in

Lokalisasi Sunan Kuning Resmi Ditutup, 448 WPS Diminta Cari Pekerjaan Baru

SEMARANG (jatengtoday.com) – Lokalisasi Sunan Kuning (SK) yang sudah berdiri sejak 53 tahun lalu akhirnya resmi ditutup oleh Pemkot Semarang, Jumat (18/10/2019) pagi.

Dalam penutupan tersebut juga dilakukan pencairan dana tali asih sebesar Rp 5 juta per orang dari APBD Kota Semarang. Wanita Pekerja Seks (WPS) yang mendapatkan tali asih tersebut terdata ada 448 orang.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berpesan kepada WPS untuk segera pulang ke kampungnya masing-masing. Khususnya bagi yang berasal dari luar kota.

Mereka dipersilakan pulang dengan memanfaatkan fasilitas armada yang telah disiapkan Pemkot Semarang. Selanjutnya mereka diharapkan bisa mencari pekerjaan yang lebih baik.

“Setelah ini, silakan memikirkan aktifitas usaha yang lebih baik dan lebih sehat. Kecil nggak apa-apa, yang penting halal,” ujarnya.

Menurut Hendi, meskipun pendapatan awalnya sedikit, tetapi jika digeluti dengan serius pasti bisa sukses. “Kuncinya itu, harus dikerjakan dengan tulus, ikhlas, dan kerja keras. Insya Allah akan jadi besar,” tegasnya.

Untuk yang berdomisili di Kota Semarang bisa menggunakan fasilitas yang ada seperti pelatihan atau kredit modal murah.

Dia meyakini masih banyak cara yang bisa dilakukan agar para mantan WPS Sunan Kuning mendapatkan pekerjaan baru. Hendi juga membuka pintu bagi WPS asal Semarang yang butuh bantuan untuk cari kerja.

“Yang tinggal di Semarang masih punya kemungkinan bisa manfaatkan fasilitas di Kota Semarang seperti kredit Wibawa, pelatihan-pelatihan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lokalisasi Sunan Kuning, Suwandi mengatakan, penutupan lokalisasi ini memang sudah waktunya. Dia berharap adanya perubahan di lingkungannya.

Dia menambahkan, Pemkot Semarang mengizinkan adanya karaoke di daerah tersebut, asalkan memiliki izin. Suwandi menjamin jika nantinya tempat karaoke yang ada di wilayahnya tidak akan ada praktik prostitusi.

“Jika ada nantinya pasti ada tindakan dari Satpol PP. Kami berterima kasih kepada Pemkot karena usaha yang dimiliki warga, yaitu karaoke tidak ikut ditutup,” pungkasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto