kata Freud, terjadi pertentangan antara id (insting dasar) dan superego (standar moral dan etika), sehingga menciptakan kecemasan dalam ego, yang bertindak untuk melindungi diri dari kecemasan ini. Terjadilah respon emosional awal. (Sigmund Freud, “The Ego and the Id”, 1923). Singkatnya, ancaman mendatangkan kecemasan, yang merupakan konflik antara id, ego, dan superego.

Mekanisme pertahanan merupakan fungsi ego dalam melindungi individu dari kecemasan dan konflik psikis. (Sigmund Freud, 1894).

Anna Freud (Anna Freud, “The Ego and the Mechanisms of Defence”, 1936) kemudian menjelaskan mekanisme pertahanan.

Mekanisme pertahanan bervariasi dan dapat berupa distorsi kognitif atau psikologis. Nancy McWilliams membaginya menjadi dua kategori: pertahanan primer atau belum matang dan pertahanan sekunder atau matang. Pertahanan primer melibatkan batasan antara diri dan dunia luar, sedangkan pertahanan sekunder melibatkan batasan internal. Kita hanya bicara mekanisme pertahanan utama saja.

Mekanisme Pertahanan Utama

Penolakan (Denial). Menolak untuk mengakui realitas yang mengancam atau menyakitkan. Contoh? Ketika membaca berita buruk, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ini hanya sementara untuk melindungi individu dari dampak emosi langsung.

Kendali Omnipoten. Melibatkan perasaan ilusi bahwa kita memiliki kendali total atas kejadian dalam hidup. Merasa aman, namun tidak realistis. Contoh? Merasa baik-baik saja tanpa mencari potensi masalah yang bisa merusak masa depan.

Idealisasi dan Devaluasi Ekstrim. Memandang realitas secara hitam-putih, benar-salah. Antara yang ideal (ekstrim positif) atau devaluasi (ekstrim negatif). Mudah bilang ini yang terbaik, yang itu tidak ada nilainya.

Proyeksi. Terjadi ketika seseorang mengatribusikan pikiran, perasaan, atau motif mereka sendiri kepada orang lain. Ingin kualitasnya diakui, kemudian yang buruk ditimpakan ke orang lain. Contoh? Ketika ada kegagalan tim, sepenuhnya menyalahkan orang lain. Contoh lain, ketika di rumah sering dapat omelan isteri, di kantor marah kepada anak buah. Sungguh pembuktian yang tidak penting dan kemarahan yang salah alamat.

Identifikasi Proyektif. Memprovokasi orang yang ia salahkan agar bertindak sesuai dengan yang ia bayangkan. Contoh? Bilang kepada semua orang bahwa lawannya emosional, agar perhatian orang pada emosi lawannya.

Somatisasi. Mengubah konflik atau stres psikologis menjadi gejala fisik. Stres yang intens menyebabkan sakit kepala atau masalah pencernaan. Ini terjadi karena tubuh sudah tidak bisa mengkomunikasikan apa yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata.

Masih ada lagi mekanisme pertahanan sekunder dengan sederet bentuk yang sudah sering kita kenal.

Bahaya yang Pasti Datang

Tenggelam dalam mekanisme pertahanan diri bisa memiliki konsekuensi yang serius, baik bagi individu maupun masyarakat. Bagi individu, ini dapat menghambat perkembangan pribadi. Ketika seseorang terlalu sering mengandalkan mekanisme pertahanan untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan mengatasi masalah dengan cara yang sehat.

Di tingkat masyarakat, jika para pemimpin atau tokoh publik menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk menghindari pertanggungjawaban atau mengabaikan masalah yang nyata, ini dapat memiliki dampak yang merugikan. Keputusan yang dibuat berdasarkan pemahaman yang tidak akurat atau penolakan terhadap masalah bisa berdampak negatif pada masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks politik, misalnya, jika seorang pemimpin menggunakan mekanisme pertahanan untuk menghindari kritik atau menolak fakta-fakta yang tidak sesuai dengan pandangan mereka, ini dapat mengganggu proses pengambilan keputusan yang sehat dan berdampak buruk pada negara dan warganya.

Mengenali mekanisme pertahanan diri dan belajar bagaimana mengatasi mereka secara sehat. Hal ini dapat membantu individu mencapai perkembangan pribadi yang lebih baik dan mencegah dampak negatif yang lebih luas dalam masyarakat. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.