in

Lansia Bekerja: Keinginan atau Kebutuhan?

Pemanfaatan masa usia lanjut

Masa tua hendaknya digunakan untuk menikmati hasil kerja keras selama muda. Menikmati masa pensiun bagi pensiunan ASN, sekedar membantu mengasuh cucu, menemani anak-anak yang sudah mapan dan berpenghasilan, hidup damai dengan “kiriman” dari anak, beribadah, ataupun menikmati hobi yang sewaktu masa usia produktif kurang bisa tersalurkan karena kesibukan bekerja.

Batas usia lanjut usia yang dipakai di Indonesia sendiri menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 adalah ketika seseorang sudah mencapai 60 tahun ke atas.

Mengenai populasi lansia, persentase lansia di Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat selama lima dekade (BPS, 2020). Peningkatan ini selaras dengan kenaikan angka harapan hidup yang menandakan peningkatan taraf hidup bangsa Indonesia.

Bagaimanakah kesejahteraan penduduk lanjut usia ini?

Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk tahun 2035, Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu dari lima propinsi di Indonesia yang mulai memasuki aging population. Ini berarti persentase penduduk usia tua sudah melebihi dari 10 persen. Dari hasil proyeksi penduduk, pada tahun 2020 Kabupaten Karanganyar sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah memiliki persentase  penduduk lansia sebesar 14% yang merupakan persentase terbesar jika dibandingkan dengan kelompok umur lainnya.

Selain itu, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2020 di Kabupaten Karanganyar yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penduduk lansia juga merupakan kelompok yang memiliki persentase terbesar diantara penduduk berusia 15 tahun ke atas yang statusnya bekerja. Sekitar 15% dari seluruh penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja adalah lansia. Pertanyaannya, bagaimanakah hal ini bisa terjadi?

Bukankah di usia senja, seseorang hendaknya beristirahat dari dunia kerja?

Hal ini nyatanya tidak terjadi pada lansia di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Keputusan untuk bekerja sendiri tentunya dihadapkan dengan banyaknya tuntutan akan kebutuhan hidup. Kondisi ekonomi agaknya merupakan faktor utama yang menyebabkan lansia untuk terus tetap bekerja.

Pratiwi dan Samudro (2017) juga menyebutkan alasan utama para lansia masih bekerja adalah faktor ekonomi, yakni demi memenuhi kebutuhan hidupnya, selain mereka juga enggan menyusahkan/menjadi beban bagi anak cucunya.

Jamalludin (2021) menyebutkan bahwa mereka yang bekerja di usia lanjut berasal dari pekerja yang tidak memiliki jaminan pensiun sehingga cenderung untuk terus tetap bekerja. Selain itu juga mereka bekerja pada tipe pekerjaan yang menggunakan kekuatan fisik tanpa membutuhkan banyak konsentrasi dan juga mereka yang tak mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya.

Jadi keputusan bagi lansia untuk bekerja bukanlah suatu pilihan, melainkan terpaksa karena kebutuhan.

Sungguh ironis memang, saat membaiknya standar kehidupan yang ditandai dengan naiknya angka harapan hidup yang berimbas pada meningkatnya populasi lansia akan tetapi tidak diimbangi dengan kualitas hidup lansia. Lansia masih harus bekerja demi kebutuhan hidupnya, bahkan kadang masih memiliki tanggungan keluarga yang masih bergantung padanya.

Memasuki usia lanjut sendiri sudah banyak penurunan kondisi fisik yang dialami, yang sudah memerlukan bantuan orang lain bahkan hanya untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Jadi pada situasi seperti ini, lansia seperti harus memegang tantangan yang berat, antara memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja dan menghadapi kondisi fisik yang kian menurun.

Potret Pekerja Lansia di Kabupaten Karanganyar

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Bulan Agustus tahun 2020, diperoleh informasi bahwa sebagian besar para pekerja lansia hanya berpendidikan rendah, yakni lebih dari 80 persen hanya berpendidikan SD ke bawah (tamat SD maupun tidak/belum tamat SD). Dilihat dari lapangan pekerjaan utama, sekitar 55% para pekerja lansia bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan.

Jika dilihat dari status pada pekerjaan utama, sekitar 35% pekerja lansia berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar dan sekitar 25% berusaha sendiri. Jika dilihat dari jumlah jam kerja, persentase tertinggi pekerja lansia bekerja dengan jumlah jam kerja seluruhnya 35-44 jam selama satu minggu (24%) dibandingkan dengan jumlah jam kerja lainnya, atau para lansia bekerja secara rata-rata 5-6 jam per harinya. Hal ini menunjukkan bahwa leisure yang tersisa tiap harinya hanya sedikit.

Jadi dapat disimpulkan bahwa potret para pekerja lansia secara umum di Kabupaten Karanganyar adalah berpendidikan rendah serta bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, perkehutanan, perburuan, dan perikanan.

Dorongan Ekonomi

Dengan potret para pekerja lansia yang sudah disebutkan di atas, maka hal ini memperkuat alasan bahwa latar belakang kondisi ekonomi merupakan faktor utama yang memengaruhi keputusan para lansia untuk tetap bekerja. Dorongan ekonomi yang kian meningkat, ditambah lagi dengan kondisi pandemi saat ini, tentunya semakin mempersulit kehidupan sehingga para pekerja lansia perlu tetap bekerja.

Untuk itu hendaknya perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah mengenai masalah lansia ini dengan adanya bantuan-bantuan sosial maupun kesehatan bagi lansia. Peningkatan populasi lansia harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraannya sehingga pada usia lanjut, para pekerja tidak perlu terpaksa bekerja. Dan dengan hal ini diharapkan bahwa kualitas hidup lansia akan membaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.