in

Tulisanmu: Makanan atau Permen?

Eksplisit dan kolateral. Mau jadi makanan atau permen? Tentukan, agar menulis menjadi lebih bernilai bagi orang lain.

(Credit: Illu33)

Selalu saya pakai ketika belajar, membaca, melihat video di YouTube, atau membaca status kawan saya di Facebook. Makanan atau permen.

Transitivitas dahsyat dari Malcolm Gladwell di buku Outliers.

Ini tentang “belajar” dan “menulis”. Lebih spesifik lagi, tentang “nilai” di balik tulisanmu.

Eksplisit dan Kolateral

Ada 2 bentuk pembelajaran: eksplisit dan kolateral. Permen dan makanan. Candy dan meal. Selingan hiburan dan pekerjaan rumah. Ringan dan berat.

Ingatlah selalu, ketika menyunting (dan membaca) tulisan: “makanan” atau “permen”.

Permen

Ajak orang break sejenak dari makanan-berat, dengan memberikan mereka permen. Permen itu manis, murah, mudah dibagikan kepada teman, terbungkus plastik bertuliskan suatu merk, dan sering diberikan gratis. Permen membuat mereka ingat dan mau membagikan ke yang lain, lebih luas jangkauannya.

Permen itu berbentuk “pattern interrupt” (interupsi berpola), agar orang selalu membaca tulisanmu sampai selesai, seperti ketika kamu menulis content panjang. Tanpa interupsi, orang sulit tertarik membaca (atau menonton) sampai selesai. Anak kecil membutuhkan bujukan. Pikiran membutuhkan jebakan tertentu agar terbujuk.

Bisa berupa kutipan, gambar bagus, highlight di tengah video, breaking, atau pengalaman manis yang kamu bungkus dengan plastik pengaman bertuliskan merk kamu.

Permen identik dengan “kata” dan “milik” brand. Permen tidak mengenyangkan. Bukan sajian utama. Disukai orang, sejenak saja. Permen mengelabui anak kecil. Mereka belum melihat strawberry tetapi sudah merasakan rasa imitasi strawberry.

Makanan

Makanan, tidak seperti permen. Bayangkan nasi dan lauk-pauk, atau kebab berisi sayuran dan irisan daging.

Pengalaman makan, lebih membekas daripada makan permen. Berikan yang berat dan mengenyangkan, agar mereka merasakan pengalaman makan.

Apakah berarti, pembaca harus saya beri tulisan “berat”? Tidak.

Anggaplah “makanan” itu seperti “pekerjaan rumah”.

Saya ingat bagaimana guru memberikan tugas. Pekerjaan rumah itu penting. Rutin. Harus dikerjakan. Untuk mengingat kembali pelajaran sebelumnya. Menyumbang hanya sedikit persentase dari nilai yang diberikan kepada siswa. Pekerjaan rumah itu marginal, nilai akademisnya rendah. Tanpa bisa mengerjakan pekerjaan rumah, nilai akademis dijamin rendah.

Pekerjaan Rumah

Ajak orang menyelesaikan masalah ketika mereka bisa bebas belajar dengan santai, tidak di dalam kelas. Anak sekarang sudah di tahapan m-learning. Mereka “mobile”, terus bergerak. Mendengar dan bercerita, mengakses dan belajar dengan cepat, itu sebabnya e-learning tidak memadai untuk mengatasi kebutuhan mereka.

Pekerjaan rumah berarti “mengingat kembali konsep”. Persiapan menghadapi ujian nanti. Belajar tanpa kemarahan. Dengan durasi lebih panjang.

Buku Sebelum Google

Pergilah ke perpustakaan, buka dan baca buku. Jangan tergesa-gesa membuka Google untuk apapun yang ingin kamu tahu. Lakukan riset selama menulis. Google sering memberikan jawaban salah, singkat, dan membingungkan. Buku berisi footnote. Memberikan gambar-besar dari apa yang kamu pelajari.

Buku bisa membawamu ke referensi-silang.

Carilah “makanan”, perbanyak kuliner, agar tahu cara memasak dan menyajikan makanan. Jangan mentarget permen buatan pabrik.

Tulisanmu akan bagus jika kamu berikan wawasan di dalamnya. Jalan-jalan, bukan perenungan di kamar sempit. Tugas penulis adalah melubangi tempurung agar orang bisa melihat langit luas.

Jangan Kirimkan Draft

Kirimkan karya utuh, walaupun itu satu paragraf catatan. Kirimkan ke kawanmu. Karya utuh mengarah kepada manfaat bagi pembaca. Kalau kamu memberikan manfaat membaca, kamu akan didengarkan orang lain.

Temukan pola pada cerita (-story-) sama dalam situasi berbeda. Menemukan situasi berbeda, bisa melampaui banyak masalah.

Rendah Hati

Bukan rendah-diri. Jangan memanipulasi percakapan. Jangan takut bersikap naif. Terbuka. Apa adanya. Semakin kamu -humble-, semakin orang suka. Biarkan orang lain berbicara, mengajarkan sesuatu kepadamu, dan jadilah petualang-tanpa-beban (the Fool), kartu yang saya sukai di tarot.

Berlatih Berbicara

Kemampuan ini akan memperbaiki kualitas tulisanmu. Dalam kesempatan berbicara, buatlah kalimat yang kuat. Katakan apa yang kamu harus katakan, dengan singkat dan penuh empati. Diam jika kamu harus diam. Jangan terjebak untuk memenangkan debat jika itu habiskan waktumu. Jika kamu bisa berbicara dengan baik, di depan orang lain, kamu akan menulis semudah berbicara.

Perkenalkan Jargon

Istilah yang sulit, jika perlu. Jangan percaya pada prinsip “Berikan orang istilah yang mudah”. Salah. Kalau kamu harus memakai istilah teknis, jelaskan. Tidak semua kata bisa diterjemahkan. Bahkan kamu boleh memberikan makna-baru atas suatu kata. Peristilahan menumbuhkan empati, memperkenalkan budaya orang lain, dan dunia baru.

Empati.

Cobalah menuliskan sesuatu yang tidak terlalu kenal, untuk melatih empati. Tanpa empati, kamu tidak bisa menjadi pembaca kamu.

Indepth, video serius, pembelajaran berkelanjutan, itu seperti makanan. Humor, parodi, ikut-ikutan, dan menjadi “rata-rata”, lebih sering mirip permen.

Menulis itu proses. Bukan pekerjaan mengarang, tidak mengandalkan fantasi dan “teknik penulisan”. Yang terpenting: aspek dalam hidup, perlu berubah untuk mencapai hasil tulisan yang baik..

Mana yang kamu prioritaskan untuk karyamu setelah ini? Tentukan sendiri. Makanan atau permen. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.