in

9 Faktor Mengapa Mahasiswa Pintar Belum Tentu Sukses di Pekerjaan

Bukan karena keberuntungan dan koneksi.

(Image: Nuthowut Somsuk)

 

“Banyak mahasiswa pintar, dengan grade A menghadapi kesulitan di dunia kerja.”. Sebenarnya, pernyataan itu -salah-. Sangat rawan “survivorship bias“.

Kita tidak bisa membandingkan “kepintaran” dan “kesuksesan” secara apple-to-apple.

Yang melingkupi “sukses” itu banyak faktor. Bukan hanya finansial dan karir.

Saya ceritakan satu model “kesuksesan” yang sering membuat orang tercengang: Seseorang dari Jurusan A, ternyata sukses di Bidang B, yang tidak pernah ia pelajari di sekolah atau perkuliahan. Seseorang yang biasa di kampung kita, ternyata sukses di Jakarta. Kita sering dengar atau tahu cerita seperti ini. Masalahnya, kita tidak bisa kaitkan “kepintaran” dan “kesuksesan” sebagai sesuatu yang saling menentukan. Dengan kata lain, banyak faktor lain yang berperan.

*Faktor-faktor Terkait Mengapa Mahasiswa Pintar Belum Tentu Sukses di Pekerjaan*

Daftar ini lebih banyak menjelaskan, “kepintaran” bukan faktor utama penentu kesuksesan.

1

Faktor utama adalah “magang” (internship).

Kita sering menyebutnya “praktik” atau “pengalaman di lapangan” atau “mengalami kenyataan secara langsung”. Ini yang disebut “magang” (internship). Tanyakan kepada mereka yang sukses dan “tidak sesuai bidangnya” itu. Pasti mereka kuat dalam hal “magang”. Jangan remehkan “magang”.

2
Membangun moment yang tepat.

Percaya atau tidak, hal-hal yang mengubah hidup kita, entah baik atau buruk, sebenarnya hanya beberapa moment penting.

Contoh? Bertemu orang yang tepat. “Saya belajar bagaimana menulis berita, setelah saya bertemu Mas Nicholas..”. Itulah contoh “moment” yang mengubah hidup seseorang. Semacam menemukan jurus sakti di dinding goa yang akhirnya mengubah hidup seseorang berubah. Lihatlah orang-orang yang sukses, atau kehidupan kamu yang berubah drastis, semua itu terjadi setelah ada momen khusus.

Coba lihat, di perjalanan hidup kamu, ketika sebelum dan setelah kamu “berhasil melakukan sesuatu. Pasti ada “moment” di sana. Berita baiknya, “moment” seperti ini bisa kamu rencanakan, kondisikan, dan kamu bangun.

3
Siapapun “bukan ahlinya” sedang berada di tempat yang salah, setidaknya, pada masa-masa awal.

Banyak orang “menyerah” di awal. Mereka merasa “kurang beruntung”, tidak berbakat, bukan kelasnya, dll. Mereka menyerah di awal. Yang sukses, tidak pernah menyerah di awal. Mereka selalu bangkit dan tidak mau menyerah.

4
Mereka baru tahu “peluang” sebenarnya, ketika mereka tidak sekolah/kuliah.

Bukan rahasia, sekolah/kuliah sering menerapkan penyeragaman, sistem belajar yang mirip sistem produksi di pabrik, jebakan kuantitas, dll. Ini bagian di mana seseorang merasa “unfit” (tidak cocok) dengan model pembelajaran di sekolah/kuliah.

5
Banyak jalan “diterima” di Indonesia, bukan karena kepintaran.

Ini konteks di Indonesia. Jalur kedekatan, jalur hubungan keluarga, dan uang, bisa menjadi penentu diterimanya seseorang. Tidak bisa kita lakukan generalisasi, namun faktor ini juga menentukan.

6
Kecerdasan akademik tidak selalu identik dengan kesuksesan dalam praktik.

Apalagi kalau praktik itu berupa kolaborasi dan perlu waktu lama. Bukan rahasia, dunia akademik, dunia sekolah di Indonesia, tidak semuanya menjadikan kolaborasi dan praktik sebagai bagian utama dalam proses pmbelajaran.

7
Skill keilmuan, membutuhkan skill lain.

Seperti: interpersonal, leadership, komunikasi, dan adaptabilitas. Kognitif saja, tidak cukup. Dan “kecerdasan” itu luas. Deretan skill yang saya sebut terakhir ini, tidak diajarkan di sekolah.

8
Keterbatasan jaringan.

Seperti kasus perusahaan sablon sebelum Android dan Shopee ada. Jaringan itu sangat penting. Tidak perlu saya jelaskan di sini.

9
“Pintar” masih dalam perspektif “how to”.

Mereka dengan skill, bisa mengerjakan sesuatu,.mengatasi masalah, namun bukan berarti menghadapi masalah baru dalam kehidupan atau pekerjaan.

Ada juga faktor-faktor yang tidak terdeteksi, yang membuat seseorang “kalah” di akademik.

Belum tahu pola keuntungan. Harap diingat, setiap sukses, semua profit yang mengalir, selalu memiliki pola. Beban ekspektasi tinggi. Tekanan lebih dominan daripada tantangan. Takut salah. Tidak mengerti manajemen risiko. Resistance masih tinggi, masih sering diblokir sendiri oleh bisikan-bisikan untuk slow, mengalir, enjoy aja, dan tidur dengan tenang tanpa prioritas untuk menyelesaikan obsesi dan mimpinya.

Kamu bisa sebutkan faktor lain. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.