in , ,

Kreatifitas Produk UMKM Karya Difabel Perlu Difasilitasi

SEMARANG – Keterbatasan fisik tidak menjadikan Kandar (55), berpasrah, putus asa, dan bergantung pada orang lain. Meskipun kedua tangannya mengalami cacat, penyandang disabilitas asal Desa Kamolan, Blora ini tak henti berkarya bersama Komunitas Difabel Mustika Blora (DMB).

Melalui tangan-tangan tanpa jari (tuna daksa) batik bermotif bunga mustika khas Blora tercipta dan menjadi salah satu produk unggulan daerah. Bahkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengagumi batik unik bercorak kembang cantik aneka warna tersebut. Satu baju kemudian diberikan kepada Ganjar. “Saya tidak mau mendapat gratifikasi. Batik ini harganya satu lembar Rp 100 ribu, tapi di saku saya ada Rp 400 ribu. Kalau begitu saya beli Rp 100 ribu saja, karena beliau membuat karya bagus, maka yang Rp 300 ribu untuk karyanya,” ujarnya setelah menerima hadiah dari salah seorang difabel di sela acara peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-25 Tingkat Jateng di Wisma Perdamaian, Rabu (13/12/2017).

Melihat batik bunga mustika Blora serta beragam produk kerajinan dan kuliner karya kaum difabel dari berbagai kabupaten dan kota di Jateng yang terpajang di stan pameran, gubernur berharap para difabel semakin termotivasi untuk berkarya di berbagai bidang. Pemerintah pun siap memfasilitasi mereka.

“Pemerintah siap memfasilitasi, demikian pula pihak-pihak lain siap membantu memberikan pelatihan pada teman-teman disabilitas. Semua dapat berlatih, yang punya hobi musik atau seni lainnya, punya keterampilan membuat kerajinan, kami ada pelatihan-pelatihan khusus dan program lainnya,” katanya.

Menurut Ganjar, perayaan Hari Disabilitas Internasional tahun 2017 bertema “Menuju Masyarakat Inklusi, Tangguh, dan Berkelanjutan”, merupakan saat tepat untuk beraksi dan bekerja. Peringatan itu diharapkan membuka mata hati dalam mengambil kebijakan publik. Setiap keinginan dan peminatan pemerintah menunjukkan kepedulian terhadap penyandang disabilitas

Para kepala daerah, baik bupati maupun walikota, serta pihak swasta diharapkan bersama-sama memberikan perhatian yang lebih guna menyiapkan masa depan para penyandang disabilitas. Salah satunya agar mereka mempunyai keterampilan yang bermanfaat dan dapat hidup mandiri.

“Keinginan saya simpel, ketika ada persoalan-persoalan sosial, bisa tidak merespon dan menindaklanjuti dengan cepat, melakukan terobosan-terobosan, dan meningkatkan perhatian kita. Sudah ada Perda dan Pergub, maka sekarang tinggal maksimalkan, bersama-sama membantu penyandang disabilitas,” bebernya.

Mantan anggota DPR RI ini menyebutkan, saat ini masih ada kekurangan kursi roda untuk penyandang disabilitas di wilayah Jateng kurang lebih 1.000 unit dengan harga sekitar Rp 1 juta per unit. Apabila Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), BUMN, BUMD, serta pihak swasta ikut terlibat maka persoalan kursi roda dan lainnya akan dapat teratasi. “Saya minta maaf, karena panggungnya belum ramah, maka saya minta untuk segera diramahkan sehingga penyandang disabilitas bisa naik ke panggung ini, tidak perlu dibopong dan mereka bisa naik sendiri,” ucapnya. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito

Ajie MH.