in

Mayat yang Tumbuh di Sebelah Kita

Catatan Apresiasi untuk “Amédée” karya Eugene Ionesco.

Amédée, seorang penulis-gagal, warga negara Perancis, yang telah berumur 700 tahun tinggal di suatu rumah, bersama isterinya. Mereka selama 15 tahun menyembunyikam sesosok mayat, yang terus membesar.

Amédée dan istrinya berusaha menjalani kehidupan normal -bersama- masalah yang membesar ini. Berusaha mengabaikan, membuang, dan masalah ini tetap membesar.

Drama ini berjudul “Amédée, ou Comment s’en débarrasser“, dalam Bahasa Indonesia berarti “Amédée, atau Bagaimana Cara Menyingkirkannya”. Selanjutnya, saya akan sebut naskah ini “Amédée”.

Dilema sentral dalam drama ini adalah upaya karakter utama (Amédée dan isterinya) untuk menyingkirkan suatu masalah besar yang secara konstan hadir dalam kehidupan mereka.

Cerita “Amédée” memang cerita absurditas. Bukan drama realisme, tidak bercerita secara linier. Jangan harap ada plot-twist atau shocking ending.

Drama “Amédée” menjadi medium sekaligus metode bagi Ionesco untuk menjelajahi keterasingan, kesia-siaan, dan ketidakmampuan manusia untuk menghadapi realitas mereka. Ionesco kembali bertanya tentang esensi kehidupan dan absurditas kondisi manusia.

Absurditas “Amédée”

Tema absurditas terlihat pada Amédée.

Situasi yang tak masuk akal, seperti mayat yang terus tumbuh, sebagai medium untuk mengeksplorasi absurditas kehidupan.

Mungkin ini simbol rahasia, rasa bersalah, atau masalah yang tidak dihadapi Amédée dan istrinya.

Karakter Amédée, sebagai penulis-gagal dan istrinya, menghadapi keterasingan dan ketidakberdayaan, krisis identitas dan kegagalan komunikasi.

Struktur naratif plot drama ini tidak-linier, adegan-adegan yang tidak terhubung, yang kehadiran struktur seperti ini sudah mempertanyakan dan memberontak terhadap struktur tradisional dalam [ber]cerita.

Bahasa dan dialog sering absurd dan nonsensikal, menyoroti komunikasi yang tidak efektif dan kesulitan dalam mencari makna.

Kritik sosial yang muncul, mempertanyakan norma sosial dan cara hidup konvensional, mempertanyakan apa yang dianggap ‘normal’ dalam masyarakat.

Tantangan visual dalam penggunaan ruang dan set panggung, terjadi ketika mayat semakin membesar.

Saya berpikir agak lama,

“Bagaimana teknik membuat mayat membesar di hadapan penonton?”.

Ionesco memakai humor gelap dan ironi untuk mengkritik dan mengeksplorasi tema berat dengan cara yang lebih ringan.

“Amédée” bagi saya merupakan naskah yang rumit dan berlapis, menawarkan banyak ruang interpretasi.

Dialog di “Amédée”

Kalau saya buat trailer dari dialog “Amédée”, saya akan pilih bagian ini:

Amédée: “Setiap hari, kita terbangun, sarapan, kemudian duduk di sini, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kita tahu, di kamar sebelah, ada…”

Istri: “Kita tidak bisa terus menghindarinya. Kita harus menghadapinya, sebelum semuanya terlambat.”

Amédée: “Tetapi bagaimana kita bisa? Bagaimana kita bisa menyingkirkan masa lalu yang terus bertumbuh?”

Istri: “Kita harus berani, Amédée. Kita harus berani menghadapi kenyataan, seberat apapun itu.”

Amédée menyebut mayat itu sebagai “masa lalu yang terus bertumbuh”. Sejarah yang buruk. Masalah kita berdua di ruangan ini. Untuk menyingkirkan itu, membutuhkan keberanian. Dialog ini mewakili konflik internal karakter dan tema utama drama: menghadapi kenyataan, mengakui keberadaan masalah, dan ketidakmampuan untuk melarikan diri dari masa lalu.

Adaptasi “Amédée”

Naskah ini sering diadaptasi. Kamu bisa tonton di YouTube.

Drama absurd selalu menarik untuk diadaptasi.

Ending naskah ini?

Sutradara punya “kebebasan” menentukan “ending”, sebagai tindakan sutradara dalam membaca “Amédée”. Beberapa kemungkinan bisa terjadi.

(1) Amédée dan istrinya meninggalkan apartemen, sementara mayat terus bertumbuh, mereka berdua melarikan-diri atau menghadapi masalah mereka.

(2) Transformasi (perubahan bentuk) atau pembebasan: Terkadang, akhir cerita menunjukkan semacam transformasi atau pembebasan dari kondisi mereka, yang bisa bersifat simbolis atau literal. Bisa kamu bayangkan, seperti apa adegannya?

(3) Membiarkan tetap ambigu atau terbuka. Ambigu bukan keraguan, tetapi pintu yang bercabang, agar penonton/pembaca punya interpretasi sendiri.

Kehidupan Normal Menurut “Amédée”

Kehidupan “normal” seperti apa yang berjalan dalam “Amédée”?

Konsep “hidup yang dianggap normal” diperlihatkan melalui kehidupan rutin mereka berdua, meskipun ada keadaan yang sangat absurd dan tidak normal (yaitu: mayat yang membesar).

Mereka berdua menjalani hidup normal. Rutinitas harian, seperti makan, minum kopi, dan berbincang, seolah-olah tidak ada yang aneh terjadi.

Apakah ini kepura-puraan atau ketidak berdayaan?

Mereka berdua mempertahankan social facade. Mempertahankan penampilan normalitas di depan dunia luar, sementara di dalam rumah, ada situasi mayat membesar. Mereka, seperti umumnya orang normal, menghindari menghadapi masalah nyata (mayat yang bertumbuh) dan memilih untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Komunikasi “Antara”

Yang in-between, antara normal dan tidak, adalah komunikasi mereka yang tidak-efektif.

Dialog antara Amédée dan istrinya sering kali menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk benar-benar berkomunikasi satu sama lain tentang masalah mereka. Jadi, yang bermasalah adalah komunikasi mereka, dalam menentukan perspektif tentang masalah (mayat membesar) di rumah mereka.

Ionesco mengkritik cara orang yang mempertahankan normalitas dalam menghadapi situasi yang tidak masuk akal atau menekan mereka: kebanyakan orang mengabaikan atau menolak mengakui masalah nyata dalam kehidupan mereka.

Ini terlihat dalam dialog “Amédée” ini:


Amédée: Apakah kamu mendengar itu?
Istri: Mendengar apa?
Amédée: Itu… suara itu. Seperti suara… tetapi bukan suara.
Istri Amédée: Aku tidak mendengar apa-apa. Dan aku tidak ingin mendengarnya.

Amédée: Kita harus melakukan sesuatu tentang… itu.
Istri: Tentang apa?
Amédée: Tentang… kamu tahu… hal di kamar sebelah.
Istri: Oh, hal itu. Ya, suatu hari nanti.

Istri: Apa yang kamu tulis hari ini?
Amédée: Tulisan. Hanya kata-kata. Mereka tidak berarti apa-apa.
Istri: Seperti biasa, ya?

Ketiga dialog itu memperlihatkan suatu pemandangan, yang mewakili absurditas komunikasi mereka. Amédée mengajak mendengar suara, namun Istri mengaku tidak mendengar apa-apa, mengabaikan itu. Amédée mengajak melakukan sesuatu, terkait masalah di kamar sebelah, Istri menunda, “..suatu hari nanti”. Amédée mengaku sedang menulis, hanya kata-kata, yang tidak berarti apa-apa, dan itu “..seperti biasa”.

Pengabaian, penyangkalan, penundaan, rutinitas tak-bermakna, hal seperti biasa. Ketidak mampuan, bukan ketidak-berdayaan. Ketidakmampuan untuk berhadapan dengan masalah.

Metafora dalam “Amédée”

Mayat yang tumbuh adalah penyangkalan dan penundaan itu sendiri.

Mayat yang tumbuh ini metafora beban, rasa bersalah, rahasia, masa lalu, yang tidak dihadapi secara langsung. Perjuangan kreatif sekaligus ketidakpuasan profesional sebagai penulis. Rutinitas monoton. Komunikasi yang gagal. Kekosongan. Repetisi kehidupan domestik modern. Pasangan yang gagal. Hilangnya hubungan, karena “komunikasi” adalah inti hubungan itu sendiri.

Amédée yang berumur 700 tahun, dan mayat yang sudah 15 tahun di rumah itu, menjadi cerita tentang pilihan untuk mengabaikan masalah, keterasingan dalam hubungan-dekat, jarak emosional, kontradiksi rumah tangga, serta pertentangan antara realitas dan fantasi.

Seseorang yang sering menjadi eskapis, melarikan diri ke dunia khayalan untuk menghindari atau mengabaikan realitas kehidupan yang tidak menyenangkan.

Drama ini tentang perjuangan identitas dan peran sosial, di mana Amédée dan Istri berusaha memahami “ruang” mereka di dunia yang tidak masuk akal, yang penuh norma dan sistem kepercayaan yang sering diterima tanpa pertanyaan.

Mayat di sini menjadi batas-antara, yang terus tumbuh, antara komunikasi melawan absurditas, antara rumah dan luar-rumah, antara sepasang manusia Amédée dan Istri, antara hidup dan makna hidup. Sebagai mayat yang terus tumbuh.

Merancang Adegan “Mayat yang Tumbuh”

Saya memikirkan adegan “mayat yang terus tumbuh” di atas panggung. Kalau ini film, tidak ada masalah. Film punya kemewahan “cut”, editing, special effect, dll. Panggung lebih menantang untuk adegan mayat yang membesar ini.

Kita bisa memakai desain properti bertahap.

Buat beberapa versi properti mayat dalam ukuran yang berbeda, dari kecil sampai sangat besar. Pertimbangkan detail dan proporsi, agar tampak realistis seiring bertambahnya ukuran.

Rancang transisi antara properti mayat dengan ukuran berbeda-beda, dengan transisi yang halus, agar penonton tidak tersita perhatiannya ketika mayat ini — ternyata — sudah tumbuh membesar.

Kita bisa pakai tirai, pencahayaan, atau elemen panggung lain, untuk menyembunyikan perubahan.

Aktor yang terlatih untuk merespon secara konsisten terhadap perubahan ukuran mayat, perlu beradaptasi dengan ruang yang sering berubah, seiring pertumbuhan mayat ini.

Cahaya bisa menyembunyikan detail mayat. Visual yang dimainkan dapat menambah efek dramatis.

Desain set harus memungkinkan akomodasi ukuran mayat terbesar tanpa mengganggu aksi panggung.

Pilihan lain, memakai “ilusi optik”.

Desain set panggung yang memanfaatkan prinsip perspektif paksa. Objek yang lebih dekat dengan penonton dibuat lebih kecil, sedangkan objek yang jauh dibuat lebih besar, menciptakan ilusi bahwa objek tersebut bertambah besar seiring waktu.

Mayat dapat ditempatkan pada jalur yang bergerak atau platform yang bisa digeser untuk mengubah jaraknya dari penonton.

Kita bisa gunakan cermin untuk menciptakan ilusi ukuran yang berbeda. Cermin dapat memantulkan mayat dari sudut yang membuatnya tampak lebih besar.

Cermin dapat diatur untuk bergerak atau mengubah orientasi secara halus selama pementasan untuk meningkatkan efek.

Gabungkan dengan lighting yang dapat memberikan ilusi kedalaman dan ukuran. Menggunakan cahaya dan bayangan secara strategis dapat membuat objek tampak lebih besar atau kecil.

Bisa juga dengan menggunakan proyeksi video yang dinamis. Secara teknis, kalau kita bermain di video, dan dipantulkan ke latar, akan lebih mudah untuk adjustment, namun harus dengan pencahayaan dan ketepatan perhitungan. Proyeksi ini bisa disesuaikan dan diubah sepanjang pementasan untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan mayat.

Konteks “Amédée”

“Amédée” karya Eugene Ionesco, ditulis pada pertengahan abad ke-20, merupakan bagian dari gerakan teater absurdis yang muncul setelah Perang Dunia II.

Pasca Perang Dunia II, Eropa berubah dan bergolak. Perang itu semacam trigger untuk mempertanyakan nilai-nilai dan struktur sosial yang ada. Perang Dingin dan destabilitas politik mulai mengancam dunia secara luas.

Apakah pengetahuan pada akhirnya menghasilkan peperangan bersenjata? Menguasai manusia lain? Statistik dan geografi? Perubahan peta kekayaan dan jalur-dagang? Penulisan-ulang sejarah?

Status “Amédée” menjadi reaksi terhadap realisme dan naturalisme dalam teater tradisional. Absurditas ingin menjelajahi kondisi manusia dengan cara yang lebih filosofis dan metaforis.

Eksistensialisme, khususnya pemikiran Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, berpengaruh besar terhadap teater absurdis. Tema-tema seperti absurditas keberadaan, kebebasan, dan isolasi muncul dalam karya-karya ini.

Drama bukan lagi “pelembagaan mitologi”, bukan pengajaran moral, bukan perayaan, bukan visualisasi pesan.

Drama absurd mengubah cara pandang orang dalam melihat karya seni.

Absurditas adalah “medium” untuk berpikir, “metode” menyampaikan pesan yang terbebas dari keinginan pengarang.

Melalui “Amédée”, Ionesco menangkap esensi ketidakpastian dan kegelisahan ini, menggunakan absurditas sebagai alat untuk mengeksplorasi tema-tema besar tentang kehidupan, kematian, rasa bersalah, dan realitas subjektif.

Ketidakpuasan masyarakat terhadap norma tradisional dan keinginan untuk menemukan pemahaman baru tentang keberadaan manusia.

Eugene Ionesco lahir di Rumania dan kemudian pindah ke Prancis. Dunia multikultural (dari Timur ke Barat, dari otoritarianisme ke liberal) mempengaruhi pandangannya terhadap absurditas kehidupan dan mempengaruhi wawasan unik dalam karyanya.

Eugene mengkritik otoritarianisme, sekaligus tidak sepenuhnya menerima Barat.

Psikoanalisis Freud yang nge-hit waktu itu, terlihat pengaruhnya, seperti visualisasi alam bawah sadar dan represi, ketika menggambarkan karakter dan situasi yang tersembunyi atau tidak tersingkap secara terang-terangan. Ini adalah masa di mana modernitas (sebagai jalan berpikir sekaligus sebagai perkembangan peradaban manusia) menjebak manusia dalam aliran yang mekanistik.

Modernitas berhadapan dengan Dadaisme, Surealisme, dan seni modern lainnya, dan ini tercermin dalam narasi dan struktur cerita drama Ionesco.

Aspek Absurditas dalam “Amédée”

“Amédée” karya Eugene Ionesco punya banyak elemen absurd. Plot dan situasi absurd terlihat dalam “mayat yang terus bertumbuh”.

Dialog drama ini banyak yang nonsensikal dan repetitif, tidak punya tujuan jelas, ketidakmampuan komunikasi yang efektif. Karakter

Amédée diceritakan berumur 700 tahun, mungkin representasi dari “warga negara dunia” atau warga negara dari negara tertentu, sehingga lebih mudah ditangkap sebagai arketip politis, bukan sebagai “seseorang” dari dunia kita.

Struktur narasi drama ini seperti tidak punya awal, tengah, dan ending. Fragmentaris dan episodik. Seperti usaha untuk terbebas dari konteks. Quotable di manapun.

Orang membikin cerita di kepala mereka tentang “apa maksudnya”.

Yang menarik, bagi saya, drama ini punya tantangan visual dan acting yang dahsyat. “Amédée” menggabungkan elemen-elemen komedi dan tragedi, sering kali dalam cara yang kontras atau ironis.

Bahasa Perancis, memiliki nuansa dan idiom yang mungkin menjadi sepenuhnya lain, atau tidak ditemukan beberapa padanan istilahnya di bahasa lain. Bahasa Inggris tidak memadai untuk menerjemahkan Perancis.

Mengadaptasi “Amédée”

Yang paling menarik, tetap saja, karena drama ini bisa diadaptasi menjadi setengah berbeda atau sepenuhnya berbeda, bergantung pada siapa yang akan mengadaptasi menjadi pementasan baru.
Judul, jumlah adegan, penambahan karakter lain, durasi, set desain dan panggung, lighting, efek suara, kostum, musik, tema dan pesan, semua itu bisa menjadi tantangan.

Sekalipun mungkin sudah pernah dikerjakan berkali-kali, naskah ini menarik kalau diadaptasi dengan konteks lokal Indonesia.

Penulis-ulang naskah tidak sekadar menerjemahkan. Sutradara tidak sekadar mengulangi permainan sama. Sangat menantang kalau konteks lokal Indonesia memproduksi “Amédée” yang Indonesia banget.

Masalah absurditas, yang saya jelaskan di atas, masih relevan untuk mempertanyakan manusia, atau manusia Indonesia. Sinopsis dasar tentang arketip sosial dari karakter Amédée dan istrinya akan sangat menantang jika problem komunikasi, cara memperlakukan masalah (bagaimana kalau ini masalah-masalah sosial ekonomi politik?), atau kita sorot masalah di Indonesia? Serius, “mayat yang terus tumbuh” ini kalau kita urai menjadi 100 keyword, bisa. Ini akan menjadi kesempatan eksplorasi artistik, dengan semangat yang masih sama: drama absurd bukan sekadar karya, melainkan inspirasi dan metode untuk memikirkan kembali masalah-masalah kemanusiaan kita.

Untuk adaptasi “Amédée” ke lokalitas Indonesia, tidak sama dengan menerjemahkan naskah ini ke dalam Bahasa Indonesia.

Sesuaikan dengan lokalitas sosial dan budaya. Uraikan masalah ekonomi, politik, atau sosial, yang khas Indonesia. Bahasa dan idiom, ungakapan, atau bahasa daerah yang sesuai dengan karakter dan setting. nama karakter, no problem kalau kita lokalkan. Referebsu budaya, simbolisme lokal, termasuk kritik sosial, bisa kita adaptasi dengan lokal Indonesia. Sebaiknya, jangan mengubah naskah menjadi medium kritik sosial, karena semangat naskah ini adalah mempertanyakan eksistensi, “kemanusiaan”, bukan sekadar [permasalahan] manusia yang sosial. Ibarat menggubah lagu, kalau lagunya minor, diganti menjadi mayor, tentu menjadi jauh sekali.

Langkah-langkah Mengadaptasi “Amédée”

Saya tetap akan menuliskan langkah-langkah yang actionable, ketika kita mau adaptasi “Amédée”.

Apresiasi naskah, di awal sekali, tetap perlu memahami semangat absurdisme. Lihat konteks sejarah dari karya ini. Estetika absurditas dan filsafat di balik itu. Naskah, dalam drama absurd, bukan hanya tentang plot dan pesan moral. Banyak naskah absurd yang terbebas dari konvensi itu. Absurditas adalah kegelisahan eksistensial. Medium sekaligus metode untuk berpikir bersama.

Analisis metafora yang bekerja di dalam naskah. Mengapa “mayat yang terus tumbuh”? Apa arti karakter di sini? Bagaimana “ruang” dalam cerita ini bisa “hidup”, bukan sekadar diperlakukan sebagai “tempat”?

Eksplorasi kembali dialog nonsensikal dan repetitif (ini ciri Ionesco). Kalau bisa, pahami budaya dan bahasa aslinya.

Casting untuk memilih aktor. Saya akan memilih aktor yang memiliki (potensi) kemampuan yang bisa menavigasi antara komedi, tragedi, dan absurditas. Ini sangat penting kalau aktor mau bermain di drama absurditas. Aktor juga harus pintar memberikan interpretasi terhadap karakter yang “tidak nyata”.

Blocking dalam drama absurd lebih bersifat pergerakan simbolis dan interaksi dengan properti, di mana properti bukan “pelengkap penderita” atau sebagai peralatan aktor. Properti bisa “setara” dengan aktor, hadir untuk sama pentingnya dalam cerita.

Catatan Penutup

Eugene Ionesco hidup sekali. Penjelajahan dan kegelisahan Ionesco akan menjadi inspirasi tiada henti untuk agenda besar kemanusiaan kita: mempertanyakan “kemanusiaan” kita. Karya Ionesco bukanlah karya seni yang tenggelam dalam obyektivisme, yang dinilai dan diukur, lalu ditetapkan “harus begini”. Sejak awal, semangat absurditas Ionesco membuat karyanya menjadi medium dan metode untuk berpikir. Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan mayat yang terus tumbuh di sebelah kita. [dm]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.