in

Wordle Tidak Menarik, Saya Pilih Bermain di Lapangan Basket

Di sekolah dan Wordle, jawabanmu harus benar. Di kehidupan, kamu boleh salah dan membuat aturan-main sendiri.

(Credit: Wordle)

Sering main Wordle? Kamu diberi 5 kotak kosong, beberapa baris, kemudian isi dengan vocabulary dalam bahasa Inggris.

Kalau kotak kuning muncul dan terisi semua, kamu diminta menebak kata apa yang tersusun di situ. Setiap hari, orang adu cepat untuk menemukan “kata hari ini” yang mereka temukan dari Wordle.

Ini berarti, jawaban “kata hari ini” Wordle juga searchable di Google. Kamu bisa curang.

Wordle dibuat sebagai hadiah untuk seorang kawan. Aplikasi ini ngehit, bisa diakses di browser tanpa perlu install apa-apa.

Ketika mencoba Wordle, saya memikirkan, bagaimana cara aplikasi ini dibuat?

Yang menarik, Wordle hanya sajikan 1 jawaban benar.

Selama sekolah, kita sering dapat gagasan bahwa di balik soal ujian ini, terdapat hanya 1 jawaban benar.

Multiple-choice bukan lagi pilihan ganda (yang berisi banyak pilihan), namun sudah ada asumsi bahwa jawaban kamu harus benar. Tidak mengherankan, kalau kemudian lulusan universitas (atau sekolah menengah), sering kebingungan ketika jawaban mereka berkaitan dengan prioritas, pengambilan keputusan, uraian, berbicara di depan publik, dll. Bahkan ada pembelajaran untuk menghadapi tes seperti ini, termasuk interview.

Apa yang terjadi kalau kebebasan dan kemungkinan untuk mereka, diperluas?

Misalnya, seorang guru memberikan instruksi singkat kepada para murid, “Sekarang, ada suatu lapangan basket. Itu bolanya. Silakan sehatkan diri kalian. Itulah -ujian- yang harus kalian selesaikan.” Guru itu meminta anak-anak mencari dan mengenal peraturan bermain basket, lapangan itu bisa diapakan, mereka belajar sehat, sosialisasi, konflik di lapangan, dll. Intinya, nggak diminta “menjawab dengan benar” tetapi diberi kebebasan dan kemungkinan untuk menjadi diri mereka sendiri.

Para murid, mungkin lebih kebingungan. Ternyata, ada yang benar-benar berolahraga, ada yang lihat teknik dribble dari YouTube kemudian praktek, ada yang berlatih tembakan 3 angka, ada yang duduk dan rebahan (nggak mau berolahraga), dll.

Kita juga hidup dalam keadaan seperti itu. Hidup kita tidak diminta menebak 1 jawaban benar. Lebih banyak, kita diberi kebebasan. Ini pacar untukmu, ini sekolah untukmu, ini pekerjaan untukmu. Kamu bisa pindah, kamu boleh protes, kamu boleh lakukan petualangan dan menjadi “lebih berpengalaman” dalam hidup. Ibarat orang main game, tidak hanya menyelesaikan level. Kamu harus gali di level “yang ini” ada senjata, obat, dan gem di mana saja. Bagaimana musuh saya.

Dalam kehidupan, analogi ujian di lapangan basket ini, lebih sering terjadi. Kita mendapatkan peluang hampir sama, bisa belajar dari referensi dan pengalaman, boleh membuat pilihan, mengambil keputusan. Dalam ujian kehidupan, masalah diberikan dulu, pelajaran didapatkan kemudian. Itupun tergantung kapasitas orang masing-masing.

Mau apapun itu. Bisnis, belajar, memilih pacar, mengembangkan karir. Mereka tidak sedang menghadapi multiple choice atau esai.

Mereka, kita semua, sebenarnya sedang berada di “lapangan basket” dengan instruksi sangat mudah.

Seperti tidak ada soal, seperti tidak ada jawaban. Sehatkan diri kalian. Itulah -ujian- yang harus kalian selesaikan. [dm]

Wordle https://www.nytimes.com/games/wordle/index.html

Source Code https://github.com/cwackerfuss/react-wordle

Setelah Wordle, muncul Katla (semacam Wordle versi bahasa Indonesia) dan Batangan (untuk tebakan kata berbahasa Jawa).

Saya sedang oprek source code, mirip untuk bikin permainan semacam Worlde, dengan penulisan code yang berbeda. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.